logo Skripsi - Papuaweb - Theses
honai/home page

Update terakhir: Januari 8, 2004 Last update: Januari 8, 2004

Skripsi Mahasiswa Unipa

Daftar sementara skripsi ilmiah terbaru yang ditulis oleh mahasiswa di Universitas Negeri Papua (dengan abstrak-2). Daftar ini dibuat berdasarkan katalog yang disiapkan oleh Bpk. Amkal Untung, Bpk. Frid G. Wihyawari dan Pustakawan lain di Perpustakaan Unipa, Manokwari, Papua. Nanti kami akan memperbaiki daftar ini supaya Anda bisa mendapatkan informasi lewat kata kunci seperti penulis, judul, dll...

Jumlah - 173 - judul skripsi dan abstrak-2 terdaftar di sini (Tahun: 2003, 2002...).

Theses by Unipa Students

Provisional list of recent scientific theses written by students at the State University of Papua (with abstracts). This list is based on a catalogue prepared by Mr Amkal Untung, Mr Frid G. Wihyawari and other librarians at the University of Papua Library, Manokwari, Papua. Eventually we will improve this list so that you may find information via keywords like author, title, etc...

Total of - 173 - thesis titles and abstracts listed here (Year: 2003, 2002...).

2003

APRIAN, Suryani Intensifikasi penggunaan lahan oleh masyarakat pada hutan taman wisata gunung meja Manokwari. Fahutan Unipa, 2003. 28 cm PENGGUNAAN LAHAN - GUNUNG MEJA Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar intensitas penggunaan lahan wisata gunung meja berdasarkan luas lahan yang tersebar pada kawasan hutan tersebut. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik sensus dan wawancara semi struktural. Variabel yang diamati meliputi besarnya luas lahan untuk ladang, bekas tebangan, dan pemukiman penduduk. Hasil dari sensus lahan wisata gunung meja pemanfaatan tahun 2002 sebesar 39,42 ha dengan intensitas 8,56per, dimana perladangannya 35, 32 ha;7,67per, penebangan 0,81 ha;0,18 bekas ladang 0,34ha dan penggunaan lain 2,95 ha;0,64per. Penambahan luasan pemanfaatan yang dilakukan terhadap kawasan hutan wisata gunung meja dari tahun 1995 sampai 2002 sebesar 30,69 ha dengan penembahan pertahunnya 4,38 ha. Terjadinya pengurangan luasan tersebut akan mempengaruhi terhadap fungsinya sebagai pengatur tata air (hidrologi) AYOMI, Meilanny Margareth Lea Keberhasilan penetasan telur dan pemunculan tukik penyu lekang (Lepidopchelys olivacea) melalui usaha translokasi di pantai Bremi Manokwari. Fahutan Unipa, 2003. 28 cm LEPIDOCHELYS OLIVACEA - PLESTARIAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan penetasan dan pemunculan tukik penyu lekang. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif denga teknik survey. Variabel yang diamati yaitu populasi, sarang, telur, keberhasilan penetasan dan tukik penyu lekang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada daerah peneluran pantai Bremi, ditemukan secara langsung penyu lekang yang naik untuk bertelur sembilan ekor dan keberhasilan bersarang berjumlah 16 sarang (42,1per) dari 38 kali penyu medarat. Usaha translokasi yang dilakukan ke-6 sarang semi alami mempunyai keberhasilan penetasan 104 butir dari 555 butir telur sedangkan rata-rata pada setiap sarang adalah 15 butir. Sukses pemunculan tukik yang menetas dapat muncul keatas permukaan sarang. Jumlah tukik yang dikembalikan ke laut berjumlah 100 ekor dengan ukuran karapas rata-rata panjang 3,90 cm dengan, lebar 3,37 cm dan berat tubuh 16,77 gr. BLESS, Yane Populasi penyu yang mendarat dan pemanfaatannya oleh masyarakat kampung Bremi distrik Manokwari Kabupaten Manokwari. Fahutan Unipa, 2003. 28 cm POPULASI PENYU - PEMANFAATAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui populasi penyu yang mendarrat dan pemanfatanya oleh masyarakat pantai Bremi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan tekinik observasi dan wawancara semi struktural. Vaarabel yang diamati meliputi populasi jenis penyu, jumlah telur, pemanfaatan penyu oleh masyarakat. Hasil observasi penyu di Pantai Bremi bahwa terdapat 3 jenis penyu yang mendarat yaitu penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu lekang (Lepidochelys olivacea) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Jumlah penyu yang ditemukan secara lansung 12 ekordan tidak langsung 33 ekor yang terdiri dari 19 jejak dan 14 sarang. Masyarakat selain mengkonsumsi daging, telur, dan bakal telur juga menjualnya untuk pemenuhan kebutuhan. Penerimaan masyarakat Bremi dari hasil penjualan daging Rp. 372.000 dan telurnya Rp. 76.468,75. BUMBUT, Petrus Izak Vegetasi habitat istirahat kelelawar buah (Pteropus neohibernicus neohibernicus Peters.) di Pulau Mansinam. Fahutan Unipa, 2003. 28 cm P. NEOHIBERNICUS NEOHIBERNICUS - HABITAT Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis vegetasi berkayu habitat istirahat kelelawar buah pada siang hari dan kerusakan habitatnya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik Central point quadrant methods. Variabel yang diamati meliputi vegatasi pada habitatnya, pohon-pohon yang digunakan untuk istirahat, provil arsitektur dan kerusakan habitatnya. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada habitat istirahat kelelawar buah di pulau Mansinam terdapat 96 spesies dari 33 famili. Habitat istirahat Pteropus neohibernicus neohibernicus di pulau Mansinam sudah terganggu sehingga di duga bermigrasi di Sekitar Tanjung Mangewa bagian selatan pulau Mansinam karena adanya gangguan akibat faktor manusia seperi pembukaan lahan, kegiatan reboisasi, sebagai wisata rohani dan adanya bencana alam seperti sunami, tanah longsor dan sebaginya. CHRYSOSTOMUS, Hieronimus Yohanes Ukuran morfologi persentase karkas dan kandungan gizi daging bandikut di lembah kebar. FPPK Unipa, 2003. 28 cm DAGING BANDIKUT - KANDUNGAN GIZI Abstrak Penelitian dilaksanakan di kampung Anjai wilayah Kebar Tengah dan kampung Senopi wilayah Kebar Barat. Menggunakan metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Variabel yang diamati adalah bobot tubuh, lingkar dada, lingkar perut, lingkar paha, panjang tubuh, panjang badan, panjang kepala, panjang moncong, panjang telinga, panjang telapak, panjang betis, panjang paha dan panjang ekor. Data hasil penelitian dianalisis secara statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hany satu jenis bandikut yang terdapat di Lembah Kebar yaitu jenis Echymipera rufescens. Rata-rata ukuran morfologi bandikut betina lebih besar dibanding yang jantan. Rata-rata persentase karkas bandikut jantan (71.0persen) lebih besar dari bandikut betina (69.5persen). Berdasarkan ukuran morfologi, hanya panjang badan yang dapat digunakan untuk menduga bobot tubuh, bobot karkas dan persentase karkas bandikut. Kandungan gizi yang terdapat pada bandikut cukup tinggi sehingga dapat menjadi bahan makanan alternatif sebagai sumber protein hewani. FATEM, Sepus Marten Karakteristik morfologi dan habitat landak moncong panjang (Zaglossus bruijnii) pada kawasan penyangga cagar alam pegunungan Arfak. Fahutan Unipa, 2003. 28 cm ZAGLOSSUS BRUIJNII - MORFOLOGI DAN HABITAT Abstrak Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik observasi. Variabel yang diamati meliputi karakter morfologi dan habitatnya. Hasil deskripsi dari Zaglossus bruijnii jantan panjang tubuh 660 mm dan beratnya 10.080 gr, sedangkan betina panjang tubuh 663 mm dan rata-rata beratnya 10.175 gr. Habitat makan berada pada ketinggian 1380 m dpl, dengan tipe hutan primer muda memiliki kerapatan tajuk yang rapat suhu berkisar 17-20 derajat celcius dan kelembaban 77 - 81 per, intensitas matahari 100 - 300 lux. Hasil analisa tanahnya dengan pH 5,3 - 5,5, dimana terdapat 35 jenis dari 20 famili untuk tingkat semai, pancang, tiang dan pohon. Pemanfatan landak oleh masyarakat Arfak berupa daging untuk konsumsi, cakar dan bulu digunakan untuk magis. Masyarakat Arfak mempunyai konsep konservasi tradisional yang dikenal "Igyaser hanjop" dipetakan dalam pemanfaatan kawasan tiga zona secara tradisional yaitu Bahanti, Nimahanti dan Suti HAMZAH, Pahra Pemanfaatan tumbuhan obat tradisional oleh masyarakat pulau Mansinam kabupaten Manokwari. Fahutan Unipa, 2003. 28 cm TUMBUHAN OBAT - MASYARAKAT MANSINAM Abstrak Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jens-jenis tumbuhan yang di manfaatankan sebagai obaat tradisional, mengetahui cara meramu bahan baku, cara pengobatan, khasiatnya, dan upaya masyarakat dalam melestarikan tumbuhan tersebut. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik observasi. Variabel yang diamati meliputi; pemanfaatan bagian tumbuhan, jenis tumbuhan, proses peramuannya, bagian yang digunakan, khasiatnya, dan upaya tradisional dalam pelestariananya. Hasil penelitian ini menunjukka bahwa dalam pengobatan tradisional, masyarakat pulau mansinam memanfaatkan 25 jenis tumbuhan yang tergolong dalam 20 famili. Dari jenis tumbuhan tersebut dapat mengobati 16 jenis penyakit. Cara peramuannya ada yang dikikis, diramas, direndam, dibakar, ditumbuk, direbus, dikunyah, dan sebagainya. Bagian-bagian yang dimanfaatkan yaitu akar, batang, daun, kulit, getah dan buah. Pola pelestarian tumbuhan-tumbuhan tersebut belum dilakukan oleh masyarakat Mansinam. Pengetahuan masyarakat tentangtumbuhan-tumbuhan tersebut secara turun-temurun. HOWAY, Marthen Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional oleh masyarakat suku Maibrat di kampung Sembaro distrik Ayamaru Kabupaten Sorong. Fahutan Unipa, 2003. 28 cm TUMBUHAN OBAT - SUKU MAIBRAT Abstrak Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan teknik observasi dan wawancara semistruktur, variabel yang diamati meliputi jenis tumbuhan, cara meramu, khasiatnya, bagian yang dimanfaatkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat suku Maibrat memanfaatkan 40 jenis tumbuhan yang termasuk dalam 30 famili. Bagian tumbuhan obat yang digunakan adalah kulit dan daun 12 jenis tumbuhan, merebus sebanyak 6 jenis, tanpa diramu 6 jenis, dan diminum 16 jenis. Ada 25 khasiat dari pemanfaatan jenis-jenis tumbuhan tersebut, dimana 24 khasiatnya untuk manusia dan 1 untuk hewan. Dari 40 jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh suku Maibrat ternyata 3 jenisnya memiliki nilai ekonomis yaitu Laportea sp., Morinda citrifolia dan Deris elliptica, sedangkan tumbuhan yang dibudidayakan oleh masyarakat kampung Sembaro ada 2 jenis yaitu Laportea sp. untuk obat malaria dan Zinggiber officinole berkhasiat sebagai obat cacingan. JEMBISE, Linda Dina Analisis kebutuhan bahan baku industri meubel kayu di Distrik Manokwari. Fahutan Unipa, 2003. 28 cm INDUSTRI MEUBEL - ANALISIS KEBUTUHAN BAHAN BAKU Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis kayu, ukuran sortimen, kadar air kayu, dan jumlah bahan baku yang dibutuhkan. Metode yang digunakan adalah metode studi kasus dengan teknik observasi. Varabel yang diamati meliputi; jenis kayu, ukuran sortimen, dan kualitas bahan baku. Hasil analisis menujukkan bahwa jenis kayu yang digunakan yaitu Intsia spp., Pterocarpus indicus, Drancontomelum dan Pometia spp. Ukuran sortimen yang digunakan yaitu setebal 2,5 - 3 cm, lebaar 20 - 30 cm serta panjang 2000 cm dan 400 cm. Sedangkan untuk balok dengan setebal 3 - 7 cm, lebar 5 - 12 cm, dan panjang 400 cm. Kadar iar bahan baku pada kelima industri meubel masih relatif tinggi yaitu berkisar antara 18,63per - 27,40per. Kebutuhan bahan baku industri meubel kayu di Distrik Manokwari periode November 2000 - September 2001 berfluktuasi cukup tinggi menunrut produk meubel yang dipesan oleh konsumen, sedangkan proyeksi kebutuhan bahan baku untuk periode oktober 2001 - September 2002 berkisar anatara 23,209 - 30,500 meter kubik/bulan dengan rata-rata 27,147 meterkubik/bln. KADAM, Nathan Knor Pengaruh formula dan waktu aplikasi beberapa strain Pseudomonas kelompok fluorescens dalam pengendalian Sclerotium rolfsii penyebab penyakit damping- off pada semai Paraserianthes falcataria L. Nielsen. Fahutan Unipa, 2003. 28 cm P. FALCATARIA - PENGENDALIAN PENYAKIT Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan beberapa strains Pseudomonas kelompok fluorescens yang diformulasikan dalam bentuk felet alginat dan waktu aplikasinya dalam pengendalian S. rolfii penyebab penyakit damping-off pada P. falcataria. Metode yang digunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap, yang terdiri atas strain Ag, Pf, Ml dan Pm yang 4 ulangan. Varabel yang diamati ada dua yaitu dalam pengujian in-vitro (persentase penghambatan pertumbuhan patogen oleh alginat dari strains Pseudeomonas dan untuk pengujian in-vivo adalah pengamatan terhadap beratnya serangga patogen. Hasil pengujian in-vitro maupun in-vivo menunjukkan bahwa pelet alginat dari keempat strain pseudomonas kelompok fluorescens yang digunakan memeiliki kemampuan yang cukup tinggi dan tidak berbeda nyata dalam mengendalikan S. rolfsi. Penggunaan media tanah steril dan tanah tidak steril tidak menunjukkan pengaruh yang sangat nyata terhadap kemampuan penghambatan keempat S. rolfsii penyebab penyakit damping-off pada semai P. falcataria. KAMBU, Agustince Pemanfaatan Arenga pinnata sebagai minuman tradisional oleh masyarakat Maibrat di sekitar taman wisata gunung meja. Fahutan Unipa, 2003. 28 cm ARENGA PINNATA - PEMANFAATAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan Arenga pinnata sebagai minuman tradisional dan tingkat pendapatannya. Metode yang digunkan yaitu metode deskriptif dengan teknik survei. Variabel yang diamati meliputi karakter pohon, pengolahan Arenga pinnata dan faktor-faktor yang memepengaruhi pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyadapan terhadap nira aren mulai berusia 34 sampai 40 tahun, jumlah mayang 3-4, produksi dari mayang yang disadap sekitar 13-18 L/mayang/hr, pengolahannya masih secara tradisional. Pendapatan yang diperoleh sekitar Rp. 95.000 - Rp. 118.000, per bulan. Curahan waktu yang diperlukan berkisar antara 1-2 jam per hari dan proses pemasarannya biasa berdasarkan pesanan. KONDORORIK, Maikel Pembuatan gula semut dari air sadapan (nira) Nipah (Nypa fruticans Wurrmb) di desa Waroki Kabupaten Nabire. Fahutan Unipa, 2003. 28 cm NYPA FRUTICANS - PEMBUATAN GULA Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pengolahan, cara peroleh, dan nilai tambah Nypa fruticans. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan teknik studi kasus dengan variabel pengamatan yaitu proses pembuatan, nira, gula semut dan nilai tambah. Penyadapan Nypa fruticans dilakukan pada buah yang sudah mencapai diameter 80-90 cm dengan menampung nira pada bambu atau botol ades atau galon yang terlebih dahulu diberi ramuan kapur sirih, penyadapan dilakukan selama 12 jam. Kemudian disaring untuk dimasak sampai kental dan diaukaduk hingga beerbentuk butiran-butiran. Dari hasil percobaan 3 liter Nyva fruticans menghasilkan gula semut sebanyak 148 gr dan harga gula tersebut dipasar sebesar Rp. 15.000/kg. Dilihat dari nilai ekonomis lebih memberikan keuntungan dijual dalam bentuk nira dari pada dibuat gula semut. MAAY, Maikhel Fredrik Pemanfaatan bambu oleh masyarakat kampung Waren Distrik Waropen Bawah Kabupaten Yapen Waropen. Fahutan Unipa, 2003. 28 cm BAMBU - PEMANFAATAN Abstrak Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik observasi dan wawancara semi struktural, variabel yang diamati meliputi etnobotani bambu dan sosial ekonomi bambu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis-jenis bambu yang terdapat di Waren II yaitu Schizostachyum brachyladum Kurz., Dendrocalamus asper (Bl ex. Schult. F.) Kurz, S. zollingeri Steud S. blumei Ness. Bambusa forbesii Sloot dan D. latiflorus Munro. Jenis-jenis bambu tersebut dimanfaatkan masyarakat untuk pembuatan busur panah, komponen bangunan, kerajinan tangan dan tempat nasi. Daerah penyebaran D. asper pada rumpun tertinggi yaitu dapat ditemukan pada 8 - 10 m dpl, S. blumei antara 3 - 6 m dpl. Pola konservasi yang dilakukan selama ini adalah konservasi tradisional. MAMORIBO, Sara Pemanfaatan vegeasi mangrove oleh masyarakat kampung Rayori di distrik Supriyori Selatan Kabupaten Biak Numfor. Fahutan Unipa, 2003. 28 cm MANGGROVE - PEMANFAATAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis dan bagian-bagian vegetasi mangrove yang dimanfaatkan oleh masyarakat Rayori. Menggunakan metode deskriptif dengan teknik observasi dan wawancara semi struktural. Variabel yang diamati meliputi jenis dan bagian-bagian mangrove yang dimanfaatkan. Dari hasil dari observasi ditemukan 9 jenis mangrove yaitu Rhyzophora apiculata, R. mucronata, R. stylosa, Bruguera gymnorhiza, Bruguera sp., Sonneratia alba, Xylocarpus granatum, X. moluccensis dan Ceriop tagal, dari ke-9 jenis tersebut termasuk dalam 3 famili, untuk jenis Ceriop tagal sudah tidak dimanfaatkan lagi karena ketersdiaannya semakin langka. Bagian-bagian yang dimanfaatkan yaitu buah untuk dimakan, selain itu dapat mengobati luka dan diare (B. gymnorrhiza). Ranting dan cabang untuk kayu bakar dan batangnya sebagai kontruksi bangunan. Jenis yang biasa dipasarkan yaitu B. gymnorrhiza buahnya dapat diolah menjadi kue dan X. granatum dimanfaatkan sebagi kayu bulat MANSAI, Yulinda Yulasti Pemanfaatan palem oleh etnik Randawaya di pulau Yapen. Fahutan Unipa, 2003. 28 cm PALEM - PEMANFAATAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan palem oleh etnik Randawaya. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan teknik observasi. Variabel yang diamati meliputi informasi etnobotani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etnik Randawaya di Kampung Warironi, Waita dan Tarei dalam kehidupan sehari-harinya memanfaatkan 12 jenis palem dari 3 sub famili yaitu Arecodeae 6 jenis, Calamoideae 4 jenis dan Nypoideae yaitu jenis Nypa fruticans Wurmb. Pemanfaatannya yaitu sebagai bahan makanan dan minuman, bahan bangunan, bahan obat-obatan, bahan minyak, bahan penyegar, energi, senjata dan perkakas serta ritual/upacara adat. MARDIYONO, Moh. Sholeh Pengujian sifat elastisitas dan keteguhan tekan kayu sowang (Xanthostemon novaguinensis Val.) Asal Doyo Transad Sentani Jayapura. Fahutan Unipa, 2003. XANTHOSTEMON NOVAGUINENSIS VAL. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai keteguhan lentur mutlak (MOR), modulus elastisitas (MOE), keteguhan tekan sejajar serat dan keteguhan lurus serat. Menggunakan metode deskriptif dengan teknik observasi. Variabel yang diamati meliputi beberapa sifat mekanika kayu, kadar air serta kerapatan. Berdasarkan hasil penelitian nilai rata-rata keteguhan lentur mutlak (MOR) pada kondisi kering udara sebesar 2018,278 Kg/Cm2. Nilai MOR semakin menurun dari pangkal ke ujung batang. Rata-rata modulus elastisitas pada kondisi kering udara sebesar 708.335,195 Kg/cm2. Kekakuan kayu semakin meningkat dari arah pangkal ke ujung. Keteguhan tekan sejajar serat sebesar 1.015,195 Kg/Cm2. Nilai tekan sejajar serat tertinggi pada bagian ujung diikuti bagian pangkal dan bagian tengah batang. Nilai rata-rata keteguhan tekan tegak lurus serat sebesar 364,537 kg/Cm2. Nilai tertinggi pada bagian pangkal diikuti bagian ujung dan tengah batang. Kadar air pada kondisi kering udara sebesar 13,741per dan kerapatan sebesar 1,109 g/mm2. Nilai pengujian sifat elastisitas dan keteguhan tekan kayu X. novaguinennsis termasuk dalam kayu kelas satu jika didasarkan pada standar klasifikasi Lembaga Penelitian Hasil Hutan (LPHH) dan Karnasudija (1978) dibandingkan dengan klasifikasi yang tepat oleh United State Forest Product Loboratory (USFPL). MEWAL, Rusdy Kajian konsep Igya Ser Hanjop pada kawasan cagar alam Pegunungan Arfak Manokwari. Fahutan Unipa, 2003. KONSERVASI - PEGUNUNGAN ARFAK Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan konsep igya ser hanjop sebagai suatu konsep pengawasan pengelolaan sumberdaya alam hayati dan mengetahui implementasi konsep tersebut pada suku besar Arfak. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Variabel yang diamati meliputi kewajiban yang harus ditaati oleh masyarakat terhadap konsep igya ser hanjop dan implementasinya terhadap kawasan konservasi. Hasil kajian dari konsep igya ser hanjop pada suku besar arfak bahwa kegiatan perburuan satwa dengan menggunakan senapan angin masih dilakukan pada daerah-daerah konservasi. Walaupunaktifitas perlindungan terhadap kupu-kupu sayap burung (Troides obloruacalatus) dalam bentuk penangkapan. Aktifitas perburuan oleh masyarakat suku Moule dengan menggunakan alat-alat tradisional seperti busur,/panah, parang, dan anjing sebagai hewan pelacak, pemburu dan penangkap. Jika ditinjau dari aspek konservasi maka jumlah satwa buruan yang diperoleh dengan menggunakan busur/panah terbatas sehingga lebih menjamin perlindungan dan pelestarian habitat satwa. Keberhasilan konsep igya ser hanjop dapat efektif terlaksana jika ketentuan yang telah ditetapkan oleh Andipoy dapat ditaati dan diterapkan oleh seluruh masyarakat asli Arfak maupun non Arfak yang mendiamai kawasan penyanggga Cagar Alam Pegunungan Arfak Manokwari

