logo Undang-2, dll. - Papuaweb - Laws, etc. honai/home page

UU 35/2003 (Kabupaten Supriori)

UU 35-2003
Direktorat Jenderal
Peraturan Perundang-undangan
Departemen Hukum dan HAM RI

Teks tidak dalam format asli.


LEMBARAN NEGARA
REPUBLIK INDONESIA


No. 150, 2003(Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4345)


UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 35 TAHUN 2003
TENTANG
PEMBENTUKAN KABUPATEN SUPIORI
DI PROVINSI PAPUA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,


Menimbang: a. bahwa dalam rangka mewujudkan aspirasi masyarakat yang berkembang
di Kabupaten Biak Numfor, untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat di
bidang pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan, Kabupaten Biak Numfor perlu
dimekarkan;
b. bahwa dengan memperhatikan hal tersebut di atas, dan berdasarkan kriteria
kemampuan ekonomi, potensi daerah, kondisi sosial budaya, kondisi sosial
politik, jumlah penduduk, luas daerah, dan pertimbangan lainnya, dibentuk
Kabupaten Supiori di Provinsi Papua;
c. bahwa dengan pembentukan Kabupaten sebagaimana tersebut dalam huruf b, akan
dapat mendorong peningkatan pelayanan di bidang pemerintahan, pembangunan, dan
kemasyarakatan, serta memberikan kesempatan untuk memanfaatkan dan mengembangkan
potensi daerah;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b,
dan huruf c, perlu membentuk Undang-undang tentang pembentukan Kabupaten
Supiori;


Mengingat:    1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 18, Pasal 18A, Pasal 18B, Pasal 20 dan
Pasal 21 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1969 tentang Pembentukan Propinsi Otonom Irian
Barat Dan Kabupaten-Kabupaten Otonom Di Propinsi Irian Barat (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1969 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 2907);
3. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501);
4. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3839);
5. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor
72, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848);
6. Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 135, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4151);
7. Undang-undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4251);
8. Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan
Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 37, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4277);
9. Undang-undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis
Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003
Nomor 92, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4310);


Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT
REPUBLIK INDONESIA
dan
PRESIDENREPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:


Menetapkan:   UNDANG-UNDANG TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SUPIORI DI PROVINSI
PAPUA.


BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan:

1. Daerah adalah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf i Undang-undang Nomor
22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.
2. Provinsi Papua adalah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun
2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua.
3. Kabupaten Biak Numfor Undang-undang Nomor 12 Tahun 1969 tentang Pembentukan
Propinsi Otonom Irian Barat Dan Kabupaten-Kabupaten Otonom Di Propinsi Irian
Barat.


BAB II
PEMBENTUKAN, BATAS WILAYAH, DAN IBU KOTA

Pasal 2
Dengan Undang-undang ini dibentuk Kabupaten Supiori di Provinsi Papua dalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Pasal 3
Kabupaten Supiori berasal dari sebagian wilayah Kabupaten Biak Numfor yang
terdiri atas:
a. Distrik SupioriUtara;
b. Distrik Supiori Timur; dan
c. Distrik Supiori Selatan.


Pasal 4
Dengan terbentuknya Kabupaten Supiori, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2,
wilayah Kabupaten Biak Numfor dikurangi dengan wilayah Kabupaten Supiori
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3.


Pasal 5
(1) Kabupaten Supiori mempunyai batas wilayah:

a. sebelah utara berbatasan dengan Samudera Pasifik;

b. sebelah timur berbatasan dengan Distrik Warsa dan Distrik Biak Barat
Kabupaten Biak Numfor;
c. sebelah selatan berbatasan denganSelat Yapen; dan
d. sebelah barat berbatasan dengan Selat Aruri.

(2) Batas wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), digambarkan dalam peta
wilayah administrasi yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Undang-undang
ini.
(3) Penentuan batas wilayah Kabupaten Supiori secara pasti di lapangan,
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri.


