logo Disertasi - Papuaweb - Dissertations honai/home page

Müller, Martin 2005 Kultur und ökonomische Entwicklung - Eine empirische Untersuchung kultureller Umwelt und unternehmerischer Fähigkeiten in der indonesischen Provinz Papua (West-Neuguinea) [pdf 3.2Mb], Diss. Fachbereich Wirtschaftswissenschaften der Philipps-Universität, Marburg [published under the same title by Verlag Görich & Weiershäuser, Marburg, xxiii, 300p. ISBN 3-89703-656-8].
Judul: Kebudayaan dan Perkembangan Ekonomi - Penyelidikan Empiris Lingkungan Budayawi dan Kemampuan-kemampuan Wiraswasta di Propinsi Papua, Indonesia (Nugini Barat).
Title: Culture and Economic Development - An Empirical Study of Cultural Environment and Entrepreneurial Abilities in the Indonesian Province of Papua (West New Guinea).

    © Martin Müller, 2005. Reproduced with permission.

Kurzzusammenfassung (ringkasan / abstract)

Im Mittelpunkt der Untersuchung stehen die kulturellen Ursachen für die Marginalisierung des indigenen Volkes der Papua im modernen ökonomischen Bereich der indonesischen Provinz Papua. Den theoretischen Hintergrund der Arbeit bilden Schumpeters Entwicklungslogik und die darauf aufbauende Entwicklungstheorie Röpkes. Die empirischen Daten wurden mittels Fragebogen in drei ländlichen Regionen Papuas, und zwar dem jeweiligen Gebiet der Volksgruppe der Maibrat, Kemtuk und Dani, erhoben. In diesen Untersuchungsgebieten wird hauptsächlich familienbetrieblich organisierte, stark subsistenzorientierte Landwirtschaft betrieben, die von geringer Beherrschung der natürlichen Umwelt und niedriger Produktivität gekennzeichnet ist. Die Gesellschaften sind partikularistisch ausgerichtet und schamorientiert.

Die meisten der diskutierten Elemente der volksgruppeneigenen kulturellen Umwelt wirken sich hemmend auf unternehmerisches Handeln und ökonomische Entwicklung aus. Im einzelnen sind dies eine mechanistische, mittelbare, rituell-manipulative, vom Animismus beeinflußte Beziehung zu Gott; ein hoher Grad an Mißtrauen gegenüber Nicht-Verwandten; sowie ein stark ausgeprägtes Egalitätsprinzip, das die Akkumulation von Reichtum für persönliche Zwecke inakzeptabel sein läßt, einen Zwang zum Teilen bedingt und zu einem Antiüberschußprinzip führt. Die zu stark ausgeprägte soziale Solidarität gegenüber Verwandten hat zur Konsequenz, daß die Großfamilie sich als Falle für eine ökonomische Entwicklung erweist.

Die Ausprägungen der meisten diskutierten unternehmerischen Fähigkeiten unterstützen unternehmerisches Handeln und damit ökonomische Entwicklung nur wenig. Bedingt durch animistisch geprägte Vorstellungen über die Genese von Reichtum und Wohlstand sind internale Kontrollüberzeugungen deutlich vermindert. Es herrscht eher ein Harmonie- statt ein Autonomiebedürfnis. Zurückhaltung zeigt sich bei der Bereitschaft, Probleme zu lösen. Eine ausgeprägte Fähigkeit zur Antizipation von Zukunftsmöglichkeiten ist nur in geringem Maße gegeben. Innovationen können nur schwerlich durchgesetzt werden, wenn sie im Konflikt mit der Vatergeneration und der Tradition stehen. Die durch den Kontakt zur fremden kulturellen Umwelt neu entstehenden Möglichkeiten werden wenig genutzt. Für das Dani-Gebiet gilt, daß die bloße Existenz von Vermarktungsmöglichkeiten nicht automatisch zu mehr Verkaufsorientierung führt. Neuerungen werden nur sehr selektiv mit dem Ziel einer Abrundung oder Absicherung der eigenen Kultur übernommen. Bei der Bereitschaft zum Aufschub von Genuß zeigt sich eher eine konsumtive Tendenz. Autoritarismus, Anschluß- und Anerkennungsmotiv sind stark ausgeprägt. Es herrscht eine Prestigewirtschaft vor, die ökonomische Entwicklung kaum zum Ziel hat. Das Erfolgsmotiv ist in allen drei Untersuchungsgebieten nur gering ausgeprägt. Für das Maibrat- und Kemtuk-Gebiet aussagekräftige Ergebnisse bestätigen aber die zentrale Rolle des Erfolgsmotivs bei ökonomischer Entwicklung. Verschiedene kulturelle Elemente, darunter auch Polygynie, beeinträchtigen die Herausbildung des Leistungsmotivs bei Individuen. Unternehmer genießen kaum Ansehen und Wertschätzung in der Gesellschaft. Im Hinblick auf die Fähigkeit der Untersuchungsgebiete zur ökonomischen Entwicklung ist eine durchgreifende ökonomische Entwicklung eher nicht zu erwarten.