2002

ADMAN, Burhanudin Respon pertumbuhan pucuk Araucaria cunninghamii Sw. yang dikultur secara in vitro terhadap tiga jenis media dasar. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm A. CUNNINGHAMII - PERTUMBUHAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui media dasar terbaik bagi pertumbuhan pucuk Araucaria cunninghamii Sw. secara in vitro. Penelitian Ddilaksanakan di laboratorium Bioteknologi Faperta Unipa selama empat bulan. Pada penelitian ini dibuat tiga perlakuan yaitu media anderson, MS dan WPM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media WPM, mampu menyebabkan terbentuknya kalus. Faktor penghambat keberhasilan kultur adalah adanya pencoklatan yang terjadi 2-3 hari setelah penanaman. Indikasi terjadinya pencoklatan adalah matinya sel-sel eksplan. Selain itu faktor penghambat lain adalah terjadinya kontaminasi akibat teknik sterilisasi yang belum tepat, yang mengakibatkan kultur terserang jamur AGUSTINA, Titing Pengaruh tingkat dosis dan jenis mulsa dalam penanggulangan gulma terhadap pertumbuhan dan produksi kedelai (Glycine max (L.) Merr). Fapertek Unipa, 2002. 28 cm GLYCINE MAX - PENANGGULANGAN GULMA Abstrak Penelitian ini merupakan percobaan faktorial yang dirancang dengan menggunakan rancangan acak lengkap. Perlakuan yang diberikan terdiri atas faktor Mulsa (Mulsa gamal dan Mulsa alang-alang), sedangkan dosis yang diberikan terdiri dari tiga taraf yaitu 0 gr, 96 gr dan 288 gr/pot. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pemberian mulsa gamal dan alang-alang memberikan pengaruh yang nyata pada pertumbuhan dan produksi kedelai. Pemberian dosis mulsa 192 g/pot merupkan dosis terbaik untuk meningkatkan tinggi tnman kedelai, bobot brangkasan kering, jumlah buku subur, jumlah polong total, jumlah polong isi, jumlah biji dan bobot biji pertanaman AGUTE, Hendrikus S. O Pengaruh program pengembangan teluk cenderawasih (Cenderawasih bay coastal area development, CCAD) terhadap peningkatan peran wanita dalam ekonomi rumah tangga di desa Warami kecamatan manokwari kabupaten Manokwari. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm EKONOMI RUMAH TANGGA - PERAN WANITA Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya peningkatan pendapatan bagi tenaga kerja wanita pada proyek CCAD III di desa Warami. Peningkatan peran wanita tersebut tercermin pada pola pembagian kerja, pendapatan, dan pengambilan keputusan. Sedangkan faktor yang mempengaruhinya adalah umur, pendidikan formal/non formal, jumlah anggota keluarga, serta curahan jam kerja. Peningkatan peran tersebut diketahui dengan cara membandingkan peran wanita sebelum adanya proyek CCAD III dan sesudah adanya proyek. Metode yang digunakan adalah evaluatif yaitu upaya penilaian perubahan yang terjadi akibat tindakan pada waktu tertentu. Subyek penelitian ini adalah suami dan isteri yang terlibat pada proyek tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dengan adanya pembinaan pada tenaga kerja wanita menyebabkan terjadinya kenaikan pendapatan sebesar 280,120per, bergesernya pola pembagian kerja (65per), dan kecenderungan perubahan pola pengambilan keputusan (53,87per). Secara umum faktor yang sangat mempengaruhi perubahan tersebut adalah umur dan curahan jam kerja AIBEKOB, Herry Herman Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional pada masyarakat suku Biak di desa Duai Kecamatan Numfor Timur kabupaten Biak Numfor. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm TUMBUHAN OBAT - SUKU BIAK Abstrak Penelitian dilakukan untuk mengetahui dan mengidentifikasi pemanfaatan spesies tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional pada masyarakat Suku Biak di Desa Duai Numfor timur. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan teknik wawancara semi struktural. Variabel yang diamati meliputi spesies, pemanfaatan, informasi botanis, informasi ekologis, dan informasi sosiokultur masyarakat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapati ada 35 spesies tumbuhan dari 24 famili yang digunakan sebagai tumbuhan obat. Tumbuhan-tumbuhan tersebut digunakan untuk mengobati 19 jenis penyakit AMIR, La Tingkat adopsi teknologi peternakan ayam burasa di lembah Prafi (kasus di desa Subsay, Aimasi dan Wariori). FPPK Unipa, 2002. 28 cm AYAM BURAS - ADOPSI TEKNOLOGI Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan tingkat adopsi teknologi peternakan ayam buras pada peternak suku Arfak, Timor dan peternak suku Jawa. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik studi kasus, pengambilan cotoh dilakukan secara acak sederhana sebesar 30per. Variabel yang diamati meliputi variabel utama; teknologi pencagahan dan pemberantasan penyakit, teknologi penetasan dan pembibitan, teknologi pemeliharaan dan teknologi pakan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat adopsi teknologi peternakan pada ketiga suku umumnya masih rendah kecuali pada beberapa faktor yaitu teknologi seks ratio (90per), pemberian pakan (100per) pada suku Arfak dan teknologi pengadaan obat-obatan (90per), seks ratio (90per) dan pemberian pada suku Timur serta teknologi sanitasi di kandang (72,22per), pengadaan obat-obatan (80,95per), pemeliharaan DOC (72,22per), seks ratio (88,89per), cara pemberian pakan (100per), kandang (100per), kandang brooder (66,67per), pemisahan umur (72,22per) dan pembedaan pakan (72,22per) pada suku Jawa. Dapat disimpulkan peternak suku Jawa memiliki tingkat adopsi teknologi peternakan ayam buras lebih tinggi daripada dari ketiga suku peternak yang terdapat di Lembah Prafi. ANARI, Susana Interaksi genotipa X lingkungan dan stabilitas daya hasil beberapa varietas kacang tanah (Aranchis hypogea L.). Fapertek Unipa, 2002. 28 cm RACHYS HIPOGAEA - INTERAKSI GENOTIPA X Abstrak Untuk meningkatkan produktifitas kacang tanah diperlukan varietas-varietas unggul. Varietas yang unggul dapat diketahui melalui interaksi antara genotipa dan lingkungan, dimana varietas yang unggul adalah varietas yang mampu bertahan pada kondisi lingkungan yang berbeda dan produksi yang tinggi. Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa lokasi Amban adalah lokasi yang mampu memberikan hasil yang baik bagi produksi kacang tanah dibandingkan lokasi SP3 Prafi. Sedangkan varietas yang memberikan hasil baik adalah varietas Panther yaitu sebesar 0,67 ton per ha, bila dibandingkan varietas lain seperti banteng dan lokal kebar merah. Secara umum hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara varietas (genotipa) dengan lokasi (lingkungan) ANDOY, Elvis Erikson Sonny Studi populasi rusa Timor (Cervus timorensis) dan perburuan oleh penduduk di desa Poo, Tomer dan Sota dalam taman Nasional Wasur Merauke. FPPK Unipa, 2002. 28 cm CERVUS TIMORENSIS - POPULASI DAN PERBURUAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan rusa, struktur populasi, kondisi habitat secara umum dan perburuan yang dilakukan oleh penduduk di desa Poo, Tomer dan Sta. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan teknik Stratifikasi menurut Caughley 1977 dalam Alikodra 1990. Varabel yang diamati meliputi populasi rusa (kepadatan dan Struktur populasi) dan berburu rusa. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kepadatan populasi rusa dipadang rumput desa Poo yang luasnya 200 ha sekitar 12,31 ekor, desa Tomer luasnya 200 ha; 14,06 ekor, desa Sota yang lausnya 100 ha ; 19,5 ekor. Total kepadatan populasi seluruhnya 21,43 ekor. Struktur populasi Cervus timorensis pada ketiga padang rumput tersebut didominasi oleh rusa berumur dewasa yaitu jantan 25,07per dan betina 18,42per, dengan seks ratio adalah 1;0,56. Terdapat tiga habitat yaitu; zona 1 daerah rawa, zona 2 daerah padang rumput dan zona 3 daerah hutan terbuka dan semak belukar. Ketiga padang rumput tersebut didominasi oleh rumput Pseudoraphis spinescens, Phragmites karka, Imperta cylindrica, Chrysopogon aciculatus Spp. dan sebagainya. Cara berburu yaitu secara musiman 5per, sedangkan 95per tidak musiman. Alat yang digunakan adalah panah 29,45per, tombak 20,55per, parang 11,77per, anjing pemburu 28,66per. Jenis kelamin rusa yang diburu adalah jantan 49,46per, betina 40,86peer, dewasa 9,67per. Tidakan yang diambil oleh masyarakat terhadap perburuan melapor ke petugas 29,78per dan dibiarkan saja 70,21per. Pengetahuan masyarakat terhadap rusa sebagai satwa yang dilindungi yaitu 84,61 tahu. ANDRIYANI, Rini Perbandingan kinerja ayam kampung antara dataran tinggi Uwapa dengan dataran rendah Wanggar di kabupaten Nabire. FPPK Unipa, 2002. 28 cm AYAM KAMPUNG - KINERJA Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pebandingan anatara kinerja (sifat kualitatif; warna bulu, warna kulit, warna shank, panjang betis dan jumlah telur perperiode peneluran) ayam kampung pada dataran tinggi dan dataran rendah. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik studi komparatif. Variabel yang diamati meliputi; pengamatan terhadap sifat kualitatif (bentuk jengger, warna bulu, jumlah warna bulu, warna kulit dan warna slank) dan sifat kuantitatif (bobot badan, ppanjang slank, panjang betis dan jumlah telur). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kesamaan pola sifat kualitatif antara dataran tinggi Uwapa dan dataran rendah Wanggar. Artinya bahwa sifat kualitatif yang terdapat pada dataran tinggi juga terdapat pada daratan rendah dengan sebaran yang sama. Sifat kualitatif tersebut yaitu jengger jantan berbetuk mawar, betina ercis, warna bulu hiatm lebih dominan (campuran dengan warna lainnya), warna kulit kuning dan putih, warna shank kuning lebih banyak. Sifat kuantitatif untuk ayam kampung pada dataran tiggi memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan pada dataran rendah. APASERAY, Yohanes Pengaruh penggunaan bubuk daun cengkeh (Eugenia aromatica) dalam mengendalikan penyakit layu (Fusarium oxyporum f. sp. lycopersici) pada tanaman tomat . Fapertek Unipa, 2002. 28 cm TOMAT - FUSARIUM OXYSPORUM Abstrak Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri atas lima perlakuan yaitu 0, 5, 10, 15 dan 20 gr dosis bubuk daun cengkeh (BDC). Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah intensitas penyakit (IP) layu dan Efikasi fungisida nabati bubuk daun cengkeh (BDC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian BDC memberikan pengaruh terhadap intensitas serangan penyakit layu pada umur 12 HST. Namun pada umur 4 dan 8 HST tidak memberikan pengaruh. Sedangkan naiknya dosis BDC yang diberikan mampu menurunkan IP. Sedangkan nilai efikasi keempat dosis yang diberikan pada umur 12 HST berbeda walau mempunyai kemampuan yang sama dalam menekan IP. Dosis terbaik yang disarankan untuk digunakan adalah dosis BDC 10 gram per pot ARIFIN, Haerul Trend produksi kayu bulat HPH PT. Prabu Alaska Unit I kabupaten Fak-fak. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm PRODUKSI KAYU BULAT Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis kecenderungan produksi kayu bulat pada RKT rentang waktu lima tahun kedepan (2002-2006), serta faktor-faktor yang mempengaruhi produksi. Metode yang digunakan adalah studi kasus, dan data dianalisa menggunakan analisa time series (Trend Musiman) dan analisa fungsi produksi dengan teknik regresi berganda (Backward Elimination). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi kecenderungan penurunan produksi yang berfluktuasi pada bulan kering dan bulan basah.Penurunan produksi rata-rata perperiode pada bulan kering sebesar 350,69 m3 dan bulan basah sebesar 176,27 m3. Prediksi produksi kayu bulat lima RKT kedepan cenderung berfluktuasi, mengikuti bulan kering dan bassah. faktor yang paling mempengaruhi produksi adalah penyaradan. ASMURUF, Abner Pemanfaatan nipah (Nypa fruticans Wurmb) oleh lima suku di Bintuni. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm NYPA FRUTICANS - PEMANFAATAN Abstrak Penelitian dilaksanakan selama satu bulan (24 Desember - 24 Januari 2002), menggunakan metode deskriptif dengan teknik observasi lapangan. Subyek penelitian adalah 5 suku dibintuni yaitu suku Irarutu, Kuri, Sebyar, Sumuri dan Wamesa. Penentuan responden contoh dilakukan acak sederhana pada anggota masyarakat dari setiap suku dengan mengambil 10 KK. Pemanfaatan nipah oleh masyarakat dari lima suku menyebar merata, dimana tercatat 8 bagian yang dimanfaatkan. Lima bagian diantaranya memiliki manfaat lebih dari satu dengan total keseluruhan manfaat adalah 19 macam yang tergolong dalam 7 bentuk pemanfaatan yaitu sebagai bahan makanan, minuman, bangunan, obat, energi, perkakas dan ritual BAAN, Yohrina Morfologi dan tingkah laku lebah madu pada peternakan lebah madu di kecamatan Muara Tami Kotamadya Jayapura. FPPK Unipa, 2002. 28 cm LEBAH MADU - MORFOLOGI DAN TINGKAH LAKU Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui morfologi dan tingkah laku lebah madu di kecamatan Muara Tami. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Variabel yang diamati meliputi; morfologi (panjang tubuh, panjang kepala, tinggi kepala, panjang antena, panjang dada, panjang kaki (depan, tengah dan belakang), pajang perut, dan lingkar perut), tingkah laku (membuat sarang, makan dan berkoloni). Hasil dari penelitian ini terdapat 2 jenis lebah madu di desa Koya Timur yaitu Apis mellifera dan Apis cerana. A. mellifera jantan memiliki morfologi lebih besar dibandingkan A. melliera betina dan jantan betina A. Cerana. Tinglkah laku bertelur A. mellifera dan a. cerana sama dengan bentuk telur juga sama pipih memanjang. Metamorfologis a. mellifera lebih lama dibanding a. cerana. Tingkah laku membuat sarang kedua lebah masing-masing 3 hari dengan bahan lilin lebah. Tingkah laku waktu makan kedua lebah pada pagi hari dan sore hari. BANJARNAHOR, Jonnar Eksplorasi jenis-jenis palem di pulau Numfor kabupaten Biak Numfor. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm PALEM - EKSPLORASI Abstrak Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan tekhnik survey lapangan.Data dianalisis secara tabulasi. variabel yang diamatai meliputi tempat tumbuh, karakter morfologi seperti batang, duri, daun, bunga, buah dan biji.Penelitian dilaksanakan di lima desa yaitu Desa Yenburwo, Desa Asaryendi, Desa Kornasoren, Desa Rarsibo dan Desa Andei. Hasil pelitian memperlihatkan bahwa di kecamatan Numfor Timur terdapat delapan jenis palem dari tujuh marga yaitu Areca macrocalyx, Gulubia costata, Pinanga punicea, Siphokentia sp, Calamus heterochantus, Callamus hollrungii, Pigafeta fillaris, Licuala sp. dengan tiga sub famili yaitu Areciideae, Calamoideae dan Coryphoideae. Umumnya jenis palem tersebut tumbuh di tanah yang datar pada ketinggian satu sampai empat meter diatas permukaan laut BARANSANO, Michael Albert Produksi tataniaga kacang hijau (Phaseolus aureus) di kabupaten Biak Numfor. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm TATANIAGA KACANG HIJAU Abstrak Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat produksi serta faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kacang hijau dan aspek tataniaga pada proses penyalurannya. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan teknik studi kasus pada produksi kacang hijau tahun 2001. Data diolah secara tabulasi dengan pendekatan regresi linear berganda. Dari hasil penelitian diketahui bahwa pada tahun 2001 rata-rata produksi perhektar adalah 75,19kg, dengan total produksi kabupaten Biak Numfor sebesar 4617kg. Selanjutnya diketahui bahwa produksi kacanghijau dipengaruhi oleh faktor luas lahan, modal, tenaga kerja, pendidikan, umur, pengalaman, bibit, pupuk dan obat-obatan. Faktor positif yang mempengaruhi produksi adalah lahan, tenaga kerja, pengalaman dan obat-obatan. Sedangkan faktor negatifnya adalah modal, pendidikan, umur, bibit, dan pupuk. Terdapat empat saluran tataniaga yaitu produsen-konsumen, produsen-pedagang pengecer, produsen-pedagang besar-pedagang pengecer, dan produsen-pedagang pengumpul lokal-pedagang besar-pedagang pengecer. Pedagang besar berperan sebagai pedagang pengecer sekaligus fasilitator dalam lembaga tataniaga, disebabkan oleh besarnya modal yang dimiliki. Hal ini menyebabkan rantai tataniaga menjadi pendek. Keuntungan terbesar diperoleh produsen pada saluran tataniaga satu, dengan margin sebesar Rp. 10.000,- serta biaya tataniaga sebesar Rp. 320,-/kg dan keuntungan sebesar Rp. 9,680/kg. Sistem tataniaga kacang hijau di Biak Numfor sudah efisien, hal ini ditunjukkan dengan nilai efisiensi tataniaga yang lebih besar dari 100per BASNA, Abner Studi evaluasi kemampuan masyarakat menindaklanjuti proyek pembangunan pertanian berkelanjutan (Sustainable agriculture development project) secara mandiri : Kasus desa Watariri kecamatan Oransbari kabupaten Manokwari. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm PERTANIAN BERKELANJUTAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan petani dalam menindaklanjuti proyek SADP berdasarkan konsep keberlanjutan serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan masyarakat dalam menindaklanjuti proyek tersebut. Penelitian dilaksanakan didesa Watariri kecamatan Oransbari Kabupaten Manokwari. Metode yang digunakan adalah deskriftif dengan teknik survei. Pengambilan contoh dengan cara sensus pada para petani peserta proyek SADP. Data dianalisa secara tabulasi dan statistik menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kmampuan masyarakat menindaklanjuti proyek SADP secara mandiri tergolong tinggi, hal ini ditunjukkan dengan kemampauan masyarakat mempertahankan produktifitas sebesar 93,3per dan kemampuan mempertahankan efisiensi sebesar 100per. Secara umum kemampuan masyarakat dalam menindaklanjuti proyek SADP tersebut dipengaruhi oleh faktor kapasitas manajemen pribadi seperti pendidikan formal/non formal, umur dan modal. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi adalah harga input dan output di pasaran BEBARI, Fedrika Inventarisasi hama pada tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jack.)di kecamatan Masni kabupaten Manokwari. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm KELAPA SAWIT - HAMA Abstrak Tanaman kelapa sawit sebagai sumber minyak nabati, produksinya saat ini semakin menurun. Diduga salah satu sebabnya adalah serangan hama. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan guna mengetahui hama yang menyerang tanaman kelapa sawit di kecamatan Masni, meggunakan metode deskriptif dengan teknik observasi lapang. Lokasi pengamatan seluas 8 ha, dengan intensitas pengambilan sampel 10per. Pengamatan serangga menggunakan dua metode yaitu metode nisbi dan metode indeks populasi. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa di kecamatan Masni ditemukan lima ordo dari 10 famili hama kelapa sawit yaitu Coleoptera, Hemiptera, Lepidoptera, Mamalia dan Orthoptera. Kerusakan yang paling dominan ditemukan pada daun kelapa sawit BISRI, Makmun Distribusi kerja dan pendapatan usahatani pada masyarakat suku sough di desa Saubeba kecamatan Manokwari kabupaten Manokwari. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm PENDAPATAN USAHATANI - DISTRIBUSI KERJA Abstrak Upaya menjadikan sektor pertanian sebagai sektor ekonomi andalan menjadikan para petani diharapkan mampu mengembangkan dan mengelola usahataninya secara mandiri. Peningkatan peran petani dalam mengelola usahataninya menjadikan sebuah peluang untuk menilai sejauhmana distribusi kerja para petani terhadap cabang-cabang usahataninya. Selain itu diperlukan pula pengetahuan tentang seberapa besar kontribusi pendapatan petani dari cabang-cabang usaha taninya terhadap keseluruhan pendapatan usahatani. Dan sekaligus melihat efisiensi kerja petani pada setiap cabang usahataninya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Dimana kasus yang dijadikan sorotan dalam penelitian adalah distribusi kerja dan pendapatan usahatani pada masyarakat suku Sough yang tinggal menetap didesa Saubeba dengan cabang usahatani seperti perkebunan, tanaman pangan dan tanaman hortikultura. Berdasarkan hasil penelitian didapati bahwa cabang usahatani yang mendapatkan curahan tenaga kerja terbanyak adalah cabang usaha perkebunan, selanjutnya diikuti oleh hortikultura dan terakhir adalah tanaman pangan. Pendapatan para petanai sangat ditentukan oleh cabang-cabang usahatani ini, dimana yang paling rendah memberikan kontribusi pendapatan adalah cabang usaha tanaman hortikultura. Pada pelaksanaan kerja, efisiensi kerja tertinggi dicapai pada cabang usaha tani perkebunan kakao BUINEY, Ruben A. N. Intensitas dan laju perkembangan penyakit (Pyriculari oryzae) pada tanaman padi di desa Aimasi Kecamatan Prafi Kabupaten Manokwari. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm PADI - INTENSITAS PENYAKIT Abstrak Hasil penelitian ini diharapkan memberikan informasi bagi PPL untuk dapat memberikan saran dan tindakan kepada para petani dalam menaggulangi penyakit Pyricularia oryzae. Penelitian ini dilakukan di desa Aimasi dengan tujuan mengetahui intensitas penyakit Pyricularia oryzae berikut laju pertumbuhannya. Penelitian menggunakan metode deskriptif pada pengamatan intensitas serangan berat, sedang dan ringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas serangan penyakit semakin bertambah dengan semakin bertambahnya umur setelah tanam. Faktor yang paling mempengaruhi penambahan intensitas penyakit adalah pengairan BUNTU, Esther Tingkat kesukaan burung cenderawasih (Parasidae sp.) terhadap beberapa jenis pakan di taman burung dan taman anggrek Biak. FPPK Unipa, 2002. 28 cm PARASIDAE SP - PAKAN Abstrak Penelitian in menggunakan metode deskriptif dengan teknik observsi. Variabel yang diamati m eliputi jenis pakan, tingkat kesukaan pakan dan jumlah konsumsi, burung cenderawasih yang digunakan sebanyak 32 ekor. Hasil penelitian ini menunjukka bahwa dari ketujuh jenis pakan (ulat sagu, pisang, pepaya Muntinga sp., Myristica sp., Pandanus sp. dan Ficus sp.) yang diberikan, ulat sagu merupakan pakan yang paling disukai oleh burung Paraciadae sp. bila dilihat dari persentasenya dan waktu makan lebih dahulu habis bila dibandingkan dengan pakan lainnya. Namun bila dilihat dari volume makan, maka pepaya mempunyai volume tertinggi (41,14 g/ekor/hari). Hal ini disebabkan karena terbatasnya pakan ulat sagu, sedangkan pepaya tidak. Pada waktu pakan ulat sagu habis maka burung akan lebih dominan mengkonsumsi pepaya. BUTAR, Anna Butar Pengaruh tingkat konsentrasi asam sulfat (h2SO4) dan lama perendaman terhadap perkecambahan benih melinjo (Gnetum gnemon Linn.). Fapertek Unipa, 2002. 28 cm GNETUM GNEMON - PERKECAMBAHAN Abstrak Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok faktorial yaitu lama perendaman (20, 30, 40, 50 dan 60 menit) dan tingkat konsentrasi H2SO4 (10, 20 dan 30per). Variabelnya meliputi persen perkecambahan, laju perkecambahan, nilai puncak, nilai perkecambahan, perkecambahan harian rata-rata, tinggi kecambah dan panjang akar. Hasil analisis ragam menunjukkan pada faktor konsentrasi H2SO4 memberikan pengaruh yang nyata untuk persen perkecambahan, tinggi kecambah dan panjang akar dengan menggunakan uji BNT (0,50) terlihat bahwa konsentrasi H2SO4 10per dan 30per tidak memberikan pengaruh yang berbeda, tetapi memberikan pengaruh yang berbeda dengan konentrasi 20per. Sedangkan secara tabulasi, pada laju perkecambahan terlihat bahwa konsentrasi lainnya dengan lama perrendaman 30 menit. variabel perkecambahan harian rata-rata, nilai puncak dan nilai perkecambahan memperoleh nilai tertinggi pada konsentrasi 20per pada lama perendaman 50 menit. Maka dapat disimpulkan semakin lama perendaman maka waktu yang dibutuhkan untuk berkecambah semakin cepat DATUBARA, Ranto Darwis Upaya peningkatan pendapatan dan pengaruhnya terhadap beberapa unsur kebudayaan masyarakat arfak pada kawasan cagar alam pegunungan arfak manokwari. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm SUKU ARFAK - PENINGKATAN PENDAPATAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pendapatan yang disumbangkan oleh usaha pemeliharaan kupu-kupu sayap burung dan pengaruh pendapatan tersebut terhadap pemilikan peralatan serta perolehan pengetahuan baru dibidang pakan ternak kupu-kupu dan ubi jalar dan selanjutnya melihat pengaruh pendapatan dari usaha tersebut pada hubungan kekerabatan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriftif terhadap kasus peternak kupu-kupu di desa Warbiadi kecamatan Oransbari dan desa Mupi kecamatan Manokwari. Variabel yang diamati adalah peralatan (peralatan bertani, berburu dan peralatan rumah tangga), pengetahuan (penyediaan bibit, penanaman bibit dan pemeliharaan tanaman) dan pendapatan. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa kontribusi pendapatan dari hasil usaha ternak kupu-kupu masih relatif kecil. Sedangkan pendapatan dari sektor usaha ini berkorelasi positif dengan peningkatan daya beli masyarakat terhadap peralatan. Sebaliknya respon masyarakat terhadap pengembangan pengetahuan berbeda antara desa Mupi dengan desa Warbiadi. Di desa Mupi pengetahuan sudah dianggap sebagai bagian dari kebutuhan yang harus dipenuhi DAWAN, Doddy Noak Tingkat penerapan teknologi intensifikasi khusus (INSUS) usahatani padi sawah oleh petani peserta insus di desa Prafi mulya (SP-1) kecamatan Prafi kabupaten Manokwari. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm INTENSIFIKASI KHUSUS - PADI SAWAH Abstrak Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Mei hingga Juni 2002. Bertujuan mengetahui tingkat penerapan teknologi insus usahatani padi sawah dan mempelajari pengaruh faktor-faktor sosial ekonomi terhadap penerapan teknologi insus oleh para petani peserta. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Variabel yang diamati adalah tingkat pengetahuan petani terhadap teknologi insus, tingkat pendidikan petani, pengalaman bertani, frekuensi mengikuti penyuluhan, modal usahatani, serta tingkat kesesuaian inovasi beserta kerumitannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penerapan teknologi insus oleh para petani usahatani padi saawah tergolong rendah. Faktor sosial ekonomi yang berpengaruh nyata dalam penerapan teknologi insus adalah tingkat kesesuaian inovasi sedangkan faktor lainnya tidak berpengaruh nyata DOMELIA, Deci Evaluasi rehabilitasi lahan kritis dalam areal penghijauan gerakan Sentani sadar lingkungan sentani darling) di daerah tangkapan air (DTA) danau sentani kabupaten Jayapura. