2003
APRIAN, Suryani
Intensifikasi penggunaan lahan oleh masyarakat pada hutan taman
wisata gunung meja Manokwari.
Fahutan Unipa, 2003. 28 cm
PENGGUNAAN LAHAN - GUNUNG MEJA
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar
intensitas penggunaan lahan wisata gunung meja berdasarkan luas
lahan yang tersebar pada kawasan hutan tersebut. Metode yang
digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik sensus dan
wawancara semi struktural. Variabel yang diamati meliputi
besarnya luas lahan untuk ladang, bekas tebangan, dan pemukiman
penduduk. Hasil dari sensus lahan wisata gunung meja pemanfaatan
tahun 2002 sebesar 39,42 ha dengan intensitas 8,56per, dimana
perladangannya 35, 32 ha;7,67per, penebangan 0,81 ha;0,18 bekas
ladang 0,34ha dan penggunaan lain 2,95 ha;0,64per. Penambahan
luasan pemanfaatan yang dilakukan terhadap kawasan hutan wisata
gunung meja dari tahun 1995 sampai 2002 sebesar 30,69 ha dengan
penembahan pertahunnya 4,38 ha. Terjadinya pengurangan luasan
tersebut akan mempengaruhi terhadap fungsinya sebagai pengatur
tata air (hidrologi)
AYOMI, Meilanny Margareth Lea
Keberhasilan penetasan telur dan pemunculan tukik penyu lekang
(Lepidopchelys olivacea) melalui usaha translokasi di pantai
Bremi Manokwari.
Fahutan Unipa, 2003. 28 cm
LEPIDOCHELYS OLIVACEA - PLESTARIAN
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan penetasan
dan pemunculan tukik penyu lekang. Metode yang digunakan adalah
metode deskriptif denga teknik survey. Variabel yang diamati
yaitu populasi, sarang, telur, keberhasilan penetasan dan tukik
penyu lekang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada daerah
peneluran pantai Bremi, ditemukan secara langsung penyu lekang
yang naik untuk bertelur sembilan ekor dan keberhasilan bersarang
berjumlah 16 sarang (42,1per) dari 38 kali penyu medarat. Usaha
translokasi yang dilakukan ke-6 sarang semi alami mempunyai
keberhasilan penetasan 104 butir dari 555 butir telur sedangkan
rata-rata pada setiap sarang adalah 15 butir. Sukses pemunculan
tukik yang menetas dapat muncul keatas permukaan sarang. Jumlah
tukik yang dikembalikan ke laut berjumlah 100 ekor dengan ukuran
karapas rata-rata panjang 3,90 cm dengan, lebar 3,37 cm dan berat
tubuh 16,77 gr.
BLESS, Yane
Populasi penyu yang mendarat dan pemanfaatannya oleh masyarakat
kampung Bremi distrik Manokwari Kabupaten Manokwari.
Fahutan Unipa, 2003. 28 cm
POPULASI PENYU - PEMANFAATAN
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui populasi penyu yang
mendarrat dan pemanfatanya oleh masyarakat pantai Bremi. Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif
dengan tekinik observasi dan wawancara semi struktural. Vaarabel
yang diamati meliputi populasi jenis penyu, jumlah telur,
pemanfaatan penyu oleh masyarakat. Hasil observasi penyu di
Pantai Bremi bahwa terdapat 3 jenis penyu yang mendarat yaitu
penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu lekang
(Lepidochelys olivacea) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata).
Jumlah penyu yang ditemukan secara lansung 12 ekordan tidak
langsung 33 ekor yang terdiri dari 19 jejak dan 14 sarang.
Masyarakat selain mengkonsumsi daging, telur, dan bakal telur
juga menjualnya untuk pemenuhan kebutuhan. Penerimaan masyarakat
Bremi dari hasil penjualan daging Rp. 372.000 dan telurnya Rp.
76.468,75.
BUMBUT, Petrus Izak
Vegetasi habitat istirahat kelelawar buah (Pteropus neohibernicus
neohibernicus Peters.) di Pulau Mansinam.
Fahutan Unipa, 2003. 28 cm
P. NEOHIBERNICUS NEOHIBERNICUS - HABITAT
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis vegetasi
berkayu habitat istirahat kelelawar buah pada siang hari dan
kerusakan habitatnya. Metode yang digunakan adalah metode
deskriptif dengan teknik Central point quadrant methods. Variabel
yang diamati meliputi vegatasi pada habitatnya, pohon-pohon yang
digunakan untuk istirahat, provil arsitektur dan kerusakan
habitatnya. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada habitat
istirahat kelelawar buah di pulau Mansinam terdapat 96 spesies
dari 33 famili. Habitat istirahat Pteropus neohibernicus
neohibernicus di pulau Mansinam sudah terganggu sehingga di duga
bermigrasi di Sekitar Tanjung Mangewa bagian selatan pulau
Mansinam karena adanya gangguan akibat faktor manusia seperi
pembukaan lahan, kegiatan reboisasi, sebagai wisata rohani dan
adanya bencana alam seperti sunami, tanah longsor dan sebaginya.
CHRYSOSTOMUS, Hieronimus Yohanes
Ukuran morfologi persentase karkas dan kandungan gizi daging
bandikut di lembah kebar.
FPPK Unipa, 2003. 28 cm
DAGING BANDIKUT - KANDUNGAN GIZI
Abstrak
Penelitian dilaksanakan di kampung Anjai wilayah Kebar Tengah dan
kampung Senopi wilayah Kebar Barat. Menggunakan metode deskriptif
dengan teknik studi kasus. Variabel yang diamati adalah bobot
tubuh, lingkar dada, lingkar perut, lingkar paha, panjang tubuh,
panjang badan, panjang kepala, panjang moncong, panjang telinga,
panjang telapak, panjang betis, panjang paha dan panjang ekor.
Data hasil penelitian dianalisis secara statistik deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hany satu jenis bandikut yang
terdapat di Lembah Kebar yaitu jenis Echymipera rufescens.
Rata-rata ukuran morfologi bandikut betina lebih besar dibanding
yang jantan. Rata-rata persentase karkas bandikut jantan
(71.0persen) lebih besar dari bandikut betina (69.5persen).
Berdasarkan ukuran morfologi, hanya panjang badan yang dapat
digunakan untuk menduga bobot tubuh, bobot karkas dan persentase
karkas bandikut. Kandungan gizi yang terdapat pada bandikut cukup
tinggi sehingga dapat menjadi bahan makanan alternatif sebagai
sumber protein hewani.
FATEM, Sepus Marten
Karakteristik morfologi dan habitat landak moncong panjang
(Zaglossus bruijnii) pada kawasan penyangga cagar alam pegunungan
Arfak.
Fahutan Unipa, 2003. 28 cm
ZAGLOSSUS BRUIJNII - MORFOLOGI DAN HABITAT
Abstrak
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik
observasi. Variabel yang diamati meliputi karakter morfologi dan
habitatnya. Hasil deskripsi dari Zaglossus bruijnii jantan
panjang tubuh 660 mm dan beratnya 10.080 gr, sedangkan betina
panjang tubuh 663 mm dan rata-rata beratnya 10.175 gr. Habitat
makan berada pada ketinggian 1380 m dpl, dengan tipe hutan primer
muda memiliki kerapatan tajuk yang rapat suhu berkisar 17-20
derajat celcius dan kelembaban 77 - 81 per, intensitas matahari
100 - 300 lux. Hasil analisa tanahnya dengan pH 5,3 - 5,5, dimana
terdapat 35 jenis dari 20 famili untuk tingkat semai, pancang,
tiang dan pohon. Pemanfatan landak oleh masyarakat Arfak berupa
daging untuk konsumsi, cakar dan bulu digunakan untuk magis.
Masyarakat Arfak mempunyai konsep konservasi tradisional yang
dikenal "Igyaser hanjop" dipetakan dalam pemanfaatan kawasan tiga
zona secara tradisional yaitu Bahanti, Nimahanti dan Suti
HAMZAH, Pahra
Pemanfaatan tumbuhan obat tradisional oleh masyarakat pulau
Mansinam kabupaten Manokwari.
Fahutan Unipa, 2003. 28 cm
TUMBUHAN OBAT - MASYARAKAT MANSINAM
Abstrak
Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jens-jenis
tumbuhan yang di manfaatankan sebagai obaat tradisional,
mengetahui cara meramu bahan baku, cara pengobatan, khasiatnya,
dan upaya masyarakat dalam melestarikan tumbuhan tersebut. Metode
yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik observasi.
Variabel yang diamati meliputi; pemanfaatan bagian tumbuhan,
jenis tumbuhan, proses peramuannya, bagian yang digunakan,
khasiatnya, dan upaya tradisional dalam pelestariananya. Hasil
penelitian ini menunjukka bahwa dalam pengobatan tradisional,
masyarakat pulau mansinam memanfaatkan 25 jenis tumbuhan yang
tergolong dalam 20 famili. Dari jenis tumbuhan tersebut dapat
mengobati 16 jenis penyakit. Cara peramuannya ada yang dikikis,
diramas, direndam, dibakar, ditumbuk, direbus, dikunyah, dan
sebagainya. Bagian-bagian yang dimanfaatkan yaitu akar, batang,
daun, kulit, getah dan buah. Pola pelestarian tumbuhan-tumbuhan
tersebut belum dilakukan oleh masyarakat Mansinam. Pengetahuan
masyarakat tentangtumbuhan-tumbuhan tersebut secara
turun-temurun.
HOWAY, Marthen
Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional oleh masyarakat
suku Maibrat di kampung Sembaro distrik Ayamaru Kabupaten Sorong.
Fahutan Unipa, 2003. 28 cm
TUMBUHAN OBAT - SUKU MAIBRAT
Abstrak
Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan teknik observasi
dan wawancara semistruktur, variabel yang diamati meliputi jenis
tumbuhan, cara meramu, khasiatnya, bagian yang dimanfaatkan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat suku Maibrat
memanfaatkan 40 jenis tumbuhan yang termasuk dalam 30 famili.
Bagian tumbuhan obat yang digunakan adalah kulit dan daun 12
jenis tumbuhan, merebus sebanyak 6 jenis, tanpa diramu 6 jenis,
dan diminum 16 jenis. Ada 25 khasiat dari pemanfaatan jenis-jenis
tumbuhan tersebut, dimana 24 khasiatnya untuk manusia dan 1 untuk
hewan. Dari 40 jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh suku
Maibrat ternyata 3 jenisnya memiliki nilai ekonomis yaitu
Laportea sp., Morinda citrifolia dan Deris elliptica, sedangkan
tumbuhan yang dibudidayakan oleh masyarakat kampung Sembaro ada 2
jenis yaitu Laportea sp. untuk obat malaria dan Zinggiber
officinole berkhasiat sebagai obat cacingan.
JEMBISE, Linda Dina
Analisis kebutuhan bahan baku industri meubel kayu di Distrik
Manokwari.
Fahutan Unipa, 2003. 28 cm
INDUSTRI MEUBEL - ANALISIS KEBUTUHAN BAHAN BAKU
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis kayu, ukuran
sortimen, kadar air kayu, dan jumlah bahan baku yang dibutuhkan.
Metode yang digunakan adalah metode studi kasus dengan teknik
observasi. Varabel yang diamati meliputi; jenis kayu, ukuran
sortimen, dan kualitas bahan baku. Hasil analisis menujukkan
bahwa jenis kayu yang digunakan yaitu Intsia spp., Pterocarpus
indicus, Drancontomelum dan Pometia spp. Ukuran sortimen yang
digunakan yaitu setebal 2,5 - 3 cm, lebaar 20 - 30 cm serta
panjang 2000 cm dan 400 cm. Sedangkan untuk balok dengan setebal
3 - 7 cm, lebar 5 - 12 cm, dan panjang 400 cm. Kadar iar bahan
baku pada kelima industri meubel masih relatif tinggi yaitu
berkisar antara 18,63per - 27,40per. Kebutuhan bahan baku
industri meubel kayu di Distrik Manokwari periode November 2000 -
September 2001 berfluktuasi cukup tinggi menunrut produk meubel
yang dipesan oleh konsumen, sedangkan proyeksi kebutuhan bahan
baku untuk periode oktober 2001 - September 2002 berkisar anatara
23,209 - 30,500 meter kubik/bulan dengan rata-rata 27,147
meterkubik/bln.
KADAM, Nathan Knor
Pengaruh formula dan waktu aplikasi beberapa strain Pseudomonas
kelompok fluorescens dalam pengendalian Sclerotium rolfsii
penyebab penyakit damping- off pada semai Paraserianthes
falcataria L. Nielsen.
Fahutan Unipa, 2003. 28 cm
P. FALCATARIA - PENGENDALIAN PENYAKIT
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan beberapa
strains Pseudomonas kelompok fluorescens yang diformulasikan
dalam bentuk felet alginat dan waktu aplikasinya dalam
pengendalian S. rolfii penyebab penyakit damping-off pada P.
falcataria. Metode yang digunakan metode eksperimen dengan
rancangan acak lengkap, yang terdiri atas strain Ag, Pf, Ml dan
Pm yang 4 ulangan. Varabel yang diamati ada dua yaitu dalam
pengujian in-vitro (persentase penghambatan pertumbuhan patogen
oleh alginat dari strains Pseudeomonas dan untuk pengujian
in-vivo adalah pengamatan terhadap beratnya serangga patogen.
Hasil pengujian in-vitro maupun in-vivo menunjukkan bahwa pelet
alginat dari keempat strain pseudomonas kelompok fluorescens yang
digunakan memeiliki kemampuan yang cukup tinggi dan tidak berbeda
nyata dalam mengendalikan S. rolfsi. Penggunaan media tanah
steril dan tanah tidak steril tidak menunjukkan pengaruh yang
sangat nyata terhadap kemampuan penghambatan keempat S. rolfsii
penyebab penyakit damping-off pada semai P. falcataria.
KAMBU, Agustince
Pemanfaatan Arenga pinnata sebagai minuman tradisional oleh
masyarakat Maibrat di sekitar taman wisata gunung meja.
Fahutan Unipa, 2003. 28 cm
ARENGA PINNATA - PEMANFAATAN
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan Arenga
pinnata sebagai minuman tradisional dan tingkat pendapatannya.
Metode yang digunkan yaitu metode deskriptif dengan teknik
survei. Variabel yang diamati meliputi karakter pohon, pengolahan
Arenga pinnata dan faktor-faktor yang memepengaruhi pendapatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyadapan terhadap nira aren
mulai berusia 34 sampai 40 tahun, jumlah mayang 3-4, produksi
dari mayang yang disadap sekitar 13-18 L/mayang/hr, pengolahannya
masih secara tradisional. Pendapatan yang diperoleh sekitar Rp.
95.000 - Rp. 118.000, per bulan. Curahan waktu yang diperlukan
berkisar antara 1-2 jam per hari dan proses pemasarannya biasa
berdasarkan pesanan.
KONDORORIK, Maikel
Pembuatan gula semut dari air sadapan (nira) Nipah (Nypa
fruticans Wurrmb) di desa Waroki Kabupaten Nabire.
Fahutan Unipa, 2003. 28 cm
NYPA FRUTICANS - PEMBUATAN GULA
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pengolahan, cara
peroleh, dan nilai tambah Nypa fruticans. Metode yang digunakan
yaitu metode deskriptif dengan teknik studi kasus dengan variabel
pengamatan yaitu proses pembuatan, nira, gula semut dan nilai
tambah. Penyadapan Nypa fruticans dilakukan pada buah yang sudah
mencapai diameter 80-90 cm dengan menampung nira pada bambu atau
botol ades atau galon yang terlebih dahulu diberi ramuan kapur
sirih, penyadapan dilakukan selama 12 jam. Kemudian disaring
untuk dimasak sampai kental dan diaukaduk hingga beerbentuk
butiran-butiran. Dari hasil percobaan 3 liter Nyva fruticans
menghasilkan gula semut sebanyak 148 gr dan harga gula tersebut
dipasar sebesar Rp. 15.000/kg. Dilihat dari nilai ekonomis lebih
memberikan keuntungan dijual dalam bentuk nira dari pada dibuat
gula semut.
MAAY, Maikhel Fredrik
Pemanfaatan bambu oleh masyarakat kampung Waren Distrik Waropen
Bawah Kabupaten Yapen Waropen.
Fahutan Unipa, 2003. 28 cm
BAMBU - PEMANFAATAN
Abstrak
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik
observasi dan wawancara semi struktural, variabel yang diamati
meliputi etnobotani bambu dan sosial ekonomi bambu. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa jenis-jenis bambu yang terdapat di
Waren II yaitu Schizostachyum brachyladum Kurz., Dendrocalamus
asper (Bl ex. Schult. F.) Kurz, S. zollingeri Steud S. blumei
Ness. Bambusa forbesii Sloot dan D. latiflorus Munro. Jenis-jenis
bambu tersebut dimanfaatkan masyarakat untuk pembuatan busur
panah, komponen bangunan, kerajinan tangan dan tempat nasi.