Pasal 6
(1) Dengan terbentuknya Kabupaten Supiori sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2,
Pemerintah Kabupaten Supiori menetapkan Rencana Tata Ruang Wilayah sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
(2) Penetapan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Supiori sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), dilakukan sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Papua serta memperhatikan Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten/Kota di sekitarnya.


Pasal 7
Ibu kota Kabupaten Supiori berkedudukan di Sorendiweri.


BAB III
KEWENANGAN DAERAH

Pasal 8
Kewenangan Kabupaten Supiori mencakup kewenangan, tugas dan kewajiban untuk
mengatur dan mengurus bidang pemerintahan yang diserahkan sejalan kepada
kabupaten induk sesuai dengan peraturan perundang-undangan.


BAB IV
PEMBINAAN DAERAH

Pasal 9
(1) Pemerintah Provinsi Papua melakukan pembinaan dan memfasilitasi secara
khusus terhadap Kabupaten Supiori dalam waktu 3 (tiga) tahun sejak diresmikan
untuk mengefektifkan penyelenggaraan fungsi-fungsi pemerintahan daerah.
(2) Setelah 3 (tiga) tahun sejak diresmikan, Pemerintah bersama dengan
Pemerintah Provinsi Supiori melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan
Pemerintahan Kabupaten Supiori.
(3) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) direkomendasikan sebagai
bahan pembinaan lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundang-undangan.


BAB V
PEMERINTAHAN DAERAH

Bagian Pertama
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

Pasal 10
(1) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Supiori untuk pertama kalidibentuk
melalui hasil Pemilihan Umum Tahun 2004.
(2) Jumlah dan tata cara pengisian keanggotaan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Kabupaten Supiori, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.


Bagian Kedua
Pemerintah Daerah

Pasal 11
Bupati dan Wakil Bupati Supiori dipilih dan disahkan paling lambat 2 (dua) tahun
setelah pengucapan sumpah/janji anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah,
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10.


Pasal 12
(1) Dengan terbentuknya Kabupaten Supiori, Penjabat Bupati Supiori diangkat oleh
Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden dari Pegawai Negeri Sipil yang diusulkan
Gubernur Papua untuk masa jabatan paling lama 1 (satu)tahun.
(2) Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Pegawai
Negeri Sipil yang memiliki kemampuan dan pengalaman jabatan di bidang
pemerintahan serta memenuhi persyaratan untuk menduduki jabatan itu.
(3) Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden dapat mengangkat kembali Penjabat
Bupati sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk masa jabatan berikutnya paling
lama 1 (satu) tahun atau diganti dengan Penjabat lain.
(4) Peresmian Kabupaten Supiori serta pelantikan Penjabat Bupati dilakukan oleh
Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden setelah Undang-undang ini diundangkan.
(5) Menteri Dalam Negeri dapat menunjuk Gubernur Papua untuk melantik Penjabat
Bupati Supiori.
(6) Menteri Dalam Negeri dan/atau Gubernur Papua melakukan pembinaan dan
pengawasan terhadap kinerja Penjabat Bupati dalam melaksanakan tugasnya sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.


Pasal 13
(1) Dengan diresmikannya Kabupaten Supiori dan dilantiknya Penjabat Bupati
Supiori dibentuk perangkat daerah yang meliputi Sekretariat Daerah, Dinas Daerah
dan Lembaga Teknis Daerah, dan unsur perangkat daerah yang lain dengan
mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan keuangan daerah sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
(2) Pemerintah Kabupaten Supiori memfasilitasi pembentukan instansi vertikal.


BAB VI
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 14
(1) Bupati Biak Numfor menginventarisasi, mengatur, dan melaksanakan penyerahan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan kepada Pemerintah Kabupaten Supiori
hal-hal sebagai berikut:
a. pegawai yang karena tugasnya diperlukan oleh Pemerintah Kabupaten Supiori;

b. barang milik/kekayaan daerah yang berupa barang bergerak dan barang tidak
bergerak yang dimiliki/dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh Pemerintah Kabupaten
Biak Numfor yang berada dalam wilayah Kabupaten Supiori;
c. Badan Usaha Milik Daerah Kabupaten Biak Numfor yang kedudukan, kegiatan, dan
lokasinya berada di Kabupaten Supiori;
d. utang piutang Kabupaten Biak Numfor yang kegunaannya untuk Kabupaten Supiori;
serta
e. dokumen dan arsip yang karena sifatnya diperlukan oleh Kabupaten Supiori.