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm REHABILITASI LAHAN KRITIS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan rehabilitasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penghijauan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik survey dan wawancara semi struktural. Variabel yang diamati meliputi pemeliharaan terhadap tanaman setelah kegiatan, jumlah tanaman jadi, riap tanaman, persepsi masyarakat dan pendapatan masyarakat. hasil penelitian menunjukan bahwa kegiatan gerakan sentani Darling yang dilaksankan tahun 1994/1995 dengan tingkat keberhasilan 1,60per di kategorikan sangat jelek sehingga ini dikatan gagal. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kegagalan kegiatan teersebut yaitu tidak adanya sosialisasi, sikap malas tahu msyarakat setempat dan tidak adanya pemeliharaan tanaman setelah kegiatan penanaman DUWIT, Nelce Identifikasi jenis angrek epifit pada kawasan hutan Mangrove desa Waijan kecamatan Sorong. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm ANGREK EPIFIT - IDENTIFIKASI JENIS Abstrak Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik survei. Pengambilan spesimen dilakukan secara purposif sesuai keberadaan tumbuh dari angrek epifit. Variabel yang diamati adalah karakter morfologi dan habitat. Terdapat dua genus angrek epifit yang terdiri dari 8 jenis di kawasan hutan mangrove desa Waijan yaitu : Bulbophyllum sp., D. anttennatum Lindl, D. schulleri J. J. S., D. similliae, Denrobium sp1, Denrobium sp2, Dendrobium sp3 dan Dendrobium sp4. Deskripsi morfologi adalah sebagai berikut : pertumbuhan batang umumnya sympodial, berumbi semu dan homoblastik, tetapi ada juga yang heteroblastik yaitu Bulbophyllum sp. Akar umumnya berwarna putih kecoklatan dan putih kehitaman. Bentuk lipatan daun duplikatif, warna umumnya hijau, tata letak alternate kecuali pada Bulbophyllum sp. daun terletak pada ujung umbi semu. Tipe pembungaan solitair terletak pada tangkai dan mempunyai 3 buah sepal, yaitu 2 sepal lateralia dan 1 sepal dorsale. Angrek epifit berasosiasi dengan Carallia brachiata, Ceriops tagal, Heritiera littoralis, Rhizophora mucronata, Xylocarpus granatum dan Xylocarpus mollucensis. inggi pohon inang rata-rata 13.4 m diameter 16.17 cm dan ketinggian 1 - 19 m dari permukaan tanah dan jarak dari tepi pantai 5 - 180 m DWICAHYANI, Endah Pertumbuhan dan Hasil terung (Solanum melongena L.) pada berbagai kombinasi taraf konsentrasi dan waktu pemberian EM-4. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm SOLANUM MELONGENA - PERTUMBUHAN Abstrak Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas 13 perlakuan taraf konsentrasi dan waktu pemberian EM-4, yaitu Kontrol, 4cc/L saat tanam, 4cc/L saat 2 MST, 4 cc/L saat 4 MST, 4 cc/L saat 6 MST, 8 cc/L saat tanam, 8 cc/L saat 2 MST, 8 cc/L saat 4 MST, 8 cc/L saat 6 MST, 12 cc/L saat tanam, 12cc/L saat 2 MST, 12 cc/L saat 2 MST, 12 cc/L saat 4 MST. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanamn, jumlah cabang, umur mulai bunga, jumlah bunga, fruit set, bobot buah, dan diameter buah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan tidak berbeda nyata dengan kontrol. perlakuan dengan konsentrasi 12 cc/L saat MST memberikan pengaruh tertinggi pada komponen pertumbuhan dan produksi terung dibandingkan perlakuan lain dengan hasil pengamatan sebagai berikut tinggi tanaman pada umur 10 MST 72,67 cm, umur mulai berbunga 46 hari, fruit set 31,03per, jumlah buah sebanyak 5 buah, bobot buah 160 gram, diameter buah 50 mm dan panjang buah 21,37 cm DWIWURYANI, Ima Pengaruh berbagai taraf berbagai konsntrasi rooton F terhadap pertumbuhan setek jeruk nipis tanpa biji (Citrus aurantifolia Swingle). Fapertek Unipa, 2002. 28 cm C. AURANTIFOLIA - PERTUMBUHAN STEK Abstrak Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan ulangan 4 kali. Variabel pengamatan meliputi waktu mulai tunas, jumlah tunas, panjang tunas, panjang akar, jumlah akar primer, bobot basah akar, bobot kering akar, persen setek bertunas dan persen setek berakar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsetrasi rooton F 0,6 g/10ml memberikan hasil rata-rata terbaik pada jumlah tunas, panjang tunas, panjang akar, jumlah akar primer, bobot basah akar dan bobot kering akar, sedangkan pada persen setek akar bertunas dan persen setek berakar terbaik dihasilkan konsentrai rooton F 0,9 g/10ml. Konsentrasi Rooton F yang diberikan mengahsilkan hubungan yang linier positif antara umur tanaman dengan panjang tunas dan persen stek bertunas. Terdapat hubungan yang linier positif antara konsentrasi Rooton F dengan panjang akar, bobot basah akar, bobot kering akar, sedangkan waktu mulai bertunas dan persen setek berakar menghasilkan hubungan yang kuadratik. FABANYO, M. Bisri Pengaruh pemberian pupuk NPK pada berbagai media campuran tanah dan serbuk gergaji terhadap pertumbuhan semai Paraserianthes falcataria (L) Nielson. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm P. FALCATARIA - PERTUMBUHAN Abstrak Penelitian ini dilaksanakan di sunkup (rumah plastik) pada ketinggian 110 meter diatas permukaan laut. Peneliian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap berfaktor. Faktor pertama adalah media semai yang terdiri dari empat taraf dan faktor kedua adalah pupuk NPK yang terdiri dari dua taraf. Variabel yang diamati meliputi tinggi semai, diameter semai, berat segar semai, berat kering semai, nisbah tajuk akar dan indeks mutu semai. Hasil penelitian menunjukkan interaksi perlakuan media dengan pemupukan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap respon pertumbuhan tinggi, diameter, berat segar dan berat kering semai. Sedangkan nisbah tajuk akar dan indeks mutu semai tidak menunjukkan nilai pengaruh yang nyata. Hasil terbaik diperoleh pada media tanah campur serbuk gergaji dengan pemberian pupuk NPK 1,0 gram/pot. Parameter terbaik dari perlakuan ini adalah adanya tinggi, diameter, berat segar, berat kering dan indeks mutu semai. Sedangkan hasil terbaik pada nisbah tajuk akar diperoleh pada perlakuan media tanah tanpa serbuk gergaji, dengan pemberian pupuk NPK 1,0 gram/pot GULTOM, Rikson Parlindungan Struktur dan komposisi tegakan pada kebun plasma nutfah PT. Dharma Mukti Persada kabupaten Manokwari. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm TEGAKAN HUTAN - STRUKTUR DAN KOMPOSISI Abstrak Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik survei. Variabel yang diamati adalah Struktur dan komposisi tegakan hutan pada seluruh fase pertumbuhan dan tegakan hutan. Jumlah jenis vegetasi yang ditemukan di lokasi penelitian sebanyak 49 jenis, terdiri dari 29 jenis komersil (pohon 23 jenis, tiang 29 jenis, pancang 26 jenis dan semai 27 jenis) dan 38 jenis non komersil (pohon 4 jenis, tiang 8 jenis, pancang dan semai masing-masing 7 jenis). Jenis komersil yang paling dominan pada fase pohon adalah Eugenia anomalia, diikuti Vatica papuana dan Calophyllum spp., fase tiang Eugenia anomalia diikuti Calophyllum spp. dan Canarium indicum. Fase pancang yaitu Calophyylum spp., Canarium indicum, Vatica papuana dan semai yaitu Calophyllum spp., Vatica papuana, Syzigium verstegii. Jenis non komersil tingkst pohon adalah sterculia parkinsonii, Artocarpus integra dan Haplolobus floribunda, tiang adalah Haplolobus floribunda, Buchania arborescens, Lansium domesticum dan semai adalah Lansium domesticum, Haplolobus floribunda dan Sterculia parkinsonii HAMIN Intensitas kerusakan hutan di hulu sub daerah aliran sungai Muari Oransbari Manokwari. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm DAERAH ALIRAN SUNGAI - KERUSAKAN HUTAN Abstrak Penelitian dilakukan dengan teknik observasi lapang. variabel yang diamati adalah debit aliran air maksimum dan minimum, persentase kerapatan tajuk ata areal kerusakan dan luas areal dari bentuk-bentuk kerusakan hutan. Hasil peneliian menunjukkan perbandingan debi aliran air minimum dan maksimum adalah 1 : 322, ini berarti bahwa kawasan hulu di sub DAS Muari Oransbari telah mengalami kerusakan. Intensitas pembukan lahan sebesar 37,77per dengan persentase tajuk 92,12per terdiri dari topografi datar mempunyai intensitas sebesar 0,06per dengan persentase tajuk 20,06per dan topografi miring (lebih besar dari 5per) memiliki intensitas sebesar 37,71per dengan persentase tajuk 72,06per. Penyebab kerusakan adalah perladangan berpindah, padang penggembalaan, penebangan liar, perambah, jalan, longsor, umur tegakan hutan selain itu keberadaan Kopermas memiliki andil dalam terjadinya kerusakan hutan HARIYANTI Status populasi Sommieria leucophylla Becc. (Arecaceae) di kawasan hutan Andai-Manokwari. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm SOMMEIRIA LEUCOPHYLA - STATUS POPULASI Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status populasi Sommeiria leucophylla di kawasan Andai-Manokwari. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan teknik survei. Variabel yang diamati meliputi kerapatan dan kerapata relatif, frekuensi dan frekuensi relatif, dinamika populasi, dominansi dan dominansi relatif, dan profil tegakan. Hasil survei ini menunjukkan bahwa populasi sommeiria leucophylla di kawasan Andai populasinya sangat kecil dan tergolong sebagai populasi terancam kepunahan yaitu sebagai spesies kritis dimana jumalh individu dewasa 50 yang mempunyai kemungkinan punah 50per selama 5 tahun. Olah karena itu status populasi Sommeiria leupcophylla di kawasan hutan Andai - MAnokwari sebagai populasi genting. HASTUTI, Novi Dyah Analisis tataniaga komoditi kelapa (Cocos nucifera L) asal Numfor Timur di kota Manokwari. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm TATANIAGA KELAPA Abstrak Penelitian yang dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan teknik wawancara dan pengamatan pada para petani kelapa di desa Syoribo, desa Sauribru dan Desa Manggari. Bertujuan mengetahui fungsi lembaga taniaga, pembentukan harga, saluran tataniaga, besarnya tataniaga serta besarnya efisiensi tataniaga komoditi kelapa asal numfor timur di kota Manokwari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga komoditi kelapa sangat ditentukan oleh para pedagang perantara. Dimana diperoleh margin tataniaga terbesar pada saluran tataniaga keenam (Rp. 1466,7/buah), terendah pada saluran pertama (Rp. 500,0/buah). Efisiensi tataniaga tertinggi pada diperoleh pada saluran ketiga (971,3per) dan terendah pada saluran ketujuh (395,4per) HERLINA, Eva Teknik pembibitan dan penanaman sagu (Metroxylon sagu Rottb.) oleh penduduk desa Air Besar dan desa Kanantare kecamatan Fakfak kabupaten Fakfak. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm METROXYLON SAGU - TEKNIK PEMBIBITAN DAN PENANAMAN Abstrak Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik wawancara struktural dan pengamatan langsung di lapangan. Penentuan responden contoh dilakukan secara purposif sebesar 20per dari 51 KK di desa Air Besar dan 27 KK di desa Kanante. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penduduk di kedua desa melakukan teknik pembibitan sagu secara generatif dengan menggunakan anakan sagu yang tumbuh pada pangkal pohon induk. Lokasi penanaman adalah yang dekat dengan sumber air yaitu sepanjang sungai dan pada tanah berawa HERNI Daya tunas, daya tetas dan bobot tetas itik tegal (Anas javanica) yang digembalakan dan tidak digembalakan di desa Sumber Boga kecamatan Masni Kabupten Manokwari. FPPK Unipa, 2002. ANAS JAVANICA Abstrak Penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana sistem peliharaan perpengaruh terhadap tunas, daya tetas dan bobot tetas Anas javanica yang digembalakan dan tidak digembalakan di desa Sumber Boga. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Variabel yang diamati meliputi daya tunas, daya tetas, dan bobot tetas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya tunas itik yang tidak digembalakan lebih tinggi yaitu 73,33per dari pada itik yang digembalakan yaitu 69,33per dan unuk daya tetas diperoleh hasil yang digembalakan lebih tinggi yaitu 82,29per bila dibandingkan dengan itik yang digembalakan 78,77per, sedangkan untuk bobot tetas itik yang digembalakan yaitu 42,89 g bila dibandingkan dengan yang tidak digembalakan yaitu 40.59 g. Hasil uji menunjukkan daya tunas, daya tetas dan bobot tetas itik Anas javanica tidak berbeda nyata (P0.005). Hal ini berarti sistem pemeliharaan tidak memberikan pengaruh terhadap variabel yang diamati. HUSSEIN, Rizald Jenis-jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh suku irarutu di desa Furnusu Kecamatan Teluk Arguni kabupaten Fakfak. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm TUMBUHAN OBAT Abstrak Metode penelitian ini menggunakan metode observasi dengan eknik ekplorasi dan wawancaranya semi srtuktural. Variabel yang diamati yaitu informasi jenis tumbuhan yang digunaka sebagai obat tradisional, lokasi tumbuh dan ketinggian. Hasil penelitian ini memperoleh 40 jenis tumbuhan dari 29 famili yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat oleh masyarakat Irarutu. Jenis-jenis tumbuhan tersebut digunakan untuk mengobati 30 jenis penyakit. Bagian tumbuhan yang digunakan meliputi daun, batang, akar, kulit buah, getah dan umbi.Adapun cara pengobatannya yaitu dengan cara minum, tempel/membalut, tetes, kunyah, gosok, dan tekan. Tumbuhan itu dapat ditemukan pada ketingian antara 0-10 m dpl. ICK, Jean Henry Asosiasi anggrek efifit dan pohon inang pada kawasan hutan mangrove di pulau Nau kabupaten Yapen Waropen. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm ANGGREK - POHON INANG Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keeratan hubungan antara anggrek efifit dan pohon mangrove sebagai inang. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik survei. Variabel yang diamati adalah jenis-jenis anggrek dan jenis-jenis pohon inang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tujuh jenis angrek yang terdapat di pulau Nau yaitu, Dendrobium platygastrium, D. malbrownii, Bullpophillum digoelense, Cadetia taylori, Grammatophyllum Scriptum, Dendrobium ochrantum dan D. antennatum. Sedangkan jenis-jenis pohon inang adalah Bruguiera sp., Sonneratia sp., Rhizophora sp. dan Xylocarpus sp. Hasil penelitian menunjukkan ada keeratan sebesar 55,94per antara jenis anggrek dengan jenis pohon inangnya. Dimana jenis anggrek Gramatophyllum scriptum menpunyai indeks asosiasi terendah dengan jenis pohon Xylocarpus sp. Sedangkan jenis anggrek Cadetia taylori mempunyai indeks asosiasi paling tinggi dengan jenis pohon Xylocarpus sp. Tingginya nilai Asosiasi tersebut diduga disebabkan oleh tingkat kehadiran pohon dan keadaan fisik dari pohon tersebut IMBIRI, Soleman Manfaat ekonomi kegiatan PT. Perkebunan II Arso terhadap perekonomian wilayah Jayapura. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm PT. PERKEBUNAN II ARSO - MANFAAT EKONOMI Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis kontribusi kegiatan PTP II Arso terhadap : (a) masyarakat dari segi penyerapan tenaga kerja, pembayaran upah/gaji, pembayaran kompensasi, pendapatan usahatani, penerimaan non usahatani, pemberian modal dan penyediaan fasilitas penunjang, (b) pemerintah, berupa pajak perusahaan dan pajak masyarakat, (c) perusahaan berupa subsidi pemerintah, penggunaan lahan dan penerimaan total. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober-Desember 2001 pada PT. Perkebunan II Arso PIR I dan PIR II kecamatan Arso kabupaten Jayapura. Penelitian menggunakan metode dekkriptif dengan teknik survei pada kelompok petani plasma di Lokasi PIR I dan II. Data yang diambil berupa data primer dan data sekunder yang diolah dan dianalis secara tabulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya PT. Perkebunan tersebut memberikan manfaat positif terhadap perbaikan ekonomi masyarakat asli dan penyediaan sarana infrastruktur. Sekaligus hal ini membawa manfaat bagi pemerintah daerah dan perusahaan itu sendiri INANOSA, Abraham Andarias Populasi dan penyebaran hama walang sangit (Leptocorisa acuta Thunb.) pada tanaman padi sawah di desa Prafi Mulya kecamatan Prafi kabupaten Manokwari. Fapertek Unipa, 2002. LEPTOCORISA ACUTA - PADI SAWAH Abstrak Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik pengamatan langsung. Variabel yang diamati meliputi intensitas serangan, pola penyebaran serangga hama dan tingkat kerusakan tanaman padi. Hasilnya intensitas serangan hama pada padi berkisar antara 21,81per-36,20per. Rendahnya populasi walang sangit diduga telah dilakukan tindakan pengendalian oleh petani sebelum pengamatan dilakukan serta faktor-faktor lain yang menunjang perkembangan populasi yang kurang menguntungkan. Sifat penyebaran hama walang sangit sifatnya merata. Hasil perhitungan analisis regresi menunjukkan ada hubungan pengaruh yang negatif antara populasi walang sangit terhadap intensitas serangan. Hal ini ditunjukkan dari persamaan regresi Y=30,13-0,17x. Pada tarap 95per tidak menunjukkan pengaruh yang nyata karena tingkat kerusakan tanaman sebesar 0,16per. IRAWATI, Mei Ukuran statistik Vital sapi bali bibit di kecamatan Aimas kabupaten Sorong. FPPK Unipa, 2002. SAPI BALI - UKURAN STATISTIK Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ukuran statistik vital sapi bali bibit di kecamatan Aimas Kanupaten sorong. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik multistage sampling (gugus bertahap). Variabel pengamatan meliputi; panjang badan, tinggi gumba, lingkar dada dan berat badan. Hasil penelitian dari uji t menunjukkan bahwa rata-rata ukuran statistik vital sapi bibit di kecamatan Aimas ternyata masih relatif sama dengan standar nominal terutama ukuran panjang badan dan berat badan untuk sapi dara dan calon pejantan, hal yang sama juga berlaku pada ukuran panjang badan untuk sapi induk, dan ukuran panjang badan, tinggi gumba dan berat badan untuk sapi pejantan. Disamping itu ada yang secara nyata lebih tingggi dari standar nasional yaitu ukuran tinggi gumba untuk sapi dara dan calon pejantan, demikian pula berlaku pada ukuran tinggi gumba dan berat badan untuk sapi induk. Namun ada pula berlaku yang secara nyata lebih rendah dari standar nasional adalah ukuran lingkar dada baik pada sapi dara, induk, calon pejantan maupun pejantan. IYAI, Deny A. Sistem perburuan dan pemanfaatan biawak (Varanus spp) oleh masyarakat di desa Yaur kecamatan Yaur Kaupaten Nabira. FPPK Unipa, 2002. 28 cm VARANUS - PERBURUAN DAN PEMANFAATAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem berburu dan pemanfaatan oleh masyarakat desa Yaur. Metode yang digunakan adalah metode deskiriptif dengan teknik studi kasus. Variabel yang diamati meliputi simtem berburu, lokasi berburu, hasil berburu, pemanfaatanya meliputi (teknik pengulitan, pengolahan kulit, waktu pengolahan, sistem pengolahan daging, dan tujuan pemanfaatanya). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem perburuan biawak yang dilakukan oleh mayarakat Yaur secara turun-temurun yang dilakukan secara tradisional dengan menggunakan alat parang, tombak, panah, dan tali dedoso tidak menggunakan senjata api. Jenis-jenis biawak bila diidentifikasi berdasarkan De Roiij (1915) sebanyak 4 jenis yaitu Varanus gouldi, Varanus salvadori, V. prasinus, dan V. indicus. Daging biawak yang dimanfaaatkan melalui pengolahan dengan cara diasar, goreng dan rebus. Pemanfaatan bagian tubuh lainnya yaitu relatif masih terbatas hanya membuat opset utuh kulit yang dimanfaatkan untuk membuat tifa. Ekor, gigi, lemak dan empedu digunakan untuk keperluan magis dan obat-obatan trasisional. JULIANA Kontribusi cabang usahatani jagung (Zea mays L) terhadap penerimaan usahatani : kasus di desa Udapi hilir kecamatan Prafi. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm USAHATANI JAGUNG - PENERIMAAN USAHATANI Abstrak Penelitian ini dilaksanakan di desa udapi hilir kecamatan Prafi. Penelitian dilakukan untuk mengetahui penerimaan petani dari cabang usahatani jagung, sekaligus mengetahui besaran penerimaan dari cabang usahatani jagung ini terhadap penerimaan petani. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif dengan teknik studi kasus, dengan pengolahan data secara tabulasi. Variabel yang diamati adalah luas lahan, curahan kerja, produksi, harga, penerimaan dan kontribusi cabang usahatani jagung. Rata-rata luas lahan yang digunaklan untuk usahatani jagung adalah 0,49 ha, dengan curahan kerja sebesar 98,73 HKP/tahun. Produksi jagung petani di Desa udapi hilir tergolong baik, dengan jumlah rata-rata produksi sebesar 1,517 kg (1,52 ton), dimana sebagian besar hasil produksi itu dijual Rp. 1.366 rupiah/kg. Penerimaan petani dari cabang usaha tani ini rata-rata pertahun sebesar Rp. 1.884.864,87 rupiah, dengan kontribusi bagi penerimaan petani sebesar 13,07per KABES, Yan Risyart Populasi dan intensitas serangan hama walang sangit (Leoptocorisa oratorius) pada areal padi ladang di desa Hingk kecamatan Warmare kabupaten Manokwari. Fapertek Unipa, 2002. LEOPTOCORISA ORATORIUS Abstrak Penelitian ini menggunakan metode deskripsi dengan teknik survei. Variabel yang diamati meliputi populasi walang sangit, persentase bulir terserang, produksi dan tingkat pengetahuan petani terhadap walang sangit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata populasi walang sangit mencapai 3-4 ekor/m2 dengan kerusakan bulir yang diakibatkan adalah sebesar 0,50-1,70per. Hasil analisis regresi lanjutan dan perhitungan nilai prosentase variasi menunjukkan antara umur masak bulir padi dan jumlah populasi terjadi hubungan negatif, artinya semakin masak bulir padi populasi semakin berkurang, sedangkan antara populasi dan besar kerusakan terdapat hubungan yang positif artinya semakin tinggi populasi maka kerusakan semakin besar dan demikian pula sebaliknya. Produksi yang dihasilkan berkisar anara 0,2-0,4 ton GPK/ha. Tingkat pengetahuan petani terhadap hama tanaman padi sangat rendah. Tindakan terhadap tanaman yang dibudidayakan seperti pemupukan, penyiangan gulma dan pengendalian hama/penyakit tidak pernah dilakukan. KAMBIROP, Agustnus Hubungsn jumlah ternak dengan efisiensi penggunaan pakan dan tenaga kerja pada peternakan itik di desa Bowi Subur dan desa Sumber Boga kecamatan Masni. FPPK Unipa, 2002. 28 cm ITIK - EFISIENSI PAKAN DAN TENAGA KERJA Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performans peternakan itik secara keseluruhan di desa Bowi Subur dan Sumber Boga. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Variabel yang diamati meliputi jumlah pemelihara itik dewasa, efisiensi penggunaan pakan, tenaga kerja dan persentase produksi telur. Hasil analisis statistik deskriptif diketahui bahwa, performans peternakan itik keseluruhan dapat dikatakan baik dimana produksi telur sebesar 72.02per, efisiensi penggunaan pakan 0,15 dan efisiensi penggunaan tenaga kerja 1,504. Walaupun rata-rata efisiensi penggunaan pakan masih rendah namun bila dilihat dari hasil analisis regresi linier sederhana menunjukkan hubungan yang positif dimana jumlah peternak itik meningkat maka efisiensi penggunaan pakan akan meningkat pula. Performans peternakan itik di desa Bowi Subur lebih baik dibandingkan di Sumber Boga dari hasil analisis menunjukkan di desa Bowi Subur persentase produksi telur 73,87per, efisiensi penggunaan pakan 0,1968 dan efisiensi penggunaan tenaga kerja 2,000. KASENDA, Daisy Martha Variasi sifat fisika bambu kebkaba (Dendrocalamus giganteus) asal kampung Siwi distrik Ransiki Manokwari. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm DENDROCALAMUS GIGANTEUS - SIFAT FISIK Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi sifat fisik bambu kebkaba seperti kadar air, berat jenis, dan penyusutan dari pangkal sampai ujung pada kondisi segar kering udara dan kering tanur. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan analisa kuantitatif. Variabel yang diamati meliputi variasi sifat fisik bambu pada kondisi segar, keing udara dan kering tanur pada 4 seksi pangkal, tengah, batang dan bagian ujung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai kadar air bambu kebkaba bagian pangkal 89,03per, ujung 63,84per dan pada buku 90.15per dan 68,04 pada bagian ujung. Pada kondisi kering udara nilai rata-rata kadar air pangkal 16,39per, ujung 15,71per, ujung 15,81 dan pada buku-buku 16,56per. Hasil pengukuran berat jenis pada kondisi segar, kering udara dan kering tanur cenderung meningkat dari pangkal ke ujung batang. bagian pangkal 0,58, ujung 0,65 sedangkan untuk bagian buku pangkal 0,63 dan ujung 0.67. Penyusutan pada arah radial dan tangensial cenderung menurun dari bagian pangkal ke ujung. Hasil analisis regresi yang dilakukan untuk melihat hubungan kadar air dengan penyusutan menujukkan bahwa pada kondisi segar kering udara terjadi hubungan pada bagian ruas dan buku secara kuadratik dengan hasil 99,47per untuk ruas 98,93per pada buku, sedangkan pada kondisi segar kering tanur menunjukkan hubungan yang linier pada buku sebesar 82,17per dan pada ruas 83,08per. Titik jenuh serat bambu kebkaba adalah pada kadar air 84per. KELANIT, Kornelis Jumlah sedimen terangkut pada hulu das werba kecamatan fakfak kabupaten fakfak yang digunakan sebagai pusat lisrik tenaga minihidro (PLTM). Fapertek Unipa, 2002. SEDIMEN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengukur jumlah sedimen yang terangkut guna menghitung tingkat bahaya erosi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik pencuplikan. Pengambilan sampel 3 titik yakni 100 m, 150 m, dan 200 m setelah DAM PLTM. Variabel yang diamati yakni konsentrasi sedimen dengan menhitung luas penampang sungai, debit sungai, tinggi muka air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisaran jumlah sedimen yang masuk pada sungai werba yang terendah adalah 5,9693 ton/hari , sedangkan jumlah sedimen tertinggi yakni sebesar 93,3638 ton/hari, hasil sedimen tertinggi pada hujan ke-15 sebesar 125,7 mm. Pada curah hujan dengan konsenrsi sedimen yang diuji dengan analisa regresi menunjukkan adanya hubungan linier dengan nilai korelasi yang kuat, hal ini menjelaskan bahwa dengan peningkatan curah hujan maka konsentrasi sedimen akan meningkat. Disamping itu pengaruh topografi, tanah, geologi, iklim, pola aliran kali, dan vegetasi memeberikan pengaruh terhadap peningkatan jumlah sedimen. KELLEN, Yustina Pengaruh berbagai konsentrasi PPC multitonik terhadap pertumbuhan dan produksi cabai besar (Cpsicum annuum L.). Fapertek Unipa, 2002. 