logo Undang-2, Inpres, dll. - Laws, Decrees, etc. honai/home page



PP 66/1951, LAMBANG NEGARA

Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Nomor: 66 TAHUN 1951 (66/1951)

Tanggal: 17 OKTOBER 1951 (JAKARTA)

_________________________________________________________________

Tentang: LAMBANG NEGARA

Presiden Republik Indonesia,

Menimbang :

bahwa menurut Undang-undang Dasar perlu ditetapkan Lambang Negara
untuk Republik Indonesia;

Mengingat :

Pasal 3 ayat 3 Undang-undang Dasar Sementara Republik Indonesia;

Mendengar :

Dewan Menteri dalam rapatnya pada tanggal 10 Juli 1951;

MEMUTUSKAN

Menetapkan :

PERATURAN PEMERINTAH TENTANG LAMBANG NEGARA.

Pasal 1.

Lambang Negara Republik Indonesia terbagi atas tiga bagian, yaitu :

1. Burung Garuda, yang menengok dengan kepalanya lurus kesebelah
kanannya;

2. Perisai berupa jantung yang digantung dengan rantai pada leher
Garuda;

3. Semboyan ditulis di atas pita yang dicengkeram oleh Garuda.

Pasal 2.

Perbandingan-perbandingan ukuran adalah menurut gambar tersebut dalam
pasal 6. Warna terutama yang dipakai adalah tiga, yaitu Merah, Putih
dan Kuning emas, sedang dipakai pula warna hitam dan warna yang
sebenarnya dalam alam.

Warna emas dipakai untuk seluruh burung Garuda, dan Merah-Putih
didapat pada ruangan perisai di tengah-tengah.

Pasal 3.

Garuda yang digantungi perisai dengan memakai paruh, sayap, ekor dan
cakar mewujudkan lambang tenaga pembangun. Sayap Garuda berbulu 17 dan
ekornya berbulu 8. *11933 Warna, perbandingan-perbandingan ukuran dan
bentuk Garuda adalah seperti dilukiskan dalam gambar tersebut dalam
pasal 6.

Pasal 4.

Ditengah-tengah perisai, yang berbentuk jantung itu, terdapat sebuah
garis hitam tebal yang maksudnya melukiskan katulistiwa (aequator).
Lima buah ruang pada perisai itu masing-masing mewujudkan dasar Panca
Sila :
I. Dasar Ketuhanan Yang Maha Esa terlukis dengan Nur Cahaya di ruangan
tengah berbentuk bintang yang bersudut lima.

II. Dasar Kerakyatan dilukiskan Kepala Banteng sebagai lambang tenaga
rakyat.

III. Dasar Kebangsaan dilukiskan dengan pohon beringin, tempat
berlindung.

IV. Dasar Peri Kemanusiaan dilukiskan dengan tali rantai bermata
bulatan dan persegi.

V. Dasar Keadilan Sosial dilukiskan dengan kapas dan padi, sebagai
tanda tujuan kemakmuran.

Pasal 5.

Di bawah lambang tertulis dengan huruf latin sebuah semboyan dalam
bahasa Jawa-Kuno, yang berbunyi :

BHINNEKA TUNGGAL IKA.

Pasal 6.

Bentuk, warna dan perbandingan ukuran Lambang Negara Republik
Indonesia adalah seperti terlukis dalam lampiran pada Peraturan
Pemerintah ini.

Pasal 7.

Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 17 Agustus 1950.

Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan
pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatan dalam Lembaran
Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 17 Oktober 1951. PRESIDEN REPUBLIK
INDONESIA,

SOEKARNO.

PERDANA MENTERI,

SUKIMAN WIRJOSANDJOJO

Diundangkan pada tanggal 28 Nopember 1951. MENTERI KEHAKIMAN,

MOEHAMMAD NASROEN.

PENJELASAN *11934 ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 66 TAHUN 1951
TENTANG LAMBANG NEGARA.

UMUM

Menurut pasal 3 ayat 3 Undang-undang Dasar Sementara Republik
Indonesia maka Pemerintahlah yang menetapkan Lambang Negara.

PENJELASAN PASAL DEMI PASAL.

Pasal 1.

Mengambil gambaran hewan untuk Lambang-Negara bukanlah barang yang
ganjil. Misalnya untuk lambang Republik India diambil lukisan singa,
lembu, kuda dan gajah, seperti tergambar pada tiang Maharaja
Priyadarsi Asyoka berasal dari Sarnath dekat Benares.