(2) Pelaksanaan penyerahan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), difasilitasi
oleh Gubernur Papua dan diselesaikan dalam waktu 1 (satu) tahun terhitung sejak
pelantikan Penjabat Bupati Supiori.
(3) Dalam hal pelaksanaan penyerahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(2) mengalami hambatan, difasilitasi oleh Menteri Dalam Negeri.


Pasal 15
(1) Kabupaten Supiori memiliki kewenangan atas pemungutan pajak dan retribusi
daerah sejak terbentuknya perangkat daerah Kabupaten Supiori sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
(2) Kabupaten Supiori berhak mendapatkan alokasi dana perimbangan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
(3) Kabupaten Biak Numfor wajib memberikan bantuan dana kepada Kabupaten Supiori
selama 3 (tiga) tahun berturut-turut, sekurang-kurangnya sebesar dana yang
dialokasikan untuk kegiatan pemerintahan di daerah pemekaran selama belum
dimekarkan.
(4) Pemerintah Provinsi Papua mengalokasikan anggaran biaya melalui Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Papua untuk menunjang kegiatan
pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan sampai dengan ditetapkannya
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Supiori.
(5) Sebelum terbentuknya Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Penjabat Bupati Supiori
menyusun Rencana Pembiayaan Kegiatan Kabupaten (RPKK) sebagai dasar pengelolaan
keuangan daerah yang ditetapkan dengan Keputusan Penjabat Bupati.
(6) Rencana Pembiayaan Kegiatan Kabupaten (RPKK) sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) dilaksanakan setelah memperoleh pengesahan Gubernur Papua.
(7) Penjabat Bupati Supiori melaksanakan penatausahaan keuangan daerah dan
menyampaikan laporan pelaksanaan Rencana Pembiayaan Kegiatan Kabupaten (RPKK)
setiap triwulan kepada Gubernur Papua.
(8) Penjabat Bupati Supiori menyusun dan menetapkan perhitungan Rencana
Pembiayaan Kegiatan Kabupaten (RPKK) dengan keputusan penjabat Bupati sebagai
dasar pertanggungjawaban keuangan daerah kepada Gubernur Papua.


Pasal 16
(1) Sebelum Kabupaten Supiori dapat menetapkan Peraturan Daerah dan membuat
Keputusan Bupati sebagai pelaksanaan Undang-undang ini, semua Peraturan Daerah
dan Keputusan Bupati Biak Numfor tetap berlaku dan dilaksanakan di Kabupaten
Supiori.
(2) Semua Peraturan Daerah dan Keputusan Bupati Biak Numfor yang berlaku di
Kabupaten Supiori harus disesuaikan dengan Undang-undang ini.


Pasal 17
(1) Penyelenggaraan Pemilihan Umum Tahun 2004 sebelum terbentuknya Komisi
Pemilihan Umum di Kabupaten Supiori dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum
Kabupaten Biak Numfor.
(2) Pembentukan Komisi Pemilihan Umum di Kabupaten Supiori dilakukan setelah
pelaksanaan Pemilihan Umum Dewan PerwakilanRakyat,DewanPerwakilanDaerah,dan
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tahun 2004 dan paling lambat 6 (enam) bulan
setelah peresmian anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Supiori.
(3) Pengajuan calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Supiori
pada Pemilihan Umum Tahun 2004 dilakukan oleh Pimpinan Partai Politik Peserta
Pemilihan Umum di Kabupaten Biak Numfor.


BAB VII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 18
Pada saat berlakunya Undang-undang ini, semua peraturan perundang-undangan yang
tidak sesuai dengan Undang-undang ini dinyatakan tidak berlaku.


Pasal 19
Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan sebagai pelaksanaan Undang-undang ini,
diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan.


Pasal 20
Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini
dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.


