logo Tesis dan Disertasi mengenai Papua
Theses and Dissertations about Papua
honai/home page

Hontheim, Astrid de 2002 AU CŒUR DU SAGOUTIER Evangélisation chrétienne des Asmat en Papouasie Occidentale: permanences et ruptures. Essai d'anthropologie religieuse, MA thesis, Sociology and Anthropology, Free University of Brussels.
    © Astrid de Hontheim, 2002. Use of any part of this thesis for any purpose must be acknowledged.

Résumé
Depuis les années 1950, la société asmat est soumise à de nombreux bouleversements provoqués tantôt sciemment, tantôt malgré eux, par les groupes étrangers qui trouvent un intérêt à s’installer dans la région. Parmi eux, les missionnaires catholiques croisiers et l’armée indonésienne nourrissent le but commun de transformer la société asmat ; leurs méthodes, cependant, divergent radicalement. Cet essai montre dans quelle mesure les missionnaires tentent de préserver des aspects choisis de la culture – dont l’art – dans la continuité des préceptes de Vatican II, tout en négligeant d’autres. En parallèle, la christianisation fait partie des efforts de l’armée indonésienne pour modeler ces « hommes de la forêt », qu’ils considèrent souvent comme sous-humains, en un stéréotype jugé acceptable. Un séjour sur le terrain en 2001 a permis de mettre en regard ces deux points de vue et d’évaluer l’impact de la christianisation dans les principales institutions du monde asmat. D’une région à l’autre, on assiste à une certaine résistance au christianisme, voire à une sélection contextuelle de certains de ses aspects, qui donneront lieu à diverses hypothèses. Enfin, la participation de l’enquêteur à deux expéditions de reconnaissance menées par les autorités indonésiennes a également mis en lumière certains changements sociaux liés à la création de villages de pionniers (les exploitants du bois d’aigle) et à l’implantation stratégique de postes gouvernementaux en vue d’exploiter les ressources naturelles locales.

Ringkasan
Judul: Di Dalam Pokok Sagu. Pengkristenan Orang Asmat di Papua Barat: Kesinambungan dan Kepecahan. Sebuah Esei Antropologi Religius.
Mulai pada desawarsa 1950, masyarakat Asmat mengalami banyak perubahan yang diakibatkan, secara disengaja atau tidak, oleh berbagai kelompok dari luar yang berkepentingan menetap di daerah tersebut. Di antaranya, para misionaris Katolik croisier dan Angkatan Bersenjata RI memiliki salah satu tujuan yang sama, yaitu mengubah masyarakat Asmat, hanya dilaksanakan dengan menggunakan metode-metode yang sangat berbeda. Esei ini menyelidiki usaha-usaha para misionaris untuk melestarikan beberapa ciri terpilih dari kebudayaan Asmat – antara lain, keseniannya – sesuai petunjuk-petunjuk Konsili Vatikan II, sementara ciri-ciri lain tak diperhatikan. Di lain pihak, pengkristenan masyarakat Asmat juga merupakan salah satu upaya ABRI untuk mengubah “orang-orang hutan” itu, yang sering dianggap bukan manusia seutuhnya, sehingga menjadi sesuai teladan manusia yang pantas. Setelah berdiam sementara di daerah Asmat pada tahun 2001, dapat penulis membandingkan kedua sudut pandangan di atas, serta dapat menilai dampak pengkristenan pada lembaga-lembaga utama masyarakat Asmat. Tergantung dari daerahnya, terjadi penentangan terhadap pengkristenan, atau penerimaan selektip ciri-ciri tertentu dari agama Kristen sesuai konteks lokal, yang akan dijadikan bahan untuk mengemukakan berbagai hipotesa. Akhirnya, penggabungan diri dalam dua ekspedisi penjelajahan yang diselenggarakan anggota-anggota pemerintah RI memungkinkan penulis dapat mengungkapkan sejumlah perubahan sosial yang terkait dengan didirikannya kampung-kampung perintis (para pencari kayu gaharu) dan ditempatkannya pos-pos pemerintah pada lokasi-lokasi strategis (guna menggarap sumber-sumber daya alam setempat).

Abstract
Title: In the heart of the sago tree. Christianisation of the Asmat in West Papua: continuities and ruptures. An essay in religious anthropology.
Since the 1950s Asmat society has been undergoing various drastic changes thorough interaction with groups of foreigners who have settled in the area. Among them, the Crosier Catholic missionaries and the Indonesian army share the intention of transforming Asmat society, though their methods are radically different. This essay shows how missionaries try to preserve certain aspects of culture - and among them, some related to art - consistent with the principles of Vatican II, while neglecting others. Meanwhile, Christianisation plays a role in the efforts of the Indonesian army to re-shape these “men of the forest”, who are often considered as sub-human, into a stereotype that they judge acceptable. A visit to the area in 2001 has made it possible to compare these two points of view and to evaluate the impact of Christianisation on the main institutions of the Asmat world. We can see a certain resistance to Christianity, and even a contextual selection of some of its components, that suggests several hypotheses. Finally, the researcher’s participation in two reconnaissance expeditions led by Indonesian authorities has also made it possible to observe some social changes linked to the creation of pioneers' villages (eaglewood collectors) and to the strategic establishment of governmental posts in order to exploit local natural resources.



  © Copyright UNIPA - ANU - UNCEN PapuaWeb Project, 2002.