Lukisan garuda diambil dari benda peradaban Indonesia, seperti hidup
dalam mythologi, symbologi dan kesusastraan Indonesia dan seperti pula
tergambar pada beberapa candi sejak abad ke 6 sampai ke-abad ke 16.

Perisai adalah asli, sedangkan arti semboyan yang dituliskan dengan
huruf latin berbahasa Jawa-kuno menunjukkan peradaban klassik.

Pasal 2.

Warna-kemegahan emas bermaksud kebesaran bangsa atau keluhuran Negara.
Warna-warna pembantu dilukiskan dengan hitam atau meniru seperti yang
sebenarnya dalam alam.

Pasal 3.

Burung garuda, yang digantungi perisai itu, ialah lambang tenaga
pembangun (creatif vermogen) seperti dikenal pada peradaban Indonesia.
Burung garuda dari mythologi menurut perasaan Indonesia berdekatan
dengan burung elang rajawali. Burung itu dilukiskan dicandi Dieng,
Prambanan dan Panataran. Ada kalanya dengan memakai lukis berupa
manusia dengan berparuh burung dan bersayap (Dieng); dicandi Prambanan
dan dicandi Jawa Timur rupanya seperti burung, dengan berparuh panjang
berambut raksasa dan bercakar. Lihatlah lukisan garuda dicandi Mendut,
Prambanan dan dicandi-candi Sukuh, Kedal di Jawa Timur.

Umumnya maka garuda terkenal baik oleh archeologi, kesusasteraan dan
mythologi Indonesia.

Lencana garuda pernah dipakai oleh perabu Airlangga pada abad
kesebelas, dengan bernama Garudamukha. Menurut patung Belahan beliau
dilukiskan dengan mengendarai seekor garuda.

Pergerakan Indonesia Muda (1928) pernah memakai panji-panji sayap
garuda yang ditengah-tengahnya berdiri sebilah keris di atas tiga
gurisan garis. Sayap garuda berbulu 17 (tanggal 17) dan ekornya
berbulu 8 (bulan 8 = Agustus).

Pasal 4.

Perisai atau tameng dikenal oleh kebudayaan dan peradaban Indonesia
sebagai senjata dalam perjuangan mencapai tujuan dengan melindungi
diri Perkakas perjuangan yang sedemikian dijadikan lambang; wujub dan
artinya tetap tidak berubah-ubah, yaitu lambang perjuangan dan
perlindungan.

Dengan mengambil bentuk perisai itu, maka Republik Indonesia
berhubungan langsung dengan peradaban Indonesia Asli.

*11935 Dengan garis yang melukiskan katulistiwa (aequator) itu, maka
ternyatalah bahwa Republik Indonesia satu-satunya Negara Asli yang
merdeka-berdaulat dipermukaan bumi berhawa-panas; garis katulistiwa
melewati Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian. Di daerah Kongo, di
kepulauan Pasifik dan Amerika Selatan tidak-lah (belumlah) terbentuk
negara penduduk Asli. Jadi garis tengah itu menimbulkan perasaan,
bahwa Republik Indonesia ialah satu-satunya Negara Asli yang
merdeka-berdaulat, terletak di katulistiwa dipermukaan bumi.

Mata bulatan dalam rantai menunjukkan bahagian perempuan dan digambar
berjumlah 9; mata pesagi yang digambar berjumlah 8 menunjukkan
bahagian laki-laki.

Rantai yang bermata 17 itu sambung menyambung tidak putus-putusnya,
sesuai dengan manusia yang bersifat turun-temurun.

Kedua tumbuhan kapas dan padi itu sesuai dengan hymne yang memuji-muji
pakaian (sandang) dan makanan (pangan).

Pasal 5.

Perkataan Bhinneka itu ialah gabungan dua perkataan: bhinna dan ika.
Kalimat seluruhnya itu dapat disalin : berbeda-beda tetapi tetap satu
jua.

Pepatah ini dalam sekarang artinya, karena menggambarkan persatuan
atau kesatuan Nusa dan Bangsa Indonesia, walaupun ke luar
memperlihatkan perbedaan atau perlainan. Kalimat itu telah tua dan
pernah dipakai oleh pujangga ternama Empu Tantular dalam arti : di
antara pusparagam adalah kesatuan.

Tambahan Lembaran Negara No. 176.

--------------------------------




CATATAN: gambar berikut hanya sebagai contoh saja (tidak diambil dari lampiran resmi)
- this image is an example only (it is not taken from the official appendix) -

  © Copyright UNIPA - ANU - UNCEN PapuaWeb Project, 2002-2005.

honai/home page