Daerah penyebaran D. asper pada rumpun tertinggi yaitu dapat
ditemukan pada 8 - 10 m dpl, S. blumei antara 3 - 6 m dpl. Pola
konservasi yang dilakukan selama ini adalah konservasi
tradisional.
MAMORIBO, Sara
Pemanfaatan vegeasi mangrove oleh masyarakat kampung Rayori di
distrik Supriyori Selatan Kabupaten Biak Numfor.
Fahutan Unipa, 2003. 28 cm
MANGGROVE - PEMANFAATAN
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis dan
bagian-bagian vegetasi mangrove yang dimanfaatkan oleh masyarakat
Rayori. Menggunakan metode deskriptif dengan teknik observasi dan
wawancara semi struktural. Variabel yang diamati meliputi jenis
dan bagian-bagian mangrove yang dimanfaatkan. Dari hasil dari
observasi ditemukan 9 jenis mangrove yaitu Rhyzophora apiculata,
R. mucronata, R. stylosa, Bruguera gymnorhiza, Bruguera sp.,
Sonneratia alba, Xylocarpus granatum, X. moluccensis dan Ceriop
tagal, dari ke-9 jenis tersebut termasuk dalam 3 famili, untuk
jenis Ceriop tagal sudah tidak dimanfaatkan lagi karena
ketersdiaannya semakin langka. Bagian-bagian yang dimanfaatkan
yaitu buah untuk dimakan, selain itu dapat mengobati luka dan
diare (B. gymnorrhiza). Ranting dan cabang untuk kayu bakar dan
batangnya sebagai kontruksi bangunan. Jenis yang biasa dipasarkan
yaitu B. gymnorrhiza buahnya dapat diolah menjadi kue dan X.
granatum dimanfaatkan sebagi kayu bulat
MANSAI, Yulinda Yulasti
Pemanfaatan palem oleh etnik Randawaya di pulau Yapen.
Fahutan Unipa, 2003. 28 cm
PALEM - PEMANFAATAN
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan palem oleh
etnik Randawaya. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif
dengan teknik observasi. Variabel yang diamati meliputi informasi
etnobotani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etnik Randawaya di
Kampung Warironi, Waita dan Tarei dalam kehidupan sehari-harinya
memanfaatkan 12 jenis palem dari 3 sub famili yaitu Arecodeae 6
jenis, Calamoideae 4 jenis dan Nypoideae yaitu jenis Nypa
fruticans Wurmb. Pemanfaatannya yaitu sebagai bahan makanan dan
minuman, bahan bangunan, bahan obat-obatan, bahan minyak, bahan
penyegar, energi, senjata dan perkakas serta ritual/upacara adat.
MARDIYONO, Moh. Sholeh
Pengujian sifat elastisitas dan keteguhan tekan kayu sowang
(Xanthostemon novaguinensis Val.) Asal Doyo Transad Sentani
Jayapura.
Fahutan Unipa, 2003.
XANTHOSTEMON NOVAGUINENSIS VAL.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai keteguhan lentur
mutlak (MOR), modulus elastisitas (MOE), keteguhan tekan sejajar
serat dan keteguhan lurus serat. Menggunakan metode deskriptif
dengan teknik observasi. Variabel yang diamati meliputi beberapa
sifat mekanika kayu, kadar air serta kerapatan. Berdasarkan hasil
penelitian nilai rata-rata keteguhan lentur mutlak (MOR) pada
kondisi kering udara sebesar 2018,278 Kg/Cm2. Nilai MOR semakin
menurun dari pangkal ke ujung batang. Rata-rata modulus
elastisitas pada kondisi kering udara sebesar 708.335,195 Kg/cm2.
Kekakuan kayu semakin meningkat dari arah pangkal ke ujung.
Keteguhan tekan sejajar serat sebesar 1.015,195 Kg/Cm2. Nilai
tekan sejajar serat tertinggi pada bagian ujung diikuti bagian
pangkal dan bagian tengah batang. Nilai rata-rata keteguhan tekan
tegak lurus serat sebesar 364,537 kg/Cm2. Nilai tertinggi pada
bagian pangkal diikuti bagian ujung dan tengah batang. Kadar air
pada kondisi kering udara sebesar 13,741per dan kerapatan sebesar
1,109 g/mm2. Nilai pengujian sifat elastisitas dan keteguhan
tekan kayu X. novaguinennsis termasuk dalam kayu kelas satu jika
didasarkan pada standar klasifikasi Lembaga Penelitian Hasil
Hutan (LPHH) dan Karnasudija (1978) dibandingkan dengan
klasifikasi yang tepat oleh United State Forest Product
Loboratory (USFPL).
MEWAL, Rusdy
Kajian konsep Igya Ser Hanjop pada kawasan cagar alam Pegunungan
Arfak Manokwari.
Fahutan Unipa, 2003.
KONSERVASI - PEGUNUNGAN ARFAK
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan konsep igya
ser hanjop sebagai suatu konsep pengawasan pengelolaan sumberdaya
alam hayati dan mengetahui implementasi konsep tersebut pada suku
besar Arfak. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan
teknik studi kasus. Variabel yang diamati meliputi kewajiban yang
harus ditaati oleh masyarakat terhadap konsep igya ser hanjop dan
implementasinya terhadap kawasan konservasi. Hasil kajian dari
konsep igya ser hanjop pada suku besar arfak bahwa kegiatan
perburuan satwa dengan menggunakan senapan angin masih dilakukan
pada daerah-daerah konservasi. Walaupunaktifitas perlindungan
terhadap kupu-kupu sayap burung (Troides obloruacalatus) dalam
bentuk penangkapan. Aktifitas perburuan oleh masyarakat suku
Moule dengan menggunakan alat-alat tradisional seperti
busur,/panah, parang, dan anjing sebagai hewan pelacak, pemburu
dan penangkap. Jika ditinjau dari aspek konservasi maka jumlah
satwa buruan yang diperoleh dengan menggunakan busur/panah
terbatas sehingga lebih menjamin perlindungan dan pelestarian
habitat satwa. Keberhasilan konsep igya ser hanjop dapat efektif
terlaksana jika ketentuan yang telah ditetapkan oleh Andipoy
dapat ditaati dan diterapkan oleh seluruh masyarakat asli Arfak
maupun non Arfak yang mendiamai kawasan penyanggga Cagar Alam
Pegunungan Arfak Manokwari
2002
ADMAN, Burhanudin
Respon pertumbuhan pucuk Araucaria cunninghamii Sw. yang dikultur
secara in vitro terhadap tiga jenis media dasar.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
A. CUNNINGHAMII - PERTUMBUHAN
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui media dasar terbaik
bagi pertumbuhan pucuk Araucaria cunninghamii Sw. secara in
vitro. Penelitian Ddilaksanakan di laboratorium Bioteknologi
Faperta Unipa selama empat bulan. Pada penelitian ini dibuat tiga
perlakuan yaitu media anderson, MS dan WPM. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa media WPM, mampu menyebabkan terbentuknya
kalus. Faktor penghambat keberhasilan kultur adalah adanya
pencoklatan yang terjadi 2-3 hari setelah penanaman. Indikasi
terjadinya pencoklatan adalah matinya sel-sel eksplan. Selain
itu faktor penghambat lain adalah terjadinya kontaminasi akibat
teknik sterilisasi yang belum tepat, yang mengakibatkan kultur
terserang jamur
AGUSTINA, Titing
Pengaruh tingkat dosis dan jenis mulsa dalam penanggulangan gulma
terhadap pertumbuhan dan produksi kedelai (Glycine max (L.) Merr).
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
GLYCINE MAX - PENANGGULANGAN GULMA
Abstrak
Penelitian ini merupakan percobaan faktorial yang dirancang
dengan menggunakan rancangan acak lengkap. Perlakuan yang
diberikan terdiri atas faktor Mulsa (Mulsa gamal dan Mulsa
alang-alang), sedangkan dosis yang diberikan terdiri dari tiga
taraf yaitu 0 gr, 96 gr dan 288 gr/pot. Berdasarkan hasil
penelitian diketahui bahwa pemberian mulsa gamal dan alang-alang
memberikan pengaruh yang nyata pada pertumbuhan dan produksi
kedelai. Pemberian dosis mulsa 192 g/pot merupkan dosis terbaik
untuk meningkatkan tinggi tnman kedelai, bobot brangkasan kering,
jumlah buku subur, jumlah polong total, jumlah polong isi, jumlah
biji dan bobot biji pertanaman
AGUTE, Hendrikus S. O
Pengaruh program pengembangan teluk cenderawasih (Cenderawasih
bay coastal area development, CCAD) terhadap peningkatan peran
wanita dalam ekonomi rumah tangga di desa Warami kecamatan
manokwari kabupaten Manokwari.
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
EKONOMI RUMAH TANGGA - PERAN WANITA
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya
peningkatan pendapatan bagi tenaga kerja wanita pada proyek CCAD
III di desa Warami. Peningkatan peran wanita tersebut tercermin
pada pola pembagian kerja, pendapatan, dan pengambilan keputusan.
Sedangkan faktor yang mempengaruhinya adalah umur, pendidikan
formal/non formal, jumlah anggota keluarga, serta curahan jam
kerja. Peningkatan peran tersebut diketahui dengan cara
membandingkan peran wanita sebelum adanya proyek CCAD III dan
sesudah adanya proyek. Metode yang digunakan adalah evaluatif
yaitu upaya penilaian perubahan yang terjadi akibat tindakan pada
waktu tertentu. Subyek penelitian ini adalah suami dan isteri
yang terlibat pada proyek tersebut. Hasil dari penelitian ini
menunjukkan bahwa dengan adanya pembinaan pada tenaga kerja
wanita menyebabkan terjadinya kenaikan pendapatan sebesar
280,120per, bergesernya pola pembagian kerja (65per), dan
kecenderungan perubahan pola pengambilan keputusan (53,87per).
Secara umum faktor yang sangat mempengaruhi perubahan tersebut
adalah umur dan curahan jam kerja
AIBEKOB, Herry Herman
Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional pada masyarakat
suku Biak di desa Duai Kecamatan Numfor Timur kabupaten Biak
Numfor.
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
TUMBUHAN OBAT - SUKU BIAK
Abstrak
Penelitian dilakukan untuk mengetahui dan mengidentifikasi
pemanfaatan spesies tumbuhan yang digunakan sebagai obat
tradisional pada masyarakat Suku Biak di Desa Duai Numfor timur.
Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan teknik wawancara
semi struktural. Variabel yang diamati meliputi spesies,
pemanfaatan, informasi botanis, informasi ekologis, dan informasi
sosiokultur masyarakat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan
didapati ada 35 spesies tumbuhan dari 24 famili yang digunakan
sebagai tumbuhan obat. Tumbuhan-tumbuhan tersebut digunakan untuk
mengobati 19 jenis penyakit
AMIR, La
Tingkat adopsi teknologi peternakan ayam burasa di lembah Prafi
(kasus di desa Subsay, Aimasi dan Wariori).
FPPK Unipa, 2002. 28 cm
AYAM BURAS - ADOPSI TEKNOLOGI
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan
tingkat adopsi teknologi peternakan ayam buras pada peternak suku
Arfak, Timor dan peternak suku Jawa. Metode yang digunakan adalah
metode deskriptif dengan teknik studi kasus, pengambilan cotoh
dilakukan secara acak sederhana sebesar 30per. Variabel yang
diamati meliputi variabel utama; teknologi pencagahan dan
pemberantasan penyakit, teknologi penetasan dan pembibitan,
teknologi pemeliharaan dan teknologi pakan. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa tingkat adopsi teknologi peternakan pada ketiga
suku umumnya masih rendah kecuali pada beberapa faktor yaitu
teknologi seks ratio (90per), pemberian pakan (100per) pada suku
Arfak dan teknologi pengadaan obat-obatan (90per), seks ratio
(90per) dan pemberian pada suku Timur serta teknologi sanitasi di
kandang (72,22per), pengadaan obat-obatan (80,95per),
pemeliharaan DOC (72,22per), seks ratio (88,89per), cara
pemberian pakan (100per), kandang (100per), kandang brooder
(66,67per), pemisahan umur (72,22per) dan pembedaan pakan
(72,22per) pada suku Jawa. Dapat disimpulkan peternak suku Jawa
memiliki tingkat adopsi teknologi peternakan ayam buras lebih
tinggi daripada dari ketiga suku peternak yang terdapat di Lembah
Prafi.
ANARI, Susana
Interaksi genotipa X lingkungan dan stabilitas daya hasil
beberapa varietas kacang tanah (Aranchis hypogea L.).
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
RACHYS HIPOGAEA - INTERAKSI GENOTIPA X
Abstrak
Untuk meningkatkan produktifitas kacang tanah diperlukan
varietas-varietas unggul. Varietas yang unggul dapat diketahui
melalui interaksi antara genotipa dan lingkungan, dimana varietas
yang unggul adalah varietas yang mampu bertahan pada kondisi
lingkungan yang berbeda dan produksi yang tinggi. Penelitian yang
dilakukan menunjukkan bahwa lokasi Amban adalah lokasi yang mampu
memberikan hasil yang baik bagi produksi kacang tanah
dibandingkan lokasi SP3 Prafi. Sedangkan varietas yang memberikan
hasil baik adalah varietas Panther yaitu sebesar 0,67 ton per ha,
bila dibandingkan varietas lain seperti banteng dan lokal kebar
merah. Secara umum hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada
interaksi antara varietas (genotipa) dengan lokasi (lingkungan)
ANDOY, Elvis Erikson Sonny
Studi populasi rusa Timor (Cervus timorensis) dan perburuan oleh
penduduk di desa Poo, Tomer dan Sota dalam taman Nasional Wasur
Merauke.
FPPK Unipa, 2002. 28 cm
CERVUS TIMORENSIS - POPULASI DAN PERBURUAN
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan rusa,
struktur populasi, kondisi habitat secara umum dan perburuan yang
dilakukan oleh penduduk di desa Poo, Tomer dan Sta. Metode yang
digunakan yaitu metode deskriptif dengan teknik Stratifikasi
menurut Caughley 1977 dalam Alikodra 1990. Varabel yang diamati
meliputi populasi rusa (kepadatan dan Struktur populasi) dan
berburu rusa. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kepadatan
populasi rusa dipadang rumput desa Poo yang luasnya 200 ha
sekitar 12,31 ekor, desa Tomer luasnya 200 ha; 14,06 ekor, desa
Sota yang lausnya 100 ha ; 19,5 ekor. Total kepadatan populasi
seluruhnya 21,43 ekor. Struktur populasi Cervus timorensis pada
ketiga padang rumput tersebut didominasi oleh rusa berumur dewasa
yaitu jantan 25,07per dan betina 18,42per, dengan seks ratio
adalah 1;0,56. Terdapat tiga habitat yaitu; zona 1 daerah rawa,
zona 2 daerah padang rumput dan zona 3 daerah hutan terbuka dan
semak belukar. Ketiga padang rumput tersebut didominasi oleh
rumput Pseudoraphis spinescens, Phragmites karka, Imperta
cylindrica, Chrysopogon aciculatus Spp. dan sebagainya. Cara
berburu yaitu secara musiman 5per, sedangkan 95per tidak musiman.
Alat yang digunakan adalah panah 29,45per, tombak 20,55per,
parang 11,77per, anjing pemburu 28,66per. Jenis kelamin rusa yang
diburu adalah jantan 49,46per, betina 40,86peer, dewasa 9,67per.
Tidakan yang diambil oleh masyarakat terhadap perburuan melapor
ke petugas 29,78per dan dibiarkan saja 70,21per. Pengetahuan
masyarakat terhadap rusa sebagai satwa yang dilindungi yaitu
84,61 tahu.
ANDRIYANI, Rini
Perbandingan kinerja ayam kampung antara dataran tinggi Uwapa
dengan dataran rendah Wanggar di kabupaten Nabire.
FPPK Unipa, 2002. 28 cm
AYAM KAMPUNG - KINERJA
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pebandingan anatara
kinerja (sifat kualitatif; warna bulu, warna kulit, warna shank,
panjang betis dan jumlah telur perperiode peneluran) ayam kampung
pada dataran tinggi dan dataran rendah. Metode yang digunakan
adalah metode deskriptif dengan teknik studi komparatif. Variabel
yang diamati meliputi; pengamatan terhadap sifat kualitatif
(bentuk jengger, warna bulu, jumlah warna bulu, warna kulit dan
warna slank) dan sifat kuantitatif (bobot badan, ppanjang slank,
panjang betis dan jumlah telur). Hasil penelitian menunjukkan
bahwa terdapat kesamaan pola sifat kualitatif antara dataran
tinggi Uwapa dan dataran rendah Wanggar. Artinya bahwa sifat
kualitatif yang terdapat pada dataran tinggi juga terdapat pada
daratan rendah dengan sebaran yang sama. Sifat kualitatif
tersebut yaitu jengger jantan berbetuk mawar, betina ercis, warna
bulu hiatm lebih dominan (campuran dengan warna lainnya), warna
kulit kuning dan putih, warna shank kuning lebih banyak. Sifat
kuantitatif untuk ayam kampung pada dataran tiggi memiliki ukuran
yang lebih besar dibandingkan pada dataran rendah.
