logo banner honai/home page


EKOLOGI KAMORO - BAB IV.

© Kal Muller, 2004. (English version)


01. Perusahaan perkayuan Djayanti membangun jalan ini pada tahun 1995, guna mengangkut gelondongan kayu besar ke sungai Wania untuk pengangkutan dengan tongkang-tongkang. Tidak ada pembayaran royalti kepada penduduk Amungme setempat.

02. Pada saat puncak operasinya, Djayanti mengapalkan jumlah kayu cukup besar, yang kebanyakan diproses menjadi kayu tripleks di pabrik mereka yang berlokasi di pulau Seram. Penduduk Kamoro tidak diikutsertakan sebagai penerima imbalan atas pengambilan kayu tersebut dari tanah leluhur mereka.

03. Desa Pigapu (2001), di situs bekas kolam kayu (lopon) Djayanti. Penduduk Kamoro baru-baru ini pindah kembali ke tempat ini. Lokasi ini berada tepat di seberang sungai Wania, bekas situs desa. Di tempat inilah festival Kamoro tahunan berlangsung.

04. Pohon-pohon pandanus sejenis memagari bagian hilir sungai-sungai tepat sebelum bagian yang kena dampak dari pasang-surut. Walaupun jenis pandanus ini tidak menghasilkan buah yang dapat dimakan manusia, ikan-ikan sangat menyukainya, maka menyadikan tempat tersebut sangat baik untuk menangkap ikan.

05. Kebanyakan penduduk Kamoro menangkap ikan dengan menggunakan jala ikan. Menangkap ikan dengan kail tidak pernah menjadi cara tradisional, namun kini sudah mulai digunakan, walaupun tidak terlalu sering.

06. Seorang tua menabuh gendang pada upacara pentahbisan. Garis-garis/goresan-goresan putih pada tubuh bagian atasnya adalah jeruk yang diperoleh dari kerang yang dibakar. Gendangnya terbuat dari kayu kembang sepatu dan dibungkus dengan kulit kadal yang diberi damat disana-sini agar permukaannya menjadi kencang.




  © Copyright UNIPA - ANU - UNCEN PapuaWeb Project, 2004.

honai/home page