logo banner honai/home page


EKOLOGI KAMORO - BAB II.

© Kal Muller, 2004. (English version)


01. Desa Iwaka terdiri dari 101 rumah yang terletak sepanjang jalan sentra. Rumah-rumah tersebut terbuat dari kayu dan beratap seng. Rumah-rumah tersebut, demikian juga gereja dan sebuah sekolah, telah dibangun oleh Freeport sebagai kompensasi/ganti rugi atas penggunaan hak tanah Iwaka untuk kota perusahaan Kuala Kencana. Walaupun situs-situs transmigrasi dan perusahaan-perusahaan perkayuan juga telah menggunakan tanah Iwaka, namun penduduk Kamoro tidak menerima restitusi/ganti rugi hak guna.

02. Sebuah gubug kapiri kame sepanjang sungai. Bahan-bahan tradisional yang digunakan adalah daun pandanus (dari jenis yang dinamakan kapiri dalam bahasa Kamoro) untuk dinding-dindingnya dan daun sagu untuk atapnya. Bahan plastik mulai banyak digunakan. Kebanyakan diantara gubug-gubug sementara tersebut ditempati oleh beberapa keluarga.

03. Kapiri kame merupakan kegiatan tradisional, tetapi tidak salah jika juga menikmati mainan canggih masa kini sementara berada jauh dari rumah. Sebuah tape recorder bertenaga baterei cocok juga diantara dinding pandanus dan kasur-kasur tidur. Tidak ada penyekat resmi dalam gubug panjang yang bentuknya memanjang dan sifatnya sementara tersebut.

04. Ikan kerap kali diasap di depan perkampungan kapiri kame. Walaupun harga-harga ikan segar di pasar Timika lebih tinggi, kini sudah ada jalan untuk penduduk Kamoro guna memperoleh es yang diperlukan untuk membekukan makanan.

05. Garam, gula, gelas minum, saus sambal, cabai dan susu manis kaleng termasuk barang-barang yang terbanyak di bawa dari desa-desa ke perkampungan sementara tersebut. Hasil-hasil hutan dibawa ke rumah masing-masing baik untuk dikonsumsi maupun untuk dijual.

06. Memperkenalkan penggunaan kacamata kedap air (goggles) belum lama berselang untuk menangkap ikan dengan tombak telah membuahkan hasil yang baik, tetapi hanya bisa selama masa kering jika airnya jernih. Setelah hujan turun, penglihatan di dalam air langsung turun menjadi nol baik di dalam sungai maupun kali.

07. Para orangtua mengajuh sampannya sementara putri mereka beristirahat di bawah sebuah payung Freeeport yang melindunginya dari terik matahari. Para orangtua yang tidak membawa anak bepergian pulang pergi ke situs-situs kapiri kame yang mereka tempati bersama teman-teman dan sanak keluarga.

08. Sebuah perkampungan kapiri kame jauh di hulu sungai Kamora, sekitar satu hari berkayuh dari desa Iwaka. Tiap suku (taparu) yang membentuk Iwaka telah menentukan hak-hak turun-temurun yang dapat dinikmati bersama melalui perkawinan. Orang luar memperoleh izin untuk menggunakan sumber-sumber setempat, biasanya dengan memberi imbalan sebagain dari hasil yang diperoleh/terkumpul.

09. Dua kepting hutan bakau dan sejumlah ikan lele jenis Siluroidea sedang menunggu untuk diangkut ke Timika. Sementara kepiting dapat bertahan selama berhari-hari, ikan yang telah mati perlu segera dibekukan atau langsung di bawa ke pasar setelah ditangkap. Ikan sering kali dijual dalam keadaan diasap, yang mengakibatkan harga jualnya menjadi lebih murah dari pada ikan segar.

10. Ular Papua Boa Tanah, Candoia aspera, malang nasibnya karena menyerupai ular yang sangat berbisa dari Eropa, yaitu adder. Ular jenis tersebut, hidup di malam hari seperti halnya ular sejenisnya dan ditemukan ketika sedang dilakukan pengguntingan rumput di Desa Iwaka. Walaupun kebanyakan penduduk Kamoro sangat takut terhadap ular, selalu saja ada seseorang dalam tiap desa yang suka menjadi pawang, dan tentu saja senang menakut-nakuti teman-temannya.

11. Urbanisasi/perpindahan penduduk pesat yang terjadi di Timika, serta perkampungan sementara di sekitarnya merupakan rintangan terbesar bagi ekosistem setempat. Terutamanya, penduduk Iwaka, yang menjadi gusar karena mereka hampir tidak menerima imbalan apapun ketika berbidang-bidang tanah mereka diambil alih untuk penduduk transmigran/pendayang.

12. Timika adalah kota yang sangat berhasil, dan merupakan kota yang terpesat lajunya di Indonesia dengan peningkatan penduduk dari segelintir orang di awal tahun 70-an hingga 50.000 jiwa saat ini, yaitu 35 tahun kemudian. Kota tersebut dibangun di atas tanah tradisonal Kamoro.




  © Copyright UNIPA - ANU - UNCEN PapuaWeb Project, 2004.

honai/home page