Damit eine von den Papua selbst getragene ökonomische Entwicklung stattfinden kann, ist eine Beschneidung der großfamiliären Forderungen in Verbindung mit einem tiefgreifenden Kulturwandel, einer Transformation der Gesellschaft, notwendig. Dabei kommt christlicher Ethik eine maßgebliche Rolle nicht zuletzt auch im Hinblick auf eine kulturelle Revitalisierung zu. Weiterhin bedarf es einer auch die Muttersprachen der verschiedenen Volksgruppen Papuas berücksichtigende Bildungsarbeit sowie einer kulturspezifisch ausgerichteten Kleinunternehmerförderung.


Ringkasan

Penyelidikan ini berfokus pada alasan-alasan budayawi untuk marginalisasi bangsa pribumi Papua pada ekonomi modern di propinsi Papua di Indonesia. Latar belakang teoretis karya ini terdiri dari logika perkembangan Schumpeter dan teori pembangunan Röpke yang berdasarkan logika tersebut. Data-data empiris dikumpulkan melalui angket di tiga daerah pedesaan Papua, yaitu daerah kelompok etnis Maibrat, Kemtuk, dan Dani. Dalam daerah-daerah penelitian ini terutama diusahakan pertanian dalam rangka usaha keluarga dengan orientasi subsistensi yang kuat. Usaha pertanian ini ditandai oleh penguasaan kecil lingkungan alamiah dan oleh produktivitas yang rendah. Masyarakat berorientasi pada partikularisme dan pada rasa malu.

Kebanyakan unsur lingkungan budayawi kelompok-kelompok etnis sendiri yang didiskusikan berakibat pada kegiatan-kegiatan wirausaha dan perkembangan ekonomi secara menghambat. Unsur-unsur tersebut terdiri dari hubungan dengan Allah yang mekanis, tidak langsung, rituil-manipulatif, yang dipengaruhi oleh animisme; dari derajat tinggi kecurigaan terhadap orang yang bukan anggota keluarga besar; maupun dari prinsip persamaan yang kuat sifatnya. Prinsip ini menyebabkan akumulasi kekayaan untuk tujuan-tujuan pribadi menjadi tidak diterima oleh masyarakat, mengakibatkan paksaan untuk membagi kekayaan, dan menghasilkan suatu prinsip anti-surplus. Solidaritas sosial terhadap keluarga besar yang terlalu kuat membuat keluarga besar menjadi perangkap untuk perkembangan ekonomi.

Sifat-sifat kebanyakan kemampuan wiraswasta yang didiskusikan hanya mendukung kegiatan-kegiatan wirausaha dan dengan ini perkembangan ekonomi dalam skala kecil. Karena gagasan-gagasan tentang penciptaan kekayaan dan kesejahteraan yang dipengaruhi oleh animisme, "locus of control" internal dikurangi dengan jelas. Terdapat lebih banyak keinginan untuk keselarasan dari pada untuk otonomi. Para responden menahan diri pada kesediaan untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Kemampuan jelas untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan masa depan terdapat hanya sedikit. Inovasi-inovasi hampir tidak dapat diterapkan, apabila ada perselisihan dengan generasi kaum ayah atau tradisi. Kemungkinan-kemungkinan baru yang muncul karena kontak-kontak dengan lingkungan budayawi asing dimanfaatkan dengan sedikit. Bukti dari daerah Dani menunjukkan, bahwa hanya eksistensi kemungkinan-kemungkinan pemasaran sendiri tidak secara otomatis menyebabkan orientasi pasar. Inovasi-inovasi hanya diterima secara sangat selektif dengan tujuan melengkapi atau melindungi kebudayaan sendiri. Kecenderungan konsumtif terdapat pada kesediaan untuk menunda konsumsi. Otoritarisme, motif integrasi, dan motif mendapatkan pengakuan sifatnya kuat. Berlaku ekonomi prestise yang hampir tidak bertujuan perkembangan ekonomi. Motif keberhasilan (harapan atas keberhasilan sebagai sebagian motif prestasi) hanya terdapat sedikit dalam ketiga daerah penelitian. Namun hasil-hasil penelitian untuk daerah Maibrat dan Kemtuk yang berarti mendukung peranan sentral motif keberhasilan pada perkembangan ekonomi. Unsur-unsur budayawi yang berbeda-beda, di antaranya poligini, menghambat pembentukan motif prestasi pada individu-individu. Para pengusaha hampir tidak menikmati prestise dan penghargaan dalam masyarakat. Melihat kemampuan daerah-daerah penelitian untuk perkembangan ekonomi, perkembangan ekonomi yang betul berarti hampir tidak dapat diharapkan.