28 cm COPSICUM ANNUUM - PEMUPUKAN Abstrak Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yang dirancang pola rancangan acak lengkap, perlakuannya meliputi multitonik 0, 1, 2, 3, 4, dan 5 ml/L air. Aplikasi PPC pada umur 2 sampai 12 MST. Variabel yang diamati meliputi tingi tanaman, umur brbunga, jumlah bunga, jumlah buah, fuit set, jumlah buah panen, berat buah panen dan jumlah cabang per tanaman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa PPC Multitonik 5 ml/L air cenderung meningkatkan tingi tanaman dan PPC 3 ml/L air meningkatkan jumlah cabang. Pemberian PPC Multitonik 3 ml/L air dapat meningkatkan jumlah bunga, jumlah buah, fruit set, jumlah buah panen per tanaman masing-masing 70,69per, 78,18per, 13,91per, 87,5per dan 14,31per dibandingkan dengan kontrol. KESAULIJA, Silvy Ellen Eksplorasi jenis angrek epifit pada kawasan hutan mangrove Oransbari kabupaten Manokwari. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm ANGREK EPIFIT Abstrak Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik survei. Variabel yang diamati meliputi Jenis, karakter morfologi, tempat tumbuh, intensitas chaya, kelembaban dan penutup tajuk. Pada kawasan hutan mangrove oransbari ditemukan 11 jenis angrek epifit yaitu : Denrobium antennatum Lindl. D. bifalce Lindl., D. insigne Rachb. f. ex. miq, D. Johnsonia F. muell., D. lineale Rolfe, D. litorale Schltr., D. macfarlanei F. uell., Grammatophylum papuanum, G. scriptum Blume, Gunnarella Senghas dan Pholidota imbricata Hook f. Jenis pohon inang yang ditemukan adalah Bruguiera gymnorhiza, Heriiera litoralis, Premma corimbosa, Rhizopora stylosa, Sonneratia alba, Sonneratia caseolaris. Ditemukan pada ketinggian 5 - 24 m dari permukaan pasng dan terletak pada jarak antara 15 - 1200 m dari tepi pantai KOESSOY, Margaretha Sisilia Christina Sistem produksi dan sifat fisik madu pada peternakan lebah madu di desa Koya Timur kecamatan Muara Tami Kotamadya Jayapura. FPPK Unipa, 2002. 28 cm LEBAH MADU - SISTEM PRODUKSI DAN SIFAT FISIK Abstrak Penelitian ini menggunkan metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Variabel yang diamati meliputi sistem produksi, penyediaan sumber pakan, sifat fisik, aroma, kekentalan dan pH madu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa desa Koya relatif baik peternakan madunya, sistem produksi yang diterapkan pada peternak belum sesuai dengan sistem produksi ideal. Hasil pengujian organoleptik menunjukkan bahwa sifat fisik madu untuk jenis lebah Apis mellipera memiliki aroma harum, rasa manis, kekentalan 8,3 ml/menit dan pH 2,4 sedangkan madu jenis A. cerana memilki warna merah, aroma harum sampai sangat harum, rasa sangat manis, kekentalan 6,3 ml/menit dan pH 3,8. KOMSARY, Marlen Pemberian nitrogen terhadap pertumbuhan, produksi dan kadar gula semangka (Citrullus vulgaris Schard.). Fapertek Unipa, 2002. CITRULLUS VULGARIS - PEMUPUKAN N Abstrak Penelitian ini menggunakan metode Eksprimen dengan menggunakan analisis regrsi dengan peubah bebas X (dosis pupuk nitrogen) dan peubah Y (pertumbuhan, produksi dan kadar gula). Perlakuannya terdiri dari kontrol, 90, 180, 270, 369 dan 450 kg N/Ha ulangan sebanyak 3 kali. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembarian dosis 360 kgN/Ha memebeikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan panjang sulur dan kadar gula buah semangka. Sedangkan berat buah semangka dosis optimumnya yaitu 362,98 kg N/Ha dan diameter buah dosis optimumnya 345,55 kg N/Ha. KORE, Gema Iriayani Variasi pandanus dan pemanfaatannya oleh masyarakat Ayamaru. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm PANDANUS - PEMANFAATAN Abstrak Penelitian dilaksanakan di hutan Twoer dan hutan Fetmales desa Mefkajim kecamatan Ayamaru kabupaten sorong. Responden ditentukan secara purposif terhadap masyarakat yang mengetahui jenis-jenis pandanus dan telah memanfaatkannya serta jenis-jenis pandanus, sedang pengambilan contoh jenis-jenis pandanus dilakukan berdasarkan informasi masyarakat. Berdasarkan hsil eksplorasi dijumpai 4 jenis marga Pandanus yaitu P. conoideus Lamk, Pandanus sp 1, P.navicularis B. C. Stone dan Pandanus sp2. Berdasarkan pemanfaatannya oleh masyarakat adalah sebagai bahan pangan, bahan lantai rumah, bahan atap rumah, bahan tikar, tas dan tudung hujan, bahan umpan buruan. Jenis yuang dibudidayakan yuaitu P. conoideus kultivar merah panjang dan kultivar merah sedang KRISIFU, Susana Monika Pengujian bawang putih (Allium sativum L.) sebagai insektisida nabati terhadap hama kubic (Plutella xylostella L.). Fapertek Unipa, 2002. PLUTELLA XYLOSTELLA - ALLIUM SATIVUM Abstrak Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh larutan insektisida nabati yang bersumber dari P. xylostella. Metode yang digunakan yaitu metodeeksperimen dengan teknik observasi, dengan menggunakan rancangan acak lengkap konsentrasi perlakuan 0, 5, 10, 15, dan 20 ml/L sebanyak 3 ulangan. Vareabel yang diamati meliputi Jumlah larva hidup dan mati, berat daun sebelum dan sesudah pengamatan, dan pelakuan insektisida nabati. Hasil penelitian ini menunjukkan pemberian insektisida nabati A. sativum, baik dengan menggunakan metode tetes maupun metode celup, tidak menunjukkan perbedaan antar konsentrasi terhadap mortalitas larva P. xylostella. Namun dari analisis lanjutan tampak bahwa pestisida nabati ii dapat menekan populasi hama. Perlakuan konsentrasi insektisida nabati yang diaplikasi masih belum efektif dalam mengendalikan hama P. xylostella. Nilai efekasinya tergolong rendah yaitu 50per. Ditinjau dari segi pakan yang tersisa setelah aplikasi, terlihat bahwa pakan tersisa pada metode celup labih banyak dibanding pada metode tetes. hal ini sebaiknya digunakan metode perlindungan terhadap tanaman kubis. LA MAU, Labaduru Pengaruh selang waktu tanam terhadap pertumbuhan serta hasil jagung (Zea mays L.) dan buncis (Phaseolus vulgaris L.) dalam sistem tumpangsari. Fapertek Unipa, 2002. ZEA MAYS - PHASEOLUS VURGARIS Abstrak Penelitian ini menggunakan metode eksperimen menggunakan rancangan acak kelompok sebagai perlakuannya monokultur jagung, monokultur buncis, buncis dan jagung ditanam dalam waktu bersamaan, buncis ditanam selang waktu 1 minggu, dan selang 2 minggu, dengan ulangan sebanyak 5 kali. Variabel yang diamati meliputi komponen pertumbuhan, produksi jagung dan buncis. Hasil penelitian inii menunjukkan bahwa cara tumpangsari buncis dan jagung yang baik yaitu pada perlakuan waktu penanaman bersamaan yang mana dapat menghasilkan jumlah cabang yang paling banyak, jumlah polong muda lebih banyak, bunga lebih cepat, jumlah tandan lebih banyak dan total bobot polong muda lebih berat. Sedangkan tanaman jagung perlakuan jagung ditanam 2 minggu lebih awal dapat menghasilkan jumlah baris biji jagung lebih banyak, bobobt 100 biji kering perpetak, bobot kering jagung pertanaman, bobot kering perpetak, serta bobot brangkasan kering tertinggi. Hasil jagung tertinggi diperoleh apabila jagung ditanaman 2 minggu lebih awal dari buncis yaitu sebanyak 3,730 kg/ha dan hasil buncis tertinggi apabila ditanam bersamaan dengan jagung yaitu sebanyak 18,880 kg/ha. Nilai kesetaraan pendapatan yang dipeoleh dari perlakuan jagung ditanam waktu bersamaan sebesar 1,03, perlakuan jagung lebih awal 1 minggu sebesar 0,93, sedangkan jagung lebih awal 2 minggu sebesar 0,88. Pola tanam tumpangsari penanaman jagung dan buncis dalam waktu yang bersamaan memeberiakn pendapatan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan pola tumpangsari lainnya. LEBANG, Daud Ijarles Produktifitas ayam buras pada daerah dataran tinggi dan dataran rendah di Kabupaten Manokwari. FPPK Unipa, 2002. 28 cm AYAM BURAS - PRODUKTIFITAS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktifitas ayam buras pada dataran tinggi dan dataran rendah. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Varabel yang diamati meliputi bobot badan, ukuran tubuh, kualitas telur, pertumbuhan anak dan mortalitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketinggian tempat (suhu dan kelembaban) memberikan pengaruh terhadap produktifitas ayam buras. Rata-rata ukuran tubuh dan bobot badan, kualitas telur (tebal telur dan tebal kerabang) serta pertumbuhan anak umur 1-3 minggu di dataran tinggi Anggi lebih baik (P0.05) dibandingkan di daerah dataran rendah (Manokwari). Namun tingkat kematian (mortalitas) anak ayam buras 1-3 minggu pada dataran tinggi (Anggi) dan datarn rendah (Manokwari) tidak berbeda (P0,05). LEKATOMPESSY, Christina Analisa faktor penetu efesiensi penggunaan ransum ayam pedaging di Manokwari. FPPK Unipa, 2002. 28 cm AYAM PEDAGING - RANSUM Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penentu efisiensi penggunaan ransum ayam pedaging. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Variabel yang diamati meliputi; konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, efisiensi penggunaan ransum, komposisi gizi ransum, feed suplemen, kepadatan kandang, suhu dan kelembaban, strain, sistem perkandangan, frkuensi pemberian ransum dan bentuk ransum. Faktor-faktor yang mempunyai pengaruh dominan terhadap efisiensi penggunaan ransum ayam pedaging fase starter di Manokwari adalah kepadatan kandang dan energi metabolisme. Faktor-faktor yang mempunyai dominan terhadap penggunaan ransum ayam pedaging fase finisher adalah frekuensi pemberian rasum, suhu, kepadatan kandang, bentuk ransum, feed suplemen, energi metabolisme dan strain. LESSY, Irmawati Pengaruh IBA (Indole butyric acid dan NAA (Alpha-naphthaleneacetic acid) terhadap pertumbuhan setek jabang jambu semarang gondrong (Syzigium samarangenese (BI) Merr & Perry). Fapertek Unipa, 2002. SYZIGIUM SAMANGARENESE - PERTUMBUHAN SETEK Abstrak Penelitian ini mengunakan metode eksperimen dengan menggunakan rancangan acak lengkap. Jumlah perlakuan sebanyak 15 satuan percobaan diulang 5 kali. Variabel pengamatan meliputi waktu mulai tunas, jumlah tunas, panjang tunas, jumlah daun, persentase tunas, persentase setek akar, panjang akar dan jumlah akar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi NNA 250 ppm cenderung menghasilkan waktu mulai tunas paling cepat, panjang tunas dan jumlah daun paling tinggi. Perlakuan kombinasi IBA + NAA 250 ppm cenderung menghasilan tunas, panjang akar dan jumlah akar paling tinggi. Pada seluruh setek yang tidak diberi perlakuan tidak terjadi petumbuhan. LILING, Delfianto Marchel Sifat kualitatif dan kuantiatif babi di kabupaten Nabire. FPPK Unipa, 2002. 28 cm BABI - SIFAT KUALITATIF DAN KUANTITATIF Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat kualitatif dan kuantitaif babi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Variabel yang diamti meliputi sifat kuantitatif (panjang badan, lingkar dada, tinggi bahu, panjang ekor, panjang telinga dan panjang kepala) dan sifat kualitatif (warna bulu, bentuk telinga, bentuk ekor dan bentuk kepala). Hasil pelitian menunjukkan bahwa sifat kuantitatif babi jantan di kabupaten Nabire mempunyai ukuran yang lebih bervariasi daripada babi betina kecuali panjang ekor dan panjang kepala. Rata-rata ukuran babi jantan terlihat lebih baik dibandingkan babi betina. Sedangkan pada sifat kualitatifnya untuk bulu (hitam dan bercak-bercak), bentuk telinga tegak, bentuk ekor melingkar dan bentuk kepala konkaf lebih banyak ditemukan dari warna dan bentuk lain. LILYA Pengembangan industri kain tenun ikat (kain timor) di desa Wariori kecamatan Masni kabupaten Manokwari. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm INDUSTRI TENUN IKAT Abstrak Teknik penelitian yang digunakan adalah teknik studi kasus. Pengambilan contoh dilakukan secara acak sederhana sebanyak 30 KK pengrajin. Data dianalisa secara statistik. Hasil analisa memperlihatkan terjadinya penurunan produksi rata-rata sebesar 80,4 pers/tahun. Hasil uji statistik regresi linier diketahui bahwa faktor yang berpengaruh nyata terhadap perkembangan industri kain tenun ini adalah variabel umur dan permintaan. Dimana dengan bertambahnya umur pengrajin akan menurunkan produksi sebesar 1,71 satuan. Sedangkan dengan adanya permintaan akan menaikkan produksi sebesar 1,08 satuan. Sehingga karena tidak kontinyunya permintaan konsumen mengakibatkan penurunan produksi kain tenun tersebut LINDONGI, Jhony C. Ekologi persarangan burung maleo (Megapodius freycinet. G) pada areal hutan Bremi kabupaten Mnokwari. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm MEGAPODIUS FREYCINET - EKOLOGI SARANG Abstrak Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan teknik observasi. pengambilan sampel dilakukan secara aksidental berdasarkan lokasi ditemukan sarang. Variabel yang diamati adalah ukuran, bentuk, bahan penyusun, lokasi pembauatn, suhu dan kelembaban sarang, intensitas cahaya, nilai pH tanah dan komposisi tegakan di sekitar sarang. Hasil peneliian memperlihatkan sarang dibuat pada ketinggian 5-28 m dpl. Tinggi gundukan sarang berkisar 40 - 120 cm diameter berkisar antara 355 - 465 cm. Bahan penyusun sarang terdiri atas dedaunan (26,66per), ranting+bongkahan kayu (13,33per), buah (2,50per), akar (10per) dan tanah (51,66per). Suhu sekitar sarang pada waktu pagi berkisar antara 26,3 - 29,6derC, Siang hari 27,3 - 29,6derC dan sore hari 27,6 - 29,3derC. Suhu diluar sarang rata-rata 23,5derC. Kelembaban tertinggi pada pagi hari berkisar 89-93,6per, Siang hari antara 71,6-87,6per dan sore hari 75-82per. Intensitas cahaya pada pagi hari berkisar antara 1220 - 1760 Lux, Siang hari antara 1261,6-1766,6 Lux dan sore hari 370-720 Lux. Nilai pH tanah mendekati netral dengan rata-rata 6.97. Komposisi tegakan di sekitar sarang didominasi olej jenis Pometia sp. dan Paraserianthes sp MAELISSA, Irene Uji antagonisme beberapa strain pseudomonas kelompok fluorescent (Pf) terhadap penyebab penyakit layu fusarium tomat (Fusarium oxysporum f.sp. lycoperesi) secara In-Vitro. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm FUSARIUM OXYSPORUM - STRAIN PSEUDOMONAS Abstrak Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap 3 kali perlakuan dan 7 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga strain Pf dapat digunakan untuk mengendalikan Fusarium oxysporum F.ps. lycopersi karena dapat menghambat pertumbuhannya. Pf. strain 2 dari pertanaman ketimun mampu menghambat pertumbuhan F. o. f.sp.lycopersici tertinggi yaitu 48,59per kemudian Pf. strain 3 dari pertanaman terong 33,33per dan terendah Pf strain 1 dari pertanaman kacang panjang yaitu 28,10per. MAGAL, Hans Ndarondal Studi tumbuhan obat tradisional suku amungme di desa Tsinga kecamatan Mimika Baru kabupaten Mimika. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm TUMBUHAN OBAT - SUKU AMUNGME Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan obat tradisional oleh suku Amungme di desa Tsinga. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik wawancara semi-struktural dan observasi lapang. Hasil penelitian ini menginformasikan bahwa penduduk Tsinga telah mengenal 43 jenis tumbuhan dari 29 famili sebagai obat tradisional. Pola pengetahuan masyarakat secara turun-temurun antar generasi. Pada umumnya masyarakat cara pemanfaatanya masih tradisional dan tergolong subsisten dan belum pada tingkat komersil. MAITAR, Bustar Aspek ekologi kayu sowang (Xanthostemon sp.) di Jayapura. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm XANTHOSTEMON SP. - ASPEK EKOLOGI Abstrak Penelitian dilaksanakan di daerah Depapre, desa maribu, kampung Harapan dan desa Pasir Dua kabupaten Jayapura, menggunakan teknik survey bertujuan mengetahui aspek ekologi kayu sowang yang meliputi aspek klimatis dan edhapis. Variabel yang diamati meliputi aspek edhapis kayu sowang, Topografi, Aspek klimatis, analisa vegetasi, dan ciri morfologi jenis kayu sowang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu sowang dijumpai pada ketinggian 0 - 550 m dpl dengan tingkat kelerengan yang curam, hidup pad jenis tanah entisol dan ultisol dengan struktur tanah remah dan struktur tanah lempung dan tumbuh pada tanah yang mempunyai pH agak masam. Suhu uara rata-rata sebesar 25,30derC - 27,80derC dengan kelembaban yang inggi dan curah hujan sebesar 355 mm setiap bulannya. Hasil analisa vegetasi memperlihatkan kayu sowang banyak dijumpai tumbuh bersama dengan Casuarina rumphiana baik pada tingkat semai, pancang, tiang maupun pohon MAKER, Ottow Identifikasi dan pemanfaatan kayu tongkew (Stenocarpus spp.) oleh masyarakat suku Sentani di kecamatan Sentani Barat kabupaten Jayapura. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm STENOCARPUS SPP. - PEMANFAATAN Abstrak Penelitian dilakukan di desa Doyo Lama, desa Sosiri dan desa Yakonde. Penentuan responden dilakukan secara purposif dan acak berstrata. Responden kunci ditentukan secara purposif terhadap kepala suku, tokoh adat dan tokoh agama. Sedangkan untuk responden contoh meliputi masyarakat biasa yang terlebih dahulu dikelompokkan dalam dua tingkatan umur yaitu 40 tahun dan 40 tahun dengan intensitas 20per dari jumlah KK pada tiap desa. Dari pengamatan dilapangan ditemui dua jenis kayu tongkew yaitu S. beccari dan stenocarpus sp. Dengan perbedaan ciri morfologi yang jelas. Kedua jenis tersebut mempunyai nama lokal yang sama. Kayu Tongkew dipergunakan oleh masyarakat untuk keperluan konstruksi (tiang rumah, Jembatan), Peralatan (Penokok sagu, hulu kapak dan hulu tombak) dan energi (bahan bakar). Dalam pemanfaatannya masyarakat hanya memanfaatkan Stenocarpus beccari, berdasarkan pengetahuan mereka secara tradisional bahwa kayu tersebut memiliki kualitas yang lebih baik dibanding Stenocarpus sp MAMBRASAR, Yulanda Ruth Pengaruh pemberian beberapa jenis bokasi terhadap pertumbuhan dan hasil bayam cabut (Amaranthus tricolor L.). Fapertek Unipa, 2002. AMARANTHUS TRICOLOR - PEMUPUKAN Abstrak Penelitian ini mengunakan metode eksperimen yang menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri atas perlakuan kontrol, bokashi tanah, bokashi arang, bokashi arang:abu, dan bokashi abu, semua perlakuan diulangan sebanyak 4 kali. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun pertanaman, berat brangkasan basah per tanaman, berat brangkasan per petak dan Indeks panen. Hasil peneltian ini menunjukkan bahwa pemberian beberapa jenis bokashi memeberikan pengaruh yang nyata terhadap semua komponen pertumbuhan dan komponen hasil. Pemberian bokashi arang menunjukkan laju pertumbuhan tinggi tanaman tertinggi 28,91 cm dengan jumlah daun sebanyak 30 helai, brangkasan basah per tanaman tertinggi 19,80 gr, dan berat brangkasn per petak tertinggi 896,05 gr. Sedangkan indeks panen tertinggi ditunjukan oleh perlakuan bokashi arang:abu sebesar 84,93per. Pemberian bokashi dapat meningkatkan berat brangkasan per petak 337per bokashi tanah, 336per bokashi arang, 264per bokashi arang;abu dan 322per bokashi abu bila dibandingkan kontrol. MAMMAN, Veronika Murniaeta Status hematologis sapi bali di rumah potongan hewan (RPH) Manokwari. FPPK Unipa, 2002. 28 cm SAPI BALI - STATUS HEMATOLOGIS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status hematologis sapi bali di rumah pemotongan hewan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Variabel yang diamati meliputi waktu koagulasi, kadar hemoglobin, hematokrit, deferensiasi leukosit, umur, jenis kelamin, asal ternak, dan lama istirahat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa status hematologis sapi bali di RPH Manokwari berdasarkan umur, jenis kelamin dan asal ternak sama, kecuali persentase monosit lebih tinggi pada sapi yang berumur 3 tahun, sapi betina dan sapi yang berasal dari Manokwari. Lama istirahat 2 hari menunjukkan status hematologis yang baik pada sapi bali di RPH. Status hematologis sapi bali di RPH tidak dapat diduga dari berat badan. Berdasarkan status hematologis secara umum sapi yang hendak dipotong di RPH manokwari berada dalam kondisi yang sehat. MANAN, Jefry Hubungan karakteristik peternakan terhadap pola pencarian informasi peternakan di distrik Prafi. FPPK Unipa, 2002. 28 cm PETERNAKAN - POLA PENCARIAN INFORMASI Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik peternak, terpaan media komunikasi massa dan interpersonal, pola pencarian informasi peternakan dan hubungan karakteristik peternak terhadap pola pencarian informasi peternakan di distrik Prafi. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik survei. Variabel pengamatan meliputi karakteristik peternak, terpaan media, pola pencarian informasi, motifasi koqnitif dalam mencari informasi peternakan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik peternak sebagia besar responden berumur 44 tahun dengan pendidikan tidak tamat SD 84,47per, sedangkan untuk pendidikan nonformal pada tahun terakhir sebagian besar responden tidak pernah mengikuti 87,23per, jenis dan kepemilikan ternak yang terdapat pada responden untuk unggas 1-40 ekor 78,72per, ternak potong kecil 1-5 ekor 17per, ternak potong besar 1-3 dan 4-6 ekor 38,30per, tingkat penerimaan sebagian besar Rp. 700.000 (85,11per), pengalaman berternak sebagian besar 10 tahun (74,47per. Responden lebih banyak memanfaatkan komunikasi interpersonal yaitu PPL (43,88per) dibandingkan media massa. Saluran yang digunakan peternak dalam memperoleh informasi sebagaian besar media surat kabar 50per sedangkan media elektronik 53,06per. Motifasi koqnitif responden dalam mencari informasi yang memenuhi kebutuhan masalah yang dihadapi 38,64per. Faktor internal yang menjadi hambatan responden dalam mencari informasi peternakan sebagian besar tidak ada waktu senggang 33,33per sedangkan faktor eksternal sebagian besar karena sarana kurang mendudukung 41,30per. Karakteristik peternak tidak terdapat hubungan yang nyata terhadap pola pencarian informasi peternakan yaitu 0.050 namun karakteristik peternak terhadap terpaan media, kemudian terpaan media terhadap pencari informasi peternakan menujukkan hubungan yang nayata 0,444 dan 0,336. MANDANG, Keinnes Irvalindo Kombinasi agens hayati dan fungisida antracol dalam pengendalian Sclerotium rolfsii Sac penyebab penyakit busuk pangkal batang pada tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merril) . Fapertek Unipa, 2002. 28 cm GLYCINE MAX - SCEROTIUM ROLFSII Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi agensia hayati (Trichoderma viride, T. harzinum, Glioclodium fimbriatum dan Pseudomonas fluorencens) dengan fungisida Antrovol yang tepat dalam pengendalian penyakit busuk buah. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen, dengan menggunakan rancangan acak lengkap berfaktor, perlakuannya meliputi Antagonis (kontrol, T. Harzyanum, T. Viride, G. Vibriatum, P. fluorencens) dan konsentrasi flungisida (kontrol, 250, 500, 750, 1000 ppm) perlakuan ini diulangan sebanyak 5 kali. Hasil penelitian secara In-Vitro menunjukkan bahwa pengunaan kombinasi dosis fungisida antracol dengan keempat agens antagonis (T. viride, T. harzianum dan G. fibriatum) mampu menghambat patogen S. rolfsii. Kombinasi terbaik adalah menggunakan agen antagonis T. viride, T. harzianum dan G. fimbriatum dengan fungisida antracol 500 ppm. Hasil secara In-Vivo menunjukkan bahwa penggunaan kombinasi tingkat dosis fungidsida antracol dengan keempat agens antagonis (T. viridde, T. harzianum dan G. fimbriatum) mampu menghambat patogen S. ralfii. Kombinasi terbaik adalah menggunakan agen antagonis T. viride dengan fungisida antracol 750 ppm. MANDOSIR, Hilda Pengaruh subtitusi sebagian ransum basal dengan ransum komersil ayam pedaging fase starter terhadap ukuran tubuh ternak babi fase grower. FPPK Unipa, 2002. 28 cm BABI - RANSUM Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh subtitusi sebagian ransum komersil ayam pedaging terhadap ukuran tubuh ternak babi fase grower. Metode yang digunakan yaitu metode eksperimen dengan rancangan bujur sangkar. Perlakuannya meliputi ransum basal dan ransum komersilnya sebagai berikut 100per;0, 95per;5per, 95per;10per, 85per;15per, 80per;20per, dan 75per;25per. Variabel pengamatan meliputi pertambahan panjang badan, tinggi badan, pertambahan panjang lingkar dada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subtitusi sebagian ransum basal dengan ransum komersil ayam pedaging memberikan pengaruh nyata (P0.05) terhadap pertambahan berat badan 13per-15per, tinggi badan 0,22 sampai 0,78 cm/ekor/mg, panjang badan dan pertambahan lingkar dada 0,16-0,96 cm/ekor/gr ternak babi fase grower. MANGEKA, Daniel Pemanfaatan palem oleh masyarkat etnik Skow di desa Skow Sae, Muara Tami - Jayapura. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm PEMANFAATAN PALEM Abstrak Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik observasi dan wawancara semi struktural. Pengambilan responden dilakukan secara purposif terhadap tetua adat, kepala suku dan orang yang dianggap mengetahui pemanfaatan palem dengan asumsi bahwa pengetahuan tentang pemanfaatan palem hanya dikuasai oleh orang-orang tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat etnik skow dalam kehidupan sehari-harinya memanfaatkan 18 jenis palem dari 4 sub famili. Pemanfaatannya tergolong dalam 7 bentuk pemanfaatan antara lain : bahan makanan dan minuman, obat-obatan, bahan minyak, sumber energi, bahan bangunan, senjata dan perkakas serta keperluan ritual MANGINTE, Nelson Pengaruh tingkat penggunaan isi rumen sapi terfermentasi dalam ransum terhadap penampilan itik fase starter. FPPK Unipa, 2002. 28 cm ITIK - RANSUM RUMEN SAPI Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat penggunaan isi rumen sapi dengan ransum terhadap penampilan itik fase starter. Metode yang digunakan yaitu metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap, dimana perlakuannya terdiri atas penggunaan isi rumen sapi 0per, 5per, 10per, 15per, dan 20per. Variabel yang diamati meliputi konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan efisiensi penggunaan ransum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan rumen sapi terfermentsi dalam ransum meningkat konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan serta memperbaiki efisiensi ransum. Penggunaan rumen sapi terfermentsi dalam ransum sampai tingkat penggunaan 10per menghasilkan konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan efisiensi penggunaan ransum terbaik. MANGIWA, Efrayim Jenis-jenis angrek epifit pada kawaan hutan pulau Rumberpon. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm ANGREK EPIFIT Abstrak Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik survei. Variabel yang diamati meliputi morfologi daun, batang, akar, bunga, buah serta pengamatan terhadap pohon inang. Dari hasil pengamatan diperoleh 23 jenis angrek yang tergbung dalam 8 genus yaitu Acryopis, Bulbophyllum, Coelogyne, Dendrobium, Eria, Grammatophyllum, Rhinerhiza dan Robiquetia. Tempat tumbuh angrek menyebar pada ketinggian 0 - 140 m dari permukaan laut. Jenis pohon inang adalah Brugueira sp., Decaspernum fruticosum, Ficus sp., Homalium foetidum, Intsia sp., Myristica sp., Palaquium sp., Sonneratia sp., Terminalia sp., dan Vatica sp MANIBUY, Siprianus Dinamika pertumbuhan rumpun sagu (Metroxylon sagu Rotb.) di dusun Masiray kecamatan Bintuni kabupaten Manokwari. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm METROXYLON SAGU - PERTUMBUHAN Abstrak Penelitian dilaksanakan dengan metode deskriptif dengan teknik survey. Variabel yang dimati meliputi bentuk, diameter dan komposisi rumpun serta tinggi batang, tinggi pohon dan diameter batang untuk tingkat sagu belum masak tebang dan sagu asak tebang. Data diolah secara deskriptif sederhana dima a dilakukan perbandingan pada setiap batang. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa di dsa Masiray terdapat 3 kultivar sagu yan didominasi oleh kultivar anangbuo yang menybar di sepanjang daerah aliran sungai. Sedangkan kultivar anawawi menyebar pada semua daerah dan kultivar anandui banyak tersebar pada derah terendam dan daerah kering MARIANA, Novita Anna Karakteristik morfologi dan morfo-genetik ayam kampung di kabupaten Merauke. FPPK Unipa, 2002. 28 cm AYAM KAMPUNG - KARAKTERISTIK MORFOLOGI DAN MORFO-GENETIK Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik morfologi dan morfo-genetik ayam kampung Merauke. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Variabel yang diamati meliputi ciri-ciri karakter morfologi dan morfo-genetiknya. Hasil penelitian ini didapati bahwa karakter morfologi dan morfo-genetik ayam kampung di Kabupaten Merauke adalah beragang atau bervariasi, kecuali wana jengger dan warna pial. Sedangkan hasil analisis uji t untuk karakteristik morfologi menunjukkan bahwa karakteristik morfologi ayam kampung jantan berbeda nyata (P0.005) dengan ayam betina. MBAUBEDARI, Kusriner F Uji pengaruh gibberelin (GA3) pada berbagai konsentrasi terhadap perkecambahan benih sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielson). Fahutan Unipa, 2002. 28 cm P. FALCATARIA - BENIH Abstrak Meode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan teknik observasi yang dirancag dalam pola rancangan acak kelompok berfaktor tuggal dengan 10 perlakuan. Perlakuan yang diberikan adalah perendaman benih pada berbagai konsentrasi larutan GA3 yaitu : 0, 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90 dan 100 ppm. Pengamatan dilakukan terhadap persen perkecambahan, laju perkecambahan dan nilai kecambah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman benih Parasrianthes falcataria pada berbagai konsentrasi GA3 selama satu jam dapat memberikan pengaruh yang nyata terhadap variabel perkecambahan. Rata-rata persen perkecambahan tertinggi terjadi pada konsentrasi 80 ppm (100per) dan terendah pada perlakuan tanpa perendaman atau pada 0 ppm (30per). Laju perkecambahan tertinggi terjadi pada konsentrasi 80 ppm (3.27 hari), terendah pada perlakuan tanpa kontrol atau 0 ppm (5.06 hari). Rata-rata nilai kecambah tertinggi juga pada perendaman 80 ppm (6.57per/hari) dan terendah pada perlakuan tanpa perendaman (0.48per/hari) MEHEN, Yudith Fitriana Benga Identifikasi penerapan faktor penentu teknis peternakan ayam buras dalam program intab pada daerah transmigrasi di desa Aimasi kecamatan Prafi kabupaten Manokwari. FPPK Unipa, 2002. 28 cm PETERNAKAN AYAM BURAS - FAKTOR PENENTU TEKNIS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penerapan faktor penentu teknis peternakan pada usaha peternakan ayam buras di Aimasi. Metode yang di gunakan adalah metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Variabel yang diamati meliputi faktor penentu teknis peternakan, kandang, sistem pengelolaan, kesehatan, pasca panen, identifikasi faktor penentu teknis peternakan dan penetapan prioritas faktor penentu teknis peternakan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa identifikasi penerapan faktor penentu teknis peternakan ayam buras di desa Aimasi berada pada kisaran hampir sesuai 50per, kurang sesuai 8,3per. faktor pakan masih kurang sesuai 32,7per, dan tidak sesuai 12,5per, faktor kandang masih tergolong hampir sesuai 41,7per, kurang sesuai 36,2per dan tidak sesuai 14,6per, faktor sistem pengelolaan masih tergolong hampir sesuai 50per, kurang sesuai 25per dan tidak sesuai 16,7per, faktor kesehatan kurang sesuai 25per dan tidak sesuai 7,7per, serta faktor fasca panen yang masih tergolong kurang sessuai 25per. MINGGIREJO Pengaruh silang dalam dan aras protein ransum terhadap kinerja burung puyuh yang sedang bertumbuh. FPPK Unipa, 2002. 28 cm BURUNG PUYUH - RANSUM SILANG Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara silang dalam dan aras protein ransum baik sebagai faktor tunggal maupun interaksinya terhadap kinerja burung puyuh yang sedang bertumbuh. Metode yang digunakan yaitu metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap berfaktor, perlakuannya terdiri atas silang dalam (perkawinan individu setetua dan secara acak) dan aras protein ransum proteinnya 24per dan 18per. Variabel yang diamati meliputi konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan mortalitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa silang dalam tidak mempengaruhi (P0.005) konsumsi ransum, pertambahan bobot badan maupun mortalitas. Aras protein ransum berpengaruh (P0.05) terhadap konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan. Terdapat penagaruh interaksi (P0.05) antar silang dalam dan aras protein ransum terhadap konsumsi ransum tetapi tidak berpengaruh interaksi (P0.05) terhadap pertambahan bobot badan dan mortalitas. Efek silang tidak menguntungkan terhadap sifat produksi dan reproduksi sehingga silang dalam perlu dihindari dalam pembibitan, perlu adanya pemberian ransum dengan aras protein yaang tinggi untuk mengantisipasi terjadinya faktor silang dalam. MOFU, Wolfram Yahya Intensitas penggunaan lahan areal kampus Universitas Negeri Papua. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm PENGGUNAAN LAHAN Abstrak Metode yang digunakan dalam peneliian ini adalah metode survei dengan teknik observasi. Variabel yang diamati meliputi lahan perumahan, bangunan, prasarana angkutan, kebun percobaan, hutan primer, hutan sekunder dan lahan kosong dan luas lahan yang digunakan untuk tanaman jangka panjang. Data yang diukur dari setiap variabel adalah luas lahan dalam satuan meter yang akan dikonversi ke dalam satuan hektar. Intensitas penggunaan lahan areal kampus Universitas Negeri Papua seluas kurang lebih 174.58 ha atau 37.91per berupa bangunan perumahan dan penyediaan fasilitas pendidikan, 33.17per atau 152.79 ha merupakan areal hutan kosong serta 28.93per atau seluas 133.26 ha digunakan masyarakat dalam bentuk pertanian MUNUA, Lukas Octovianus Pertumbuhan beberapa kultivar sagu (Metroxylon sagu Rotb.) asal kabupaten Yapen Waropen di kebun koleksi Maripi Manokwari. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm METROXYLON SAGU - PERTUMBUHAN Abstrak Bertujuan mengamati perkembangan pertumbuhan bibit sagu asal kabupaten Yapen Waropen setelah umur satu tahun penanaman di lapangan. Menggunakan metode dekriptif dengan teknik observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing kultivar memiliki keragaman nilai pertumbuhan di tiga lokasi yang berbeda yaitu daerah realtif kering, relatif basah dan sangat basah. Pada daerah kering penampilan pertumbuhan relatif lambat adalah Ami (0.000 cm), sedang adalah Owawu (3.529 cm), Kuroi (2.063 cm), Aming (4.910 cm), Yerirang ( 2.666 cm), Hawa (3.692 cm), Huworu (2.493 cm), Markbon (3.366 cm), Woru (4.608 cm), Antah ( 3.845 cm), Anta (3.673 cm). Sedang kultivar dengan pertumbuhan cepat di antaranya Umbeni (9.953 cm), Noing (5.248 cm), Anandong (5.302 cm). Untuk daerah yang relatif basah pertumbuhan lambat adalah kultivar Markbon (2.751 cm), Antah (2.389 cm), anta (2.316 cm), pertumbuhan sedang diragakan oleh awa (5.465 cm), hawa (5.953 cm), Anandong (6.177 cm), woru (3.963 cm) dan tercepat adalah Huworu (8.433 cm). Di daerah realtif sangat basah pertumbuhan lambat diragakan oleh Anandong (1.326 cm) dan anta (1.4849 cm) pertumbuhan sedang adalah Manawoi (3.402 cm), Inggamer (3.66 cm), Markbon (2.407 cm), anta (1.484 cm), antah (0.760 cm), woru (3.728 cm) dan yang cepat pertumbuhannya di daerah ini adalah yerirang (6.786 cm), asina (6.370 cm) dan woru (5.392 cm) MUSA'AD, Musdalifah Sistem pemeliharaan ternak kelinci pada masyarakat suku dani kecamatan Illu kabupaten Puncak Jaya. FPPK Unipa, 2002. 28 cm TERNAK KELINCI - SISTEM PEMELIHARAAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemeliharaan ternak kelinci pada masyarakat suku Dani. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Variabel yang diamati meliputi jenis kelinci, jenis pakan, perkandangan, sistem perkawinan dan penyakit. Hasil penelitian bahwa populasi ternak kelinci talah mencapai optimal. Pakan yang diberikan terhadap kelinci belum memenuhi kebutuhan gizi dan pemberian secara adlibitum. Peternak kelinci di kecamatan Illu talah mengunakan kandang berbentuk kandang berbentuk panggung dengan tipe battery (tidak bertingkat), namun peralatan tempat makan dan minum belum ada. Jenis penyakit yang umum menyerang ternak kelinci kembung perut 62,5per dan pilek 37,5per. Mortalitas terbesar dimangsa induknya dan predator. Ternak kelinci dikawinkan secara alami dan relatif pada usia muda. Penghasilan sampingan ternak kelinci yang berupa feses digunakan sebagai pupuk. Sedangkan hasil kulit tidak dimanfaatkan sama sekali. Sistem pemeliharaan yang dilakukan yaitu semi intensif. NOTANUBUN, Piet Ricard Tingkat kesukaan burung dara mahkota victoria (Goura victoria) terhadap beberapa jenis pakan. FPPK Unipa, 2002. 28 cm GOURA VICTORIA - PAKAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis pakan yang disukai burung Goura victoria dalam kandang penangkaran. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan teknik observasi. Variabel yang diamati meliputi tingkat konsumsi, tingkat pengukuran pakan, waktu makan, dan waktu minum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat konsumsi burung Goura victoria terhadap jenis pakan yang paling disukai adalah kacang tanah 33,39 g/ekor/hari, atau 51,34per dari total konsumsi; jagung 24,38 g/ekor/hari, kedelai 5,58 dan kacang hijau 1,69 g/ekor/hari. Waktu yang paling lama dilakukan oleh burung Goura victoria adalah pagi hari jam 06.00-7.30, sementara paling singkat pada siang hari (periode III jam 12.30-14.30). Waktu minum paling lama dilakukan adalah pada siang hari (periode IIIjam 12.30-14.30) sedangkan paling singkat pada siang hari (periode II jam 09.00-11.00). NURJAYANTI, Yuyun Pengaruh konsentrasi "effektive microorganisme-4" (EM-4) terhadap pertumbuhan dan produksi sawi (Brassica juncea L.) yang dipupuk dengan bokashi jerami. Fapertek Unipa, 2002. BRASSICA JUNCEA - PEMUPUKAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai konsentari EM-4 terhadap pertumbuhan dan produksi sawi. Metode penelitian dengan menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan perlakuan kontrol, EM-4 3, 6, 9 dan 12 ml/L. EM-4 diberiakan pada saat tanaman berumur 1, 2, dan 3 MST. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan bobot brangkasan per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian konsentrai EM-4 berpengaruh terhadap tinggi tanaman, luas daun, dan bobot brangkasan basah tetapi hasil tidak memberikan pengaruh pada jumlah daun. Pemberian dapat meningkatkan hasil pada konsentrasi 3 ml/L air sebesar 2,04per, 6 ml/L; 8,97per, 9 ml/L: 12,4per, dan 12 ml/L: 4,36per bila dibandingkan kontrol. Dengan hasil analisis regresi diproleh titik optimum pada konsenrsi 7,82 ml/L air dengan luas daun pertanaman adalah 248 cm2, sedangkan untuk brangkasan basah pada konsenrasi 7,69 ml/L air dengan bobot 196 gram. NURHAYATI Analisis pendapatan usaha ternak sapi bali di kecamatan Prafi kabupaten Manokwari. FPPK Unipa, 2002. 28 cm PETERNAKAN SAPI BALI - ANALISIS PENDAPATAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pendapaatandari usaha ternak sapi bali dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan tersebut. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Variabel yang diukur yaitu modal, pendapatan, penerimaan dan biaya produksi. Hasil intervew pada peternak sapi di Prafi bahwa besar pendapatan yang diperoleh peternak tersebut sebesar Rp. 5.801.422,57 per tahun dan faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu biaya peralatan, pakan, obat-obatan, curahan kerja serta modal. PABUBA, Anton Rattung Pengaruh pola penanaman terhadap pertumbuhan dan hasil sawi (Brassica juncea L.). Fapertek Unipa, 2002. BRASSICA JUNCEA - POLA TANAM Abstrak Penelitian ini menggunakan metode eksprimen dengan rancangan acak kelompok, perlakuan bujur sangkar (20x20, 30x30, 40x40) cm2, segitiga (20x20x20, 30x30x30, 40x40x40) Cm2 dan persegi panjang (20x30, 20x40, 20x50) Cm2. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, bobot brangkasan basah per tanaman, dan bobot brangkasan basah per petak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola penanaman memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, bobot brangkasan per tanaman, dan bobot brangkasan basah per petak, namun tidak berbeda nyata pada jumlah daun. Tanaman tertinggi dihasilkan pada pola penanaman segitiga sama sisi dengan jarak tanam 40 x 40 cm, sedangkan jumlah daun lebih banyak dihasilkan pada pola penanaman bujur sangkar 30 x 30 cm2, dan 40 x 40 cm2 serta segitiga sama sisi 40 x 40 cm2. Pada jarak tanam yang rapat bobot brangkasan basah per tanaman rendah tetapi bobot brangkasan basah per petak tinggi, sebaliknya jarak tanam yang lebar bobot brangkasan per tanaman lebih tinggi tetapi bobot brangksan basah per petak lebih rendah. Pola penanaman segitiga sama sisi dengan jarak tanam 20 x 20 x 20 cm memepunyai bobot brangkasan basah per petak jauh lebih tinggi yaitu 14,2 kg dibandingkan pola penanaman lainnya. Pengaruh kompetisi dapat diperkecil dengan cara mengatur jarak tanam namun perlu mempertimbangkan hasil produksi per hektar. PADANG, Salomo Padang Kajian pengeringan biji kakao (Theobroma cacao L.) dengan alat pengeringan energi matahari. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm BIJI KAKAO - PENGERINGAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk merancang alat pengeringan matahari serta membandingkan laju pengeringan yang dihasilkan terhadap pengeringan secaara alami. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik analisa kuantitatif dan kualitatif, dengan variabael yang diamati yaitu kondisi lingkungan (suhu, kelembaban udara dan intentitas penyinaran matahari). Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa secara teknis alat pengeringan energi matahari yang dirancang mampu mengeringkan biji kakao secara baik pada kisran suhu 40-50 derajat Celcius lama waktu pengeringan 18 jam. Laju pengeringan rata-rata untuk pengeringan pada lantai jemur seesar 2,14per/jam sedangkan pada alat pengering sebesar 2,46per/jam. kurva laju pengeringan untk perlakuan lantai jemur terdiri atas tiga tahap, yaitu periode laju pengeringan awal, periode laju pengeringan menurun tahap pertama da tahap kedua. Sedangkan untuk pengeringan dengan alat pengering, kurva laju pengeringannya berbentuk ekponensial. PALILING, Agustinus Habitat mencari makan bandikut di desa Anjai kecamatan Kebar kabupaten Manokwari. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm BANDIKUT - HABITAT Abstrak Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode deskriptif dengan teknik observai, pengmabilan data dilakukan secara aksidental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis bandikut di desa Anjai adalah jenis Echymiphera rufescens yang memiliki habitat bekas perladangan di hutan sekunder sebagai tempat mencari makan, terletak pada ketinggian 590 m dpl dengan suhu antara 20derC - 28derC, kelembaban antara 62per - 91per, intensitas cahaya antara 100 lux -2000 lux. Hasil analisis tanah menunjukkan pH 5,8 - 77 dengan tekstur lempung berpasir hingga lempung berliat, wrna tanah coklat kekuningan hingga hitam dan kadar air tanah berkisar antara 2,416per - 5,8394per. Terdapat 54 spesies dari 33 famili vegetasi untuk tingkat pohon, tiang, pancang dan semai sebagai tempat beraktivitas bandikut PAREANG, Charlotha Pengaruh pemberian berbagai dosis bokashi terhadap pertumbuhan dan produksi jahe (Zingiber officinale Rose). Fapertek Unipa, 2002. ZINGIBER OFFICINALE - PEMUPUKAN Abstrak Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak kelompok, perlakuannya yang terdiri dari kontrol, 50, 100, 150, dan 200 gr bokashi, ulangan sebanyak 4 kali. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun per rumpun, jumlah tunas, jumlah rimpang, dan berat basah rimpang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian bokashi jerami berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun per rumpun, jumlah rimpang, berat basah rimpang dan berat basah tanaman (kecuali jumlah tunas) dan produksi. Perlakuan bokashi dengan dosis 200 gr memberikan hasil tertinggi untuk semua komponen pertumbuhan dan produksi. Persentase peningkatan berat basah rimpan dengan dosis bokhasi 50 gr:5,72per, 100 gr:16,42per, 150gr:27,91per, dan dosis 200 gr:32,42per dibandingkan dengan tanpa bokashi. PARIRI, Ferdinand Evaluasi tingkat keberhasilan program OPK beras bagi keluarga pra sejahtera dan sejahtera satu di kecamatan Manokwari Kabupaten Manokwari : Studi kasus dikelurahan pasir putih, desa Warkapi dan desa Yoom Nuni I . Fapertek Unipa, 2002. 28 cm EVALUASI PROGRAM OPK BERAS Abstrak Program OPK mulai berjalan pada bulan Juli 1998 dengan masing-masing kepala keluarga penerima mendapatkan 10 kg beras. Kemudian pada bulan Desember 1998 ditingkatkan menjadi 20 kg. Program OPK merupakan salah satu program jaring pengaman sosial (JPS) prioritas peningkatan ketahanan pangan (Food security). Dana program ini diambil dari anggaran dan pendapatan belanja negara (APBN). Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat keberhasilan dan dampak program OPK beras bagi keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera satu di kecamatan Manokwari. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Data dianalisa secara tabulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program OPKB berada pada kategori tidak berhasil. Ini berdasarkan analisa keberhasilan komponen penentu seperti ketepatan kelompok sasaran, ketepatan harga jual, ketepatan jumlah dan kesesuaian laporan. Sebab ketidak berhasilan program ini adalah kurangnya monitoring dan evaluasi dari pihak-pihak yang terkait PASARIBU, M. Hafismal Presentase kerusakan tegakan tinggal tingkat pohon inti akibat pembalakan mekanis di HPH PT. Batasan kecamatan Skamto kabupaten Jayapura. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm TEGAKAN TINGGAL - PEMBALAKAN MEKANIS Abstrak Suatu penelitian yang dilaksanakan untuk mengetahui besarnya presentase kerusakan tegakan tinggal pada tingkat pohon akibat proses pembalakan mekanis. Digunakan metode deskriptif dengan teknik studi kasus pada penelitian ini. Pengambilan contoh secara sistematik plot sampling dengan petak ukur sebagai unit contoh. Analisa data secara statistik deskriptif pada luasan kerusakan 100Ha dan ditampilkan dalam bentuk tabel kontigensi serta diolah secara tabulasi. Hasil penelitian menunjukkan jenis pohon komersil lebih banyak mengalami kerusakan dibandingkan jenis non komersil. Tingkat kerusakan masih tergolong sedang (38,7per). Kerusakan pohon didominasi kelas diameter 20-29 cm. Pada jenis komersil kerusakan terbesar dialami tajuk, kemudian akar dan batang. Sedangkan pada jenis non komersil berturut-turut adalah tajuk, batang dan akar. Presentase kerusakan pohon inti berdasarkan tingkat kelerengan adalah 39,446per pada topografi jenis A, 37,782per pada jenis B, dan 37,188per pada jenis C PATADUNGAN, Rita Pengaruh kepadatan populasi teki (Cyperus rotundus L.) terhadap pertumbuhan dan produksi jagung (Zea mays L.). Fapertek Unipa, 2002. ZEA MAYS - TANAMAN PESAING Abstrak Penelitian ini menggunakan metode eksperimen , rancangan acak kelompok, yang terdiri atas perlakuan bebas umbi teki, kepadatan awal 5 umbi/pot, 10, 20, 25 dan 30 umbi/pot, diulang sebanyak 6 kali. Variabel yang diamati meliputi gulma teki (jumlah anakan, jumlah umbi dan bobot brangkasan) dan jagungnya (Tinggi tanaman, jumlah daun, panjang tongkol, diameter tongkol, bobot biji per tanaman, bobot 100 biji per tanaman dan bobot kering tanaman). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua variabel pengamatan memperlihatkan bahwa kontrol memeberikan hasil yang lebih baik untuk tinggi tanaman, jumlah daun, panjang tongkol, diameter tongkol, berat biji per tanaman, berat 100 biji per tanaman, dan berat brangksan kering dan pada kepadatan awal 30 umbi teki/pot memberikan hasil yang sangat menurun terhadap variabel tersebut. Kehilangan hasil akibat kepadatan gulma terhadap produksi jagung yaitu berat biji pertanaman adalah sebesar 34,14gr/tan pada kepadatan awal 5 umbi/pot, 30,64 gr/tan pada kepadatan 10 umbi/pot, 27,14 gr/tan : 15 umbi/pot, 23,64 gr/tan : 20 umbi/pot, 20,14 gr/tan : 25 umbi/pot, dan 16,64 gr/tan : 30 umbi/pot. Sedangakan untuk berat 100 biji pertanaman adalah sebesar 25,66 gr/tan pada kepadatan awal 5 umbi/pot, 23,316 gr/tan : 10umbi/pot, 20,67 gr/tan : 15 umbi/pot, 18,17 gr/tan : 20 umbi/pot, 15,68 gr/tan : 25 umbi/pot, dan 13,18 gr/tan : pada 30 umbi/pot. PAYUNG, Jennie Variasi sifat fisika bambu cina (Dendrocalamus asper (Schultes f.) Backer ex Heyne) menurut posisi vertikal pada batang. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm DENDROCALAMUS ASPER - SIFAT FISIKA Abstrak Metode yang digunalan adalah deskriptif dengan pengolahan data secara kuantitatif, pengukuran nilai kadar air dilakukan pada 2 kondisi yaitu basah dan kering udara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kadar air pada bambu cina cenderung menurun dari bagian pangkal ke ujung batang dengan rata-rata 92.44per (pada kondisi segar), 15.60per (pada kondisi kering udara). Sedang pengukuran berat jenis dilakukan pada 3 kondisi (segar, kering udara dan kering tanur. Berat jenis cenderung meningkat dari bagian pangkal ke ujung batang dengan rata-rata 0.60 pada kondisi segar, 0.68 pada kering udara dan 0.77 pada kondisi kering tanur. Penyusutan pada arah radial dan tangensial dilakukan pada 2 kondisi yaitu kondisi segar ke kering udara dan segar ke kering tanur, penyusutan cenderung menurun dari arah pangkal ke ujung batang. Penyusutan yang terjadi pada arah radial ke kering tanur menunjukkan nilai yang lebih tinggi (10.24per) dibanding pada kondisi segar ke kering udara (8.47per) sedangkan pada kondisi segar ke kering tanur penyusutan pada arah tangensial yang terjadi adalah sebaesar 6.25per dan pada kondisi segar ke kering udara sebesar 4.3 per. Nilai T/R ratio pad kondisi segar ke kering udara sebesar 0.49 dan pada kondisi segar ke kering tanur sebesar 0.62 PITRI, Idul Persentase populasi cendawan penghasil aflatoksin pada biji kacang tanah (Arachis hypogaea L) yang dijual di pasar sentral wasi Manokwari. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm ARACHIS HYPOGAEA - CENDAWAN Abstrak Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik secara acak, sampel diambil sebanyak 700 biji dari 1/2 kg. Variabel yang diamati persentase kehadiran cendawan penghasil alfatoksin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa biji kacang tanah yang diperdagangkan di pasar sentral wasi Manokwari telah terkombinasi cendawan penghasil alfatoksin sebsar 44,14per. Hal ini disebabkan karena kurang perhatian tempat penyimpanan dan penanganan pasca panen baik dari para petani maupun pedagang. Jenis cendawan yang menghasilkan senyawa alfatoksin adalah dari jenis Aspergillus flapus dan Aspergillus parasiticus. PRASETYO Perubahan beberapa sifat fisik pasir akibat pemberian bokashi pada sistem vertikultur. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm PASIR - VERTIKULTUR Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian bokashi terhadap perubahan beberapa sifat fisik pasir sebagai media tanam dan dampaknya terhadap produksi sawi yang dibudidayakan dengan sistem vertikultur. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen menggunakan ranncangan acak lengkap yang terdiri atas perlakuan (100, 80, 60, 40, dan 20) per pasir dengan ulangan sebanyak 3 kali. Variabel pengamatannya meliputi permeabilitas pasir, porositas media, kadar air media tanam, jumlah hara N, P dan K yang terlindi, serta bobot brangkasan segar tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bokashi memberikan pengaruh yang nyata terhadap kadar air dan porositas pasir tidak pengaruh terhadap permeabilitas pasir dan cenderung menurun kehilangan hara akibat pelindian. Hasil Uji BNJ menunjukkan bahwa perbandingan terbaik yang memberikan pengaruh yang nyata terhadap porositas dan berat segar tanaman adalah perlakuan 80per pasir:20perBokashi PRAYITNO, Sabri Wahyu Margo Pemanfaatan tumbuhan mangrove bagi kehidupan masyarakat suku Inanwatan di kabupaten Sorong. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm MANGROVE - PEMANFAATAN Abstrak Penelitian dilaksanakan di desa Mate dan Wadoi dengan menggunakan teknik studi kasus. Penentuan responden contoh dilakukan secara purposif yaiusebanyak 28per dari 80 KK. Hasil peneleitian menunjukkan penduduk asli dari dua desa contoh memanfaatkan 22 jenis tumbuhan dari 11 famili untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang diperunukkan untuk memenuhi 10 bentuk pemanfaatan. 21 jenis dimanfaatkan sebagai energi, dan 1 jenis dimanfaatkan untuk tali temali. Ada beberapa jenis yang mempunyai nilai ekonomis yang dihargai perbatang dengan kisaran Rp. 5.000,- sampai Rp. 15.000,- PRIASTUTI, Ika Wahyu Pengaruh waktu blansing terhadap kualitas tepung beberapa jenis pisang. Fapertek Unipa, 2002. TEPUNG PISANG Abstrak Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, perlakuannya meliputi tanpa blansing, blansing 10 menit dan blansing 15 menit. Jenis pisang yang digunakan pisang kepok, pisang susu dan pisang raja. Variabel yang diamati meliputi penilaian organoleptik, sifat kimia (kadar air, kadar lemak, dan vitamin C). Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan blansing 10 menit pada pisang kepok menghasilkan tepung dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuaan lainnya, yakni warna tepung putih, kadar air 3,98per, kadar lemak 0,56per dn kadar vitamin C 1,20 mg. PURWANINGTYAS, Diah Ayu Pengaruh pemberian pupuk organik dan anorganik terhadap pertumbuhan dan produksi kangkung darat (Ipomea reptans Poir.). Fapertek Unipa, 2002. IPOMEA REPTANS - PEMUPUKAN Abstrak Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak kelompok, perlakuanya meliputi kontrol, bokashi arang 1 kg/m2, pupuk kandang 1kg/m2, pupuk ure 20 gr/m2, pupuk NPK (Urea 20, TSP 20, KCL 10) gr/m2, NPK dan pupuk kandang kasing-msing setengah dosis. Variabel yang diamti meliputi tinggi tanaman, bobot brangkasan basah per tanaman, bobot brangkasan kering, kadar air per tanaman, dan bobot brangkasan basah tanaman per petak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman, berat brangkasan basah per tanaman berat brangkasan kering per tanaman dan kadar air pertanaman. Tetapi tidak berpengaruh terhadap pemberian pupuk anorganik. RANTE, Rina Karakterisasi morfologi uwi (Dioscorea spp.) asal kawasan Sentani-Jayapura propinsi Papua. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm DIOSCOREA SPP. - MORFOLOGI Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman morfologi beberapa kultivar. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik eksplorasi. Variabel yang diamati meliputi karakteristik mata tunas dan tunas, karakteristik batang (batang muda dan dewasa) karakteristik daun, karakteritik bunga dan karakteritik umbi. Hasil eksplorasi menginformasikan bahwa 10 kultivar dari 27 kultivar yang dikenal terdapat di Sentani termasuk dalam jenis Dioscorea alata L. yaitu kultivar Y. khleuw (1), Y. era yuu(11), Y. orofea khheuw (13), N. isya gula (C), Y. weanggi (3), Y. orofea hele (30), Y. pujolo (4), Y. ampas (29), Y. walee (14) dan iya pungdgut (G). Sedangkan kultivar lainnya termasuk dalam jenis Dioscorea esculenta (Lour.) Burk., yaitu kultivar Y. hele (20, Yanggu fam (12), F. rasii khokhmang (17), F. rasii khobukhii (18), F. lepa-lepa (19), F. Yahinaii (228), N. sunggo (B), F. Enai (D0, F. Maninggombu (E), So naning (H), N. kraut (I), N. Sugow (J), isya kablua (K), N. sugoh (L), N. Uru (A) dan N. tenam (F). Ciri morfologi utama yang membedakan jenis uwi tersebut sebagai berikut Dioscorea alata L. memiliki arah lititan batang ke kanan, memiliki sayap pada batang dan petiole daun serta bentuk daun membulat telur. Sedangkan Dioscorea esculenta (Lour) Burk. memiliki arah lilitan batang kekiri, mempunyai rambut/bulu dan atau duri pada batang dan petiole daun, serta mempunyai bentuk daun menjantung. Keragaman di dalam jenis dioskorea alata dibedakan oleh ciri morfologi utama yaitu warna sayap batang dan sayap petiole meliputi hijau, hijua dengan goresan ungu, jarak antar ruping yang berkisar antara 2,5-6,5 cm, lipatan rumping ke atas atau ke bawah, panjang ujung daun berkisar 2-4 mm, warna ujung daun hijau muda, hijau tua, hijau keunguan atau hijau kecoklatan, warna petiole hijau dengan dasar ungu, hijau kekuningan dengan dasar ungu. Dari perbedaaan ciri utamanya tersebut, k3-10 kultivar lokal di dalam Dioscorea alata dikelompokkan ke dalam 3 kelompok kemiripan. Kelompok pertama yang terdiri 6 kultivar Y. khleuw (1), Y. era yuu (11), Y. ororfea khleuw (13), N. isya gula (C), Y. weanggi (3), Y. orofea hele (30). Kelompok kedua kultivar Y. pujolo (4), dan Y. ampas (29). Kelompok ketiga kultivar Y. walee (14) dan Isya punngdgut (G). Sedangkan keragaman di dalam jenis Dioscorea esculenta dibedakan oleh ciri morfologi utama yaitu luas daun antara 20-60 cm2, rambut pada petiole dengan ciri jarang sampai lebat, warna petiole hjau kekuningan dengan dasar ungu, hijau atau hijau kecoklatan, warna batang hijau, hijau kecoklatan atau coklat tua, diameter batang anatara 2,0-2,0 mm, bentuk duri tegak, melengkung ke atas atau ke bawah, lipatan pada rumping dapat ke atas atau ke bawah, ada tidaknya rambut/bulu pada daun, ada tidaknya duri yang mengumpul, letak daun sisik berseling, berhadapan atau berseling, berhadapan atau berseling dan berhadapan di atas pangkal, panjang daun utama berkisar antara 5,1-10,0 mm, warna ujung daun hijau muda, hijau tua, hijau keunguan atau hijau kecoklatan, panjang ujung daun antra 2-4 mm, panjang petiole berkisar antara 5-10,0 cm, warna pinggir daun bawah kekuningan, hijau, ungu muda dan ungu tua. Dari perbedaan ciri utama tersebut, ke-10 kultivar lokal di dalam Dioscorea esculenta dikelompokkan dalam 2 kelompok kemiripan. Kelompok pertama terdiri 14 kultivar dan kelompok kedua 2 kultivar. RANTELINGGI, Suralin Pengaruh bahan pengasap dan lama pengasapan terhadap sifat fisik dan organoleptik daging itik afkir. FPPK Unipa, 2002. DAGING ITIK - PENGAWETAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengasapan, lama pengasapan dan interaksi bahan pengasap dan lama pengasapan terhadap sifat fisik dan organoleptik. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap berfaktor. Faktor I tongkol jagung dan sekam padi, II yaitu lamanya pengasapan 7 jam, 9 jam dan 11 jam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi pengaruh antara bahan pengasap dan lama pengasapan terhadap sifat fisik dan organoleptik daging itik afkir asap. Demikian halnya dengan pengaruh tunggal dari bahan pengasap. RANTE, John Manuk Pengaruh penggunaan mulsa sabut kelapa dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil cabe merah (Capsicum annuum L.). Fapertek Unipa, 2002. CAPSICUM ANNUUM - PERTUMBUHAN DAN HASIL Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi penggunaan mulsa kelapa dan pengaturan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasilnya. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan rancangan acak kelompok faktorial, faktor utamanya mulsa sabutnya (0, 10, dan 15) kg/petak, faktor kedua jarak tanam (50x50) cm2, (50x60) cm2 dan (60x60) cm2. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah cabang dan komponen produksi (umur mulai bunga, jumlah bunga, persentse pembentukan buah, jumlah buah panen, bobot buah panen dan jumlah buah gugur). HAsil penelitain ini menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara pemberian mulsa sabut kelapa dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasl tanaman cabe. Pemberian mulsa sabut kelapa 15 kg/petak mengasilkan tanaman tertinggi, jumlah jabang terbanyak , umur bunga 4 hari, pembentukan buahnya sebesar 47,5per, jumlah yang terpanen sebesar 39per, bobot buah sebesar 50,2per dan jumlah buah gugur 18per dari tanaman kontrol. Jarak tanam 60x60cm2 menghasilkan tanaman tertinggi dibandingkan tanaman lainnya, waktu mulai berbunga 2 hari lebih cepat, mampu meningkatkan pembentukan buah sebesar 44per, jumlah buah panen 27,1per, bobot buah 19,5per dan jumlah buah gugur 15per. RAWAI, Titus Populasi dan sebaran hama bubuk buah kopi (Stephanoderes hampei (Ferr) pada pertanaman kopi di desa Aimasi kecamatan Prafi Manokwari. Fapertek Unipa, 2002. STEPHANODERES HAMPEI - TANAMAN KOPI Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya populasi dan sebaran hama buah kopi pada pertanaman. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik survei. Variabel yang diamati meliputi populasi serangga dan intensitas serangan, pengaruh populasi serangga terhadap kerusakan tanaman dan pola sebaran serangga hama. Hasil pengamatan menunjukan bahwa populasi S. hempei terbanyak ditemukan pada stadia imago. Populasi S. hempei banyak terdapat pada pohon-pohon yang memiliki buah-buah kopi yang tua dan masak. Intnsitas serangan antara 12,5per sampai 34,69per. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa antara jumlah populasi dan intensitas serangan memiliki hubungan korelasi yang positif artinya dengan pertambahan jumlah populasi serangga maka intensitas serangan makin meningkat pula. Hal ini ditunjukkan dari kefisien determinasi 83,0per kerusakan buah kopi di lapangan disebabkan oleh serangan hama bubuk buah kopi. Bertambahnya jumlah populasi larva dan imago maka intensitas serangan terhadap tanaman kopi semakin meningkat pula, hal ini ditunjukkan dari hasil persamaan regresi sebesar 98,5per untuk populasi larva dan populasi imago 52,4per, maka kerusakan tersebut lebih besar disebabkan oleh larva dibandingkan oleh imago. Seranagn serangga terhadap tanaman ke arah vertikal pada bagian tengah tanaman populasi hama lebih banyak karena pada bagian tessebut terdapat buah-buah kopi yang tua dan masak, dimana kondisi lingkungannya mendukung serangga S. hempei di bagian ini. Sifat sebaran serangga S. hempei secara horizontal adalah menggerobol karena tanaman yang terserang cenderung mengelompok pada kondisi lingkungan tertentu dimana pakan yang tersedia. RETNOWATI, Dwi Status hematologis sapi bali pada umur dan jenis kelamin yang berbeda di desa Udapihilir (SP-4) kecmatan Prafi kabupaten Manokwari. FPPK Unipa, 2002. 28 cm SAPI BALI - STATUS HEMATOLOGIS Abstrak Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Variabel yang diamati meliputi; hematokrit (PCV), jumlah sel darah merah dan sel darah putih, pH darah dan berat darah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa status hematologis (persentase hematokrit, jumlah sel darah merah dan darah putih, pH darah, dan berat darah) sapi bali di desa Udapilir berdasarkan umur dan jenis kelamin relatif sama, kecuali jumlah sel darah putih pedet lebih tinggi dari pada sapi muda dan dewasa tetapi masih dalam kisaran normal. Status hematologis sapi bali di lokasi tersebut cenderung menurun seiring dengan bertambahnya umur. Status hematologis sapi jantan cenderung lebih tinggi dari sapi betina, sedangkan sel darah putih dan pH darah sapi betina cenderung lebih tinggi dari sapi jantan. RINI, Dyah Retno Laju infiltrasi dan jumlah air tersimpan pada tiga kondisi tempat di pulau Mansinam kabupaten Manokwari. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm AIR TANAH Abstrak Penelitian dilaksanakan di pulau Mansinam pada berbagai kondisi tempat (areal perladangan, areal bekas perladangan dan hutam alam) dan di Laboratorium Kehutanan Faperta Unipa. Pengukuran laju infiltrasi dilakukan dengan metode penggenangan pada ring infiltrometer, sedang jumlah air tersimpan dengan metode gravimetri. Variabel yang diamati adalah laju infiltrasi (cm) persauan waktu (detik) dan jumlah air tersimpan (gr) persatuan luas (m2). Disimpulkan bahwa areal kebun/ladang memiliki laju infiltrasi tertinggi (0.1910 cm/detik) diikuti hutan primer (0.0680 cm/detik) dan kemudian areal bekas kebun (0.0510 cm/detik). Tingginya laju infiltrasi dipengaruhi oleh kerapatan tajuk, tumbuhan bawah, kandungan bahan organik dan keadaan tanah, porositas dan permeabilitas tanah, kadar air tanah, jumlah air tersimpan, solum tanah serta pengolahan tanah. Jumlah air tersimpan trbanyak pada bekas kebun (36.41per) diikuti areal kebun (33.93per) dan hutan primer (11.74per). Jumlah air tersimpan pada tiap areal dipengaruhi oleh keadaan tumbuhan bawah, kadar air tanah, tekstur dan strukur tanah, kerapatan tajuk, topografi dan solum tanah RIYADI, Slamet Simulasi pendugaan heritabilitas pertambahan bobot badan dan efisiensi ransum pada ayam pedaging strain hubbard fase finisher. FPPK Unipa, 2002. 28 cm AYAM PEDAGING - RANSUM Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai heritabilitas pertambahan bobot badan ayam pedaging strain hubbard fase finisher melalui simulasi dan berguna untuk mengetahui keragaman genetik final stock ayam pedaging stain hubbard fase finsiher. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Variabel yang diamati meliputi heritabilitas pertambahan bobot badan dan efisiensi ransum. Berdasarkan analisis saudara kandung diperoleh nilai heritabilitas pertambahan bobot badan pada berbagai konbinasi merk ransum dan musim pemeliharaan antara 0,19-0,36. Nilai tersebut termasuk dalam kategori sedang sampai tinggi. Nilai heritabilitas efisiensi ransum pada berbagai kombinasi merk ransum dan musim diperoleh nilai 0,20-0,73. Nilai tersebut masih tergolong sedang sampai tinggi. Pada analisis saudara tiri diperoleh nilai heritabilitas pertambahan bobot badan pada berbagai kombinasi merk ransum dan musim diperoleh antar 0,39-0.98. Niali tersebut tergolong tinggi. Nilai heritabilitas efisiensi ransum pada berbagai kombiasi merk ransum dan musim diperoleh nilai anatara 0,40-1,46. Dugaan nilai heritabilitas yang diperoleh berdasarkan analaisis saudara kandung secara umum lebih rendah jika dibandingkan dengan dugaan nilai heritabilitas berdasarkan saudara tiri. ROMBE, Nirta Pengelolaan usahatani kangkung air (Ipomea aquatica Forks) dikelurahan Hedam kecamatan Abepura kotamadya Jayapura. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm USAHATANI KANGKUNG AIR - PENGELOLAAN Abstrak Kangkung adalah salah satu jenis sayuran yang paling banyak digemari oleh masyarakat. Produksi kangkung ini menjadi dagangan sehari-hari yang dapat ditemui di pasar-pasar, dengan harga murah. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui pola masyarakat dalam mengelola usahatani, beserta faktor-faktor internal yang mempengaruhinya. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik survey kepada para petani yang dipilih secara acak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata para petani kangkung air di kelurahan Hedam memiliki perencanaan yang baik dalam mengelola usahataninya. Meskipun dalam kegiatan pengorganisasian dan pengawasan usahatani, tergolong tidak baik. Faktor internal yang mempengaruhi pengelolaan usahatani ini bagi para petani adalah umur, pendidikan formal/non formal, pengalaman dan modal RUMBARAR, Christovel Studi potensi brangkasan ubi jalar (Ipomea babatas (L) Lamb.) sebagai sumber pakan hijau di kabupaten Manokwari. FPPK Unipa, 2002. 28 cm IPOMEA BATATAS - SUMBER PAKAN Abstrak Penelitian ini untuk mengetahui seberapa besar potensi brangkasan ubi jalar sebagai sumber hijauan pakan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik survei. Variabel yang diamati meliputi produksi brangkasan, produksi bahan kering dan potensi sumber pakan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa produksi brangkasan segar dan kering masing-masing 1.280,05 gr dan 154,12 gr, sedangkan potensi brangkasan ubi jalar berdasarkan berat segar dan bahan kering apabila digunakan sebagai pakan tunggal mampu memenuhi kebutuhan pakan masig-masing sebesar 463.974,01 UT/hari dan 279.299,69 UT/hari. Ditinjau dari luas lahan penanaman ubi jalar yang cenderung mengalami peningkatan, mengidentifikasikan bahwa potensi brangkasan Ipomea batatas sebagai pakan pada tahun-tahun mendatang semakin besar. RUMBIAK, Flory Rosita Efisiensi penggunaan ramsum ternak babi fase grower yang mendapat perlakuan penggantian sebagian ransum basal dengan ransum komersil ayam pedaging fase starter. FPPK Unipa, 2002. 28 cm BABI - RANSUM Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan penggantian sebagian ransum basal dengan ransum komersil ayam pedaging terhadap efisiensi penggunaan ransum dan keuntungan ekonomis. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan rancangan bujur sangkar. Perlakuannya terdiri atas persentase ransum basal dan ransum komersil yaitu 100per;0, 95per;5per, 90per;10per, 85per;15per, 80per;20per, dan 75per;25per dengan ulangannya sebanyak 6 kali, dengan pemberian makan secara ad-libitum. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa penggantian sebagian ransum basal dengan ransum komersil ayam pedaging memberikan pengaaruh yang tidak nyata (P0.05 ) terhadap efisiensi penggunaan ransum dan keuntungan niali ekonomis fase grower. Penggunaan Ransum pada 75per dan 25per ransum komersil komersil dapat memenuhi kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan ternak babi fase grower. Penggunaan ransum terbaik adalah ransum dengan tingkat pembaerian 75per ransum basal dan 25per ransum komersil dibandingkan perlakuan lainnya, dengan keuntungannya Rp.4.018,31. Jadi penggantian ransum basal tidak ekonomis. SAA, Apilena Dominanti Trees Kajian tentang hak ulayat dalam kegiatan pengusahaan hutan di wilayah kerja CDK VII Bade kabupaten Merauke. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm HAK PENGUSAHAAN HUTAN - HAK ULAYAT Abstrak Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode deskriptif dengan teknik observasi dan wawancara semi struktural serta studi pustaka, variabel yang diamati meliputi : status kepemilikan dan penguasaan lahan di wilayah kerja CDK VII kabupaten Merauke, aturan-aturan yang berlaku di masyarakat berkaitan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hutan serta kewajiban-kewajiban pengelola hutan kepada pemilik hak ulayat. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa bahwa kepemilikan hak ulayat di wilayah kerja CDK VII dikuasai oleh suku Awuyu, Yakai, Mandobo dan Muyu. Keputusan berdasarkan jenis turunan Bapak, turunan ibu hanya ikut memberi saran. HPH yang beroperasi sesudah tahun 2001 berjumlah 4 unit yaitu PT. Parabu Alaska, PT Dharmali Mahkota Timber, PT. Tunas Sawaerma dan PT. Bade Makmur Oriza. Hak masyarakat diperhatikan dalam rangka pemberdayaan ekonomi sosial dan budaya masyarakat SA'DIYAH, Siti Halimatus Model alokasi faktor produksi pakan ayam petelur di kecamatan Manokwari. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm PAKAN AYAM PETELUR - FAKTOR PRODUKSI Abstrak Penelitian ini dilakukan guna mengetahui : (a) penggunaan modal, bahan baku, tenaga kerja, dan teknologi dalam memproduksi pakan selama sebulan, (b) keuntungan yang diperoleh dari kombinasi faktor produksi yang digunakan, (c) mencari kombinasi optimum dari faktor yang digunakan untuk beberapa jenis pakan. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Data dikumpulkan secara sensus dari para petani peternak yang hasilnya dianalisa secara tabulasi dan linier programing menggunakan metode simpleks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pakan layer merupakan alternatif terbaik dalam mengalokasikan modal, bahan baku dan tenaga kerja pada usaya meminimumkan biaya produksi. Sedangkan bahan baku merupakan kendala utama dalam produksi pakan ayam di kecamatan Manokwari SALAM, Musdalifa Pengaruh tingkat konsentrasi IBA (Indole-3-Butiric Acid) terhadap keberhasilan tumbuh setek batang bugenvil (Bougainville spectabilis Willd.). Fapertek Unipa, 2002. 28 cm B. SPECTABILIS - PERTUMBUHAN STEK BATANG Abstrak Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan rancangan acak kelompok yang terdiri atas 5 taraf konsentrasi IBA masing-masing : 0, 200, 400, 600 dan 800 ppm. Variabel yang diamati adalah waktu bertunas, jumlah tunas, jumlah daun, panjang tunas, akar terpanjang, jumlah akar, persentase bertunas dan persentase berakar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian IBA dengan konsentrasi 800 ppm memberikan hasil terbaik dibandingkan dengan perlakuan lainnya SALEH, R. Rachmat Hubungan antara konsumsi pangan dan status gizi dengan kemampuan belajar : studi kasus pada mahasiswa program studi sosial ekonomi pertanian. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm PANGAN DAN STATUS GIZI - KEMAMPUAN BELAJAR MAHASISWA Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melihat : (1) hubungan konsumsi pangan dengan status gizi mahasiswa, (2) hubungan status gizi dengan kemampuan belajar mahasiswa, (3) hubungan pengetahuan gizi dengan konsumsi pangan mahasiswa, dan (4) hubungan presentase pengeluaran dengan konsumsi mahasiswa. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan teknik studi kasus pada mahasiswa angkatan 1997-1999 program studi sosial ekonomi pertanian, Faperta Unipa Manokwari. Sampel diambil secara acak berlapis yang hasilnya dianalisa secara tabulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status gisi responden berada pada status ideal, dengan konsumsi energi-protein perhari diatas angka kebutuhan energi-protein (55 pers dan 97,5 pers). Sebagian besar responden mempunyai pengetahuan gizi yang tinggi dengan pengeluaran pangan sebagian besar responden kurang dari 70 pers. Hasil analisa secara tabulasi menunjukkan bahwa tingkat konsumsi mempengaruhi status gizi dan status gizi mempengaruhi kemampuan belajar. Serta tingkat pengetahuan gizi dan pengeluaran mempengaruhi tingkat konsumsi mahasiswa SAMBER, Henny Trisye Pengaruh beberapa tingkat konsentrasi iba (Indole Butyric Acid) terhadap perakaran stek pucuk semai pohon lawang (Cinnamomum cullilawane BL.). Fahutan Unipa, 2002. 28 cm C. CULLILAWANE - PERTUMBUHAN STEK Abstrak Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan berupa zat pengatur tumbuh IBA dengan beberapa konsentrasi yaitu 0, 1.5per, 2.0per dan 2.5per. Stek yang digunakan adalah anakan alam pohon lawang dengan rata-rata tinggi 1 m dan diameter 0.1 - 0.2 cm. Pengamatan dilakukan terhadap persentase hidup stek pucuk, persentase stek berakar, panjang, jumlah dan kualitas akar, jumlah tunas, lama bertunas, persentase stek berdaun, jumlah dan panjang daun. Disimpulkan bahwa perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup stek dan persentase stek berakar. Konsentrasi IBA 1.5per menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding perlakuan lainnya. Hasil uji BNT terhadap persentase hidup stek, perlakuan tanpa IBA berbeda nyata dengan perlakuan IBA 1.5per, 2.0per dan 2.5per pada taraf kepercayaan 95per SAPUTRA, Mohamad Bayu Variasi dimensi serat kayu pulai (Alstonia scholaris R. Br) pada arah longitudinal dan radial batang. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm ALSTONIA SCHOLARIS - DIMENSI SERAT BATANG Abstrak Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik analisa kuantitatif. Variabel yang diamati adalah panjang serat, tebal dinding serat dan diameter lumen. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata dimensi serat Alstonia scolaris dari masing-masing komponen yaitu panjang serat 1.2028 mm, diameter serat 0.0372, tebal dinding serat 0.0132 mm diameter lumen 0.0106 mm. Pada arah longitudinal nilai rata-rata panjang serat dan tebal dinding serat Alstonia scholaris menunjukkan pola makin meningkat hingga posisi 75per dan kemudian menurun pada posisi 100per. Sedangkan untuk diameter lumen nilai rata-ratanya menunjukkan pola makin menurun dari posisi 0per sampai pada posisi 100per. Pada arah radial nilai rata-rata diameter serat, tebal dinding serat dan diameter lumen serat A. scholaris menunjukkan pola yang makin menurun dari posisi 0-20per sampai pada posisi 81 - 100per. Sedang untuk panjang serat nilai rata-rata menunjukkan pola yang makin meningkat hingga posisi 41 - 60per dan kemudian menurun hingga posisi 81 - 100per SASONGKO, David Wiro Pemanfaaan limbah pabrik kelapa sawit asal PTPN II Prafi manokwari sebagai sumber pupuk organik. Fapertek Unipa, 2002. LIMBAH PABRIK - PUPUK ORGANIK Abstrak Penelitian ini bertujuan ntuk mengetahui peranan limbah pabrik kelapa sawit asal PTPN II Prafi-Manokwari yaang dikomposkan sebagai sumber pupuk organik. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan ranacangan acak lengkap yang terdiri atas perlakuan kontrol, pemberian kompos abu dosis 10, 20 dan 30 ton/ha, pemberian kompos libah padat dosis 10,20, dan 30 ton/ha, dan pemberian limbah cair dosis 10,20, 30 ton/ha. Variabel sifat tanah yang diukur meliputi Ph-H2O, C organik( SATIA, Maxfellen B. R Pengaruh perendaman dengan berbagai suhu air terhadap perkecambahan benih jati (Tectona grandis, Lf). Fahutan Unipa, 2002. 28 cm TECTONA GRANDIS - PERKECAMBAHAN BENIH Abstrak Penelitian dilaksanakan selama 2 bulan, menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri atas beberapa perlakuan yaitu 0 (kontrol), perendaman dengan suhu air 30derC, 60derC dan 90derC. Variabel pengamatan adalah persentase, laju dan nilai perkecambahan, tinggi semai dan panjang akar. Disimpulkan bahwa perlakuan perendaman dengan berbagai suhu air tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap perkecambahan benih Tectona grandis. Dengan demikian tanpa perlakuan dapat diperoleh persen perkecambahan yang tinggi SETYNINGSIH, Firmawaty Kajian mutu minyak goreng yang akan digunakn secara berulang dalam penggorengan beberapa bahan pangan sumber karbohidrat. Fapertek Unipa, 2002. MINYAK GORENG - PENGGUNAAN BERULANG Abstrak Penelitian ini bertujuan ntuk mengkaji kualitas minyak goreng yang digunakan secara berulang dalam penggorengan beberapa bahan sumber karbohidrat yaitu ubi kayu, ubi jalar, keladi dan pisang. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik analisa kualitatif dan kuantitatif terhadap minyak goreng. Variabel yang diamati meliputi warna, kadar air, kadar asam lemak, bilangan peroksida, suhu penggorengan dan waktu penggorengan. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa diperoleh kualitas minyak goreng untuk penggorengan beberapa bahan pangan sumber karbohidrat mengalami penurunan. Standar mutu minyak goreng berdasarkan Special Prime Bleach (SPB) para peroksida sebesar 6 meq/1000 g, asam lemak sebesar 1,0 SINERY, Anton Eksplorasi jenis Kus-kus di pulau Numfor kabupaten Biak Numfor. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm KUSKUS - EKSPLORASI JENIS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis kuskus yang terdapat di Pulau Numfor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan teknik observasi. Variabel yang diamati meliputi variabel utama dan penunjang. Variabel utama adalah karakter morfologi kuskus dan variabel penunjang meliputi jenis pakan, habitat, waktu aktif dan pemanfaatan kuskus (Etnozoologi) oleh penduduk lokal. Pulau Numfor memiliki satu spesies kuskus yaitu kuskus bertotol biasa dengan dua variasi yang berasal dari marga Spilocosus. Spilocosus maculatus variasi kedua lebih besar dari Spilocosus maculatus variasi pertama. Jenis betina relatif lebih besar dari pejantannya. Jenis ini mempunyai kemiripan dengan kuskus asal pulau Moor namun lebih besar dari kuskus yang terdapat di daratan New Guinea. Munculnya variasi pada spesies ini di Pulau Numfor diduga akibat adanya evolusi karena perbedaan geografi. Sebanyak 30 jenis vegetasi hutan menjadi makanan kuskus di pulau Numfor, dimana jenis tumbuhan tersebut tersebar dari pantai hingga hutan primer dataran rendah. Aktifitas kuskus dimulai pada pukul 20.00 WIT hingga beristirahat kembali pada pukul 05.00 WIT, serta sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan keadaan waktu. Keberadaan kuskus di Pulai Numfor terkosentrasi kearah tengah pulau. Kuskus dimanfaatkan penduduk lokal sebagai bahan barang konsumsi, dagang dan dipelihara SISMIANTO, Agung Rahayu Inventarisasi jenis arthropoda pada tanaman padi sawah dan statusnya pada sawah irigasi teknis di desa Prafi Mulya kecamatan Prafi kabupaten Manokwari. