logo banner honai/home page


EKOLOGI KAMORO - BAB XII.

© Kal Muller, 2004. (English version)


01. Bagi para Kamoro, ulat sago (bukan seekor cacing) adalah makanan paling lezat dan paling dihargai. Pohon sago dewasa setelah ditebang sengaja dibiarkan membusuk. Selama proses pembusukan pohon-pohon diserbu organisme dari jenis kumbang dari golongan keluarga Rhinchophorus dengan berat 3-8 gram, berkandungan protein 3-7%, lemak 10-30% dan sisanya adalah air. Tingkat identifikasi jenisnya adalah R. Schack, yang juga dikenal dengan nama ulat sago.

02. Bila tidak dimakan ulat bertumbuh dewasa dan menjadi kumbang dari golongan Rhinchophoridae, atau kumbang besar. Hewan-hewan yang telah dewasa mempunyai alat peraba berwarna jingga. Seperti juga kumbang pohon palem yang lain, kumbang besar ini dapat merusak pohon, tetapi hal ini tak dihiraukan oleh para Kamoro. Ada pula kelompok-kelompok suku lain yang sama seperti penduduk Kamoro menganggap ulat sago sebagai satu jenis makanan yang sangat lezat.

03. sama dgn 02.

04. Kupu-kupu berwarna jingga cemerlang bernama Junonia Villide, merupakan satu pemandangan umum di Timika. Kupu-kupu jenis tersebut selalu dijauhi oleh burung-burung karena warna cemerlangnya rupanya tidak mereka sukai.

05. Kupu-kupu berekor menyerupai burung layang, Lyssa zampa docilism, sangat lembut seperti namanya. Pola dan warna pada sayapnya lembut mungkin dimaksudkan untuk tidak cepat menjadi mangsa atau sasaran hewan lainnya. Lokasi pembudidayaan pemeliharaan kupu-kupu berpotensi besar menjadi sumber pendapatan bagi penduduk Kamoro.

06. Di dalam hutan tropis pada salah satu lokasi perkemahan sementara penduduk Kamoro, jenis kupu-kupu tersebut gemar sekali berdekatan dengan manusia. Jenis Hypolycaena danis hidup dari bunga anggrek. Kupu-kupu tersebut sama sekali tidak malu atau takut pada manusia, bahkan seakan-akan tidak peduli dengan keberadaan lensa besar alat pemotretan yang dipasang tidak seberapa jauh darinya.




  © Copyright UNIPA - ANU - UNCEN PapuaWeb Project, 2004.

honai/home page