APASERAY, Yohanes
Pengaruh penggunaan bubuk daun cengkeh (Eugenia aromatica) dalam
mengendalikan penyakit layu (Fusarium oxyporum f. sp.
lycopersici) pada tanaman tomat .
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
TOMAT - FUSARIUM OXYSPORUM
Abstrak
Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen dengan
rancangan acak lengkap (RAL) terdiri atas lima perlakuan yaitu 0,
5, 10, 15 dan 20 gr dosis bubuk daun cengkeh (BDC). Variabel yang
diamati pada penelitian ini adalah intensitas penyakit (IP) layu
dan Efikasi fungisida nabati bubuk daun cengkeh (BDC). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pemberian BDC memberikan pengaruh
terhadap intensitas serangan penyakit layu pada umur 12 HST.
Namun pada umur 4 dan 8 HST tidak memberikan pengaruh. Sedangkan
naiknya dosis BDC yang diberikan mampu menurunkan IP. Sedangkan
nilai efikasi keempat dosis yang diberikan pada umur 12 HST
berbeda walau mempunyai kemampuan yang sama dalam menekan IP.
Dosis terbaik yang disarankan untuk digunakan adalah dosis BDC 10
gram per pot
ARIFIN, Haerul
Trend produksi kayu bulat HPH PT. Prabu Alaska Unit I kabupaten
Fak-fak.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
PRODUKSI KAYU BULAT
Abstrak
Penelitian ini bertujuan menganalisis kecenderungan produksi kayu
bulat pada RKT rentang waktu lima tahun kedepan (2002-2006),
serta faktor-faktor yang mempengaruhi produksi. Metode yang
digunakan adalah studi kasus, dan data dianalisa menggunakan
analisa time series (Trend Musiman) dan analisa fungsi produksi
dengan teknik regresi berganda (Backward Elimination). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa terjadi kecenderungan penurunan
produksi yang berfluktuasi pada bulan kering dan bulan
basah.Penurunan produksi rata-rata perperiode pada bulan kering
sebesar 350,69 m3 dan bulan basah sebesar 176,27 m3. Prediksi
produksi kayu bulat lima RKT kedepan cenderung berfluktuasi,
mengikuti bulan kering dan bassah. faktor yang paling
mempengaruhi produksi adalah penyaradan.
ASMURUF, Abner
Pemanfaatan nipah (Nypa fruticans Wurmb) oleh lima suku di
Bintuni.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
NYPA FRUTICANS - PEMANFAATAN
Abstrak
Penelitian dilaksanakan selama satu bulan (24 Desember - 24
Januari 2002), menggunakan metode deskriptif dengan teknik
observasi lapangan. Subyek penelitian adalah 5 suku dibintuni
yaitu suku Irarutu, Kuri, Sebyar, Sumuri dan Wamesa. Penentuan
responden contoh dilakukan acak sederhana pada anggota masyarakat
dari setiap suku dengan mengambil 10 KK. Pemanfaatan nipah oleh
masyarakat dari lima suku menyebar merata, dimana tercatat 8
bagian yang dimanfaatkan. Lima bagian diantaranya memiliki
manfaat lebih dari satu dengan total keseluruhan manfaat adalah
19 macam yang tergolong dalam 7 bentuk pemanfaatan yaitu sebagai
bahan makanan, minuman, bangunan, obat, energi, perkakas dan
ritual
BAAN, Yohrina
Morfologi dan tingkah laku lebah madu pada peternakan lebah madu
di kecamatan Muara Tami Kotamadya Jayapura.
FPPK Unipa, 2002. 28 cm
LEBAH MADU - MORFOLOGI DAN TINGKAH LAKU
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui morfologi dan tingkah
laku lebah madu di kecamatan Muara Tami. Metode penelitian ini
menggunakan metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Variabel
yang diamati meliputi; morfologi (panjang tubuh, panjang kepala,
tinggi kepala, panjang antena, panjang dada, panjang kaki (depan,
tengah dan belakang), pajang perut, dan lingkar perut), tingkah
laku (membuat sarang, makan dan berkoloni). Hasil dari penelitian
ini terdapat 2 jenis lebah madu di desa Koya Timur yaitu Apis
mellifera dan Apis cerana. A. mellifera jantan memiliki morfologi
lebih besar dibandingkan A. melliera betina dan jantan betina A.
Cerana. Tinglkah laku bertelur A. mellifera dan a. cerana sama
dengan bentuk telur juga sama pipih memanjang. Metamorfologis a.
mellifera lebih lama dibanding a. cerana. Tingkah laku membuat
sarang kedua lebah masing-masing 3 hari dengan bahan lilin lebah.
Tingkah laku waktu makan kedua lebah pada pagi hari dan sore
hari.
BANJARNAHOR, Jonnar
Eksplorasi jenis-jenis palem di pulau Numfor kabupaten Biak
Numfor.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
PALEM - EKSPLORASI
Abstrak
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan tekhnik
survey lapangan.Data dianalisis secara tabulasi. variabel yang
diamatai meliputi tempat tumbuh, karakter morfologi seperti
batang, duri, daun, bunga, buah dan biji.Penelitian dilaksanakan
di lima desa yaitu Desa Yenburwo, Desa Asaryendi, Desa
Kornasoren, Desa Rarsibo dan Desa Andei. Hasil pelitian
memperlihatkan bahwa di kecamatan Numfor Timur terdapat delapan
jenis palem dari tujuh marga yaitu Areca macrocalyx, Gulubia
costata, Pinanga punicea, Siphokentia sp, Calamus heterochantus,
Callamus hollrungii, Pigafeta fillaris, Licuala sp. dengan tiga
sub famili yaitu Areciideae, Calamoideae dan Coryphoideae.
Umumnya jenis palem tersebut tumbuh di tanah yang datar pada
ketinggian satu sampai empat meter diatas permukaan laut
BARANSANO, Michael Albert
Produksi tataniaga kacang hijau (Phaseolus aureus) di kabupaten
Biak Numfor.
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
TATANIAGA KACANG HIJAU
Abstrak
Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat produksi serta
faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kacang hijau dan aspek
tataniaga pada proses penyalurannya. Penelitian menggunakan
metode deskriptif dengan teknik studi kasus pada produksi kacang
hijau tahun 2001. Data diolah secara tabulasi dengan pendekatan
regresi linear berganda. Dari hasil penelitian diketahui bahwa
pada tahun 2001 rata-rata produksi perhektar adalah 75,19kg,
dengan total produksi kabupaten Biak Numfor sebesar 4617kg.
Selanjutnya diketahui bahwa produksi kacanghijau dipengaruhi oleh
faktor luas lahan, modal, tenaga kerja, pendidikan, umur,
pengalaman, bibit, pupuk dan obat-obatan. Faktor positif yang
mempengaruhi produksi adalah lahan, tenaga kerja, pengalaman dan
obat-obatan. Sedangkan faktor negatifnya adalah modal,
pendidikan, umur, bibit, dan pupuk. Terdapat empat saluran
tataniaga yaitu produsen-konsumen, produsen-pedagang pengecer,
produsen-pedagang besar-pedagang pengecer, dan produsen-pedagang
pengumpul lokal-pedagang besar-pedagang pengecer. Pedagang besar
berperan sebagai pedagang pengecer sekaligus fasilitator dalam
lembaga tataniaga, disebabkan oleh besarnya modal yang dimiliki.
Hal ini menyebabkan rantai tataniaga menjadi pendek. Keuntungan
terbesar diperoleh produsen pada saluran tataniaga satu, dengan
margin sebesar Rp. 10.000,- serta biaya tataniaga sebesar Rp.
320,-/kg dan keuntungan sebesar Rp. 9,680/kg. Sistem tataniaga
kacang hijau di Biak Numfor sudah efisien, hal ini ditunjukkan
dengan nilai efisiensi tataniaga yang lebih besar dari 100per
BASNA, Abner
Studi evaluasi kemampuan masyarakat menindaklanjuti proyek
pembangunan pertanian berkelanjutan (Sustainable agriculture
development project) secara mandiri : Kasus desa Watariri
kecamatan Oransbari kabupaten Manokwari.
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
PERTANIAN BERKELANJUTAN
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan petani dalam
menindaklanjuti proyek SADP berdasarkan konsep keberlanjutan
serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan
masyarakat dalam menindaklanjuti proyek tersebut. Penelitian
dilaksanakan didesa Watariri kecamatan Oransbari Kabupaten
Manokwari. Metode yang digunakan adalah deskriftif dengan teknik
survei. Pengambilan contoh dengan cara sensus pada para petani
peserta proyek SADP. Data dianalisa secara tabulasi dan statistik
menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kmampuan masyarakat menindaklanjuti proyek SADP secara
mandiri tergolong tinggi, hal ini ditunjukkan dengan kemampauan
masyarakat mempertahankan produktifitas sebesar 93,3per dan
kemampuan mempertahankan efisiensi sebesar 100per. Secara umum
kemampuan masyarakat dalam menindaklanjuti proyek SADP tersebut
dipengaruhi oleh faktor kapasitas manajemen pribadi seperti
pendidikan formal/non formal, umur dan modal. Sedangkan faktor
eksternal yang mempengaruhi adalah harga input dan output di
pasaran
BEBARI, Fedrika
Inventarisasi hama pada tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis
Jack.)di kecamatan Masni kabupaten Manokwari.
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
KELAPA SAWIT - HAMA
Abstrak
Tanaman kelapa sawit sebagai sumber minyak nabati, produksinya
saat ini semakin menurun. Diduga salah satu sebabnya adalah
serangan hama. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan guna
mengetahui hama yang menyerang tanaman kelapa sawit di kecamatan
Masni, meggunakan metode deskriptif dengan teknik observasi
lapang. Lokasi pengamatan seluas 8 ha, dengan intensitas
pengambilan sampel 10per. Pengamatan serangga menggunakan dua
metode yaitu metode nisbi dan metode indeks populasi. Berdasarkan
hasil pengamatan diketahui bahwa di kecamatan Masni ditemukan
lima ordo dari 10 famili hama kelapa sawit yaitu Coleoptera,
Hemiptera, Lepidoptera, Mamalia dan Orthoptera. Kerusakan yang
paling dominan ditemukan pada daun kelapa sawit
BISRI, Makmun
Distribusi kerja dan pendapatan usahatani pada masyarakat suku
sough di desa Saubeba kecamatan Manokwari kabupaten Manokwari.
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
PENDAPATAN USAHATANI - DISTRIBUSI KERJA
Abstrak
Upaya menjadikan sektor pertanian sebagai sektor ekonomi andalan
menjadikan para petani diharapkan mampu mengembangkan dan
mengelola usahataninya secara mandiri. Peningkatan peran petani
dalam mengelola usahataninya menjadikan sebuah peluang untuk
menilai sejauhmana distribusi kerja para petani terhadap
cabang-cabang usahataninya. Selain itu diperlukan pula
pengetahuan tentang seberapa besar kontribusi pendapatan petani
dari cabang-cabang usaha taninya terhadap keseluruhan pendapatan
usahatani. Dan sekaligus melihat efisiensi kerja petani pada
setiap cabang usahataninya. Penelitian ini menggunakan metode
deskriptif dengan teknik studi kasus. Dimana kasus yang dijadikan
sorotan dalam penelitian adalah distribusi kerja dan pendapatan
usahatani pada masyarakat suku Sough yang tinggal menetap didesa
Saubeba dengan cabang usahatani seperti perkebunan, tanaman
pangan dan tanaman hortikultura. Berdasarkan hasil penelitian
didapati bahwa cabang usahatani yang mendapatkan curahan tenaga
kerja terbanyak adalah cabang usaha perkebunan, selanjutnya
diikuti oleh hortikultura dan terakhir adalah tanaman pangan.
Pendapatan para petanai sangat ditentukan oleh cabang-cabang
usahatani ini, dimana yang paling rendah memberikan kontribusi
pendapatan adalah cabang usaha tanaman hortikultura. Pada
pelaksanaan kerja, efisiensi kerja tertinggi dicapai pada cabang
usaha tani perkebunan kakao
BUINEY, Ruben A. N.
Intensitas dan laju perkembangan penyakit (Pyriculari oryzae)
pada tanaman padi di desa Aimasi Kecamatan Prafi Kabupaten
Manokwari.
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
PADI - INTENSITAS PENYAKIT
Abstrak
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan informasi bagi PPL
untuk dapat memberikan saran dan tindakan kepada para petani
dalam menaggulangi penyakit Pyricularia oryzae. Penelitian ini
dilakukan di desa Aimasi dengan tujuan mengetahui intensitas
penyakit Pyricularia oryzae berikut laju pertumbuhannya.
Penelitian menggunakan metode deskriptif pada pengamatan
intensitas serangan berat, sedang dan ringan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa intensitas serangan penyakit semakin bertambah
dengan semakin bertambahnya umur setelah tanam. Faktor yang
paling mempengaruhi penambahan intensitas penyakit adalah
pengairan
BUNTU, Esther
Tingkat kesukaan burung cenderawasih (Parasidae sp.) terhadap
beberapa jenis pakan di taman burung dan taman anggrek Biak.
FPPK Unipa, 2002. 28 cm
PARASIDAE SP - PAKAN
Abstrak
Penelitian in menggunakan metode deskriptif dengan teknik
observsi. Variabel yang diamati m eliputi jenis pakan, tingkat
kesukaan pakan dan jumlah konsumsi, burung cenderawasih yang
digunakan sebanyak 32 ekor. Hasil penelitian ini menunjukka bahwa
dari ketujuh jenis pakan (ulat sagu, pisang, pepaya Muntinga sp.,
Myristica sp., Pandanus sp. dan Ficus sp.) yang diberikan, ulat
sagu merupakan pakan yang paling disukai oleh burung Paraciadae
sp. bila dilihat dari persentasenya dan waktu makan lebih dahulu
habis bila dibandingkan dengan pakan lainnya. Namun bila dilihat
dari volume makan, maka pepaya mempunyai volume tertinggi (41,14
g/ekor/hari). Hal ini disebabkan karena terbatasnya pakan ulat
sagu, sedangkan pepaya tidak. Pada waktu pakan ulat sagu habis
maka burung akan lebih dominan mengkonsumsi pepaya.
BUTAR, Anna Butar
Pengaruh tingkat konsentrasi asam sulfat (h2SO4) dan lama
perendaman terhadap perkecambahan benih melinjo (Gnetum gnemon
Linn.).
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
GNETUM GNEMON - PERKECAMBAHAN
Abstrak
Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok faktorial
yaitu lama perendaman (20, 30, 40, 50 dan 60 menit) dan tingkat
konsentrasi H2SO4 (10, 20 dan 30per). Variabelnya meliputi
persen perkecambahan, laju perkecambahan, nilai puncak, nilai
perkecambahan, perkecambahan harian rata-rata, tinggi kecambah
dan panjang akar. Hasil analisis ragam menunjukkan pada faktor
konsentrasi H2SO4 memberikan pengaruh yang nyata untuk persen
perkecambahan, tinggi kecambah dan panjang akar dengan
menggunakan uji BNT (0,50) terlihat bahwa konsentrasi H2SO4 10per
dan 30per tidak memberikan pengaruh yang berbeda, tetapi
memberikan pengaruh yang berbeda dengan konentrasi 20per.
Sedangkan secara tabulasi, pada laju perkecambahan terlihat bahwa
konsentrasi lainnya dengan lama perrendaman 30 menit. variabel
perkecambahan harian rata-rata, nilai puncak dan nilai
perkecambahan memperoleh nilai tertinggi pada konsentrasi 20per
pada lama perendaman 50 menit. Maka dapat disimpulkan semakin
lama perendaman maka waktu yang dibutuhkan untuk berkecambah
semakin cepat
DATUBARA, Ranto Darwis
Upaya peningkatan pendapatan dan pengaruhnya terhadap beberapa
unsur kebudayaan masyarakat arfak pada kawasan cagar alam
pegunungan arfak manokwari.