Disahkan di Jakarta
pada tanggal 18 Desember 2003
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

MEGAWATI SOEKARNOPUTRI
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal18 Desember 2003
SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,

BAMBANG KESOWO



TAMBAHAN
LEMBARAN NEGARA RI


      No. 4345(Penjelasan Atas Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 150)


PENJELASAN
ATAS
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 35 TAHUN2003
TENTANG
PEMBENTUKAN KABUPATEN SUPIORI
DI PROVINSI PAPUA

I. UMUM


Provinsi Papua yang memiliki luas wilayah  421.981 km2 dengan penduduk pada
tahun 2003 berjumlah 2.407.744 jiwa telah menunjukkan kemajuan dalam
penyelenggaraan kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan.
Kabupaten Biak Numfor yang mempunyai luas wilayah  3.130 km2dengan penduduk
pada tahun 2003 berjumlah 126.013 jiwa memiliki potensi daerah dan kemampuan
ekonomi untuk mendukung peningkatan penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan
pembangunan, dan pelayanan kemasyarakatan.
Dengan luas wilayah seperti tersebut di atas dan tingginya laju pertumbuhan
penduduk, maka sampai saat ini pelaksanaan pembangunan dan pelayanan kepada
masyarakat belum sepenuhnya terjangkau. Kondisi demikian perlu diatasi dengan
memperpendek rentang kendali pemerintahan melalui pembentukan daerah otonom
baru. Hal itu sejalan dengan kebijakan nasional dalam rangka percepatan
pembangunan Kawasan Timur Indonesia, khususnya di Provinsi Papua, dengan
membentuk Kabupaten Supiori.
Kabupaten Supiori yang terdiri atas 3 (tiga) Distrik, yaitu Distrik Supiori
Utara, Distrik Supiori Timur, dan Distrik Supiori Selatan dengan luas wilayah
keseluruhan  528 km2 dengan penduduk pada tahun 2003 berjumlah 12.369 jiwa.
Berdasarkan hal tersebut di atas dan memperhatikan aspirasi masyarakat yang
selanjutnya dituangkan dalam Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi
Papua Nomor 4/DPRD/2002 tanggal 23 Mei 2002 tentang Dukungan Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Provinsi Papua Terhadap Pembentukan Kabupaten Supiori di Provinsi
Papua dan Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Biak Numfor Nomor
03/PIMP/DPRD-BN/2001 tanggal 13 Agustus 2001 tentang Persetujuan Terhadap
Pembentukan Kabupaten Supiori, dipandang perlu membentukKabupaten Supiori
sebagai Daerah Otonom.
Dengan terbentuknya Kabupaten Supiori sebagai Daerah Otonom, Pemerintah Provinsi
Papua dan Pemerintah Kabupaten Biak Numfor berkewajiban membantu dan
memfasilitasi terbentuknya kelembagaan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan
perangkat daerah yang efisien dan efektif sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan,
serta penyelesaian pengalihan aset daerah yang dilakukan dengan pendekatan
musyawarah dalam semangat saling membantu serta pembenahan dalam rangka
optimalisasi pengelolaan luas wilayah untuk kepentingan kesejahteraan rakyat
Kabupaten Supiori.
Hubungan dan kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten
Supiori antara laintergambar dalam mekanisme pengusulan PenjabatBupati Supiori.
Meskipun Gubernur Papua memiliki kewenangan mengusulkan Penjabat Bupati Supiori,
dalam proses pengusulannya dapat meminta pertimbangan dari Bupati Biak Numfor.
Dalam melaksanakan otonomi daerah, Kabupaten Supiori perlu melakukan berbagai
upaya peningkatan kemampuan ekonomi, penyiapan sarana dan prasaranapemerintahan,
pemberdayaan dan peningkatan sumber daya manusia, serta optimalisasi pengelolaan
sumber daya alam sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1

Cukup jelas.

Pasal 2

Cukup jelas.

Pasal 3

Cukup jelas.

Pasal 4

Cukup jelas.

