logo banner honai/home page


EKOLOGI KAMORO - BAB VI.

© Kal Muller, 2004. (English version)


01. Telur-telur burung-burung liar menjadi sumber protein yang lezat bagi penduduk Kamoro. Contoh ini diambil dari salah seekor pembuat sarang gundukan tanah berkaki besar/megapod, kemungkinan besar Megopodus reinwart, yang lebih dikenal sebagai Common Scrubfowl. The Red-Billed Bush Turkey, Talegalla cuvieri, juga membuat sarang gundukan tanah.

02. Mettalic Sterling, Aponis metallical, menjadi kedapan yang lezat bagi remaja pria. Mereka memburunya secara musiman di daerah berpaya-paya dimana umumnya burung-burung tersebut bertengger pada senja hari. Remaja-remaja tersebut bersembunyi kemudian menggunakan ranting-ranting yang pipih dan panjang untuk mengusik burung-burung tersebut ke bawah. Selanjutnya burung-burung tersebut langsung dipanggang dan dimakan.

03. Burung-burung hutan tropis berwarna-warni dijual secara liar/ilegal oleh orang-orang dari luar, maupun penduduk Kamoro. Berbagai jerat dan perangkap dipasang guna menangkap burung-burung tersebut untuk kemudian dijual di pasar Timika. Beberapa diantaranya tetap dipelihara oleh orang-orang setempat, namun kebanyakan dikapalkan ke pulau Jawa.

04. "Tamu" musiman dari benua Australia, burung pelikan, (Pelicanus conspicillatus) dapat ditemui dalam jumlah besar hingga mencapai 200 ekor, baik di pegunungan pasir maupun apungan lumpur di muara. Penduduk Kamoro menggunakan bulunya untuk bahan dekorasi.

05. Kulit burung cendrawasih, seperti misalnya Greater Bird of Paradise, telah diperdagangkan oleh penduduk Kamoro jauh sebelum mereka terkena pengaruh dari dunia luar. Mereka terkadang masih diburu dengan menggunakan panah dan busur. Dalam berbagai upacara adat pada festival Kamoro tahunan, topi atau sekedar bulu-bulu atau seluruh burung tersebut menambah warna dan kesemarakan busana para pria.

06. Burung Dara Selatan Bermahkota (Goura Scheepmakeri) yang unik dan endemis adalah yang terbesar diantara tiga jenis, yang telah membagi Papua menjadi tiga bagian wilayah eksklusif. Burung tersebut memiliki cakar yang mematikan demi kelangsungan hidupnya; sifatnya lumayan jinak dan memiliki tubuh yang besar dan berdaging (gemuk). Burung dara kita juga sangat tertarik pada sisa-sisa pohon sagu di tengah hutan, satu hal yang sangat diketahui oleh penduduk Kamoro. Jika Anda kembali ke sebatang pohon sagu yang sudah ditebang maka Anda akan menemukan mereka dalam jumlah yang Aduhai!

07. Anak burung kasuari terkadang dijadikan hewan peliharaan. Kasuari Selatan dikenal sebagai Casuarius casuarius bagi para ahli ilmu burung dan petuu bagi penduduk Kamoro. Bentuk burung ini menyerupai silang antara burung unta dan ayam kalkun. Hewan ini tidak dapat terbang dan merupakan hewan endemis yang terbesar di Papua. Burung kasuari ditakdirkan memiliki daging yang berlimpah, telur yang besar-besar, tulang paha yang kuat dan bulu-bulu kasar yang berkilau, semuanya unsur-unsur yang amat digemari penduduk Kamoro.

08. Sebutir telur kasuari merupakan "mahluk" berwarna hijau muda dengan berat sekitar 650 gram dan rasanya seperti telur ayam. Penduduk Kamoro biasanya menyantap telur tersebut setelah direbus. Burung-burung kasuari biasanya bertelur di dasar hutan dan jumlahnya tiga sampai lima butir. Burung kasuari jantan mengeram telur-telur tersebut selama sekitar dua bulan, kemudian anak-anak burung tersebut dibesarkan selama kurang lebih sembilan bulan untuk mencapai kedewasaannya.

09. Burung enggang Blyth, Rhyticeros plicatus, adalah jenis tunggal diantara ke-44 jenis burung ini yang ditemui di Papua. Disebabkan kebiasan berkembang biaknya serta cara hidupnya, maka penduduk Kamoro menolak/enggan untuk memburu burung jenis ini.




  © Copyright UNIPA - ANU - UNCEN PapuaWeb Project, 2004.

honai/home page