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
SUKU ARFAK - PENINGKATAN PENDAPATAN
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pendapatan
yang disumbangkan oleh usaha pemeliharaan kupu-kupu sayap burung
dan pengaruh pendapatan tersebut terhadap pemilikan peralatan
serta perolehan pengetahuan baru dibidang pakan ternak kupu-kupu
dan ubi jalar dan selanjutnya melihat pengaruh pendapatan dari
usaha tersebut pada hubungan kekerabatan. Pendekatan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriftif
terhadap kasus peternak kupu-kupu di desa Warbiadi kecamatan
Oransbari dan desa Mupi kecamatan Manokwari. Variabel yang
diamati adalah peralatan (peralatan bertani, berburu dan
peralatan rumah tangga), pengetahuan (penyediaan bibit, penanaman
bibit dan pemeliharaan tanaman) dan pendapatan. Berdasarkan hasil
penelitian ini diketahui bahwa kontribusi pendapatan dari hasil
usaha ternak kupu-kupu masih relatif kecil. Sedangkan pendapatan
dari sektor usaha ini berkorelasi positif dengan peningkatan daya
beli masyarakat terhadap peralatan. Sebaliknya respon masyarakat
terhadap pengembangan pengetahuan berbeda antara desa Mupi dengan
desa Warbiadi. Di desa Mupi pengetahuan sudah dianggap sebagai
bagian dari kebutuhan yang harus dipenuhi
DAWAN, Doddy Noak
Tingkat penerapan teknologi intensifikasi khusus (INSUS)
usahatani padi sawah oleh petani peserta insus di desa Prafi
mulya (SP-1) kecamatan Prafi kabupaten Manokwari.
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
INTENSIFIKASI KHUSUS - PADI SAWAH
Abstrak
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Mei hingga Juni 2002.
Bertujuan mengetahui tingkat penerapan teknologi insus usahatani
padi sawah dan mempelajari pengaruh faktor-faktor sosial ekonomi
terhadap penerapan teknologi insus oleh para petani peserta.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik studi
kasus. Variabel yang diamati adalah tingkat pengetahuan petani
terhadap teknologi insus, tingkat pendidikan petani, pengalaman
bertani, frekuensi mengikuti penyuluhan, modal usahatani, serta
tingkat kesesuaian inovasi beserta kerumitannya. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa tingkat penerapan teknologi insus oleh para
petani usahatani padi saawah tergolong rendah. Faktor sosial
ekonomi yang berpengaruh nyata dalam penerapan teknologi insus
adalah tingkat kesesuaian inovasi sedangkan faktor lainnya tidak
berpengaruh nyata
DOMELIA, Deci
Evaluasi rehabilitasi lahan kritis dalam areal penghijauan
gerakan Sentani sadar lingkungan sentani darling) di daerah
tangkapan air (DTA) danau sentani kabupaten Jayapura.
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
REHABILITASI LAHAN KRITIS
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan
rehabilitasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan
penghijauan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif
dengan teknik survey dan wawancara semi struktural. Variabel yang
diamati meliputi pemeliharaan terhadap tanaman setelah kegiatan,
jumlah tanaman jadi, riap tanaman, persepsi masyarakat dan
pendapatan masyarakat. hasil penelitian menunjukan bahwa kegiatan
gerakan sentani Darling yang dilaksankan tahun 1994/1995 dengan
tingkat keberhasilan 1,60per di kategorikan sangat jelek sehingga
ini dikatan gagal. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
kegagalan kegiatan teersebut yaitu tidak adanya sosialisasi,
sikap malas tahu msyarakat setempat dan tidak adanya pemeliharaan
tanaman setelah kegiatan penanaman
DUWIT, Nelce
Identifikasi jenis angrek epifit pada kawasan hutan Mangrove desa
Waijan kecamatan Sorong.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
ANGREK EPIFIT - IDENTIFIKASI JENIS
Abstrak
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik
survei. Pengambilan spesimen dilakukan secara purposif sesuai
keberadaan tumbuh dari angrek epifit. Variabel yang diamati
adalah karakter morfologi dan habitat. Terdapat dua genus angrek
epifit yang terdiri dari 8 jenis di kawasan hutan mangrove desa
Waijan yaitu : Bulbophyllum sp., D. anttennatum Lindl, D.
schulleri J. J. S., D. similliae, Denrobium sp1, Denrobium sp2,
Dendrobium sp3 dan Dendrobium sp4. Deskripsi morfologi adalah
sebagai berikut : pertumbuhan batang umumnya sympodial, berumbi
semu dan homoblastik, tetapi ada juga yang heteroblastik yaitu
Bulbophyllum sp. Akar umumnya berwarna putih kecoklatan dan putih
kehitaman. Bentuk lipatan daun duplikatif, warna umumnya hijau,
tata letak alternate kecuali pada Bulbophyllum sp. daun terletak
pada ujung umbi semu. Tipe pembungaan solitair terletak pada
tangkai dan mempunyai 3 buah sepal, yaitu 2 sepal lateralia dan 1
sepal dorsale. Angrek epifit berasosiasi dengan Carallia
brachiata, Ceriops tagal, Heritiera littoralis, Rhizophora
mucronata, Xylocarpus granatum dan Xylocarpus mollucensis. inggi
pohon inang rata-rata 13.4 m diameter 16.17 cm dan ketinggian 1
- 19 m dari permukaan tanah dan jarak dari tepi pantai 5 - 180 m
DWICAHYANI, Endah
Pertumbuhan dan Hasil terung (Solanum melongena L.) pada berbagai
kombinasi taraf konsentrasi dan waktu pemberian EM-4.
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
SOLANUM MELONGENA - PERTUMBUHAN
Abstrak
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan menggunakan
rancangan acak lengkap yang terdiri atas 13 perlakuan taraf
konsentrasi dan waktu pemberian EM-4, yaitu Kontrol, 4cc/L saat
tanam, 4cc/L saat 2 MST, 4 cc/L saat 4 MST, 4 cc/L saat 6 MST, 8
cc/L saat tanam, 8 cc/L saat 2 MST, 8 cc/L saat 4 MST, 8 cc/L
saat 6 MST, 12 cc/L saat tanam, 12cc/L saat 2 MST, 12 cc/L saat 2
MST, 12 cc/L saat 4 MST. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak
3 kali. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanamn, jumlah
cabang, umur mulai bunga, jumlah bunga, fruit set, bobot buah,
dan diameter buah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
perlakuan yang diberikan tidak berbeda nyata dengan kontrol.
perlakuan dengan konsentrasi 12 cc/L saat MST memberikan pengaruh
tertinggi pada komponen pertumbuhan dan produksi terung
dibandingkan perlakuan lain dengan hasil pengamatan sebagai
berikut tinggi tanaman pada umur 10 MST 72,67 cm, umur mulai
berbunga 46 hari, fruit set 31,03per, jumlah buah sebanyak 5
buah, bobot buah 160 gram, diameter buah 50 mm dan panjang buah
21,37 cm
DWIWURYANI, Ima
Pengaruh berbagai taraf berbagai konsntrasi rooton F terhadap
pertumbuhan setek jeruk nipis tanpa biji (Citrus aurantifolia
Swingle).
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
C. AURANTIFOLIA - PERTUMBUHAN STEK
Abstrak
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan menggunakan
rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan ulangan 4 kali.
Variabel pengamatan meliputi waktu mulai tunas, jumlah tunas,
panjang tunas, panjang akar, jumlah akar primer, bobot basah
akar, bobot kering akar, persen setek bertunas dan persen setek
berakar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsetrasi rooton
F 0,6 g/10ml memberikan hasil rata-rata terbaik pada jumlah
tunas, panjang tunas, panjang akar, jumlah akar primer, bobot
basah akar dan bobot kering akar, sedangkan pada persen setek
akar bertunas dan persen setek berakar terbaik dihasilkan
konsentrai rooton F 0,9 g/10ml. Konsentrasi Rooton F yang
diberikan mengahsilkan hubungan yang linier positif antara umur
tanaman dengan panjang tunas dan persen stek bertunas. Terdapat
hubungan yang linier positif antara konsentrasi Rooton F dengan
panjang akar, bobot basah akar, bobot kering akar, sedangkan
waktu mulai bertunas dan persen setek berakar menghasilkan
hubungan yang kuadratik.
FABANYO, M. Bisri
Pengaruh pemberian pupuk NPK pada berbagai media campuran tanah
dan serbuk gergaji terhadap pertumbuhan semai Paraserianthes
falcataria (L) Nielson.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
P. FALCATARIA - PERTUMBUHAN
Abstrak
Penelitian ini dilaksanakan di sunkup (rumah plastik) pada
ketinggian 110 meter diatas permukaan laut. Peneliian ini
menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap
berfaktor. Faktor pertama adalah media semai yang terdiri dari
empat taraf dan faktor kedua adalah pupuk NPK yang terdiri dari
dua taraf. Variabel yang diamati meliputi tinggi semai, diameter
semai, berat segar semai, berat kering semai, nisbah tajuk akar
dan indeks mutu semai. Hasil penelitian menunjukkan interaksi
perlakuan media dengan pemupukan memberikan pengaruh yang sangat
nyata terhadap respon pertumbuhan tinggi, diameter, berat segar
dan berat kering semai. Sedangkan nisbah tajuk akar dan indeks
mutu semai tidak menunjukkan nilai pengaruh yang nyata. Hasil
terbaik diperoleh pada media tanah campur serbuk gergaji dengan
pemberian pupuk NPK 1,0 gram/pot. Parameter terbaik dari
perlakuan ini adalah adanya tinggi, diameter, berat segar, berat
kering dan indeks mutu semai. Sedangkan hasil terbaik pada nisbah
tajuk akar diperoleh pada perlakuan media tanah tanpa serbuk
gergaji, dengan pemberian pupuk NPK 1,0 gram/pot
GULTOM, Rikson Parlindungan
Struktur dan komposisi tegakan pada kebun plasma nutfah PT.
Dharma Mukti Persada kabupaten Manokwari.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
TEGAKAN HUTAN - STRUKTUR DAN KOMPOSISI
Abstrak
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik
survei. Variabel yang diamati adalah Struktur dan komposisi
tegakan hutan pada seluruh fase pertumbuhan dan tegakan hutan.
Jumlah jenis vegetasi yang ditemukan di lokasi penelitian
sebanyak 49 jenis, terdiri dari 29 jenis komersil (pohon 23
jenis, tiang 29 jenis, pancang 26 jenis dan semai 27 jenis) dan
38 jenis non komersil (pohon 4 jenis, tiang 8 jenis, pancang dan
semai masing-masing 7 jenis). Jenis komersil yang paling dominan
pada fase pohon adalah Eugenia anomalia, diikuti Vatica papuana
dan Calophyllum spp., fase tiang Eugenia anomalia diikuti
Calophyllum spp. dan Canarium indicum. Fase pancang yaitu
Calophyylum spp., Canarium indicum, Vatica papuana dan semai
yaitu Calophyllum spp., Vatica papuana, Syzigium verstegii. Jenis
non komersil tingkst pohon adalah sterculia parkinsonii,
Artocarpus integra dan Haplolobus floribunda, tiang adalah
Haplolobus floribunda, Buchania arborescens, Lansium domesticum
dan semai adalah Lansium domesticum, Haplolobus floribunda dan
Sterculia parkinsonii
HAMIN
Intensitas kerusakan hutan di hulu sub daerah aliran sungai Muari
Oransbari Manokwari.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
DAERAH ALIRAN SUNGAI - KERUSAKAN HUTAN
Abstrak
Penelitian dilakukan dengan teknik observasi lapang. variabel
yang diamati adalah debit aliran air maksimum dan minimum,
persentase kerapatan tajuk ata areal kerusakan dan luas areal
dari bentuk-bentuk kerusakan hutan. Hasil peneliian menunjukkan
perbandingan debi aliran air minimum dan maksimum adalah 1 : 322,
ini berarti bahwa kawasan hulu di sub DAS Muari Oransbari telah
mengalami kerusakan. Intensitas pembukan lahan sebesar 37,77per
dengan persentase tajuk 92,12per terdiri dari topografi datar
mempunyai intensitas sebesar 0,06per dengan persentase tajuk
20,06per dan topografi miring (lebih besar dari 5per) memiliki
intensitas sebesar 37,71per dengan persentase tajuk 72,06per.
Penyebab kerusakan adalah perladangan berpindah, padang
penggembalaan, penebangan liar, perambah, jalan, longsor, umur
tegakan hutan selain itu keberadaan Kopermas memiliki andil dalam
terjadinya kerusakan hutan
HARIYANTI
Status populasi Sommieria leucophylla Becc. (Arecaceae) di
kawasan hutan Andai-Manokwari.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
SOMMEIRIA LEUCOPHYLA - STATUS POPULASI
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status populasi
Sommeiria leucophylla di kawasan Andai-Manokwari. Metode yang
digunakan yaitu metode deskriptif dengan teknik survei. Variabel
yang diamati meliputi kerapatan dan kerapata relatif, frekuensi
dan frekuensi relatif, dinamika populasi, dominansi dan dominansi
relatif, dan profil tegakan. Hasil survei ini menunjukkan bahwa
populasi sommeiria leucophylla di kawasan Andai populasinya
sangat kecil dan tergolong sebagai populasi terancam kepunahan
yaitu sebagai spesies kritis dimana jumalh individu dewasa 50
yang mempunyai kemungkinan punah 50per selama 5 tahun. Olah
karena itu status populasi Sommeiria leupcophylla di kawasan
hutan Andai - MAnokwari sebagai populasi genting.
HASTUTI, Novi Dyah
Analisis tataniaga komoditi kelapa (Cocos nucifera L) asal Numfor
Timur di kota Manokwari.
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
TATANIAGA KELAPA
Abstrak
Penelitian yang dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan
teknik wawancara dan pengamatan pada para petani kelapa di desa
Syoribo, desa Sauribru dan Desa Manggari. Bertujuan mengetahui
fungsi lembaga taniaga, pembentukan harga, saluran tataniaga,
besarnya tataniaga serta besarnya efisiensi tataniaga komoditi
kelapa asal numfor timur di kota Manokwari. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa harga komoditi kelapa sangat ditentukan oleh
para pedagang perantara. Dimana diperoleh margin tataniaga
terbesar pada saluran tataniaga keenam (Rp. 1466,7/buah),
terendah pada saluran pertama (Rp. 500,0/buah). Efisiensi
tataniaga tertinggi pada diperoleh pada saluran ketiga (971,3per)
dan terendah pada saluran ketujuh (395,4per)
HERLINA, Eva
Teknik pembibitan dan penanaman sagu (Metroxylon sagu Rottb.)
oleh penduduk desa Air Besar dan desa Kanantare kecamatan Fakfak
kabupaten Fakfak.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
METROXYLON SAGU - TEKNIK PEMBIBITAN DAN PENANAMAN
Abstrak
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik
wawancara struktural dan pengamatan langsung di lapangan.
Penentuan responden contoh dilakukan secara purposif sebesar
20per dari 51 KK di desa Air Besar dan 27 KK di desa Kanante.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penduduk di kedua desa
melakukan teknik pembibitan sagu secara generatif dengan
menggunakan anakan sagu yang tumbuh pada pangkal pohon induk.
Lokasi penanaman adalah yang dekat dengan sumber air yaitu
sepanjang sungai dan pada tanah berawa
HERNI
Daya tunas, daya tetas dan bobot tetas itik tegal (Anas javanica)
yang digembalakan dan tidak digembalakan di desa Sumber Boga
kecamatan Masni Kabupten Manokwari.
FPPK Unipa, 2002.
ANAS JAVANICA
Abstrak
Penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana sistem peliharaan
perpengaruh terhadap tunas, daya tetas dan bobot tetas Anas
javanica yang digembalakan dan tidak digembalakan di desa Sumber
Boga. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan
teknik studi kasus. Variabel yang diamati meliputi daya tunas,
daya tetas, dan bobot tetas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
daya tunas itik yang tidak digembalakan lebih tinggi yaitu
73,33per dari pada itik yang digembalakan yaitu 69,33per dan unuk
daya tetas diperoleh hasil yang digembalakan lebih tinggi yaitu
82,29per bila dibandingkan dengan itik yang digembalakan
78,77per, sedangkan untuk bobot tetas itik yang digembalakan
yaitu 42,89 g bila dibandingkan dengan yang tidak digembalakan
yaitu 40.59 g. Hasil uji menunjukkan daya tunas, daya tetas dan
bobot tetas itik Anas javanica tidak berbeda nyata (P0.005). Hal
ini berarti sistem pemeliharaan tidak memberikan pengaruh
terhadap variabel yang diamati.
HUSSEIN, Rizald
Jenis-jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh suku irarutu di
desa Furnusu Kecamatan Teluk Arguni kabupaten Fakfak.
