logo banner honai/home page


EKOLOGI KAMORO: Pembuatan Prau.

© Kal Muller, 2004. (English version)


01. Langkah pertama dalam proses pembuatan kapal kano adalah memilih sebatang pohon. Ada 10 pohon berbeda-beda jenis yang kayunya cocok untuk membuat kapal kano. Dua pokok utama yang selalu harus diperhatikan dalam pembuatan kapal kano adalah lilitan pada pohon, dan jumlah tenaga yang tersedia untuk dilibatkan. Kayu besi dianggap terlalu keras untuk dicungkil, tetapi masih ada jenis-jenis kayu lain yang sanggup bertahan sampai 8 tahun. Kayu jenis lunak juga cocok sebagai bahan kano tetapi kano semacam ini hanya dapat bertahan sampai 2 tahun.

02. Pohon, setelah dicungkil batangnya untuk dijadikan kano, perlu dibengkokkan terlebih dahulu sampai bentuknya betul-betul lurus. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut maka lubang/bagian dalam kano diisi dengan air kemudian api dinyalakan pada kedua sisinya. Dengan cara ini kayu kano menjadi lentur dan dapat dimanipulasi, tentunya hal tersebut perlu dilakukan dengan hati-hati agar kayunya tidak retak. Kebanyakan kano dari jenis kayu lunak hanya bertahan satu sampai dua tahun.

03. Pembuatan kano berukuran besar biasanya melibatkan tenaga banyak orang dan dilakukan bergotong-royong oleh kerabat satu keluarga. Kano-kano berukuran kecil untuk pemakaian keluarga umumnya dibuat sendiri sesuai kebutuhan, biasanya tiap dua tahun sekali. Sebelumnya, kapak batu yang kadang-kadang diperdagangkan dengan penduduk Papua dari Dataran Tinggi, digunakan untuk membuat kano-kano. Bulu-bulu dan kerang-kerang ditukar untuk mendapat batu-batu berbentuk.

04. Kini perkakas yang digunakan untuk pembuatan kano adalah kampak/kapak biasa dan untuk bagian-bagian kano yang memerlukan lebih banyak kejelian digunakan kapak/beliung yang terbuat dari logam.




  © Copyright UNIPA - ANU - UNCEN PapuaWeb Project, 2004.

honai/home page