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm PADI SAWAH - HAMA ARTHROPODA Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi jenis-jenis arthropoda dan statusnya pada tanaman padi sawah. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik observsi. Variabel yang diamati terdiri dari jenis dan status dari arthropoda serta populasinya. Hasil inventarisasi ditemukan bahwa jenis arthropoda dan statusnya pada tanaman padi sawah di desa Prafi Mulya bahwa ditemukan 8 jenis serangga dari kelas insekta yang statusnya sebagai hama dan statusnya sebagai musuh alami 6 jenis serta 5 jenisnya dari kels Arachnida. Pada ketiga fase pertumbuhan tanaman padi sawah diperoleh bahwa populasi serangga hama walang sangit (Leptocaris acuta) terbanyaknya pada fase pertumbuhan G1 (masak susu) yaitu 186 ekor/petak (sd 22.6) dan populasi serangga hama terendah hama putih (Nymphula depunctalis) dijumpai pada fase pertumbuhan Vegetatif yaitu 1 ekor/petak (sd 0,67), untuk populasi musuh alami terbanyak adalah laba-laba rahang panjang (Tetragnatha maxillosa) terdapat pada fase pertumbuhan vegetatif yaitu 18 ekor/petak (sd 3,44) dan terendah adalah laba-laba pemburu bermata tajam (Oxyopes javanus) yaiut 2 ekor/petak (sd 1.79) dijumpai pada fase pertumbuhan G2 (1 minggu menjelang). SISWANTO, Juli Struktur dan komposisi jenis pohon pada hutan tropis dataran rendah Anggori Manokwari. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm POHON - STRUKTUR DAN KOMPOSISI JENIS Abstrak Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik survei, pembuatan petak pengamatan menggunakan metode Line Plot Sampling. Data kualitatif lapangan dianalisis dan disajikan dalam bentuk tabulasi dan grafik menurut parameter kerapatan, frekuensi dan nilai penting. Variabel yang diamati meliputi komposisi, dan struktur jenis pohon yang mencakup tinggi semai, pancang, tiang dan pohon. Hasil pengamatan menunjukkan terdapat 43 jenis pohon yang berasal dari 22 famili pohon. Pada tingkat semai Palaquium sp. (55.8492per) lebih dominan daripada 23 jenis pohon lainnya. Tingkat pancang Lunacia amara (33.2258per) dan Palaquium sp. (26.8721per) lebih dominan daripada 22 jenis pohon lainnya. Tingkat tiang Pometia pinnata (39.5129per), Pimiliodendron amboinensis (30.1954per) dan yristica sp. (24.8897per) yang dominan di natara 20 jenis lainnya. Pada tingkat pohon Pometia acuminata (81.6975per) lebih dominan dibanding 29 jenis lainnya. Bila dilihat dari total nilai penting seluruh tingkat pertumbuhan Palaquium sp. (134per) dan Pometia acuminata (113per) mendominasi seluruh kawasan hutan tropis dataran rendah Anggori milik Universitas Negeri Papua SITUMORANG, Westrin Kajian dinamika pertumbuhan tanaman koleksi kehutanan di arboretum Fakultas Pertanian Universitas Negeri Papua Manokwari. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm KEHUTANAN - ARBORETUM FAPERTA UNIPA Abstrak Penelitian dilaksanakan untuk mengetahui keadaan tegakan, dinamika pertumbuhan tegakan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya struktur tegakan setelah 20 tahun penanaman. Menggunakan metode deskriptif dengan teknik studi kasus, sebagai kasus adalah tegakan jenis Podocarpus amara Bl., Pometia coriaceae Radlk., Swietenia macrophylla, Dracontomelum edule, Palaquium amboinense, Dyodpiros sp., dan Araucaria cunninghamii Sw.yang telah ditanam sejak tahun 1981 tanpa tindakan pemeliharaan. Data dikumpulkan dan diolah secara tabulasi yang meliputi tinggi pohon, diameter batang, lebar tajuk, kesuburan tanah, tinggi tempat dari permukaan air laut dan sifat jenis. Kemudian dideskripsikan dinamika pertumbuhan selama 20 tahun setelah tanam. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa keadaan tagakan dari berbagai jenis dengan umur yang sama tidak menghailkan tegakan yang seragam baik dalam jenis yang sama maupun antar jenis. Pertumbuhan pohon sangat dipengaruhi oleh faktor : sifat jenis, tanah, tempat tumbuh dan jarak tanam. Jenis pohon dengan sifat ce[at tumbuh sebagian besar mendominasi strata teratas dengan tinggi 30 m. yang didominasi oleh jenis Pometia coriaceae, Palaquium amboinense dan Araucaria cunninghamii SJAHFUDIN, Zainal Uji daya hasil beeberapa varietas kedelai (Glycine max (L.) Merill) di kecamatan Prafi (SP I) kabupateen Manokwari. Fapertek Unipa, 2002. GLYCINE MAX - PRODUKSI Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hasil beberapa varietas Glycine max di Prafi. Metode yang digunakan yaitu metode rancangan acak kelompok dengan varietas yaitu dempo, wllis, nakon sawon, endamame dan lokal. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, umur bunga, jumlah buku subur, jumlah polong per tanaman, jumlah polong isi, jumlah biji per tanaman, jumlah biji per polong, bobot biji per tanaman, bobot 100 biji, bobot brangkasan dan umur panen. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tinggi tanaman tertinggi dihasilkan oleh varietas lokal yaitu 102,93 cm. Varietas Nakon sawon memiliki umur berbunga lebih cepat yaitu umur 25 hari dan umur panen 81 hari. Varietas dempo dan willis keduanya memiliki jumlah polong per tanaman tertinggi yaiut 142 dan jumlah polong isi per tanaman tertinggi yaitu 123 per tanaman seta jumlah biji petanaman 279. Varietas willis memiliki bobot biji per tanaman tertinggi yaitu 38. Bobot 100 biji antara varietas nakon sawon dan enamame berbeda nyata yaitu 23 gram. Varietas willis memiliki bobot brangkasan tertinggi yaitu 29 gram. Varietas dempo memiliki indeks panen tertinggi yaitu 56,32per. SOFYAN, Chandra Pengaruh konsentrasi IBA (Indole butyric acid) pada dua macam media terhadap pertumbuhan stek tanaman kopi (Coffea robusta L.). Fapertek Unipa, 2002. COFFEA ROBUSTA - PERTUMBUHAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi zat pengatur tumbuh IBA yang tepat bagi pertumbuhan setek tanaman kopi pada media pasir dan tanah. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap faktorial, kombinasi perlakuaan meliputi Zat ibanya (kontrol, 150 ppm, 300 ppm, dan 450 ppm) dengan faktornya meliputi jenis tanah dan pasir. Variabel yang diamaati meliputi waktu nilai tunas, jumlah tunas, panjang tunas, jumlah daun, panjang akar, persentase setek bertunas dan persentase setek berakar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan zat pengatur tumbuh IBA memberikan pengaruh berbeda terhadap variabel yang diamati. Penggunaan IBA sampai konsentrasi 300 ppm cenderung menghasilkan waktu mulai tunas, jumlah tunas, panjang tunas dan jumlah akar lebih baik dibandingkan kontrol, baik pada media pasir maupun pada media tanah. Sedangkan panjang akar dan jumlah daun lebih baik dibandingkan kontrol jika menggunakan media pasir. Konsentrasi IBA 450 ppm cenderung menghasilkan waktu mulai bertunas lebih lambat serta jumlah tunas, panjang tunas, jumlah akar dan panjang akar lebih rendah dibanding kontrol, konsentrasi IBA 150 ppm dan 300 ppm, baik pada media pasir maupun media tanah. Penggunaan IBA pada media pasir cenderung lebih baik dibandingkan kontrol, sedangkan pada media tanah cenderung menghasilkan persentase setek bertunas dan persentase setek berakar lebih rendah. SHOLAHUDIN, Hasan Pengaruh tingkat penggunaan tepung jerami padi yang difermentsi dengan isi rumen sapi dalam ransum terhadap pertumbuhan ayam pedaging fase akhir. FPPK Unipa, 2002. 28 cm AYAM PEDAGING - RANSUM Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat penggunaan tepung jerami padi yang difermentasi dengan isi rumen sapi dalam ransum terhadap pertumbuhan ayam pedaging fase akhir. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap, dimana perlakuannya terdiri atas ransum 0per, 5per, 10per, dan 15per tepung jerami padi difermentasi. Variabel yang diamati meliputi konsumsi ransum, pertambaahan bobot badan, dan efisiensi penggunaan ransum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan tepung jerami padi difermentasi dengan isi rumen sapi sampai tingkat 15per tiak memberikan pengaruh terhadap konsumsi ransum ayam pedaging fase akhir, akan tetapi penggunaan tepung jerami padi yang dfermentasi dengan isi rumen sapi pada tingkat 5per dapat meningkatkan pertambahan bobot badan dan efiseinsi penggunaan ransum ayam pedaging fsase akhir. Selanjutnya niali kedua variabel tersebut menurun pada tingkat penggunaan 10per dan 15per. SINAGA, Daniel Martua Pengaruh tingkat penggunaan tepung daging bekicot (Achatia fulica) sebagai pengganti tepung ikan dalam ransum terhadap perpormans ayam pedaging fase starter. FPPK Unipa, 2002. 28 cm AYAM PEDAGING - RANSUM TEPUNG DAGING BEKICOT Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat penggunaan tepung daging bekicot sebagai pengganti tepung ikan dalam ransum terhadap performans ayam pedaging fase starter. Metode yang digunakan adalah metode ekperimen rancangan acak lengkap, perlakuannya terdiri atas; tingkat penggunaan ranrum tepung bekicot dan tepung ikan 0per;15per, 5per;10per, 10per;5per, dan 15per;0per ulangnnya sebanyak 5 kali. Variabel yang diamati meliputi konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan efesiensi penggunaan ransum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan tepung daging bekicot berpengaruh dalam menggantikan tepung ikan terhadap peningkatan kosumsi ransum, pertambahan bobot badan dan memberikan pengaruh terhadap efiensi penggunaan ransum. Tepung daging bekicot dapat digunakan sebagai pengganti tepung ikan terutama untuk sumber protein dalam ransum dan meningkatkan palatabilitas ransum ayam pedaging fase starter. SUBAY, Stevanus Evaluasi faktor sosial penentu keberhasilan penyuluhan budidaya kakao (Theobroma spp.) di kecamatan Warmare kabupaten Manokwari. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm PENYULUHAN - FAKTOR SOSIAL Abstrak Penelitian dilaksanakan di desa Hink, kecamatan Warmare selama satu bulan. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi faktor sosial penentu keberhasilan penyuluhan budidaya kakao. Metode penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Subyek utama penelitian adalah PPL dan petani kakao. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuluhan budidaya kakao oleh PPL kepada para petani kakao sangat baik. Hal ini didukung oleh faktor-faktor sosial yang ada pada penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan petani itu sendiri SUBIAKTO, Wahyudi Keragaan status gizi dan konsumsi energi protein pada anak sekolah dasar penyelenggara PMT-AS di desa IDT dan non IDT : Studi kasus pada SD Inpres Anggori dan SD Inpres Nuni kecamatan Manokwari. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm STATUS GIZI - SISWA SD Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui : (1) Penyelenggaraan PMT-AS di Desa IDT dan non IDT, (2) keragaan konsumsi energi-protein anak sekolah dasar di desa IDT dan non IDT, dan (3) keragaan status gizi anak sekolah dasar di desa IDT dan non IDT. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan teknik studi kasus, pada subyek penelitian adalah siswa-siswi SD kelas 4, 5 dan 6. Hasil pengambilan data dianalisa secara tabulasi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pelaksanaan program PMT-AS banyak menggunakan bahan baku lokal sekaligus melibatan masyarakat dalam penyediaan bahan baku dan pengolahannya. Pendidikan gizi terhadap murid-murid SD juga tidak dilakukan. Kesenjangan konsumsi Energi SD Inpres nuni lebih besar dibandoingkan dengan Sd Inpres Anggori. Namun sebaliknya tinggkat konsumsi energi protein SD Anggor lebih banyak dari SD amban. Untuk status gisi SD Anggori termasuk kategori kurang, sedangkan SD Nuni berkategori buruk. Hasil tabulasi menunjukkan bahwa adanya program PMT-AS tersebut belum dapat menyelesaikan maslah kekurangan gizi dan energi protein yang terjadi SUEBU, Jeni Potensi tumbuhan berkhasiat obat pada masyarakat suku Wie-Khaya kecamatan Arso kabupaten Jayapura. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm TUMBUHAN OBAT Abstrak Penelitian ini dilakukan di desa Workwana kecamatan Arso, dari tanggal 21 Januari sampai 17 Pebruari 2001. Menggunakan metode deskriptif dan teknik observasi lapangan dan wawancara semi struktural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat suku Wie-Khaya di desa Workwana dalam kehidupan sehari-hari memanfaatkan 41 spesies tumbuhan berkhasiat obat dari 34 famili. Namun dalam pekembangan selanjutnya hingga kini hanya 14 spesies yang masih digunakan untuk mengobati 13 mjenis penyakit. Bagian tumbuhan yang digunakan meliputi daun, batang, akar, kulit, getah, buah, rimpang dan biji. 2 spesies tumbuhan sulit ditemukan dan mengalami kepunahan yaitu Mangifera minor BL dan Nicotiana tabacum, 6 spesies diantaranya dapat dipasarkan meliputi : Areca catechuL., Metroxylon sagu Rotb., Gnetum gnemonL. Piper retrofractum Vahl., Laportea stimulans Miq. dan Zingiber officinale Bl SUMILAT, Iriani Inventarisasi jenis-jenis serangga hama dan musuh alami pada tanaman padi di desa Sidomulya kecamatan Oransbari Kabupaten Manokwari. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm TANAMAN PADI - HAMA SERANGGA Abstrak Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik survei. Variabel yang diamati meliputi jenis, jumlah serangga dan musuh alami padi. Hasil Inventarisasi menunjukan bahwa di desa Sidomulyo terdapat 5 ordo jenis seranga hama yang menyerang padi (Diptera, Hemiptera, Homoptera, Lepidoptera, dan Orthoptera) dan 6 ordo jenis musuh alami (Aracneida, Coleoptera, Hemiptera, Hymiptera, Odonata dan Orthoptera). Jumlah serangga terbanyak pada musing tanam adalah spesies Nympula depuntalis yaitu 465 ekor dan jumlah hama yang paling sedikit adalah Mhythimna seperata dan anjing tanah (Gryllotalpa africana) yaitu 13 ekor. Jumlah musuh alami terbanyak adalah Anaxipha longipennis yaitu 83 ekor dan jumlah musuh alami paling sedikit adalah parasit kelompok telur wereng (Gonatoceerus spp.) yaitu 3 ekor. SUPRIYANTO Pengaruh pemangkasan batang dan pengaturan jumlah buah pertanaman terhadap produksi buah melon (Cucumis melo L.). Fapertek Unipa, 2002. CUCUMIS MELO - PRODUKTIFITAS. Abstrak Penelitian ini menggunkan rancangan acak kelmpok faktorial, yang terdiri atas faktor pemangkasan batang (tanpa pemangkasan, pemangkasan pada ruas 17, 21, dan 26) dan faktor pengaturan jumlah buah per tanaman. Variabel yang diamati meliputi berat buah per tanaman, berat per buah, lingkar buah, berat brangkasan basah dan indeks panen. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil semakin redah setelah mendapat perlakuan pengaturan jumlah buah terhadap berat buah per tanaman berat per buah, berat brangkasan basah dan indeks panen, namun cenderung meningkat pada komponen lingkar buah. Secara keseluruhan pemangkasan batang tidak memberikan pengaruh nyata terhadap semua komponen pengamatan hal ini disebabkan selama penelitian curah hujan sangat tinggi. Selain intu pemangkasan pemeliharaan pada cabang ruas ke 8 masih terlalu panjang. SURYANINGSIH, Komariah Fajar Riap volume enam jenis pohon komersil pada petak ukur permanen (PUP) di HPH. Prabu Alaska Unit I Fakfak. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm VOLUME POHON Abstrak Penelitian ini menggunakan metode dskriptif dengan teknik observasi lapangan, bertujuan mengetahui riap volume enam jenis pohon komersil dan membandingkan riap volume rata-rata dari petak yang diberi tindakan pemeliharaan dan petak yang tidak diberi tindakan pemeliharaan untuk setiap jenis pohon komersil. Objek penelitian adalah tegakan hutan pada petak ukur permanen dengan diameter pohon 10 cm yang terdiri dari 6 jenis pohon yaitu Intsia bijuga OK, Pometia spp., Palaquium spp., Dracontomelum spp., Myristica fatua Hout dan terminalia spp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata riap volume pohon perhektar jenis Intsia spp. berkisar antara 0.0665m3/th - 0.6775 m3/th sebanyak 85 pohon, Pometia spp., berkisar antara 0.2706 m3/th - 1.1508 m3/th sebanyak 66 pohon, Palaquium spp antara 0.0916 m3/th - 0.2973 m3/th sebanyak 35 pohon, Daracontomelon antara 0.0207 m3/th - 0.2685 m3/th sebanyak 28 pohon, Myristica fatout antara 0.3934 m3/th - 1.7216 m3/th sebanyak 232 pohon dan Terminalia spp. antara 0.6535 m3/th - 1.9919 m3/th sebanyak 255 pohon. Rata-rata riap volume perpohon Intsia spp. 0.00175 m3/th - 0.5927 m3/th, Pometia spp. 0.00885 m3/th - 0.05184 m3/th Palaquium spp. -0.0118 m3/th - 0.1058 m3/th Dracontomelon spp. 0.01053 m3/th - 0.05927 m3/th, Myristica fatua 0.01537 m3/th - 0.01064 m3/th dan Terminalia spp. 0.01428 m3/th - 0.0681 m3/th SUSANTO Jenis-jenis palem pada kawasan hutan desa Ababiadi Supiori Selatan. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm PALEM Abstrak Penelitian ini dilaksanakan dengan metode deskriptif dengan teknik eksplorasi. Variabel yang diamati adalah ciri-ciri morfologi yang meliputi perawakan, sifat tumbuh, batang, daun, duri, bunga, buah, biji serta pengamatan tempat tumbuh yang meliputi jenis vegetasi, ketinggian tempat tumbuh dan keadaan tempat tumbuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kawasan penelitian terdapat 3 sub famili palem yaitu Calamoideae, Arecoidae dan Coryphoideae dengan 5 marga yaitu Licuala, Metroxylon, Pigafetta, Pinanga dan Heterospathe. Jenis palem ini tumbuh pada tanah kering, lembab, liat dan berbatu pada ketinggian antara 3 - 112 m dpl SYARANAMUAL, Siska Pengaruh intensitas naungan terhadap pertumbuhan dan produksi bayan cabut (amaranthus tricolor L.). Fapertek Unipa, 2002. 28 cm AMARANTHUS TRICOLOR - PERTUMBUHAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas naungan terhadap pertumbuhan dan produksi Amaranthus tricolor. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan rancangan acak kelompok, intensitas perlakuan meliputi ( tanpa naungan, naungan 20per, dan 40per) yang diulang sebanyak 5 kali. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, berat kering tanaman, luas daun dan indeks luas daun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa intensitas naungan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman bayam kecuali, tinggi tanaman pada 30 HST dan berat kering tanaman pada 10 HST, intensitas naungan menurunkan tinggi tanaman dan diameter batang seta meningkatkan jumlah daun, luas daun,berat kering dan indeks luas daun. Pada 20 HST intensitas naungan menurunkan jumlah daun diameter batang, luas daun, berat kering dan indeks luas daun. Dan pada 30 HST , intensitas naungan menurunkan semua komponen pertumbuhan dan produksi tanaman. Perlakuan tanpa naungan memberikan hasil terbaik dibandingakn dengan perlakuan intensitas naungan 20per, dan intensitas 40per. Sementara intesitas naungan 20per memberikan hasil lebih tinggi hanya pada luas daun, sedangkan intensitas naungan 40per memberikan hasil lebih tinggi pada tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, berat kering, indeks luas daun, kecepatan pertumbuhan relatif dan kecepatan asimilasi bersih. SYARIFUDIN Limbah eksploitasi pada HPH Mangrove PT. Bintuni Utama Murni Wood Industries kecamatan Babo kabupaten Manokwari. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm LIMBAH - EKSPLOITASI MANGROVE Abstrak Penelitian ini bertujuan mengetahui presentase limbah menurut jenis dan tempat terjadinya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan tekhnik studi kasus. Contoh kasus diambil dari pohon berdiameter 10 cm up. Hasil penelitian menunjukkan limbah eksploitasi mangrove terdiri atas limbah tunggak, cabang, ranting (diameter 5 cm up), potongan ujung, kulit dan serbuk. Presentase limbah tertinggi terdapat pada limbah cabang dan ranting dengan rata-rata 4,9678 TAMBUN, Vera Pengaruh tingkat dosis bokashi terhadap pertumbuhan hasil cabai merah (Capsicum annum L.) var. tombak - 1. Fapertek Unipa, 2002. CAPSICUM ANNUM - PEMUPUKAN BOKASHI Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pada tingkat berapa penggunaan dosis bokashi yang tepat untuk tanaman capsicum annum. Metode yang digunakan adalah metode rancangan acak kelompok. Sebagai perlakuannya adalah dosis bokashi (0 gr, 50 gr, 100 gr, 150 gr, 200 gr, dan 250 gr) diulangan 3 kali. Variabel pengamatan meliputi faktor-faktor pertumbuhan dan produksi Capsicum annum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian tingkat dosis bokashi berpengaruh nyata pada tinggi tanaman, fruit set, jumlah buah pertanaman, bobot buah per tanaman, dan bobot buah per petak. Sedangkan tingkat dosis bokashi tidak memberikan pengaruh nyata pada laju pertumbuhan absolut, tinggi percabangan, jumlah cabang tersier, umur mulai bunga, jumlah bunga pertanaman, panjang buah, diameter buah dan bobot brangkasan kering. Pemberian bokashi kandang-sekam dapat meningkatkan hasil cabai, dimana dosis 50 gr sebesar 16,93per, 100 gr:23,91per, 150 gr:45,48per, 200gr:22,53per, 250 gr:27,69per bila dibandingkan dengan hasil tanpa pemberian bokashi. Pemberian bokashi 150 gr per lobang tanman merupakan dosis terbaik untuk meningkatkan hasil per tanaman Capsicum annum mencapai 15,32 ton per ha. Namun hubungan tingkat dosis dengan hasil menunjukkan hubungan yang kuadratik. Berdasarkan hasil analisis regresi maka dosis maksimum diperoleh pada tingkat dosis 163,45 gr per lobang tanam dengan bobot buah per petak sebanyak 17,65 kg/m2. THAMSIR Pengaruh ketebalan dendeng pada beberapa lama penyimpanan terhadap sifat orgonoleptik dendeng giling itik akhir. FPPK Unipa, 2002. 28 cm DAGING ITIK - PENGAWETAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat organoleptik dendeng giling itik afkir sesuai dengan ketebalannya. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap, dimana terdiri atas pelakuan ketebalan 2 mm, 4 mm, 6 mm dan 8 mm. Variabel yang diamati meliputi sifat penilaian untuk bau, penilaian skala untuk warna, skala penilaian untuk rasa dan skala untuk keempukan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sifat bua, rasa dan warna dendeng terbaik selama penyimpanan diperoleh pada ketebalan 4 mm, dan siat keempukan diperoleh pada ketebalan 6 mm dan 8 mm, sedangkan kadar air dendeng yang diperoleh masih tergolong baik yaitu berkisar antara 15,08per sampai 21,56per. TOHIRIN Hubungan kadar air gabah dengan beberapa komponen mutu fisik beras varietas superwing.. Fapertek Unipa, 2002. MUTU FISIK BERAS - KADAR AIR GABAH Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar iar gabah dengan beberapa komponen mutu fisik beras (Beras kepala, beras patah, dan beras menir). Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan teknik observasi. Pengukuran kadar airnya menggunakan moiture tester. Varietas dikeringkan hinga mencapai kadar air 8-10per, 10-12per, 12-14per, 14-16per dan diulang sebanyak 3 kali. variabel pengamatan meliputi beras kepala, beras patah, beras menir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air gabah mempunyai hubungan erat dengan beberapa kompnen mutu fisik beras (beras kepla, beras patah dan beras menir). Pengeringan kadar air 8- 10per pada varietas superwing menunjukkan hasil mutu fisik beras kepala, bers patah dan beras menir. Sedangkan pada varietas cilosare diperoleh kadar air 12-14per. Hasil pengamatan terhadap beras mengapur pada kedua varietas menunjukkan varietas superwing lebih tinggi dibandingkan variets cilosare. TOMILIA, Herdina Prospek taman burung dan taman anggrek (TBTA) Biak sebagai taman wisata. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm CAGAR ALAM Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai jasa pengunjung/tingkat pemasukan TBTA, biaya operasional dan nilai manfaat dan jasa yang diperoleh pengunjung. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik wawancara dan observasi lapang. Pengambilan contoh secara Purposive sampling kepada para pengelola dan pengunjung. Data yang dikumpulkan meliputi jumlah pengunjung, biaya operasional, peralatan, organisasi dan tenaga kerja serta komponen biaya perjalanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengunjung TBTA Biak berfluktuasi setiap tahunnya. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan politik pada kurun waktu terakhir. Capaian pengunjung tertinggi dicapai pada tahun 1998-1999 sebesar 81,221per dan menurun pada tahun 2000 sebesar 45,235per. Kesediaan membayar pengunjung ditentuken oleh besarnya tingkat penghasilan, umur dan tingkat pendidikan pengunjung. Semakin tinggi penghasilan semakin besar tingkat kesediaan membayar sebaliknya semakin tinggi umur akan menurunkan tingkat kesediaan membayar. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa harga karcis sebesar Rp. 5000,- dapat ditetapkan sebagai harga tetap karcis untuk masuk TBTA. Karena dengan harga tersebut TBTA Biak dapat dikelola secara mandiri TRIBISONO, Hepnu Tingkah laku makan burung dara mahkota (Goura cristata) pada lingkungan penangkaran di taman burung dan taman anggrek Biak Numfor. FPPK Unipa, 2002. 28 cm GOURA CRISTATA - TINGKAH LAKU MAKAN Abstrak Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik observasi, variabel yang diamati yaitu tiingkah laku makan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aktifitas makan dan minum Goura cristata dilakukan secara kelompok yaitu 2-4 ekor pada pagi hari pukul 06.00 - 10.00 WIT. Dan sore hari pukul 14.00 - 18.00 WIT, sedangkan diluar waktu itu banyak aktifitas istirahat. Berdasarkan periode pengamaatan waktu yang dibutuhkan Goura cristata membutuhkan waktu lebih lama berturut-turut pada periode pengamatan I selama 1.038 detik, periode II 892 detik, dan periode III 542 detik. Jenis pakan yang disukai yaitu kacang hijau, ransum ayam broiler, pepaya dan pisang. TRIYANTORO, Sigit Tingkat konsumsi dan teknik berburu burung maleo oleh penduduk di desa Bremi, Yoom Nuni dan Saubeba kecamatan Manokwari. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm BURUNG MALEO - TINGKAT KONSUMSI DAN TEKNIK BERBURU Abstrak Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik studi kasus. Pengambilan contoh responden dilakukan secara sensus terhadap penduduk yang melakukan kegiatan berburu di desa Bremi sebanyak 12, Yoom Nuni sebanyak 9 dan Saubeba sebanyak 11. Tingkat konsumsi burung maleo diduga dengan batas selang kepercayaan dengan taraf 95per, sedangkan teknik berburu dengan analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat konsumsi daging maleo di ketiga desa tidak berbeda satu sama lain deangan rata-rata sebesar 9 ekor/kk/bulan. Tingkat konsumsi telur maleo di desa Saubeba sebesar 5 butir/kk/bulan/musim berburu, lebih tinggi dibanding desa Bremi sebesar 2 butir/kk/bulan/musim berburu, Desa Yoom Nuni sebesar 3 butir/kk/bulan/musim berburu. Tujuan berburu hanya untuk dikonsumsi, teknik berburu dilakukan secara berkelompok (2-3 orang) dengan menggunakan kombinasi busur-anak panah, jerat, senapan angin dan anjing TUHUMENA, Veronica Leonora Pengaruh berbagai tingkat dosis bokashi terhadap peetumbuhan dan hasil petsai (Brassica pekinensis L.). Fapertek Unipa, 2002. BRASSICA PEKINENSIS - PEMUPUKAN BOKASHI Abstrak Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancanagan acak lengkap, perlakuannya pemberian dosis bokashinya sebesar (0, 30, 60, 90, dan 120 gr/tanaman) jumlah ulangan sebanyak 4 kali. Sebelumnya tanah dan bokashi dianalisis NPK nya, variabel yang diamati meliputi: tinggi tanaman, jumlah daun, luas kanopi tanaman, dan bobot brangkasan basah per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh akibat pemberian berbagai tingkat dosis bokashi terhadap pertumbuhan dan hasil Brassica pekinensis. Pemberian bokashi dengan dosis 120 gr/tanaman memberikan hasil tertinggi untuk tinggi tanamn, jumlah daun, luas kanopi dan bobot brangkasan basah tanaman. Tetapi tidak memberiakn pengaruh yang berbeda nyata dengan pemberian bokashi dosis 60 g/tanaman dan 90 g/tanaman. Sehingga berdasarkan hasil penelitian ini maka untuk aplikasi bokashi pada tanaman Brassica pekinensis, dosis yang tepat 60 g/tanaman. TUNGKOYE, Donald Buce Pengaruh jarak tanaman terhadap produksi rumput Irian (Sorghum sp) yang ditanam secara campuran dengan Puero (Pueraria javanica) pada defoliasi kedua. FPPK Unipa, 2002. SORGHUM SP. - JARAK TANAM Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam terhadap produksi Sorghum sp. yang ditanam secara campuran dengan pueraria pada defoliasi kedua. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok, dengan jarak tanam 60x60 cm2, 60x80 cm2 dan 60x100 cm2 diulang sebanyak 3 kali. Variabel yang diamati meliputi produksi hijauan segar (kg/plot) dan kg/rumpun), produksi bahan kering, persentse batang, daun per plot dan per rumpun (per). Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh jarak tanam terhadap variabel produksi hijauan segar per plot, produksi bahan kering per plot maupun per rumpun, persentse daun per plot dan persentase batang, akan tetapi perlakuan jarak tanam berpengaruh terhadap produksi hijauan segar, persentase daun dan persentase batang per rumpun. TUPAMAHU, Yoanne C. Augustine Pengaruh kredit usaha keluarga sejahtera (KUKESRA) terhadap perkembangan usahatani di desa Saukobye kecamatan Biak utara kabupaten Biak Numfor. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm KREDIT USAHA - USAHATANI Abstrak Kukesra merupakan program terpadu BKKBN yang diperuntukkan bagi keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I, yaitu berupa pemberian kredit usaha. Secara rinci penelitian ini bertujuan menganalisis perkembangan modal, jumlah cabang usaha, dan tingkat pendapatan. Menggunakan metode deskriptif, dimana pengambilan contoh dilakukan secara acak sederhana sebanyak 30 kaum wanita (ibu dan remaja putri) penerima dana kukesra. Diketahui dari hasil penelitian bahwa KUKESRA berpengaruh terhadap perkembangan usahatani masyarakat. Secara keseluruhan tingkat pendapatan meningkat hingga mencapai 29,30per, dimana tanaman pangan meningkat 100per usaha lain meningkat 33,33per. Sedangkan yang mengalami penurunan hanya usaha perikanan sebesar 36,12per TUROT, Engelbertus Uji coba tanah endapan Posfat krandalit (Tefk) bakar asal ayamaru sebagai pupuk P pada tanaman padi sawah. Fapertek Unipa, 2002. PADI SAWAH - PEMUPUKAN TEFK Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk Tefk bakar asal ayamaru sebagai pupuk P terhadap petumbuhan dan produksi tanaman padi sawah, dimana menggunakan rancangan acak kelompok, terdiri dari 9 taraf perlakuan TEFK bakar (100, 200, 300 dan 400 Kg/ha), SP-36 (100, 200, 300, dan 400 kg/ha). Variabel yang diamati meliputi sifat kimia tanah (pH tanah) dan P-tersedia, sedangkan variabel komponen pertumbuhan tanaman yaitu tinggi tanaman umur 30 HST dan 55 HST, serta komponen produksi panjang malai, bobot 1000 biji dan bobot kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk P yang bersumber dari TEFK dan SSP-36 dapat meningkatkan reaksi tanah (pH tanah) untuk semua perlakuan, kecuali pada TEFK bakar 200 kg/ha memberikan nilai sama dengan tanpa perlakuan. Nilai P tersedia sebelum dan sesudah pemberian pupuk TEFK dan SP-36 tidak berpengaruh nyata. Nilai P tersedia pada taraf TEFK bakar (100, 300, 400) dan SP-36 (300 dan 400) kg/ha meningkat, sedangkan pada perlakuan TEFK bakar (0 dan 200), dan SP-36 (100 dan 200) kg/ha memberikan pengaruh negatif setelah diberi perlakuan. Dari hasil analisis statistik pemberian pupuk P dari TEFK dan SP-36 tidak berpengaruh terhadap komponen pertumbuhan maupun produksi tanaman padi da semua perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata. UNENOR, Erni E. Magdalena Sistem perburuan bandikut oleh suku Hatam di Oransbari. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm BANSIKUT - SISTEM BERBURU Abstrak Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik studi kasus, sebagai desa contoh dipilih desa Wandoki, Desa Watariri, desa Warbiadi dan desa Oransbari Pantai yang ditentukan secara purposive. Responden ditentukan secara acak, Yaitu desa Wandoki 1o KK, Desa watariri, 11 KK, desa Warbiadi 12 KK dan desa Oransbari pantai 11 KK. Data mengenai sistem perburuan diolah secara tabulasi. Disimpulkan bahwa sistem perburuan yang digunakan masih bersifat tradisional dan usaha konservasi bandikut kurang mendapat respon yang positif, hal ini dibuktikan dengan perburuan bandikut yang masih aktif dilakukan. Sebanyak 75 - 100per masyarakat berburu untuk konsumsi dan 9,00 - 25 per untuk dijual. Dalam melakukan perburuan masyarakat menggunakan kombinasi dari berbagai sistem yang ada yaitu jerat, busur-panah-tombak, anjing dan membakar URBINAS, Elisabeth Johana Viabilitas dan vigor biji tanaman salak (Sacca zalacca (Gaertner) Voss) dalam berbagai taraf konsentraasi giberellin (Ga3). Fapertek Unipa, 2002. SACCA ZALACCA - VIABILITAS DAN VIGOR Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melihat viabilitas dan vigor biji tanaman Salacca zalacca dalam berbagai taraf konsentrasi GA3, metode yang digunakan adalah metode eksperimen, rancangan acak kelompok. Perlakuannya terdiri atas (0, 250, 500, 750, dan 1000) ppm larutan GA3, jumlah ulangan 4 kali. Variabel pengamatan meliputi persen kecambah, laju perkecambahan, nilai puncak, tinggi akar, panjang akar, berat akar, dan sebagai variabel penunjang kadar air dan suhu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa biji Salacca zalacca mampu berkecambah dengan rata-rata persen perkecambahan sebesar 92,5per, pada konsentrasi GA3 terbaik yaitu 500 ppm pada laju perkecambahan. Nilai puncak pada konsentrasi 525 dan 535 ppm untuk nilai perkecambahan. Sedangkan panjang akar dan berat akar padakonsentrasi GA3 optimum adalah 250-350 ppm. UTOMO, Budi Pengaruh ketinggian guludan terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa kultivarubi jalar (Ipomea batatas (L.) Lamb.) pad transmigrasi kecamatan Prifi Manokwari. Fapertek Unipa, 2002. IPOMEA BATATAS - GULUDAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh ketinggian guludan dan kultivar Ipomea batatas terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa kultivar Ipomea batatas. Metode yang digunakan adalah metode ekperimen dengan rancangan acak kelompok berfaktor. Faktor pertama ketinggian guludan (0,30, dan 40 cm), kultivar Ipomea batatas terdiri atas (Bogor 81, Ciceh 32, Mauwebsi, Maubeba, Kebar, Anggi 13, Kirou dan Maria) dengan ulangan sebanyak 3 kali. Variabel yang diamti meliputi panjang tangkai, diameter sulur, persentase tanaman yang berumbi, jumlah umbi per petak, bobot brangkasan segar per tanaman, dan bobot umbi per tanaman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa iteraksi antara ketinggian guludan dan kultivar Ipomea batatas hanya memberikan pengaruh nyata terhadap variabel panjang tangkai daun dan bobot brangkasan basah tanaman. Panjang tangkai daun terpendek di hasilkan kultivar Bogor 81 dan terpanjang oleh kultifar Anggi 13, pada per tanaman tanpa guludan. Bobot brangkasan basah terendah dihasilkan oleh kultifar Bogor 81 pada tinggi guludan 40 cm dan kultivar Kirou yang ditanam tanpa guludan, sedangkan yang tertingggi dihasilkan kultivar Mouwebsi yang ditanamn tanpa guludan. Tanaman yang ditanam cenderung menunjukkan panjang tangkai daun, diameter sulur, pesentase tanaman membentuk umbi dan bobot umbi pertanaman yang lebih baik di bandingkan tanpa guludan, dimana guludan 40 cm cenderung lebih baik dibandingkan 20 cm. Kultivar yang di uji memberikan pengaruh nyata pada semua varabel kecuali jumlah umbi per tanaman. Hal ini menunjukkan bahwa kultivar-kultivar yang diuji, kultivar Kirou adalah kultivar yang menghasilkan persentase pembentukan umbi dan bobot umbi tertinggi dibandingakan dengan kultivar lainnya. Sedaangakn kultivar Bogor 81 dan Mouwebsi menghasilkan persentse umbi per tanaman terendah. UTOMO, Catur Retno Pengaruh jumlah daun terhadap pertumbuhan awal anakan cabutan alam Ceriops tagal (Perr.) C. B. pada persemaian alam di kampung Oransbari Manokwari. Fahutan, 2002. 28 cm CERIOPS TAGAL - PERTUMBUHAN ANAKAN Abstrak WAFOM, Marthinus Eksplorasi keragaman angrek epifit di pulau-pulau di danau Ayamaru kabupaten Sorong. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm ANGREK EPIFIT - KERAGAMAN Abstrak Penelitian dilakukan di pulau Amin, Tomase, Frafnun dan stomusyoh yang ada pada danau Ayamaru kecamtan Ayamaru, menggunakan metode deskriptif dengan teknik survei. Pengambilan contoh dilakukan secara purposif sesuai keberadaan jenis angrek epifit. Variabel yang diamati adalah karakter morfologi dan keadaan habitat. Berdasarkan hasil penelitian dijumpai 5 sub tribe yang terdiri dari 18 jenis angrek yaitu genus dendrobium 11 jenis, Bulbophyllum 4 jenis, Thrxspermum 1 jenis, Acriopsis 1 jenis dan Coelogyne 1 jenis. Pohon inang terdiri atas Zizigium sp., Adina sp., Dekaspermum sp., Vicus benjamina, Palaquiumsp., Efodia erliana dan Pentapalangium sp. Ada beberapa jenis angrek yang menyebar merata pada ke 4 pulau jenis tersebut adalah Coelogyne sp., D. insigne dan D. squamiferum j. j. sm WAIMBEWER, Apolena Amelia Pengelompokan beberapa aksesi talas (Colocasia esculenta (L.) Schott) berdasarkan ciri morfologi umbi dan daun.. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm COLOCASIA ESCULENTA - PENGELOMPOKAN CIRI MORFOLOGI Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan aksesi Colocasia esculenta berdasarkan ciri morfologi umbi dan daun. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik sensus. Variabel yang diamati meliputi bentuk umbi, bentuk cabang, warna daging uambi dan warna daun. Hasil pengelompokan Colocasia esculenta koleksi pusat studi Ubi-ubian dan Sagu Faperta Unipa Manokwari berdasarkan 288 kombinasi ciri terdiri dari 37 kelompok variasi ciri morfologi. Ciri morfologi yang dominan dijumpai pada kombinasi bentuk umbi, percabangan umbi, warna daging umbi dan warna daun adalah umbi lonjong, warna daging umbi putih dan warna daun hijau. Ciri Colocasia esculenta budidaya termasuk talas-talas yang memiliki percabangan umbi. Talas yang mempunyai warna daging umbi kuning, merah, ungu, jingga dan warna percampuran mengandung kandungan Betta-karote yang tinggi, yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber vitamin A, namun jumlahnya hanya sedikit karena tanaman talas yang memiliki warna daging umbi kuniing, merah, ungu dan jingga peka terhadap serangan hama penggerek umbi. WAKUM, Sandra F. Pengaruh residu dari berbagai tingkat dosis bokashi terhadap pertumbuhan dan produksi petsai (Brassica pekinensis L.). Fapertek Unipa, 2002. BRASSICA PEKINENSIS - PEMUPUKAN BOKASHI Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari berbagai dosis bokashi terhadap pertumbuhan dan produksi Brassica pekinensis. Metode yang digunakan yaitu metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap, terdiri atas perlakuan residu bokashi (0, 30, 60, 90, 90, dan 120 gr/tanaman). Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun dan bobot brangkasan basah per tanaman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa residu dari berbagai tingkat dosis bokashi terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun umur 1-2 MST, sedangkan tidak pengaruh pada umur 2-3 MST. Luas daun dan bobot brangkasan basah pertanaman juga tidak berpengaruh namun ada kecendrungan meningkat. Semakin tinggi residu bokashi yang diberikan pertumbuhan dan produksi semakin baik. Peningkatan hasil akibat residu bokashi 30 gr/tanaman;33,99per, 60;42,04per, 90;60,24per, dan 120;78,85per dibandingkan dengan kontrol. WARDHANA, I Gde Wisnu Pengaruh pemberian beberapa jenis mulsa Oranik terhadap pertumbuhan dan produksi cabai merah (Capsicum anuum L. Var. Longum L.). Fapertek Unipa, 2002. CAPSICUM ANUUM - MULSA ORGANIK Abstrak Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan menggunakan rancangan acak lengkap, yang terdiri atas pelakuan (konrol, mulsa sabut kelapa, mulsa daun gamal dan mulsa daun orok-orok) dengan dosis 150 g/pot, diulang sebanyak 4 kali. Variabel yang di amati meliputi; tinggi tanman 1-4 MST, umur mulai berbunga, jumlah bunga, jumlah buah total, Fruit set, jumlah buah panen, jumlah buah gugur dan berat buah panen per tanaman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian beberapa jenis mulsa organik memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi cabai merah. Mulsa gamal memberikan pengaruh terbaik pada tanaman Capsicum anuum untuk jumlah bunga, jumlah buah panen dan berat buah panen per tanaman. Mulsa orok-orok memberikan pengaruh terbaik pada jumlah buah per tanaman dan fruit set namun memberikan jumlah bauh gugur terbanyak pada tanaman capsicum anuum. Pemberian mulsa dapat meningkatkan hasil sebesar 16,1per untuk gamal, 143per untuk orok-orok dan 10,5per untuk sabut kelapa dibandingakn dengan tanpa mulsa. WAYOI, Jeditya Hubungan populasi hama putih palsu (Cnaphalocrocis medinalis Guenee) dan kerusakan daun pada pertanaman padi di desa Desay kecamatan Prafi, Manokwari. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm PADI - CNAPHALOCROCIS MEDIALIS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan populasi hama palsu dan kerusakan daun pada pertanaman padi. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik survei, variabel yang diamati meliputi populasi hama Cnaphalcrocis medinalis dan kerusakan pada daun padi. Hasil pengamatan pada areal tanam keempat varietas yaitu Ciliwung, IR 48 I, IR 48 II dan Superwing dijumpai bahwa pada varietas Ciliwung menunjukkan jumlah populasi yang tinggi pada stadia larva, pupa dan imago yaitu 25;7 dan 23 ekor, Varietas IR 48 I masing-masing 21;5 dan 5 ekor, Varietas IR 48 II 20;4 dan 7 ekor sedangkan untuk varietas Superwing menunjukkan jumlah populasi yang terendah pada semua tingkat media yaitu 2;4 dan 4 ekor. Rata-rata intensitas serangan hama putih palsu pada keempat jenis varietas padi sawah yang ditanam di desa Desay sebesar 15,16per dengan nilai intensitas serangan tertinggi pada varietas Ciliwung yaitu 26,7per dan terendah varietas Superwing yaitu 4,77per. WIBOWO, Eko Pengeringan batang kelapa (Cocos nucifera, L.). Fahutan Unipa, 2002. 28 cm BATANG KELAPA - PENGERINGAN Abstrak Bertujuan mengetahui pengaruh metode pengeringan terhadap proses pengeringan, pengaruh tingkat kedalaman dalam batang terhadap proses pengeringan, untuk mengetahui kecepatan pengeringan terhadap setiap metode dan untuk mengetahui cacat-cacat yang timbul pada setiap metode pengeringan. Menggunakan rancangan acak kelompok dengan beberapa faktor yaitu : Metode pengeringan (Pengeringan udara, oven dan radiasi sinar matahari) dan tingkat kedalaman batang (Kulit,, tengah dan dalam). Terdapat pengaruh metode pengeringan dan kedalaman dalam batang terhadap proses pengeringan, namun interaksi keduanya tidak menunjukkan pengaruh. Kecepatan pengeringan pada metode pengeringan udara 2,71per/hari, pengeringan oven 12,25per/hari dan radiasi sinar mtahari 5,47per/hari. cacat yang ditemui pada pengeringan udara adalah pemuntiran, memangkuk, serta jamur buluk, pengeringan oven pemuntiran, memangkuk, serta retak dan pada pengeringan radiasi matahari adalah retak, pemuntiran, memangkuk, jamur buluk dan rayap WISNUADI, Tri Kajian mutu miyak goreng dalam proses penggorengan secara berulang di pasar Sanggeng Manokwari. Fapertek Unipa, 2002. MINYAK GORENG - MUTU Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji mutu minyak goreng yang selama penggorengan dilakukan penambahan miyak goreng baru (segar) dalam proses penggorengan pada pedagang kecil di pasar Sanggeng. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan teknik survei. Variabel yang diamati meliputi suhu, waktu penggorengan, bahan, warna, kadar air, bilngan peroksida, kadar asam lemak serta waktu penambahan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa minyak goreng yang digunakan para pedagang secara keseluruhan tidak memenuhi standar mutu minyak goreng berdasarkan Spesial Prime Bleach (SPB). Hal ini dengan terlihat tingginya kadar air 0,02per-1,99per dan bilangan peroksida pada hampir semua sampel minyak goreng dari ke-4 responden yang dianalisa dari 7-40 meq/100 gr. Hal ini kemungkinan minyak goreng awal yang digunakan tidak memenuhi standar mutu minyak. Sedangkan penambahan minyak goreng baaru selama proses penggorengan mempunyai andil yang cukup baik dalam memperbaiki mutu minyak. Hal tersebut terlihat dengan menurunnya kadar air, bilangan peroksida dan asam lemak bebas setelah penambahan. WIWARON, Paskalina Pengaruh proyek CCAD terhadap tingkat pendapatan Usahatani di Kabupaten Manokwari : Studi kasus di Desa Meiforga dan di Desa Imhasuma. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm PROYEK CCAD - PENDAPATAN USAHATANI Abstrak Proyek CCAD merupakan proyek pembangunan yang bersifat mikro spesial, dengan tujuan pengembangan desa mandiri melalui kegiatan dibidang pertanian, peternakan, perikanan dan pemasarannya. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan usahatani akibat adanya pembinaan melalui proyek CCAD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan usahatani petani binaan pertahun masih lebih rendah dibandingkan petani non binaan. Variabel curahan kerja mempunyai pengaruh yang negatif terhadap tingkat pendapatan usahatani petani binaan dan non binaan. Dari hasil uji F diketahui bahwa faktor luas lahan, curahan kerja, jumlah komoditi yang diusahakan serta modal mempunyai pengaruh terhadap tingkat pendapatan usahatani YASIN Pengaruh jenis pengencer terhadap kualitas dan fertilitas spermatozoa ayam buras. FPPK Unipa, 2002. 28 cm AYAM BURAS - KUALITAS DAN FERTILISASI Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai jenis pengencer semen terhadap kualitas dan fertilitas spermatozoa ayam buras dalam rangka membantu usaha pemerintah untuk mengembangkan ternak ayam buras. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan rancangan acak kelompok. Adapun perlakuannya terdiri atasa semen diencerkan dengan pengencer susu skim 10per, NaCl physiologis 0,9 per, dan Laktat ringer's, ulangannya sebanyak 5 kali. Variabel yang diamati meliputi kualitas semen setelah dan sebelum diencerkan, dan fertilitas spermatozoa. Hasil pengamatan makroskopis menunjukkan bahwa volume semen ayam rata-rata 0,295 ml dan pH semen rata-rata 7,47. Semen berwarna putih dengan konsistensi kepal. Pengamatan mikroskopis menunjukkan bahwa gerakan masa spermatozoa sangat baik (+++) dengan konsentrasi spermatozoa sebanyak 2,70x1000000000 speermatozoa per ml semen dan spermatozoa motil progressif sebesar 87,8per. Dapat disimpulkan bahwa dari ke-3 jenis pengencer semen segar ayam buras, akan tetapi fertilitas spermatozoa tertinggi dinyatakan oleh semen yang diencerkan dengan susu skim. YENI Pengaruh berbagai teknik perendaman terhadap suhu hidratasi tandan kosong dan pelepah daun kelapa sawit (Elaeis guinensis) sebagai bahan baku papan semen. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm PELEPAH DAUN KELAPA SAWIT - BAHAN BAKU PAPAN SEMEN Abstrak Penelitian bertujuan mengetahui apakah tandan kosong dan pelepah daun kelapa sawit dapat digunakan sebagai alternatif bahan baku papan semen jika dilihat dari suhu hidratasinya dan apakah perendaman dalam air memberikan pengaruh pada suhu makimal yang dicapai saat pengujian hidratasi. Menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap berfaktor 2 x 4. Perlakuan perendaman terdiri atas 4 level yaitu tanpa perendaman, perendaman dalam air dingin, perendaman dalam air panas serta perendaman dalam air dingin dilanjutkan dengan air panas dan diulang sebanyak 3 kali. Variabel yang diamati adalah suhu dan waktu hidratasi dari campuran semen, air dan sampel, suhu dan waktu hidratasi dari semen, Kadar ekstraktif tandan kosong dan pelepah daun larut dalam air dingin dan air paas, kada ekstraktif tandan kosong dan pelepah larut dalam air dingin dilanjutkan air panas dankadar ekstraktif tandan kosong dan pelepah daun larut dalam alkohol benzene. Data hasil penelitian diolah dengan analisis ragam , jika berpengaruh nyata dilanjutkan dengan Uji Jarak Ganda Duncan. Hasil pengujian suhu hidratasi menunjukkan bahwa tandan kosong kelapa sawit yang telah direndam lebih dahulu dalam air dapat digunakan sebagai bahan baku papan semen, sedangkan pelepah daun yang tidak direndam maupun yang direndam terlebih dahulu tidak dapat digunakan sebagai bahan baku papan semen. Perendaman dalam air mempengaruhi suhu hidratasi maksimal yang dicapai Suhu hidratasi tertinggi dicapai pada pada perlakuan tandan kosong dengan lama perendaman air panas 3 jam dan tandan osong dengan lama perendaman air dingin 48 jam dilanjutkan air panas 3 jam, nilai suhu hidratasi yang dihasilkan kedua kombinasi perlakuan ini sama yaitu 41,83derC YULIATI, Sari Pengaruh pemberian berbagai jenis bahan organik terhadap perkembangan dan aktivitas cacing tanah (Lumbricus rubellus) pada dua jenis tanah. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm LUMBRICUS RUBELLUS Abstrak Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri atas 2 faktor yaitu jenis tanah (entisol dan inseptisol) dan bahan organik yang terdiri atas 3 taraf (pupuk kandang, batang pisang dan ampas tahu). variabel yang diamati adalah pH medium, C-organik, N-Total, Ratio C/N, warna tnah, tingkat kesesuaian media, bobot dan populasi cacing tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bahan organik berupa batang pisang pada tanah entisol dan tanah inseptisol memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap perkembangan dan aktivitas cacing tanah dibandingkan bahan organik kotoran ayam dan ampas tahu pada 2 jenis tanah. Tingkat kesesuaian media akan mempengaruhi perkembangan dan aktivitas cacing tanah. Dalam mengeluarkan kotoran cacing tanah dapat meningkatkan pH, C-organik, N total dan dapat menurunkan Ratio C/N YUMAME, Theryanto Presepsi masyarakat mengenai manfaat kehadiran proyek air bersih MCC (Mennonitte central Committee) Fakultas pertanian universitas negeri papua manokwari : Studi kasus di kampung ikuf distrik Aitinyo. Fapertek Unipa, 2002. 28 cm PROYEK AIR BERSIH - PRESEPSI MASYARAKAT Abstrak Penelitian ini bertujuan mengetahui presepsi masyarakat mengenai manfaat kehadiran proyek air bersih MCC/Faperta Unipa. Serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi presepsi masyarakat tersebut. Penelitian dilaksanakan di Kmp[ung Ikuf, dari bulan April-September 2002. Penelitian menggunakan metode Deskriftif dengan teknik studi kasus. Faktor-faktor yang diamati pada masyarakat pengguna air bersih tersebut berupa pendidikan formal, kosmopolit masyarakat dan pengalaman masyarakat tentang air bersih. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa masyarakat merasakan manfaat atas kehadiran proyek air bersih tersebut. Dimana faktor yang sangat mempengaruhi tingkat presepsi masyarakat adalah pendidikan masyarakat dan kosmopolit masyarakat ZULFADLI Status populasi Siphokentia dransfieldii di kawasan hutan Sumberbaker pulau Biak. Fahutan Unipa, 2002. 28 cm SIPHOKENTIA DRANSFIELDII - POPULASI Abstrak Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik survai untuk mengetahui kelimpahan dan struktur populasi. Variabel yang diamati adalah kerapatan dan kerapatan relatif, pola sebaran, profil arsitektur da struktur populasi. Struktur populasi dari palem siphokentia dransfieldii pada kawasan hutan Sumberbaker pulau Biak termasuk ke dalam struktur progresive population yaitu dari populasi dari suatu spesies yang pad atingkat semai atau anakan mengalami peningkatan. Status konservasinya pada saat ini termasuk dalam kategori endangered, namun apabila kawasan tersebut nantinya berubah jadi kawasan perumahan atau perkantoran oleh Pemda kab. Biak maka status konservasinya akan berubah menjadi critically endangered

Note: The Unipa library catalogues for books, theses, research reports, etc will eventually be prepared for the web. This process will take time to complete. If in the interim you wish to view an unformatted text list of all theses produced from Unipa since the mid-1970s, please copy and paste the following URL into your internet browser address bar:

http://www.papuaweb.org/unipa/dlib-s123/unipa-skripsi.txt

If you want to view a list of all theses which are available with abstracts, please copy and paste the following URL into your internet browser address bar:

http://www.papuaweb.org/unipa/dlib-s123/unipa-abstrak.txt

These pages are not yet linked to other parts of www.papuaweb.org so they are currently "invisible" to most automated web-indexing systems (such as Google). This information will eventually be linked to other pages on Papuaweb once it is has been prepared in a searchable database format.


  © Copyright UNIPA - ANU - UNCEN PapuaWeb Project, 2002-2005.

honai/home page