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
TUMBUHAN OBAT
Abstrak
Metode penelitian ini menggunakan metode observasi dengan eknik
ekplorasi dan wawancaranya semi srtuktural. Variabel yang diamati
yaitu informasi jenis tumbuhan yang digunaka sebagai obat
tradisional, lokasi tumbuh dan ketinggian. Hasil penelitian ini
memperoleh 40 jenis tumbuhan dari 29 famili yang dimanfaatkan
sebagai tumbuhan obat oleh masyarakat Irarutu. Jenis-jenis
tumbuhan tersebut digunakan untuk mengobati 30 jenis penyakit.
Bagian tumbuhan yang digunakan meliputi daun, batang, akar, kulit
buah, getah dan umbi.Adapun cara pengobatannya yaitu dengan cara
minum, tempel/membalut, tetes, kunyah, gosok, dan tekan. Tumbuhan
itu dapat ditemukan pada ketingian antara 0-10 m dpl.
ICK, Jean Henry
Asosiasi anggrek efifit dan pohon inang pada kawasan hutan
mangrove di pulau Nau kabupaten Yapen Waropen.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
ANGGREK - POHON INANG
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keeratan hubungan
antara anggrek efifit dan pohon mangrove sebagai inang. Metode
yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik survei. Variabel
yang diamati adalah jenis-jenis anggrek dan jenis-jenis pohon
inang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tujuh jenis angrek
yang terdapat di pulau Nau yaitu, Dendrobium platygastrium, D.
malbrownii, Bullpophillum digoelense, Cadetia taylori,
Grammatophyllum Scriptum, Dendrobium ochrantum dan D. antennatum.
Sedangkan jenis-jenis pohon inang adalah Bruguiera sp.,
Sonneratia sp., Rhizophora sp. dan Xylocarpus sp. Hasil
penelitian menunjukkan ada keeratan sebesar 55,94per antara jenis
anggrek dengan jenis pohon inangnya. Dimana jenis anggrek
Gramatophyllum scriptum menpunyai indeks asosiasi terendah dengan
jenis pohon Xylocarpus sp. Sedangkan jenis anggrek Cadetia
taylori mempunyai indeks asosiasi paling tinggi dengan jenis
pohon Xylocarpus sp. Tingginya nilai Asosiasi tersebut diduga
disebabkan oleh tingkat kehadiran pohon dan keadaan fisik dari
pohon tersebut
IMBIRI, Soleman
Manfaat ekonomi kegiatan PT. Perkebunan II Arso terhadap
perekonomian wilayah Jayapura.
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
PT. PERKEBUNAN II ARSO - MANFAAT EKONOMI
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis kontribusi
kegiatan PTP II Arso terhadap : (a) masyarakat dari segi
penyerapan tenaga kerja, pembayaran upah/gaji, pembayaran
kompensasi, pendapatan usahatani, penerimaan non usahatani,
pemberian modal dan penyediaan fasilitas penunjang, (b)
pemerintah, berupa pajak perusahaan dan pajak masyarakat, (c)
perusahaan berupa subsidi pemerintah, penggunaan lahan dan
penerimaan total. Penelitian dilakukan pada bulan
Oktober-Desember 2001 pada PT. Perkebunan II Arso PIR I dan PIR
II kecamatan Arso kabupaten Jayapura. Penelitian menggunakan
metode dekkriptif dengan teknik survei pada kelompok petani
plasma di Lokasi PIR I dan II. Data yang diambil berupa data
primer dan data sekunder yang diolah dan dianalis secara
tabulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya PT.
Perkebunan tersebut memberikan manfaat positif terhadap perbaikan
ekonomi masyarakat asli dan penyediaan sarana infrastruktur.
Sekaligus hal ini membawa manfaat bagi pemerintah daerah dan
perusahaan itu sendiri
INANOSA, Abraham Andarias
Populasi dan penyebaran hama walang sangit (Leptocorisa acuta
Thunb.) pada tanaman padi sawah di desa Prafi Mulya kecamatan
Prafi kabupaten Manokwari.
Fapertek Unipa, 2002.
LEPTOCORISA ACUTA - PADI SAWAH
Abstrak
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik
pengamatan langsung. Variabel yang diamati meliputi intensitas
serangan, pola penyebaran serangga hama dan tingkat kerusakan
tanaman padi. Hasilnya intensitas serangan hama pada padi
berkisar antara 21,81per-36,20per. Rendahnya populasi walang
sangit diduga telah dilakukan tindakan pengendalian oleh petani
sebelum pengamatan dilakukan serta faktor-faktor lain yang
menunjang perkembangan populasi yang kurang menguntungkan. Sifat
penyebaran hama walang sangit sifatnya merata. Hasil perhitungan
analisis regresi menunjukkan ada hubungan pengaruh yang negatif
antara populasi walang sangit terhadap intensitas serangan. Hal
ini ditunjukkan dari persamaan regresi Y=30,13-0,17x. Pada tarap
95per tidak menunjukkan pengaruh yang nyata karena tingkat
kerusakan tanaman sebesar 0,16per.
IRAWATI, Mei
Ukuran statistik Vital sapi bali bibit di kecamatan Aimas
kabupaten Sorong.
FPPK Unipa, 2002.
SAPI BALI - UKURAN STATISTIK
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ukuran statistik vital
sapi bali bibit di kecamatan Aimas Kanupaten sorong. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan
teknik multistage sampling (gugus bertahap). Variabel pengamatan
meliputi; panjang badan, tinggi gumba, lingkar dada dan berat
badan. Hasil penelitian dari uji t menunjukkan bahwa rata-rata
ukuran statistik vital sapi bibit di kecamatan Aimas ternyata
masih relatif sama dengan standar nominal terutama ukuran panjang
badan dan berat badan untuk sapi dara dan calon pejantan, hal
yang sama juga berlaku pada ukuran panjang badan untuk sapi
induk, dan ukuran panjang badan, tinggi gumba dan berat badan
untuk sapi pejantan. Disamping itu ada yang secara nyata lebih
tingggi dari standar nasional yaitu ukuran tinggi gumba untuk
sapi dara dan calon pejantan, demikian pula berlaku pada ukuran
tinggi gumba dan berat badan untuk sapi induk. Namun ada pula
berlaku yang secara nyata lebih rendah dari standar nasional
adalah ukuran lingkar dada baik pada sapi dara, induk, calon
pejantan maupun pejantan.
IYAI, Deny A.
Sistem perburuan dan pemanfaatan biawak (Varanus spp) oleh
masyarakat di desa Yaur kecamatan Yaur Kaupaten Nabira.
FPPK Unipa, 2002. 28 cm
VARANUS - PERBURUAN DAN PEMANFAATAN
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem berburu dan
pemanfaatan oleh masyarakat desa Yaur. Metode yang digunakan
adalah metode deskiriptif dengan teknik studi kasus. Variabel
yang diamati meliputi simtem berburu, lokasi berburu, hasil
berburu, pemanfaatanya meliputi (teknik pengulitan, pengolahan
kulit, waktu pengolahan, sistem pengolahan daging, dan tujuan
pemanfaatanya). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem
perburuan biawak yang dilakukan oleh mayarakat Yaur secara
turun-temurun yang dilakukan secara tradisional dengan
menggunakan alat parang, tombak, panah, dan tali dedoso tidak
menggunakan senjata api. Jenis-jenis biawak bila diidentifikasi
berdasarkan De Roiij (1915) sebanyak 4 jenis yaitu Varanus
gouldi, Varanus salvadori, V. prasinus, dan V. indicus. Daging
biawak yang dimanfaaatkan melalui pengolahan dengan cara diasar,
goreng dan rebus. Pemanfaatan bagian tubuh lainnya yaitu relatif
masih terbatas hanya membuat opset utuh kulit yang dimanfaatkan
untuk membuat tifa. Ekor, gigi, lemak dan empedu digunakan untuk
keperluan magis dan obat-obatan trasisional.
JULIANA
Kontribusi cabang usahatani jagung (Zea mays L) terhadap
penerimaan usahatani : kasus di desa Udapi hilir kecamatan Prafi.
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
USAHATANI JAGUNG - PENERIMAAN USAHATANI
Abstrak
Penelitian ini dilaksanakan di desa udapi hilir kecamatan Prafi.
Penelitian dilakukan untuk mengetahui penerimaan petani dari
cabang usahatani jagung, sekaligus mengetahui besaran penerimaan
dari cabang usahatani jagung ini terhadap penerimaan petani.
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif dengan
teknik studi kasus, dengan pengolahan data secara tabulasi.
Variabel yang diamati adalah luas lahan, curahan kerja, produksi,
harga, penerimaan dan kontribusi cabang usahatani jagung.
Rata-rata luas lahan yang digunaklan untuk usahatani jagung
adalah 0,49 ha, dengan curahan kerja sebesar 98,73 HKP/tahun.
Produksi jagung petani di Desa udapi hilir tergolong baik, dengan
jumlah rata-rata produksi sebesar 1,517 kg (1,52 ton), dimana
sebagian besar hasil produksi itu dijual Rp. 1.366 rupiah/kg.
Penerimaan petani dari cabang usaha tani ini rata-rata pertahun
sebesar Rp. 1.884.864,87 rupiah, dengan kontribusi bagi
penerimaan petani sebesar 13,07per
KABES, Yan Risyart
Populasi dan intensitas serangan hama walang sangit (Leoptocorisa
oratorius) pada areal padi ladang di desa Hingk kecamatan Warmare
kabupaten Manokwari.
Fapertek Unipa, 2002.
LEOPTOCORISA ORATORIUS
Abstrak
Penelitian ini menggunakan metode deskripsi dengan teknik survei.
Variabel yang diamati meliputi populasi walang sangit, persentase
bulir terserang, produksi dan tingkat pengetahuan petani terhadap
walang sangit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata
populasi walang sangit mencapai 3-4 ekor/m2 dengan kerusakan
bulir yang diakibatkan adalah sebesar 0,50-1,70per. Hasil
analisis regresi lanjutan dan perhitungan nilai prosentase
variasi menunjukkan antara umur masak bulir padi dan jumlah
populasi terjadi hubungan negatif, artinya semakin masak bulir
padi populasi semakin berkurang, sedangkan antara populasi dan
besar kerusakan terdapat hubungan yang positif artinya semakin
tinggi populasi maka kerusakan semakin besar dan demikian pula
sebaliknya. Produksi yang dihasilkan berkisar anara 0,2-0,4 ton
GPK/ha. Tingkat pengetahuan petani terhadap hama tanaman padi
sangat rendah. Tindakan terhadap tanaman yang dibudidayakan
seperti pemupukan, penyiangan gulma dan pengendalian
hama/penyakit tidak pernah dilakukan.
KAMBIROP, Agustnus
Hubungsn jumlah ternak dengan efisiensi penggunaan pakan dan
tenaga kerja pada peternakan itik di desa Bowi Subur dan desa
Sumber Boga kecamatan Masni.
FPPK Unipa, 2002. 28 cm
ITIK - EFISIENSI PAKAN DAN TENAGA KERJA
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performans peternakan
itik secara keseluruhan di desa Bowi Subur dan Sumber Boga.
Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan teknik studi
kasus. Variabel yang diamati meliputi jumlah pemelihara itik
dewasa, efisiensi penggunaan pakan, tenaga kerja dan persentase
produksi telur. Hasil analisis statistik deskriptif diketahui
bahwa, performans peternakan itik keseluruhan dapat dikatakan
baik dimana produksi telur sebesar 72.02per, efisiensi penggunaan
pakan 0,15 dan efisiensi penggunaan tenaga kerja 1,504. Walaupun
rata-rata efisiensi penggunaan pakan masih rendah namun bila
dilihat dari hasil analisis regresi linier sederhana menunjukkan
hubungan yang positif dimana jumlah peternak itik meningkat maka
efisiensi penggunaan pakan akan meningkat pula. Performans
peternakan itik di desa Bowi Subur lebih baik dibandingkan di
Sumber Boga dari hasil analisis menunjukkan di desa Bowi Subur
persentase produksi telur 73,87per, efisiensi penggunaan pakan
0,1968 dan efisiensi penggunaan tenaga kerja 2,000.
KASENDA, Daisy Martha
Variasi sifat fisika bambu kebkaba (Dendrocalamus giganteus) asal
kampung Siwi distrik Ransiki Manokwari.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
DENDROCALAMUS GIGANTEUS - SIFAT FISIK
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi sifat fisik
bambu kebkaba seperti kadar air, berat jenis, dan penyusutan dari
pangkal sampai ujung pada kondisi segar kering udara dan kering
tanur. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan
analisa kuantitatif. Variabel yang diamati meliputi variasi sifat
fisik bambu pada kondisi segar, keing udara dan kering tanur pada
4 seksi pangkal, tengah, batang dan bagian ujung. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa nilai kadar air bambu kebkaba
bagian pangkal 89,03per, ujung 63,84per dan pada buku 90.15per
dan 68,04 pada bagian ujung. Pada kondisi kering udara nilai
rata-rata kadar air pangkal 16,39per, ujung 15,71per, ujung 15,81
dan pada buku-buku 16,56per. Hasil pengukuran berat jenis pada
kondisi segar, kering udara dan kering tanur cenderung meningkat
dari pangkal ke ujung batang. bagian pangkal 0,58, ujung 0,65
sedangkan untuk bagian buku pangkal 0,63 dan ujung 0.67.
Penyusutan pada arah radial dan tangensial cenderung menurun
dari bagian pangkal ke ujung. Hasil analisis regresi yang
dilakukan untuk melihat hubungan kadar air dengan penyusutan
menujukkan bahwa pada kondisi segar kering udara terjadi hubungan
pada bagian ruas dan buku secara kuadratik dengan hasil 99,47per
untuk ruas 98,93per pada buku, sedangkan pada kondisi segar
kering tanur menunjukkan hubungan yang linier pada buku sebesar
82,17per dan pada ruas 83,08per. Titik jenuh serat bambu kebkaba
adalah pada kadar air 84per.
KELANIT, Kornelis
Jumlah sedimen terangkut pada hulu das werba kecamatan fakfak
kabupaten fakfak yang digunakan sebagai pusat lisrik tenaga
minihidro (PLTM).
Fapertek Unipa, 2002.
SEDIMEN
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur jumlah sedimen yang
terangkut guna menghitung tingkat bahaya erosi. Metode yang
digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik pencuplikan.
Pengambilan sampel 3 titik yakni 100 m, 150 m, dan 200 m setelah
DAM PLTM. Variabel yang diamati yakni konsentrasi sedimen dengan
menhitung luas penampang sungai, debit sungai, tinggi muka air.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisaran jumlah sedimen yang
masuk pada sungai werba yang terendah adalah 5,9693 ton/hari ,
sedangkan jumlah sedimen tertinggi yakni sebesar 93,3638
ton/hari, hasil sedimen tertinggi pada hujan ke-15 sebesar 125,7
mm. Pada curah hujan dengan konsenrsi sedimen yang diuji dengan
analisa regresi menunjukkan adanya hubungan linier dengan nilai
korelasi yang kuat, hal ini menjelaskan bahwa dengan peningkatan
curah hujan maka konsentrasi sedimen akan meningkat. Disamping
itu pengaruh topografi, tanah, geologi, iklim, pola aliran kali,
dan vegetasi memeberikan pengaruh terhadap peningkatan jumlah
sedimen.
KELLEN, Yustina
Pengaruh berbagai konsentrasi PPC multitonik terhadap pertumbuhan
dan produksi cabai besar (Cpsicum annuum L.).
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
COPSICUM ANNUUM - PEMUPUKAN
Abstrak
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yang dirancang pola
rancangan acak lengkap, perlakuannya meliputi multitonik 0, 1, 2,
3, 4, dan 5 ml/L air. Aplikasi PPC pada umur 2 sampai 12 MST.
Variabel yang diamati meliputi tingi tanaman, umur brbunga,
jumlah bunga, jumlah buah, fuit set, jumlah buah panen, berat
buah panen dan jumlah cabang per tanaman. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa PPC Multitonik 5 ml/L air cenderung
meningkatkan tingi tanaman dan PPC 3 ml/L air meningkatkan jumlah
cabang. Pemberian PPC Multitonik 3 ml/L air dapat meningkatkan
jumlah bunga, jumlah buah, fruit set, jumlah buah panen per
tanaman masing-masing 70,69per, 78,18per, 13,91per, 87,5per dan
14,31per dibandingkan dengan kontrol.
KESAULIJA, Silvy Ellen
Eksplorasi jenis angrek epifit pada kawasan hutan mangrove
Oransbari kabupaten Manokwari.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
ANGREK EPIFIT
Abstrak
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik
survei. Variabel yang diamati meliputi Jenis, karakter morfologi,
tempat tumbuh, intensitas chaya, kelembaban dan penutup tajuk.