Pasal 5

Ayat (1)

Cukup jelas.
Ayat (2)

Peta sebagaimana dimaksud pada ayat ini adalah peta wilayah Kabupaten Supiori
dalam bentuk lampiran Undang-undang.
Ayat (3)

Penentuan batas wilayah Kabupaten Supiori secara pasti di lapangan, ditetapkan
oleh Menteri Dalam Negeri dituangkandalam Keputusan Menteri Dalam Negeri yang
dilampiri peta batas daerah Kabupaten Supiori berdasarkan hasil pengukuran di
lapangan yang dilengkapi dengan titik koordinatdan tanda batas.

Pasal 6

Ayat (1)

Cukup jelas.
Ayat (2)

Dalam rangka pengembangan Kabupaten Supiori sesuaidengan potensi daerah,
khususnya guna penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan pada
masa yang akan datang, diperlukan adanya kesatuan perencanaan pembangunan
wilayah. Untuk itu, Tata Ruang Wilayah Kabupaten Supiori harus benar-benar
serasi dan terpadu penyusunannyadalam satu kesatuan sistem dengan Rencana Tata
Ruang Wilayah Nasional, Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Papua, dan Rencana
Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota di sekitarnya.

Pasal 7

Yang dimaksud Sorendiweri sebagai ibu kota Kabupaten Supiori berada di Distrik
Supiori Timur.

Pasal 8

Cukup jelas.

Pasal 9

Yang dimaksud dengan pembinaan dan memfasilitasi secara khusus adalah diberi
bantuan berupa pembangunan prasarana dasar pemerintahan, sumber daya manusia,
bimbingan pelatihan, supervisi, petunjuk lain yang diperlukan sehingga daerah
itu dapat melaksanakan fungsinya sebagai daerah otonom.

Pasal 10

Cukup jelas.

Pasal 11

Cukup jelas.

Pasal 12

Ayat (1)

Cukup jelas.
Ayat (2)

Cukup jelas.
Ayat (3)

Cukup jelas.
Ayat (4)

Peresmian Kabupaten dan pelantikan penjabat Bupati dapat dilakukan secara
bersamaan dan tempat pelaksanaannya dapat di ibu kota negara, atau ibu kota
provinsi, atau ibu kota kabupaten.
Ayat (5)

Cukup jelas.
Ayat (6)

Cukup jelas.

Pasal 13

Cukup jelas.

Pasal 14

Ayat (1)

Penyerahan pegawai, barang/milik kekayaan daerah, Badan Usaha Milik Daerah,
utang piutang, dokumen dan arsip adalah dalam rangka mencapai daya guna dan
hasil guna dalam penyelenggaraan kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan
kemasyarakatan.
Dalam hal Badan Usaha Milik Daerah yang pelayanan/kegiatan operasionalnya
mencakup Kabupaten induk dan Kabupaten baru, pemerintah daerah yang bersangkutan
melakukan kerjasama.
Pengisian kebutuhan pegawai dapat berasal dari Kabupaten Induk, Provinsi, dan
Pusat.
Ayat (2)

Cukup jelas.
Ayat (3)

Cukup jelas.

Pasal 15

Ayat (1)

Cukup jelas.
Ayat (2)

Cukup jelas.
Ayat (3)

Besaran bantuan dana didasarkan pada kesepakatan antara Kabupaten Biak Numfor
dengan Kabupaten Supiori.
Ayat (4)

Cukup jelas.
Ayat (5)

Cukup jelas.
Ayat (6)

Cukup jelas.
Ayat (7)

Cukup jelas.
Ayat (8)

Pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah berupa:

a. perhitungan Rencana Pembiayaan Kegiatan Kabupaten (RPKK)/Laporan Akhir Tahun
Anggaran;
b. pertanggungjawaban Penjabat Bupati pada akhir masa jabatan.

Pasal 16

Ayat (1)

Cukup jelas.
Ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 17

Cukup jelas.

Pasal 18

Cukup jelas.

Pasal 19

Cukup jelas.

Pasal 20

Cukup jelas.




  © Copyright UNIPA - ANU - UNCEN PapuaWeb Project, 2002-2008.

honai/home page