Supaya terjadi perkembangan ekonomi yang dilaksanakan oleh orang Papua sendiri, diperlukan pengurangan tuntutan-tuntutan keluarga besar bersama dengan perubahan kebudayaan yang luas, yaitu transformasi masyarakat. Dalam hal ini etika Kristen memainkan peranan penting dengan juga memungkinkan revitalisasi budayawi. Selanjutnya diperlukan sistem pendidikan yang mempedulikan bahasa-bahasa ibu dari kelompok-kelompok etnis Papua, maupun diperlukan usaha pengembangan pengusaha kecil yang berorientasi secara spesifik pada kebudayaan setempat.


Abstract

This study focuses on the cultural reasons for the marginalisation of indigenous people in the modern economy of the Indonesian province of Papua. The theoretical background for the study is grounded in the development logic of Schumpeter and the development theory of Röpke, itself based on Schumpeter's logic. The empirical data were collected through questionnaires in three rural regions of Papua, the areas of the Maibrat, Kemtuk and Dani ethnic groups.

People in the three research areas rely heavily on subsistence agriculture organised within the family. Agriculture is characterised by a low degree of control of the natural environment and low productivity. The societies are particularistic (in that personal ties take precedence over commitment to society and the state) and shame-oriented.

Most of the elements of the three cultural environments discussed in the study have an inhibiting effect on entrepreneurial action and economic development. These elements include a mechanistic, indirect, ritual-manipulative relationship with God, influenced by animism; a high degree of mistrust towards non-relatives; and a very pronounced principle of egalitarianism. This latter principle forbids the accumulation of wealth for personal purposes. It is the reason for a compulsion to share, leading to an anti-surplus principle. The over-pronounced social solidarity with relatives makes the extended family an economic development trap.

Most of the entrepreneurial abilities identified in the study support entrepreneurial action, and with it economic development, only on a small scale. Concepts of the genesis of wealth and affluence that are influenced by animism clearly diminish any internal (personal) locus of control. There is a desire for harmony rather than for autonomy. There is a 'wait-and-see' approach to solving problems. The ability to anticipate future opportunities is limited, and innovations can rarely be implemented when they are in conflict with tradition and the habits of the older generation. People rarely embrace opportunities triggered by contact with their foreign cultural environment. Evidence from the Dani area shows that the mere existence of marketing opportunities does not automatically lead to greater market orientation. Innovations are adopted very selectively in order to 'round out' the home culture.

There is a tendency not to defer gratification of needs. Authoritarianism and a need for affiliation and recognition are very pronounced. A prestige economy - with prestige rather than efficiency criteria as the focus of economic activity - prevails, and this is not generally consistent with economic development.

The success motive (hope for success as part of the achievement motive) exists only on a small scale in all three of the research areas. But significant results for the Maibrat and Kemtuk areas confirm the central role that the success motive plays in economic development. Cultural elements such as polygyny hinder the development of the individual's achievement motive. Entrepreneurs enjoy little prestige and appreciation in society. These characteristics severely limit the ability of the research areas to develop economically.

Economic development triggered by Papuans themselves would require a reduction in the demands of the extended family, accompanied by far-reaching changes in culture - in short, a transformation of the society. An important role here falls to Christian ethics, which, besides effecting transformation, can help to foster cultural revitalisation. Furthermore, education involving the local languages of Papua's various ethnic groups must be established, and there needs to be culturally oriented promotion of small entrepreneurs.



  © Copyright UNIPA - ANU - UNCEN PapuaWeb Project, 2002-2005.

honai/home page