Pada kawasan hutan mangrove oransbari ditemukan 11 jenis angrek
epifit yaitu : Denrobium antennatum Lindl. D. bifalce Lindl., D.
insigne Rachb. f. ex. miq, D. Johnsonia F. muell., D. lineale
Rolfe, D. litorale Schltr., D. macfarlanei F. uell.,
Grammatophylum papuanum, G. scriptum Blume, Gunnarella Senghas
dan Pholidota imbricata Hook f. Jenis pohon inang yang ditemukan
adalah Bruguiera gymnorhiza, Heriiera litoralis, Premma
corimbosa, Rhizopora stylosa, Sonneratia alba, Sonneratia
caseolaris. Ditemukan pada ketinggian 5 - 24 m dari permukaan
pasng dan terletak pada jarak antara 15 - 1200 m dari tepi pantai
KOESSOY, Margaretha Sisilia Christina
Sistem produksi dan sifat fisik madu pada peternakan lebah madu
di desa Koya Timur kecamatan Muara Tami Kotamadya Jayapura.
FPPK Unipa, 2002. 28 cm
LEBAH MADU - SISTEM PRODUKSI DAN SIFAT FISIK
Abstrak
Penelitian ini menggunkan metode deskriptif dengan teknik studi
kasus. Variabel yang diamati meliputi sistem produksi, penyediaan
sumber pakan, sifat fisik, aroma, kekentalan dan pH madu. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa desa Koya relatif baik
peternakan madunya, sistem produksi yang diterapkan pada peternak
belum sesuai dengan sistem produksi ideal. Hasil pengujian
organoleptik menunjukkan bahwa sifat fisik madu untuk jenis lebah
Apis mellipera memiliki aroma harum, rasa manis, kekentalan 8,3
ml/menit dan pH 2,4 sedangkan madu jenis A. cerana memilki warna
merah, aroma harum sampai sangat harum, rasa sangat manis,
kekentalan 6,3 ml/menit dan pH 3,8.
KOMSARY, Marlen
Pemberian nitrogen terhadap pertumbuhan, produksi dan kadar gula
semangka (Citrullus vulgaris Schard.).
Fapertek Unipa, 2002.
CITRULLUS VULGARIS - PEMUPUKAN N
Abstrak
Penelitian ini menggunakan metode Eksprimen dengan menggunakan
analisis regrsi dengan peubah bebas X (dosis pupuk nitrogen) dan
peubah Y (pertumbuhan, produksi dan kadar gula). Perlakuannya
terdiri dari kontrol, 90, 180, 270, 369 dan 450 kg N/Ha ulangan
sebanyak 3 kali. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembarian
dosis 360 kgN/Ha memebeikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan
panjang sulur dan kadar gula buah semangka. Sedangkan berat buah
semangka dosis optimumnya yaitu 362,98 kg N/Ha dan diameter buah
dosis optimumnya 345,55 kg N/Ha.
KORE, Gema Iriayani
Variasi pandanus dan pemanfaatannya oleh masyarakat Ayamaru.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
PANDANUS - PEMANFAATAN
Abstrak
Penelitian dilaksanakan di hutan Twoer dan hutan Fetmales desa
Mefkajim kecamatan Ayamaru kabupaten sorong. Responden ditentukan
secara purposif terhadap masyarakat yang mengetahui jenis-jenis
pandanus dan telah memanfaatkannya serta jenis-jenis pandanus,
sedang pengambilan contoh jenis-jenis pandanus dilakukan
berdasarkan informasi masyarakat. Berdasarkan hsil eksplorasi
dijumpai 4 jenis marga Pandanus yaitu P. conoideus Lamk, Pandanus
sp 1, P.navicularis B. C. Stone dan Pandanus sp2. Berdasarkan
pemanfaatannya oleh masyarakat adalah sebagai bahan pangan, bahan
lantai rumah, bahan atap rumah, bahan tikar, tas dan tudung
hujan, bahan umpan buruan. Jenis yuang dibudidayakan yuaitu P.
conoideus kultivar merah panjang dan kultivar merah sedang
KRISIFU, Susana Monika
Pengujian bawang putih (Allium sativum L.) sebagai insektisida
nabati terhadap hama kubic (Plutella xylostella L.).
Fapertek Unipa, 2002.
PLUTELLA XYLOSTELLA - ALLIUM SATIVUM
Abstrak
Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh larutan insektisida
nabati yang bersumber dari P. xylostella. Metode yang digunakan
yaitu metodeeksperimen dengan teknik observasi, dengan
menggunakan rancangan acak lengkap konsentrasi perlakuan 0, 5,
10, 15, dan 20 ml/L sebanyak 3 ulangan. Vareabel yang diamati
meliputi Jumlah larva hidup dan mati, berat daun sebelum dan
sesudah pengamatan, dan pelakuan insektisida nabati. Hasil
penelitian ini menunjukkan pemberian insektisida nabati A.
sativum, baik dengan menggunakan metode tetes maupun metode
celup, tidak menunjukkan perbedaan antar konsentrasi terhadap
mortalitas larva P. xylostella. Namun dari analisis lanjutan
tampak bahwa pestisida nabati ii dapat menekan populasi hama.
Perlakuan konsentrasi insektisida nabati yang diaplikasi masih
belum efektif dalam mengendalikan hama P. xylostella. Nilai
efekasinya tergolong rendah yaitu 50per. Ditinjau dari segi pakan
yang tersisa setelah aplikasi, terlihat bahwa pakan tersisa pada
metode celup labih banyak dibanding pada metode tetes. hal ini
sebaiknya digunakan metode perlindungan terhadap tanaman kubis.
LA MAU, Labaduru
Pengaruh selang waktu tanam terhadap pertumbuhan serta hasil
jagung (Zea mays L.) dan buncis (Phaseolus vulgaris L.) dalam
sistem tumpangsari.
Fapertek Unipa, 2002.
ZEA MAYS - PHASEOLUS VURGARIS
Abstrak
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen menggunakan
rancangan acak kelompok sebagai perlakuannya monokultur jagung,
monokultur buncis, buncis dan jagung ditanam dalam waktu
bersamaan, buncis ditanam selang waktu 1 minggu, dan selang 2
minggu, dengan ulangan sebanyak 5 kali. Variabel yang diamati
meliputi komponen pertumbuhan, produksi jagung dan buncis. Hasil
penelitian inii menunjukkan bahwa cara tumpangsari buncis dan
jagung yang baik yaitu pada perlakuan waktu penanaman bersamaan
yang mana dapat menghasilkan jumlah cabang yang paling banyak,
jumlah polong muda lebih banyak, bunga lebih cepat, jumlah tandan
lebih banyak dan total bobot polong muda lebih berat. Sedangkan
tanaman jagung perlakuan jagung ditanam 2 minggu lebih awal dapat
menghasilkan jumlah baris biji jagung lebih banyak, bobobt 100
biji kering perpetak, bobot kering jagung pertanaman, bobot
kering perpetak, serta bobot brangkasan kering tertinggi. Hasil
jagung tertinggi diperoleh apabila jagung ditanaman 2 minggu
lebih awal dari buncis yaitu sebanyak 3,730 kg/ha dan hasil
buncis tertinggi apabila ditanam bersamaan dengan jagung yaitu
sebanyak 18,880 kg/ha. Nilai kesetaraan pendapatan yang dipeoleh
dari perlakuan jagung ditanam waktu bersamaan sebesar 1,03,
perlakuan jagung lebih awal 1 minggu sebesar 0,93, sedangkan
jagung lebih awal 2 minggu sebesar 0,88. Pola tanam tumpangsari
penanaman jagung dan buncis dalam waktu yang bersamaan
memeberiakn pendapatan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan
pola tumpangsari lainnya.
LEBANG, Daud Ijarles
Produktifitas ayam buras pada daerah dataran tinggi dan dataran
rendah di Kabupaten Manokwari.
FPPK Unipa, 2002. 28 cm
AYAM BURAS - PRODUKTIFITAS
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktifitas ayam
buras pada dataran tinggi dan dataran rendah. Metode yang
digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik studi kasus.
Varabel yang diamati meliputi bobot badan, ukuran tubuh, kualitas
telur, pertumbuhan anak dan mortalitas. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa ketinggian tempat (suhu dan kelembaban)
memberikan pengaruh terhadap produktifitas ayam buras. Rata-rata
ukuran tubuh dan bobot badan, kualitas telur (tebal telur dan
tebal kerabang) serta pertumbuhan anak umur 1-3 minggu di dataran
tinggi Anggi lebih baik (P0.05) dibandingkan di daerah dataran
rendah (Manokwari). Namun tingkat kematian (mortalitas) anak ayam
buras 1-3 minggu pada dataran tinggi (Anggi) dan datarn rendah
(Manokwari) tidak berbeda (P0,05).
LEKATOMPESSY, Christina
Analisa faktor penetu efesiensi penggunaan ransum ayam pedaging
di Manokwari.
FPPK Unipa, 2002. 28 cm
AYAM PEDAGING - RANSUM
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penentu
efisiensi penggunaan ransum ayam pedaging. Metode yang digunakan
adalah metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Variabel yang
diamati meliputi; konsumsi ransum, pertambahan bobot badan,
efisiensi penggunaan ransum, komposisi gizi ransum, feed
suplemen, kepadatan kandang, suhu dan kelembaban, strain, sistem
perkandangan, frkuensi pemberian ransum dan bentuk ransum.
Faktor-faktor yang mempunyai pengaruh dominan terhadap efisiensi
penggunaan ransum ayam pedaging fase starter di Manokwari adalah
kepadatan kandang dan energi metabolisme. Faktor-faktor yang
mempunyai dominan terhadap penggunaan ransum ayam pedaging fase
finisher adalah frekuensi pemberian rasum, suhu, kepadatan
kandang, bentuk ransum, feed suplemen, energi metabolisme dan
strain.
LESSY, Irmawati
Pengaruh IBA (Indole butyric acid dan NAA
(Alpha-naphthaleneacetic acid) terhadap pertumbuhan setek jabang
jambu semarang gondrong (Syzigium samarangenese (BI) Merr &
Perry).
Fapertek Unipa, 2002.
SYZIGIUM SAMANGARENESE - PERTUMBUHAN SETEK
Abstrak
Penelitian ini mengunakan metode eksperimen dengan menggunakan
rancangan acak lengkap. Jumlah perlakuan sebanyak 15 satuan
percobaan diulang 5 kali. Variabel pengamatan meliputi waktu
mulai tunas, jumlah tunas, panjang tunas, jumlah daun, persentase
tunas, persentase setek akar, panjang akar dan jumlah akar. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi NNA 250
ppm cenderung menghasilkan waktu mulai tunas paling cepat,
panjang tunas dan jumlah daun paling tinggi. Perlakuan kombinasi
IBA + NAA 250 ppm cenderung menghasilan tunas, panjang akar dan
jumlah akar paling tinggi. Pada seluruh setek yang tidak diberi
perlakuan tidak terjadi petumbuhan.
LILING, Delfianto Marchel
Sifat kualitatif dan kuantiatif babi di kabupaten Nabire.
FPPK Unipa, 2002. 28 cm
BABI - SIFAT KUALITATIF DAN KUANTITATIF
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat kualitatif dan
kuantitaif babi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif
dengan teknik studi kasus. Variabel yang diamti meliputi sifat
kuantitatif (panjang badan, lingkar dada, tinggi bahu, panjang
ekor, panjang telinga dan panjang kepala) dan sifat kualitatif
(warna bulu, bentuk telinga, bentuk ekor dan bentuk kepala).
Hasil pelitian menunjukkan bahwa sifat kuantitatif babi jantan di
kabupaten Nabire mempunyai ukuran yang lebih bervariasi daripada
babi betina kecuali panjang ekor dan panjang kepala. Rata-rata
ukuran babi jantan terlihat lebih baik dibandingkan babi betina.
Sedangkan pada sifat kualitatifnya untuk bulu (hitam dan
bercak-bercak), bentuk telinga tegak, bentuk ekor melingkar dan
bentuk kepala konkaf lebih banyak ditemukan dari warna dan bentuk
lain.
LILYA
Pengembangan industri kain tenun ikat (kain timor) di desa
Wariori kecamatan Masni kabupaten Manokwari.
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
INDUSTRI TENUN IKAT
Abstrak
Teknik penelitian yang digunakan adalah teknik studi kasus.
Pengambilan contoh dilakukan secara acak sederhana sebanyak 30 KK
pengrajin. Data dianalisa secara statistik. Hasil analisa
memperlihatkan terjadinya penurunan produksi rata-rata sebesar
80,4 pers/tahun. Hasil uji statistik regresi linier diketahui
bahwa faktor yang berpengaruh nyata terhadap perkembangan
industri kain tenun ini adalah variabel umur dan permintaan.
Dimana dengan bertambahnya umur pengrajin akan menurunkan
produksi sebesar 1,71 satuan. Sedangkan dengan adanya permintaan
akan menaikkan produksi sebesar 1,08 satuan. Sehingga karena
tidak kontinyunya permintaan konsumen mengakibatkan penurunan
produksi kain tenun tersebut
LINDONGI, Jhony C.
Ekologi persarangan burung maleo (Megapodius freycinet. G) pada
areal hutan Bremi kabupaten Mnokwari.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
MEGAPODIUS FREYCINET - EKOLOGI SARANG
Abstrak
Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan teknik observasi.
pengambilan sampel dilakukan secara aksidental berdasarkan lokasi
ditemukan sarang. Variabel yang diamati adalah ukuran, bentuk,
bahan penyusun, lokasi pembauatn, suhu dan kelembaban sarang,
intensitas cahaya, nilai pH tanah dan komposisi tegakan di
sekitar sarang. Hasil peneliian memperlihatkan sarang dibuat pada
ketinggian 5-28 m dpl. Tinggi gundukan sarang berkisar 40 - 120
cm diameter berkisar antara 355 - 465 cm. Bahan penyusun sarang
terdiri atas dedaunan (26,66per), ranting+bongkahan kayu
(13,33per), buah (2,50per), akar (10per) dan tanah (51,66per).
Suhu sekitar sarang pada waktu pagi berkisar antara 26,3 -
29,6derC, Siang hari 27,3 - 29,6derC dan sore hari 27,6 -
29,3derC. Suhu diluar sarang rata-rata 23,5derC. Kelembaban
tertinggi pada pagi hari berkisar 89-93,6per, Siang hari antara
71,6-87,6per dan sore hari 75-82per. Intensitas cahaya pada pagi
hari berkisar antara 1220 - 1760 Lux, Siang hari antara
1261,6-1766,6 Lux dan sore hari 370-720 Lux. Nilai pH tanah
mendekati netral dengan rata-rata 6.97. Komposisi tegakan di
sekitar sarang didominasi olej jenis Pometia sp. dan
Paraserianthes sp
MAELISSA, Irene
Uji antagonisme beberapa strain pseudomonas kelompok fluorescent
(Pf) terhadap penyebab penyakit layu fusarium tomat (Fusarium
oxysporum f.sp. lycoperesi) secara In-Vitro.
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
FUSARIUM OXYSPORUM - STRAIN PSEUDOMONAS
Abstrak
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan
acak lengkap 3 kali perlakuan dan 7 ulangan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa ketiga strain Pf dapat digunakan untuk
mengendalikan Fusarium oxysporum F.ps. lycopersi karena dapat
menghambat pertumbuhannya. Pf. strain 2 dari pertanaman ketimun
mampu menghambat pertumbuhan F. o. f.sp.lycopersici tertinggi
yaitu 48,59per kemudian Pf. strain 3 dari pertanaman terong
33,33per dan terendah Pf strain 1 dari pertanaman kacang panjang
yaitu 28,10per.
MAGAL, Hans Ndarondal
Studi tumbuhan obat tradisional suku amungme di desa Tsinga
kecamatan Mimika Baru kabupaten Mimika.
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
TUMBUHAN OBAT - SUKU AMUNGME
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan obat
tradisional oleh suku Amungme di desa Tsinga. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan
teknik wawancara semi-struktural dan observasi lapang. Hasil
penelitian ini menginformasikan bahwa penduduk Tsinga telah
mengenal 43 jenis tumbuhan dari 29 famili sebagai obat
tradisional. Pola pengetahuan masyarakat secara turun-temurun
antar generasi. Pada umumnya masyarakat cara pemanfaatanya masih
tradisional dan tergolong subsisten dan belum pada tingkat
komersil.
