logo banner honai/home page


EKOLOGI KAMORO - BAB IX.

© Kal Muller, 2004. (English version)


01. Kota Madya Kokonao merupakan lokasi pemasaran untuk barang-barang hasil upaya penduduk Kamoro yang tinggal di sekitar kota tersebut. Di antara pembeli-pembeli utama barang-barang dagangan para Kamoro terdapat saudagar-saudagar Bugis, pejabat-pejabat pemerintah dan pengikut gereja Katolik setempat. Diantara barang dagangan mereka selain hewan moluska berkelopak dua dan hewan remis corbiculate, juga terdapat Polymesoda coaxans, P. papuensis dan P. enosa. Semua jenis hewan tersebut di atas pada umumnya adalah hasil tangkapan wanita-wanita Kamoro pada waktu melakukan perjalanan mereka untuk mencari makanan.

02. Meskipun baik jenis moluska berkelopak dua maupun jenis siput digemari sekali oleh penduduk Kamoro, mereka cenderung lebih menyukai hewan remis yang besar. Jenis remis ini mereka masak langsung di atas api terbuka untuk dimakan bersama dengan sagu. Bekas rumah hewan remis kelak dipakai untuk membuat kapur yang merupakan bahan yang berguna untuk mendekorasi tubuh yang biasanya dilakukan pada upacara-upacara dan ritual-ritual, disamping sebagai bahan pencegah penggrogotan kanu oleh organisme-organisme.

03. Di desa Pigapu (yang berada di tepi sungai Wania) terdapat jenis moluska yang disebut yake yang sering dimakan. Jenis moluska berkelopak dua ini oleh departemen lingkungan hidup PT Freeport telah teridentifikasi sebagai Polymesoa papiriensi. Berkat kemampuan para ahli peneliti Freeport, maka di daerah Timika keragaman hayati secara relatif telah berhasil diciptakan.

04. Jenis Lineate Nerita, Neritabaliet, dianggap sebagai makanan tambahan bagi penduduk Kamoro. Sebagian dari mereka menganggap jenis ini berkelamin jantan, sedangkan sebagian lain menganggapnya betina, seperti jenis Nerita planospira dan "flatspired" nerita. Tidak diberi alasan jelas mengapa terdapat perbedaan tersebut.

05. Di daerah Timika kadang-kadang ditemukan suatu jenis kerang berbentuk triton (semacam trompet). Kerang in bernama Busykon Whelk yang juga dikenal sebagai Trompet Palsu, atau Syrinx aruanus. Jenis ini sering ditemukan terdampar di pantai tanpa isinya. Bila masih terdapat hewan kerangnya di dalam maka dia akan langsung dimakan. Rumah kerang kosong biasanya diberi lubang pada bagian atasnya dan digunakan sebagai trompet. Jenis kerang ini juga terkenal sebagai jenis siput yang terbesar di dunia.

06. Bagi orang Kamoro, tambelo adalah santapan lokal yang sangat lezat. Bila Anda berkesempatan mengunjungi sebuah desa Kamoro, janganlah lupa mencoba makanan lezat berupa cacing licin dan panjang seperti jenis cacing kapal. Sebetulnya tambelo, yang masih tergolong keluarga moluska berkelopak, tak terlampau menjijikkan dan tidak berbeda rasanya dari tiram mentah yang manis dan lezat.

07. Tambelo biasanya ditemukan di dalam pohon-pohon bakau yang dalam proses membusuk. Hewan jenis moluska ini mulai tampil ke permukaan begitu saat pohon bakau dibelah. Terdapat berbagai ragam jenis tambelo yang semua tergolong keluarga Teredinidae, termasuk cacing kapal yang masih berhubungan keluarga (meskipun jauh), tetapi tidak layak dimakan sepanjang pengetahuan kami. Tambelo yang terpanjang adalah Ko menurut pendapat orang Kamoro. Jenis ini dalam bahasa ilmiah dikenal dengan nama Bactronophorus thoracites.

08. Panjang rata-rata seekor tambelo adalah 30 cm. Yang paling lezat hanya bisa diperoleh di dalam dua jenis pohon bakau, yaitu Rhizophora stylosa dan R. apiculate. Satu jenis pohon bakau lain adalah R. micronata yang umumnya didiami jenis tambelo yang disebut Dicyathifera mucronata. Jenis tambelo ini tidak terlampau enak untuk dimakan.

09. Adapun satu jenis tambelo yang hanya hidup di dalam air tawar, hingga kini secara ilmiah belum berhasil diidentifikasi. Para Kamoro menyebutnya titiri atau tiiri; rasanya manis dan teksturnya seperti bahan perekat. Bentuk jenis tambelo ini adalah panjang (20 cm) dan kurus dan badannya mudah patah sehingga harus diangkat secara perlahan-lahan dari air. Kadang-kadang jenis ini sengaja dibiakkan dan dipelihara dengan cara memasang balok kayu di dalam sungai atau kali.

10. Menurut penduduk Kamoro yang bertempat tinggal sekitar daerah sebelah timur tanggul, populasi tambelo air tawar pulih kembali setelah tanggul bagian timur selesai dibangun. Mereka berhasil menangkap sedikit pada tahun 1999, tetapi karena alasan yang misterius populasinya hilang lagi pada awal tahun 2000. Jenis berkelopak dua ini masih terdapat dalam jumlah besar baik di bagian sebelah timur maupun sebelah barat daerah pengendapan tailings PT Freeport.




  © Copyright UNIPA - ANU - UNCEN PapuaWeb Project, 2004.

honai/home page