logo banner honai/home page


EKOLOGI KAMORO - BAB VII.

© Kal Muller, 2004. (English version)


01. Seorang nelayan menjual hasil tangkapannya di tepi jalan yang menuju bandara, tepat sebelum masuk kota Timika, dan dekat beberapa kolam ikan segar yang berlokasi beberapa puluh meter dari Tanggul Barat Sungai Ajkwa. Ikan-ikan ini jenis African tilapia, ikan yang diimpor dan biasa dikenal sebagai mujair (Orchochromis mossambica). Dr Cory Allen, seorang ahli perikanan terkemuka menyatakan bahwa ikan yang diimpor menjadi ancaman lebih besar terhadap ekosistem setempat dibanding dengan tailings yang dihasilkan oleh Freeport.

02. Seorang pendatang asal Asmat memamerkan seekor ikan Kelelawar berkepala punuk yang besar. Sambil bersusah payah membawa ikan tersebut bersama semua hasil tangkapan lainnya, ia harus berjalan beberapa kilometer untuk sampai pada tempat di mana ia akan menjual hasil tangkapannya. Berbeda dari penduduk pendatang lainnya, penduduk Asmat jarang menetap di tanah Kamoro.

03. Dua wanita Kamoro memasang sebuah tirai yang panjang dan tipis, atau pembatas tanggul/bendungan, sepanjang sebuah kali dari satu tepi ke tepi seberangnya pada waktu pasang naik. Pembatas tersebut ditunjang oleh tiang-tiang kokoh yang ditanyapkan pada kedua tepi tersebut dan juga di dasar kali berlumpur lunak. Ketika pasang surut, ikan-ikan akan terperangkap di bagian hulu.

04. Seorang nelayan "menghela" seekor ikan hiu kecil dari sebuah jala yang dipasang malam sebelumnya di laut, berdekatan dengan pantai. Sirip-sirip ikan tersebut yang bernilai tinggi dan sangat digemari oleh orang Cina, adalah alasan mengapa sekarang ada penangkapan ikan hiu komersial yang berlebihan di Laut Arafura, hal mana telah mengurangi hasil penduduk Kamoro, baik ditinjau dari aspek makanan maupun keuangan.

05. Bertahun-tahun lamanya Freeport membeli ikan barramundi (Lates calcarifer) yang paling tinggi harganya di wilayah ini, langsung dari penduduk Kamoro. Cara pembelian tersebut kini telah dihentikan. Sekarang sebuah binis yang dimiliki penduduk Kamoro berusaha menjual ikan-ikan tersebut.

06. Sorang remaja laki-laki dengan bangga memamerkan ikan Talang Queen, Scomberoides commersonnianus, yang baru ia tangkap dengan kailnya di sebuah muara yang terdapat di situ. Karena teralu jauh untuk dijual sebagai ikan segar di pasar (karena tidak ada es untuk membekukan) maka ikan tersebut akan diasap kemudian baru dijual, hal mana berarti harganya akan jauh lebih rendah.

07. Seorang pendatang di pasar Timika memperlihatkan seekor ikan berukuran besar, kemungkinan Giant Threadfin, Elautheronema tetradactylum. Nelayan Kamoro jarang sekali menjual langsung kepada pelanggan, dengan demikian mereka kehilangan bagian dari keuntungan yang cukup besar jumlahnya.

08. Kebanyakan penduduk Kamoro tinggal terlalu jauh dari pasar-pasar untuk menjual ikan segar mereka yang sebetulnya bisa menghasilkan pendapatan yang jauh lebih besar. Mereka terpaksa harus mengasap-keringkan hasil tangkapan mereka, hal mana berarti harga jualnya menjadi sepertiga lebih kurang dibanding jika ada es atau bahan bakar untuk kapal mesin yang lebih murah dan mudah di-akses oleh mereka.

09. Seekor ikan pari jenis Giant Shovel (Rhinobatos typus) yang besar/raksasa, dengan seekor ikan pari Cowtail yang jarang dijumpai di daerah ini. Kedua ikan pari tersebut ditangkap dengan jala oleh penduduk Kamoro di sebuah muara dekat kota Timika. Sirip dari ikan pari berukuran besar berharga sekali untuk masakan Cina, dan lebih mahal dari sirip ikan hiu.

10. Mudskippers dapat ditemui dalam jumlah yang sangat banyak di hutan-hutan bakau, di mana mereka berkumpul dalam lumpur pantai yang terbentang luas saat pasang-surut. Hewan-hewan kecil tersebut adalah jenis Weber Mudskipper, Periophtalmus weberi, dan terbatas pada bagian selatan tengah Papua dan Australia bagian utara. Walaupun tidak terlalu dinilai tinggi oleh penduduk Kamoro, mereka kadang-kadang menyantapnya.

11. Seorang nelayan dari Desa Atuka, Soter Maporo, telah memasang sebuah jala malam sebelumnya di sebuah muara yang berada 50 meter ke arah darat dari tepi pantai. Ia memamerkan hasil tangkapannya pada pagi hari, satu ekor ikan barramundi, Lates calcarifer; dua ekor threadfin, polydactylus sp.; dan tiga ekor ikan asin croaker, kemungkinan Johnius coitor (atau J.volgeri). Seorang penduduk asli, Domi, telah membeli semua ikan tersebut seharga Rp.4,000, yaitu sebanding dengan harga satu kilo beras di Atuka. Segera setelah menjual hasil tangkapannya, Soter memasang jalanya kembali untuk memeriksa hasil tangkapannya pada sore harinya.

12. Lumayan jauh ke hulu sungai Wania, tepat di luar Desa Pigapu, sebuah jala yang dipasang pada malam sebelumnya menghasilkan sejumlah ikan yang lumayan banyaknya, antara lain ikan lele Froggett, Cinetodus froggatti, beberapa ikan lele berekor garpu, Arius sp, seekor lele berbibir tebal, Arius crassabilis, tiga ekor ikan Nursery, Kurtus gulliveri, satu ekor barramundi kecil, Lates calcacifer, dan satu ekor croaker, Johnius sp. yang lumayan besar.

13. Desa Pigapu di hulu Sungai Wania. Hasil tangkapan jala yang dipasang Leo Neakowau malam sebelumnya. Hasilnya: Empat belas ekor ikan lele jenis Papilate, Arius velutinus; empat ekor ikan lele jenis Froggatti, Cinetodus froggatti, satu ekor ikan lele jenis moncong bebek atau Daniel, Cochiefelis danielsi; satu ekor barramundi kecil, Lates calcarifer dan satu Perichot Kaca besar, Parambassis gulliveri.

14. Salah satu jenis ikan lele yang baru saja ditangkap di lepas pantai dalam sebuah jala yang dipasang malam sebelumnya di dekat desa nelayan Otakwa.

15. Seekor ikan air tawar yang tidak teridentifikasi yang ditangkap di sungai Wania oleh seorang nelayan Kamoro dengan menggunakan jala.




  © Copyright UNIPA - ANU - UNCEN PapuaWeb Project, 2004.

honai/home page