MAITAR, Bustar
Aspek ekologi kayu sowang (Xanthostemon sp.) di Jayapura.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
XANTHOSTEMON SP. - ASPEK EKOLOGI
Abstrak
Penelitian dilaksanakan di daerah Depapre, desa maribu, kampung
Harapan dan desa Pasir Dua kabupaten Jayapura, menggunakan teknik
survey bertujuan mengetahui aspek ekologi kayu sowang yang
meliputi aspek klimatis dan edhapis. Variabel yang diamati
meliputi aspek edhapis kayu sowang, Topografi, Aspek klimatis,
analisa vegetasi, dan ciri morfologi jenis kayu sowang. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kayu sowang dijumpai pada ketinggian
0 - 550 m dpl dengan tingkat kelerengan yang curam, hidup pad
jenis tanah entisol dan ultisol dengan struktur tanah remah dan
struktur tanah lempung dan tumbuh pada tanah yang mempunyai pH
agak masam. Suhu uara rata-rata sebesar 25,30derC - 27,80derC
dengan kelembaban yang inggi dan curah hujan sebesar 355 mm
setiap bulannya. Hasil analisa vegetasi memperlihatkan kayu
sowang banyak dijumpai tumbuh bersama dengan Casuarina rumphiana
baik pada tingkat semai, pancang, tiang maupun pohon
MAKER, Ottow
Identifikasi dan pemanfaatan kayu tongkew (Stenocarpus spp.) oleh
masyarakat suku Sentani di kecamatan Sentani Barat kabupaten
Jayapura.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
STENOCARPUS SPP. - PEMANFAATAN
Abstrak
Penelitian dilakukan di desa Doyo Lama, desa Sosiri dan desa
Yakonde. Penentuan responden dilakukan secara purposif dan acak
berstrata. Responden kunci ditentukan secara purposif terhadap
kepala suku, tokoh adat dan tokoh agama. Sedangkan untuk
responden contoh meliputi masyarakat biasa yang terlebih dahulu
dikelompokkan dalam dua tingkatan umur yaitu 40 tahun dan 40
tahun dengan intensitas 20per dari jumlah KK pada tiap desa. Dari
pengamatan dilapangan ditemui dua jenis kayu tongkew yaitu S.
beccari dan stenocarpus sp. Dengan perbedaan ciri morfologi yang
jelas. Kedua jenis tersebut mempunyai nama lokal yang sama. Kayu
Tongkew dipergunakan oleh masyarakat untuk keperluan konstruksi
(tiang rumah, Jembatan), Peralatan (Penokok sagu, hulu kapak dan
hulu tombak) dan energi (bahan bakar). Dalam pemanfaatannya
masyarakat hanya memanfaatkan Stenocarpus beccari, berdasarkan
pengetahuan mereka secara tradisional bahwa kayu tersebut
memiliki kualitas yang lebih baik dibanding Stenocarpus sp
MAMBRASAR, Yulanda Ruth
Pengaruh pemberian beberapa jenis bokasi terhadap pertumbuhan dan
hasil bayam cabut (Amaranthus tricolor L.).
Fapertek Unipa, 2002.
AMARANTHUS TRICOLOR - PEMUPUKAN
Abstrak
Penelitian ini mengunakan metode eksperimen yang menggunakan
rancangan acak kelompok yang terdiri atas perlakuan kontrol,
bokashi tanah, bokashi arang, bokashi arang:abu, dan bokashi abu,
semua perlakuan diulangan sebanyak 4 kali. Variabel yang diamati
meliputi tinggi tanaman, jumlah daun pertanaman, berat brangkasan
basah per tanaman, berat brangkasan per petak dan Indeks panen.
Hasil peneltian ini menunjukkan bahwa pemberian beberapa jenis
bokashi memeberikan pengaruh yang nyata terhadap semua komponen
pertumbuhan dan komponen hasil. Pemberian bokashi arang
menunjukkan laju pertumbuhan tinggi tanaman tertinggi 28,91 cm
dengan jumlah daun sebanyak 30 helai, brangkasan basah per
tanaman tertinggi 19,80 gr, dan berat brangkasn per petak
tertinggi 896,05 gr. Sedangkan indeks panen tertinggi ditunjukan
oleh perlakuan bokashi arang:abu sebesar 84,93per. Pemberian
bokashi dapat meningkatkan berat brangkasan per petak 337per
bokashi tanah, 336per bokashi arang, 264per bokashi arang;abu dan
322per bokashi abu bila dibandingkan kontrol.
MAMMAN, Veronika Murniaeta
Status hematologis sapi bali di rumah potongan hewan (RPH)
Manokwari.
FPPK Unipa, 2002. 28 cm
SAPI BALI - STATUS HEMATOLOGIS
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status hematologis sapi
bali di rumah pemotongan hewan. Metode yang digunakan adalah
metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Variabel yang
diamati meliputi waktu koagulasi, kadar hemoglobin, hematokrit,
deferensiasi leukosit, umur, jenis kelamin, asal ternak, dan lama
istirahat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa status
hematologis sapi bali di RPH Manokwari berdasarkan umur, jenis
kelamin dan asal ternak sama, kecuali persentase monosit lebih
tinggi pada sapi yang berumur 3 tahun, sapi betina dan sapi yang
berasal dari Manokwari. Lama istirahat 2 hari menunjukkan status
hematologis yang baik pada sapi bali di RPH. Status hematologis
sapi bali di RPH tidak dapat diduga dari berat badan. Berdasarkan
status hematologis secara umum sapi yang hendak dipotong di RPH
manokwari berada dalam kondisi yang sehat.
MANAN, Jefry
Hubungan karakteristik peternakan terhadap pola pencarian
informasi peternakan di distrik Prafi.
FPPK Unipa, 2002. 28 cm
PETERNAKAN - POLA PENCARIAN INFORMASI
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik peternak,
terpaan media komunikasi massa dan interpersonal, pola pencarian
informasi peternakan dan hubungan karakteristik peternak terhadap
pola pencarian informasi peternakan di distrik Prafi. Metode
penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik
survei. Variabel pengamatan meliputi karakteristik peternak,
terpaan media, pola pencarian informasi, motifasi koqnitif dalam
mencari informasi peternakan. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa karakteristik peternak sebagia besar responden berumur 44
tahun dengan pendidikan tidak tamat SD 84,47per, sedangkan untuk
pendidikan nonformal pada tahun terakhir sebagian besar responden
tidak pernah mengikuti 87,23per, jenis dan kepemilikan ternak
yang terdapat pada responden untuk unggas 1-40 ekor 78,72per,
ternak potong kecil 1-5 ekor 17per, ternak potong besar 1-3 dan
4-6 ekor 38,30per, tingkat penerimaan sebagian besar Rp. 700.000
(85,11per), pengalaman berternak sebagian besar 10 tahun
(74,47per. Responden lebih banyak memanfaatkan komunikasi
interpersonal yaitu PPL (43,88per) dibandingkan media massa.
Saluran yang digunakan peternak dalam memperoleh informasi
sebagaian besar media surat kabar 50per sedangkan media
elektronik 53,06per. Motifasi koqnitif responden dalam mencari
informasi yang memenuhi kebutuhan masalah yang dihadapi 38,64per.
Faktor internal yang menjadi hambatan responden dalam mencari
informasi peternakan sebagian besar tidak ada waktu senggang
33,33per sedangkan faktor eksternal sebagian besar karena sarana
kurang mendudukung 41,30per. Karakteristik peternak tidak
terdapat hubungan yang nyata terhadap pola pencarian informasi
peternakan yaitu 0.050 namun karakteristik peternak terhadap
terpaan media, kemudian terpaan media terhadap pencari informasi
peternakan menujukkan hubungan yang nayata 0,444 dan 0,336.
MANDANG, Keinnes Irvalindo
Kombinasi agens hayati dan fungisida antracol dalam pengendalian
Sclerotium rolfsii Sac penyebab penyakit busuk pangkal batang
pada tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merril) .
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
GLYCINE MAX - SCEROTIUM ROLFSII
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi agensia
hayati (Trichoderma viride, T. harzinum, Glioclodium fimbriatum
dan Pseudomonas fluorencens) dengan fungisida Antrovol yang tepat
dalam pengendalian penyakit busuk buah. Metode yang digunakan
adalah metode eksperimen, dengan menggunakan rancangan acak
lengkap berfaktor, perlakuannya meliputi Antagonis (kontrol, T.
Harzyanum, T. Viride, G. Vibriatum, P. fluorencens) dan
konsentrasi flungisida (kontrol, 250, 500, 750, 1000 ppm)
perlakuan ini diulangan sebanyak 5 kali. Hasil penelitian secara
In-Vitro menunjukkan bahwa pengunaan kombinasi dosis fungisida
antracol dengan keempat agens antagonis (T. viride, T. harzianum
dan G. fibriatum) mampu menghambat patogen S. rolfsii. Kombinasi
terbaik adalah menggunakan agen antagonis T. viride, T. harzianum
dan G. fimbriatum dengan fungisida antracol 500 ppm. Hasil secara
In-Vivo menunjukkan bahwa penggunaan kombinasi tingkat dosis
fungidsida antracol dengan keempat agens antagonis (T. viridde,
T. harzianum dan G. fimbriatum) mampu menghambat patogen S.
ralfii. Kombinasi terbaik adalah menggunakan agen antagonis T.
viride dengan fungisida antracol 750 ppm.
MANDOSIR, Hilda
Pengaruh subtitusi sebagian ransum basal dengan ransum komersil
ayam pedaging fase starter terhadap ukuran tubuh ternak babi fase
grower.
FPPK Unipa, 2002. 28 cm
BABI - RANSUM
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh subtitusi
sebagian ransum komersil ayam pedaging terhadap ukuran tubuh
ternak babi fase grower. Metode yang digunakan yaitu metode
eksperimen dengan rancangan bujur sangkar. Perlakuannya meliputi
ransum basal dan ransum komersilnya sebagai berikut 100per;0,
95per;5per, 95per;10per, 85per;15per, 80per;20per, dan
75per;25per. Variabel pengamatan meliputi pertambahan panjang
badan, tinggi badan, pertambahan panjang lingkar dada. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa subtitusi sebagian ransum basal
dengan ransum komersil ayam pedaging memberikan pengaruh nyata
(P0.05) terhadap pertambahan berat badan 13per-15per, tinggi
badan 0,22 sampai 0,78 cm/ekor/mg, panjang badan dan pertambahan
lingkar dada 0,16-0,96 cm/ekor/gr ternak babi fase grower.
MANGEKA, Daniel
Pemanfaatan palem oleh masyarkat etnik Skow di desa Skow Sae,
Muara Tami - Jayapura.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
PEMANFAATAN PALEM
Abstrak
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik
observasi dan wawancara semi struktural. Pengambilan responden
dilakukan secara purposif terhadap tetua adat, kepala suku dan
orang yang dianggap mengetahui pemanfaatan palem dengan asumsi
bahwa pengetahuan tentang pemanfaatan palem hanya dikuasai oleh
orang-orang tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
masyarakat etnik skow dalam kehidupan sehari-harinya memanfaatkan
18 jenis palem dari 4 sub famili. Pemanfaatannya tergolong dalam
7 bentuk pemanfaatan antara lain : bahan makanan dan minuman,
obat-obatan, bahan minyak, sumber energi, bahan bangunan, senjata
dan perkakas serta keperluan ritual
MANGINTE, Nelson
Pengaruh tingkat penggunaan isi rumen sapi terfermentasi dalam
ransum terhadap penampilan itik fase starter.
FPPK Unipa, 2002. 28 cm
ITIK - RANSUM RUMEN SAPI
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat
penggunaan isi rumen sapi dengan ransum terhadap penampilan itik
fase starter. Metode yang digunakan yaitu metode eksperimen
dengan rancangan acak lengkap, dimana perlakuannya terdiri atas
penggunaan isi rumen sapi 0per, 5per, 10per, 15per, dan 20per.
Variabel yang diamati meliputi konsumsi ransum, pertambahan bobot
badan dan efisiensi penggunaan ransum. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa penggunaan rumen sapi terfermentsi dalam ransum
meningkat konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan serta
memperbaiki efisiensi ransum. Penggunaan rumen sapi terfermentsi
dalam ransum sampai tingkat penggunaan 10per menghasilkan
konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan efisiensi penggunaan
ransum terbaik.
MANGIWA, Efrayim
Jenis-jenis angrek epifit pada kawaan hutan pulau Rumberpon.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
ANGREK EPIFIT
Abstrak
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik
survei. Variabel yang diamati meliputi morfologi daun, batang,
akar, bunga, buah serta pengamatan terhadap pohon inang. Dari
hasil pengamatan diperoleh 23 jenis angrek yang tergbung dalam 8
genus yaitu Acryopis, Bulbophyllum, Coelogyne, Dendrobium, Eria,
Grammatophyllum, Rhinerhiza dan Robiquetia. Tempat tumbuh angrek
menyebar pada ketinggian 0 - 140 m dari permukaan laut. Jenis
pohon inang adalah Brugueira sp., Decaspernum fruticosum, Ficus
sp., Homalium foetidum, Intsia sp., Myristica sp., Palaquium sp.,
Sonneratia sp., Terminalia sp., dan Vatica sp
MANIBUY, Siprianus
Dinamika pertumbuhan rumpun sagu (Metroxylon sagu Rotb.) di dusun
Masiray kecamatan Bintuni kabupaten Manokwari.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
METROXYLON SAGU - PERTUMBUHAN
Abstrak
Penelitian dilaksanakan dengan metode deskriptif dengan teknik
survey. Variabel yang dimati meliputi bentuk, diameter dan
komposisi rumpun serta tinggi batang, tinggi pohon dan diameter
batang untuk tingkat sagu belum masak tebang dan sagu asak
tebang. Data diolah secara deskriptif sederhana dima a dilakukan
perbandingan pada setiap batang. Hasil penelitian memperlihatkan
bahwa di dsa Masiray terdapat 3 kultivar sagu yan didominasi oleh
kultivar anangbuo yang menybar di sepanjang daerah aliran sungai.
Sedangkan kultivar anawawi menyebar pada semua daerah dan
kultivar anandui banyak tersebar pada derah terendam dan daerah
kering
MARIANA, Novita Anna
Karakteristik morfologi dan morfo-genetik ayam kampung di
kabupaten Merauke.
FPPK Unipa, 2002. 28 cm
AYAM KAMPUNG - KARAKTERISTIK MORFOLOGI DAN MORFO-GENETIK
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik morfologi
dan morfo-genetik ayam kampung Merauke. Metode yang digunakan
adalah metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Variabel yang
diamati meliputi ciri-ciri karakter morfologi dan
morfo-genetiknya. Hasil penelitian ini didapati bahwa karakter
morfologi dan morfo-genetik ayam kampung di Kabupaten Merauke
adalah beragang atau bervariasi, kecuali wana jengger dan warna
pial. Sedangkan hasil analisis uji t untuk karakteristik
morfologi menunjukkan bahwa karakteristik morfologi ayam kampung
jantan berbeda nyata (P0.005) dengan ayam betina.
MBAUBEDARI, Kusriner F
Uji pengaruh gibberelin (GA3) pada berbagai konsentrasi terhadap
perkecambahan benih sengon (Paraserianthes falcataria (L.)
Nielson).
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
P. FALCATARIA - BENIH
Abstrak
Meode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan teknik
observasi yang dirancag dalam pola rancangan acak kelompok
berfaktor tuggal dengan 10 perlakuan. Perlakuan yang diberikan
adalah perendaman benih pada berbagai konsentrasi larutan GA3
yaitu : 0, 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90 dan 100 ppm.
Pengamatan dilakukan terhadap persen perkecambahan, laju
perkecambahan dan nilai kecambah. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa perendaman benih Parasrianthes falcataria pada berbagai
konsentrasi GA3 selama satu jam dapat memberikan pengaruh yang
nyata terhadap variabel perkecambahan. Rata-rata persen
perkecambahan tertinggi terjadi pada konsentrasi 80 ppm (100per)
dan terendah pada perlakuan tanpa perendaman atau pada 0 ppm
(30per). Laju perkecambahan tertinggi terjadi pada konsentrasi 80
ppm (3.27 hari), terendah pada perlakuan tanpa kontrol atau 0 ppm
(5.06 hari). Rata-rata nilai kecambah tertinggi juga pada
perendaman 80 ppm (6.57per/hari) dan terendah pada perlakuan
tanpa perendaman (0.48per/hari)
MEHEN, Yudith Fitriana Benga
Identifikasi penerapan faktor penentu teknis peternakan ayam
buras dalam program intab pada daerah transmigrasi di desa Aimasi
kecamatan Prafi kabupaten Manokwari.
FPPK Unipa, 2002. 28 cm
PETERNAKAN AYAM BURAS - FAKTOR PENENTU TEKNIS
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penerapan faktor
penentu teknis peternakan pada usaha peternakan ayam buras di
Aimasi. Metode yang di gunakan adalah metode deskriptif dengan
teknik studi kasus. Variabel yang diamati meliputi faktor
penentu teknis peternakan, kandang, sistem pengelolaan,
kesehatan, pasca panen, identifikasi faktor penentu teknis
peternakan dan penetapan prioritas faktor penentu teknis
peternakan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa identifikasi
penerapan faktor penentu teknis peternakan ayam buras di desa
Aimasi berada pada kisaran hampir sesuai 50per, kurang sesuai
8,3per. faktor pakan masih kurang sesuai 32,7per, dan tidak
sesuai 12,5per, faktor kandang masih tergolong hampir sesuai
41,7per, kurang sesuai 36,2per dan tidak sesuai 14,6per, faktor
sistem pengelolaan masih tergolong hampir sesuai 50per, kurang
sesuai 25per dan tidak sesuai 16,7per, faktor kesehatan kurang
sesuai 25per dan tidak sesuai 7,7per, serta faktor fasca panen
yang masih tergolong kurang sessuai 25per.
