logo banner honai/home page


EKOLOGI KAMORO - BAB I.

© Kal Muller, 2004. (English version)


01. Dataran baru yang datar antara sentra deretan pegunungan Papua dan Laut Arafura terbentang membentuk sebuah paya tanaman bakau tepat sebelum mencapai ekosistem kelautan. Lebih menuju ke dalam dapat ditemui hutan tropis yang mempersembahkan sumber daya alam yang saling menunjang kepada penduduk Kamoro.

01a. Situs-situs transmigrasi yang tersebar merupakan ancaman terbesar terhadap gaya hidup penduduk Kamoro, serta eksosistem wilayah Timika. Sedikit sekali perhatian yang diberikan terhadap hak-hak tanah tradisional para penduduk Kamoro ketika penduduk pendatang didatangkan dari pulau Jawa.

02. Batang tubuh pohon Cryptocarya massoy mengandung minyak yang mudah menguap, sebanding dengan kayu manis. Komoditas yang diperdagangkan sejak dahulu kala, dan hingga kini masih tetap dikumpulkan di bagian paling barat tanah Kamoro. Kegunaan utamanya adalah di pulau Jawa dimana massoy merupakan bahan rempah utama bagi berbagai obat-obatan tradisional dengan serangkaian manfaat, termasuk untuk pencegahan kejang-kejang selama kehamilan. Massoy dasar digunakan dalam beberapa jenis sayur kare dan sebagai bahan campuran pewarna untuk pembuatan batik Jawa.

02a. Penduduk transmigran Papua dari dataran tinggi lebih agresif dari pada penduduk Kamoro dan sudah menetap di dataran rendah dalam jumlah yang cukup besar untuk mencari nafkah dan gaya hidup yang lebih baik. Beberapa tinggal di dalam perkampungan-perkampungan resmi, lainnya dimana saja mereka menemukan tempat untuk dapat tinggal.

03. Satu keluarga kembali ke Desa Atuka setelah seharian mencari makan di hutan bakau. Mereka membawa kembali kayu bakar, buah beri liar, kepiting untuk dijual dan kerang/moluska tambelo untuk dimanfaatkan di rumah sendiri. Sering kali mencari makan di hutan diselingi dengan bepergian terkadang selama berhari-hari hingga satu minggu ke daereh sagu yang berada lebih ke arah hulu.

03a. Penduduk Papua dari dataran tinggi gemar bertani, yaitu suatu tradisi turun-temurun, berbeda dengan penduduk Kamoro. Penduduk pendatang dari dataran tinggi ke daerah Timika memerlukan tanah, yang secara tradisi dimiliki oleh penduduk Kamoro.

04. Setiap hari, bepergian ke hutan dilakukan dengan menggunakan kano yang dikayuh sendiri. Tetapi ada juga kesempatan untuk bisa bepergian menumpang sampan yang luas yang menggunakan mesin luar. Tiap desa kini memiliki jonson [outboard motors] tetapi harganya yang mahal serta kesulitan memperoleh bahan bakar membatasi penggunaannya.

05. Timbunan batang kayu yang siap dikapalkan dari tanah Kamaro. Perusahaan penebangan kayu tidak menbayar royalti kepada pihak Kamoro. Banyak diantara jenis kayu yang digunakan untuk membuat kano sama dengan kayu yang diberi harga mahal oleh pelaku bisnis perkayuan. Hak-hak tanah tradisional perlu diperjelas dan dilindungi oleh pemerintah.

06. Dengan dorongan/dukungan dari pihak luar, beberapa orang Kamoro kini sudah mulai menekuni bidang agraria. Berburu, menangkap ikan dan sekadar mengumpulkan (mencari-cari?) merupakan kegiatan yang lebih disukai. Di Atuka, berkat upaya dari seorang guru Jawa yang telah lama bertempat tinggal di situ kegiatan berkebun juga sudah mulai menampakkan hasil. Gundukan pasir yang tidak bergizi diberi pupuk dari lapisan bawah dahan-dahan Crotallaria striata, maupun daun-daun kembang sepatu pantai, hibiscus tiliecetous.

07. Kupu-kupu dapat dijumpai dalam jumlah yang amat banyak di tanah Kamoro, tetapi belum dipelajari ataupun di didaftar dengan saksama. Serangga yang cantik tersebut dapat menjadi sumber informasi yang lumayan dalam menilai keragaman hayati di sebuah daerah. Jenis-jenis kupu-kupu yang paling lazim dijumpai adalah birdwings, Troides (Ornithoptera) priamus. Birdwings yang terdapat di Papua semuanya berasal dari jenis Troides, dan berjumlah delapan macam, dimana enam diantaranya berada di wilayah proyek Freeport.

08. Di Timika, terdapat dua jenis buaya: air tawar dan air asin/muara. Sejak perburuan komersial dilarang pada tahun 80-an, buaya air asin mulai berkembang biak lagi, tetapi yang berukuran besar masih sangat sedikit jumlahnya. Buaya darat, atau buaya air tawar dapat mewakili jenis baru, yang berbeda dari yang ditemukan di bagian utara Papua.

09. Dua telur burung kasuari yang besar dan segenggam ikan bakar bisa menjadi santapan yang amat lezat bagi satu keluarga Kamoro, jika dilengkapi dengan sagu. Dengan diet berdasar sagu dan protein ikan, diet penduduk Kamoro sangat bervariasi karena banyak bahan-bahan alami yang diperoleh atau diburu sesuai apa yang ditemukan.

10. Seorang ibu rumah tangga Kamoro membakar ikan dan merebus sebutir telur burung kasuari. Dengan diet dasar sagu dan protein dari ikan, masih banyak bahan lainnya yang ditambah untuk memberi variasi pada diet mereka, dimana haban-bahan alami diburu atau dikumpulkan sesuai apa yang ditemukan.

11. Perkemahan sementara penduduk nelayan dibangun di pantai-pantai di dekat muara untuk memudahkan penangkapan ikan yang menguntungkan. Penduduk Kamoro jarang sekali menangkap ikan di tengah laut. Hewan-hewan besar seperti kura-kura, ikan hiu dan ikan besar lainnya biasanya ditangkap dengan seruit, lainnya mereka tangkap dengan jala. Menangkap ikan dengan kail dan tongkat sangat jarang dilakukan.

12. Sebuah kano besar kembali ke desa asalnya menjelang senja setelah menangkap ikan dan mencari makanan seharian. Beberapa orang dewasa dan anak-anak terkadang menghabiskan satu hari penuh guna mencari makan berupa kerang-kerangan, udang, buah-buah liar dan daun-daun yang dapat dimakan di hutan bakau.




  © Copyright UNIPA - ANU - UNCEN PapuaWeb Project, 2004.

honai/home page