MINGGIREJO
Pengaruh silang dalam dan aras protein ransum terhadap kinerja
burung puyuh yang sedang bertumbuh.
FPPK Unipa, 2002. 28 cm
BURUNG PUYUH - RANSUM SILANG
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara silang
dalam dan aras protein ransum baik sebagai faktor tunggal maupun
interaksinya terhadap kinerja burung puyuh yang sedang bertumbuh.
Metode yang digunakan yaitu metode eksperimen dengan rancangan
acak lengkap berfaktor, perlakuannya terdiri atas silang dalam
(perkawinan individu setetua dan secara acak) dan aras protein
ransum proteinnya 24per dan 18per. Variabel yang diamati
meliputi konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan mortalitas.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa silang dalam tidak
mempengaruhi (P0.005) konsumsi ransum, pertambahan bobot badan
maupun mortalitas. Aras protein ransum berpengaruh (P0.05)
terhadap konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan. Terdapat
penagaruh interaksi (P0.05) antar silang dalam dan aras protein
ransum terhadap konsumsi ransum tetapi tidak berpengaruh
interaksi (P0.05) terhadap pertambahan bobot badan dan
mortalitas. Efek silang tidak menguntungkan terhadap sifat
produksi dan reproduksi sehingga silang dalam perlu dihindari
dalam pembibitan, perlu adanya pemberian ransum dengan aras
protein yaang tinggi untuk mengantisipasi terjadinya faktor
silang dalam.
MOFU, Wolfram Yahya
Intensitas penggunaan lahan areal kampus Universitas Negeri Papua.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
PENGGUNAAN LAHAN
Abstrak
Metode yang digunakan dalam peneliian ini adalah metode survei
dengan teknik observasi. Variabel yang diamati meliputi lahan
perumahan, bangunan, prasarana angkutan, kebun percobaan, hutan
primer, hutan sekunder dan lahan kosong dan luas lahan yang
digunakan untuk tanaman jangka panjang. Data yang diukur dari
setiap variabel adalah luas lahan dalam satuan meter yang akan
dikonversi ke dalam satuan hektar. Intensitas penggunaan lahan
areal kampus Universitas Negeri Papua seluas kurang lebih 174.58
ha atau 37.91per berupa bangunan perumahan dan penyediaan
fasilitas pendidikan, 33.17per atau 152.79 ha merupakan areal
hutan kosong serta 28.93per atau seluas 133.26 ha digunakan
masyarakat dalam bentuk pertanian
MUNUA, Lukas Octovianus
Pertumbuhan beberapa kultivar sagu (Metroxylon sagu Rotb.) asal
kabupaten Yapen Waropen di kebun koleksi Maripi Manokwari.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
METROXYLON SAGU - PERTUMBUHAN
Abstrak
Bertujuan mengamati perkembangan pertumbuhan bibit sagu asal
kabupaten Yapen Waropen setelah umur satu tahun penanaman di
lapangan. Menggunakan metode dekriptif dengan teknik observasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing kultivar
memiliki keragaman nilai pertumbuhan di tiga lokasi yang berbeda
yaitu daerah realtif kering, relatif basah dan sangat basah. Pada
daerah kering penampilan pertumbuhan relatif lambat adalah Ami
(0.000 cm), sedang adalah Owawu (3.529 cm), Kuroi (2.063 cm),
Aming (4.910 cm), Yerirang ( 2.666 cm), Hawa (3.692 cm), Huworu
(2.493 cm), Markbon (3.366 cm), Woru (4.608 cm), Antah ( 3.845
cm), Anta (3.673 cm). Sedang kultivar dengan pertumbuhan cepat di
antaranya Umbeni (9.953 cm), Noing (5.248 cm), Anandong (5.302
cm). Untuk daerah yang relatif basah pertumbuhan lambat adalah
kultivar Markbon (2.751 cm), Antah (2.389 cm), anta (2.316 cm),
pertumbuhan sedang diragakan oleh awa (5.465 cm), hawa (5.953
cm), Anandong (6.177 cm), woru (3.963 cm) dan tercepat adalah
Huworu (8.433 cm). Di daerah realtif sangat basah pertumbuhan
lambat diragakan oleh Anandong (1.326 cm) dan anta (1.4849 cm)
pertumbuhan sedang adalah Manawoi (3.402 cm), Inggamer (3.66 cm),
Markbon (2.407 cm), anta (1.484 cm), antah (0.760 cm), woru
(3.728 cm) dan yang cepat pertumbuhannya di daerah ini adalah
yerirang (6.786 cm), asina (6.370 cm) dan woru (5.392 cm)
MUSA'AD, Musdalifah
Sistem pemeliharaan ternak kelinci pada masyarakat suku dani
kecamatan Illu kabupaten Puncak Jaya.
FPPK Unipa, 2002. 28 cm
TERNAK KELINCI - SISTEM PEMELIHARAAN
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemeliharaan
ternak kelinci pada masyarakat suku Dani. Metode yang digunakan
yaitu metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Variabel yang
diamati meliputi jenis kelinci, jenis pakan, perkandangan, sistem
perkawinan dan penyakit. Hasil penelitian bahwa populasi ternak
kelinci talah mencapai optimal. Pakan yang diberikan terhadap
kelinci belum memenuhi kebutuhan gizi dan pemberian secara
adlibitum. Peternak kelinci di kecamatan Illu talah mengunakan
kandang berbentuk kandang berbentuk panggung dengan tipe battery
(tidak bertingkat), namun peralatan tempat makan dan minum belum
ada. Jenis penyakit yang umum menyerang ternak kelinci kembung
perut 62,5per dan pilek 37,5per. Mortalitas terbesar dimangsa
induknya dan predator. Ternak kelinci dikawinkan secara alami dan
relatif pada usia muda. Penghasilan sampingan ternak kelinci yang
berupa feses digunakan sebagai pupuk. Sedangkan hasil kulit tidak
dimanfaatkan sama sekali. Sistem pemeliharaan yang dilakukan
yaitu semi intensif.
NOTANUBUN, Piet Ricard
Tingkat kesukaan burung dara mahkota victoria (Goura victoria)
terhadap beberapa jenis pakan.
FPPK Unipa, 2002. 28 cm
GOURA VICTORIA - PAKAN
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis pakan yang
disukai burung Goura victoria dalam kandang penangkaran. Metode
yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan teknik observasi.
Variabel yang diamati meliputi tingkat konsumsi, tingkat
pengukuran pakan, waktu makan, dan waktu minum. Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa tingkat konsumsi burung Goura victoria
terhadap jenis pakan yang paling disukai adalah kacang tanah
33,39 g/ekor/hari, atau 51,34per dari total konsumsi; jagung
24,38 g/ekor/hari, kedelai 5,58 dan kacang hijau 1,69
g/ekor/hari. Waktu yang paling lama dilakukan oleh burung Goura
victoria adalah pagi hari jam 06.00-7.30, sementara paling
singkat pada siang hari (periode III jam 12.30-14.30). Waktu
minum paling lama dilakukan adalah pada siang hari (periode
IIIjam 12.30-14.30) sedangkan paling singkat pada siang hari
(periode II jam 09.00-11.00).
NURJAYANTI, Yuyun
Pengaruh konsentrasi "effektive microorganisme-4" (EM-4) terhadap
pertumbuhan dan produksi sawi (Brassica juncea L.) yang dipupuk
dengan bokashi jerami.
Fapertek Unipa, 2002.
BRASSICA JUNCEA - PEMUPUKAN
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai
konsentari EM-4 terhadap pertumbuhan dan produksi sawi. Metode
penelitian dengan menggunakan metode rancangan acak lengkap
dengan perlakuan kontrol, EM-4 3, 6, 9 dan 12 ml/L. EM-4
diberiakan pada saat tanaman berumur 1, 2, dan 3 MST. Variabel
yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan
bobot brangkasan per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pemberian konsentrai EM-4 berpengaruh terhadap tinggi tanaman,
luas daun, dan bobot brangkasan basah tetapi hasil tidak
memberikan pengaruh pada jumlah daun. Pemberian dapat
meningkatkan hasil pada konsentrasi 3 ml/L air sebesar 2,04per, 6
ml/L; 8,97per, 9 ml/L: 12,4per, dan 12 ml/L: 4,36per bila
dibandingkan kontrol. Dengan hasil analisis regresi diproleh
titik optimum pada konsenrsi 7,82 ml/L air dengan luas daun
pertanaman adalah 248 cm2, sedangkan untuk brangkasan basah pada
konsenrasi 7,69 ml/L air dengan bobot 196 gram.
NURHAYATI
Analisis pendapatan usaha ternak sapi bali di kecamatan Prafi
kabupaten Manokwari.
FPPK Unipa, 2002. 28 cm
PETERNAKAN SAPI BALI - ANALISIS PENDAPATAN
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pendapaatandari
usaha ternak sapi bali dan mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi pendapatan tersebut. Metode yang digunakan adalah
metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Variabel yang diukur
yaitu modal, pendapatan, penerimaan dan biaya produksi. Hasil
intervew pada peternak sapi di Prafi bahwa besar pendapatan yang
diperoleh peternak tersebut sebesar Rp. 5.801.422,57 per tahun
dan faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu biaya peralatan, pakan,
obat-obatan, curahan kerja serta modal.
PABUBA, Anton Rattung
Pengaruh pola penanaman terhadap pertumbuhan dan hasil sawi
(Brassica juncea L.).
Fapertek Unipa, 2002.
BRASSICA JUNCEA - POLA TANAM
Abstrak
Penelitian ini menggunakan metode eksprimen dengan rancangan acak
kelompok, perlakuan bujur sangkar (20x20, 30x30, 40x40) cm2,
segitiga (20x20x20, 30x30x30, 40x40x40) Cm2 dan persegi panjang
(20x30, 20x40, 20x50) Cm2. Variabel yang diamati meliputi tinggi
tanaman, jumlah daun, bobot brangkasan basah per tanaman, dan
bobot brangkasan basah per petak. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa pola penanaman memberikan pengaruh nyata
terhadap tinggi tanaman, bobot brangkasan per tanaman, dan bobot
brangkasan basah per petak, namun tidak berbeda nyata pada jumlah
daun. Tanaman tertinggi dihasilkan pada pola penanaman segitiga
sama sisi dengan jarak tanam 40 x 40 cm, sedangkan jumlah daun
lebih banyak dihasilkan pada pola penanaman bujur sangkar 30 x 30
cm2, dan 40 x 40 cm2 serta segitiga sama sisi 40 x 40 cm2. Pada
jarak tanam yang rapat bobot brangkasan basah per tanaman rendah
tetapi bobot brangkasan basah per petak tinggi, sebaliknya jarak
tanam yang lebar bobot brangkasan per tanaman lebih tinggi tetapi
bobot brangksan basah per petak lebih rendah. Pola penanaman
segitiga sama sisi dengan jarak tanam 20 x 20 x 20 cm memepunyai
bobot brangkasan basah per petak jauh lebih tinggi yaitu 14,2 kg
dibandingkan pola penanaman lainnya. Pengaruh kompetisi dapat
diperkecil dengan cara mengatur jarak tanam namun perlu
mempertimbangkan hasil produksi per hektar.
PADANG, Salomo Padang
Kajian pengeringan biji kakao (Theobroma cacao L.) dengan alat
pengeringan energi matahari.
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
BIJI KAKAO - PENGERINGAN
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk merancang alat pengeringan
matahari serta membandingkan laju pengeringan yang dihasilkan
terhadap pengeringan secaara alami. Penelitian ini menggunakan
metode deskriptif dengan teknik analisa kuantitatif dan
kualitatif, dengan variabael yang diamati yaitu kondisi
lingkungan (suhu, kelembaban udara dan intentitas penyinaran
matahari). Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh
kesimpulan bahwa secara teknis alat pengeringan energi matahari
yang dirancang mampu mengeringkan biji kakao secara baik pada
kisran suhu 40-50 derajat Celcius lama waktu pengeringan 18 jam.
Laju pengeringan rata-rata untuk pengeringan pada lantai jemur
seesar 2,14per/jam sedangkan pada alat pengering sebesar
2,46per/jam. kurva laju pengeringan untk perlakuan lantai jemur
terdiri atas tiga tahap, yaitu periode laju pengeringan awal,
periode laju pengeringan menurun tahap pertama da tahap kedua.
Sedangkan untuk pengeringan dengan alat pengering, kurva laju
pengeringannya berbentuk ekponensial.
PALILING, Agustinus
Habitat mencari makan bandikut di desa Anjai kecamatan Kebar
kabupaten Manokwari.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
BANDIKUT - HABITAT
Abstrak
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode deskriptif
dengan teknik observai, pengmabilan data dilakukan secara
aksidental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis bandikut di
desa Anjai adalah jenis Echymiphera rufescens yang memiliki
habitat bekas perladangan di hutan sekunder sebagai tempat
mencari makan, terletak pada ketinggian 590 m dpl dengan suhu
antara 20derC - 28derC, kelembaban antara 62per - 91per,
intensitas cahaya antara 100 lux -2000 lux. Hasil analisis tanah
menunjukkan pH 5,8 - 77 dengan tekstur lempung berpasir hingga
lempung berliat, wrna tanah coklat kekuningan hingga hitam dan
kadar air tanah berkisar antara 2,416per - 5,8394per. Terdapat 54
spesies dari 33 famili vegetasi untuk tingkat pohon, tiang,
pancang dan semai sebagai tempat beraktivitas bandikut
PAREANG, Charlotha
Pengaruh pemberian berbagai dosis bokashi terhadap pertumbuhan
dan produksi jahe (Zingiber officinale Rose).
Fapertek Unipa, 2002.
ZINGIBER OFFICINALE - PEMUPUKAN
Abstrak
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan
acak kelompok, perlakuannya yang terdiri dari kontrol, 50, 100,
150, dan 200 gr bokashi, ulangan sebanyak 4 kali. Variabel yang
diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun per rumpun, jumlah
tunas, jumlah rimpang, dan berat basah rimpang. Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa pemberian bokashi jerami berpengaruh
terhadap tinggi tanaman, jumlah daun per rumpun, jumlah
rimpang, berat basah rimpang dan berat basah tanaman (kecuali
jumlah tunas) dan produksi. Perlakuan bokashi dengan dosis 200 gr
memberikan hasil tertinggi untuk semua komponen pertumbuhan dan
produksi. Persentase peningkatan berat basah rimpan dengan dosis
bokhasi 50 gr:5,72per, 100 gr:16,42per, 150gr:27,91per, dan dosis
200 gr:32,42per dibandingkan dengan tanpa bokashi.
PARIRI, Ferdinand
Evaluasi tingkat keberhasilan program OPK beras bagi keluarga pra
sejahtera dan sejahtera satu di kecamatan Manokwari Kabupaten
Manokwari : Studi kasus dikelurahan pasir putih, desa Warkapi dan
desa Yoom Nuni I .
Fapertek Unipa, 2002. 28 cm
EVALUASI PROGRAM OPK BERAS
Abstrak
Program OPK mulai berjalan pada bulan Juli 1998 dengan
masing-masing kepala keluarga penerima mendapatkan 10 kg beras.
Kemudian pada bulan Desember 1998 ditingkatkan menjadi 20 kg.
Program OPK merupakan salah satu program jaring pengaman sosial
(JPS) prioritas peningkatan ketahanan pangan (Food security).
Dana program ini diambil dari anggaran dan pendapatan belanja
negara (APBN). Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat
keberhasilan dan dampak program OPK beras bagi keluarga pra
sejahtera dan keluarga sejahtera satu di kecamatan Manokwari.
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif
dengan teknik studi kasus. Data dianalisa secara tabulasi. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa program OPKB berada pada kategori
tidak berhasil. Ini berdasarkan analisa keberhasilan komponen
penentu seperti ketepatan kelompok sasaran, ketepatan harga jual,
ketepatan jumlah dan kesesuaian laporan. Sebab ketidak berhasilan
program ini adalah kurangnya monitoring dan evaluasi dari
pihak-pihak yang terkait
PASARIBU, M. Hafismal
Presentase kerusakan tegakan tinggal tingkat pohon inti akibat
pembalakan mekanis di HPH PT. Batasan kecamatan Skamto kabupaten
Jayapura.
Fahutan Unipa, 2002. 28 cm
TEGAK
|